
Pagi ini Shifa dan Aisyah berangkat ke bandara internasional Soekarno Hatta dengan menggunakan mobil online, di dalam perjalanan Shifa mengirim pesan WA kepada Rafael, karena takutnya dia nanti tiba tiba mengunjungi apartemennya.
"Kakak El, Shifa mohon pamit selama liburan ini pulang ke Singapura, terima kasih selalu membantu Shifa selama ini".
Setelah mengirim pesan kepada Rafael, Shifa menghubungi uncle Agus dengan menelponnya.
"Halo Shifa" suara uncle Agus dari dalam handphone.
"Halo uncle selama liburan semester ini Shifa ijin akan liburan bersama Aisyah" kata Shifa tetapi tidak mengatakan jika akan pulang ke Singapura.
"Uncle sedang mengurus perusahaan yang ada di Thailand mungkin selama satu bulan ini, bersenang senanglah, kalau uang sakunya kurang, bilang sama uncle nanti di transfer dari sini" jawab uncle Agus cepat.
"Tidak usah uncle terima kasih, uang Shifa masih cukup kok".
Setelah mematikan dengan menekan tombol merah pada handphonenya ada notifikasi pesan WA masuk, Shifa langsung membuka dan membacanya.
"Kapan berangkat, aku ingin bertemu dengan mu sebelum berangkat?" tulis pesan WA dari Rafael.
"Maaf kakak El, Shifa sudah berangkat, sampai jumpa tiga Minggu lagi kak, jaga kesehatan kakak" tulis pesan Shifa.
"Pesan dari siapa?" tanya Aisyah penasaran.
"Dari kak El, dia ingin bertemu tetapi saya bilang sudah berangkat"
"Jangan bilang kalau aku ikut ke Singapura" pinta Aisyah dengan tatapan mata yang sendu.
"Baiklah" jawabnya singkat.
Dalam perjalanan dua jam saja Shifa dan Aisyah sampai bandara Singapura, menggunakan taxi online menuju rumah bibi pengasuh, Shifa setelah bertekat untuk melaksanakan amanah dan wasiat dari Mami Fatty, Shifa tidak ingin menggunakan fasilitas dari Papi sama sekali, sudah satu tahun lebih uang yang di transfer oleh uncle Agus tidak pernah digunakannya, setiap bulan Shifa selalu menggunakan uang pribadinya dari peninggalan Mami keuntungan dari perusahaan yang Mami tinggalkan untuknya.
Selama berada di Singapura Shifa tidak menunjukkan sisi feminimnya, dia berdandan seperti saat sebelum kuliah di Jakarta, menggunakan wig rambut pirang dan potongan pendek, menggunakan kacamata tebal, dan sering menggunakan masker, sengaja berpenampilan begitu agar tidak terlalu mencolok dan mendapatkan perhatian dari anak buah uncle Agus.
Setelah menginap dan beristirahat satu malam, yang Shifa lakukan pertama kali adalah mengganti identitas yang semula beragama non muslim sekarang berstatus agama Islam, ternyata membutuhkan waktu sampai dua hari baru selesai, perpindahan agama hanya diketahui oleh bibi pengasuh saja, uncle Agus ataupun Papi Thora tidak mengetahui sama sekali.
Rencana Shifa akan mulai mencari data aunty Ara besok pagi, sehingga hari ini Shifa berencana mengajak Aisyah berkunjung ke lapas dimana Papi Thora di tahan, tetapi dengan cara apa agar tidak dicurigai oleh anak buah uncle Agus ataupun Papi Thora sendiri belum didapatkan.
__ADS_1
Hidup di dunia digital mempermudah mencari informasi tentang kegiatan sosial, hari ini ada beberapa organisasi sosial sedang mengadakan kunjungan ke lapas dengan agenda pemeriksaan kesehatan dan gizi seimbang untuk para napi.
Shifa ikut mendaftar melalui online, siapapun bisa bergabung dengan organisasi ini, asalkan ikhlas tanpa di bayar sedikitpun, kebetulan Aisyah adalah mahasiswi kedokteran, sehingga langsung ikut bergabung dengan status calon dokter muda, Shifa akhirnya membeli bermacam-macam obat dan vitamin dengan menggunakan uang pribadi untuk organisasi sosial itu.
Berkunjung di lapas mulai pukul tiga sore, sebagian besar memang memperkenalkan diri dengan nama panggilan saja Aisyah memperkenalkan diri dengan nama Dokter Ais dan Shifa berbagai asisten dokter dengan panggilan Malla.
Ada empat dokter termasuk Aisyah, lima suster, lima ahli gizi dan sekitar delapan orang bagian umum termasuk Shifa, dengan ramah pegawai lapas menyambut rombongan kami dan mengumpulkan seluruh napi di aula lapas dan di jaga oleh kepolisian dan angkatan bersenjata.
Selama ini Shifa hanya melihat Papinya dengan foto yang tergantung di dinding saat masih muda, saat Papi Thora dan Mami Fatty menikah, sehingga agak sulit Shifa mengenalinya, hanya berbekal catatan daftar nama yang diberikan oleh lapas, Shifa memeriksanya satu persatu daftar nama itu, dengan menggunakan wig pirang, masker dan kacamata Shifa mulai memanggil para napi secara bergantian, sampai tiba saat memanggil nama Papinya.
"Ais, It's show Time".
"Ok let's do it!".
"Mr. Thora Thanapon" panggil Shifa dengan lantang.
"Yes, I am" dengan mengangkat tangan, sang Papi berjalan mendekati Shifa dan Aisyah.
Kesan pertama yang Shifa lihat adalah laki-laki paruh baya, tinggi besar, kekar walaupun ada beberapa uban di rambutnya dan kerutan pada dahinya tetapi masih terlihat gagah dan bugar, ketampanan dan kharismanya tidak memudar walaupun sudah memasuki umur setengah abad.
"Selama ini saya sering pusing dan gelisah dokter" jawabnya singkat.
"Baiklah saya tensi dan periksa sebentar, maaf ya tuan".
"Silahkan dok".
Memasang electronic blood pressure monitor di lengan bagian atas, sesaat kemudian "Tensi anda 150/100 tuan, ini termasuk tinggi" kemudian Aisyah memegang tangan dan membaca nadi disekitar pergelangan tangan "Nadinya normal, kemudian memeriksa menggunakan stetoskop di letakkan di dada.
"Mohon ijin memeriksa gula, kolesterol dan asam urat anda tuan" pinta Aisyah lagi.
"Baik dok".
Aisyah mengeluarkan alat Nesco multicheck di ambilnya darah dari telunjuk tangan dengan cara jarum suntik yang berbentuk pulpoin.
"Maaf tuan akan terasa tertusuk duri, klik" suara jarum suntik menembus ujung telunjuk dan mengeluarkan sedikit darah.
__ADS_1
Diambil darah itu diletakkan di tiga alat kecil yang sudah dipersiapkan oleh Shifa, ditunggu kira-kira lima menit sudah terbaca.
"Glukosa normal, kolesterol nya agak tinggi tetapi asam urat juga normal" Aisyah membaca alat itu dengan teliti.
Thora hanya menganggukkan kepalanya tanda faham yang di katakan Aisyah.
"Tuan mohon ijin, saya memeriksa tengkuk belakang telinga anda bolehkah?" tanya Aisyah mulai melakukan aksinya sesuai rencana yang sudah di susun berdua dengan Shifa tadi sebelum berangkat.
"Ooooo tentu silahkan" dengan tersenyum Thora mengijinkan apa yang diminta Aisyah.
Dengan menekan tengkuk belakang telinga, Aisyah mengerutkan keningnya "Apakah anda pernah mengalami benturan kepala sampai mengalami amnesia?" modus Aisyah padahal dia tahu amnesia itu dari amanah Mami Fatty.
"Anda mengetahuinya dokter?" tanya Papi Thora heran.
"Ya saya bisa baca itu, bahkan amnesia itu permanen, apakah prediksi saya betul tuan?" dengan wajah tegas Aisyah menatap wajah sendu Papi dari sahabatnya itu.
"Anda betul sekali dokter, bahkan sampai sekarang saya masih tidak mengetahui masa muda saya, saya hanya mendapatkan informasi dari asisten dan orang orang yang ada di sekitar hidup saya" jujur Papi Thora merasa kagum dengan usapan Aisyah.
"Apakah anda memiliki istri dan anak tuan?" tanya Aisyah mulai melakukan aksinya sesuai rencana yang disusun bersama Shifa sebelum datang ke lapas itu.
"Ya kata asisten saya, istri saya sudah meninggal saat putri saya berumur tujuh tahun".
"Dimana putri anda sekarang, apakah anda masih ingat wajah dan nama putri dan istri anda tuan?".
"Saya tidak bisa mengingatnya sama sekali baik nama ataupun wajah mereka, saya tahunya dari cerita asisten saya".
"Apakah anda pernah bertemu dengan putri anda sampai sekarang?" tanya Aisyah lagi.
"Saya belum pernah sama sekali bertemu dengannya, saya hanya di berikan foto putri saya setiap dia ulang tahun".
"Apakah anda tidak merindukan putri anda tuan?".
"Sangat.... tetapi saya tidak ingin dia malu memiliki ayah seorang pembunuh seperti saya, saya akan bertemu dengannya setelah keluar dari lapas ini" mata Thora Thanapon sudah mulai berkaca-kaca mengingat putrinya yang tidak pernah dikenalnya.
"Baiklah tuan, saya rasa cukup keterangan anda, ini saya berikan resep obat silahkan ambil obat anda disebelah sana, ingat jangan lupa minum obat secara teratur" Aisyah memberikan satu kertas resep.
__ADS_1
"Terima kasih dokter, saya permisi"