Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
42. Titik Terang


__ADS_3

Hari ini tepatnya pukul sepuluh pagi ada seorang wanita penghuni lapas baru yang ditempatkan satu kamar dengan Shifa namanya Ani Marsiti seorang wanita sekitar tiga puluh tahun yang di tuduh membunuh suaminya sendiri tetapi itu hanya fiktif belaka, Ani Marsiti adalah seorang agen rahasia senior yang sudah bekerja selama tiga belas tahun, banyak sekali peran yang pernah dia perankan selama ini, dari tukang sayur, tukang sapu, pelayan restauran bahkan pernah menyamar menjadi wanita penghibur di klub malam.


Saat hari pertama masuk di kamar sel bersama Shifa ada teman satu wanita yang sebelumnya tinggal disana, tetapi setelah Ani Marsiti masuk kebetulan wanita itu bebas bersyarat karena berkelakuan baik.


Duduk di bawah tempat tidur kamar sel tahanan menenggelamkan wajahnya di antara kedua lututnya menangis tersedu-sedu, awalnya Shifa hanya memandanginya dengan tatapan datar, tetapi lama-kelamaan rasa iba dan Shifa mendekatinya dengan perlahan.


"Kak...?" panggil Shifa dengan memegang pundaknya.


"Bolehkah aku memelukmu siapa namamu dik?" tanya Ani Marsiti perlahan sambil terisak.


"Panggil saja Shifa kak, nama kakak siapa?".


"Panggil saja mbak Ani, boleh aku memeluk kamu sebentar" sambil terisak Ani Marsiti menangis tersedu-sedu tetapi dalam hati bergumam aku menangis karena ingat Ibuku yang telah meninggal dua tahu yang lalu.


Setelah hampir seperempat jam Shifa memeluk Ani Marsiti, melonggarkan pelukannya karena dia mulai merasa tenang.


"Mbak Ani sudah baikan?".


"Iya terima kasih Shifa, maaf baju kamu jadi basah".


"Tidak apa-apa mbak Ani, mengapa mbak bisa masuk kesini?".


"Aku di fitnah Shifa, aku tidak membunuh suamiku sendiri, suamiku tergeletak bersimbah darah dengan dada tertancap gunting, padahal aku tidak di TKP, tetapi sidik jariku ada di gunting itu, aku di tangkap hiks..hiks.. hiks" kembali Ani Marsiti menangis tersedu-sedu.


"Saat kejadian Mbak Ani dimana?".


"Aku sedang di pasar, aku sedang belanja sayuran hiks...hiks hiks.., aku terancam penjara seumur hidup".


"Sabar mbak, insyaallah mbak akan baik-baik saja, Allah maha adil mbak, Allah tidak tidur kok mbak, insyaallah mbak akan mendapatkan keadilan" nasehat Shifa dengan bijak.


"Terima kasih Shifa kamu membuat aku tenang terima kasih".


"Beristirahat lah dulu mbak!".


Ani Marsiti berbaring di tempat tidur, matanya terpejam setelah matanya memerah karena banyak menangis, Shifa duduk di lantai meraih buku membacanya dengan tenang.


Sampai waktu makan siang semua di panggil untuk makan di bukakan pintu sel, semua penghuni lapas berjalan menuju ruang makan dan berbaris dengan rapi, tetapi kaki Shifa bukannya berjalan ikut mengantri tetapi dia berjalan menuju taman bacaan untuk mengembalikan buku dan akan meminjam buku baru.


Saat Ani Marsiti sudah mendapatkan jatah makan siangnya, sengaja mencari tempat duduk dengan wanita yang cukup berumur.


"Maaf ya ikut duduk boleh kah?" tanya Ani dengan ramah.

__ADS_1


"Silahkan mbak, penghuni baru ya?" tanya ibu berperawakan gemuk dan pendek.


"Iya Bu, saya baru masuk tadi pagi, saya satu sel dengan Shifa, tapi kok dia tidak ikut mengantri makan ya Bu?".


"Ooo gadis itu jarang ikut makan, hanya sore saja biasanya dia makan" cerita ibu tua itu.


"Apa kasus dia sebenarnya Bu?".


"Saya tidak tahu mbak, dia orangnya tertutup, tidak pernah bicara dengan siapapun, dia hanya mengunjungi taman bacaan, masjid dan kamar sel tahanan saja, tidak pernah berkumpul dengan napi yang lain".


Ani Marsiti makan dengan lahap tanpa di kunyah dengan lembut, hanya sepuluh menit nasi satu piring ludes tanpa sisa, berpamitan dengan ibu tua berlari kecil mendekati taman bacaan, Shifa tertunduk dengan konsentrasi tinggi duduk di pojok taman bacaan itu membaca buku dengan tenang.


"Kamu tidak makan siang?" tanya Ani duduk di depan Shifa, Shifa hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab sepatah katapun, melanjutkan membaca buku, Ani hanya duduk memperhatikan Shifa tanpa ekspresi sama sekali.


Sampai jam makan siang selesai, Shifa kembali ke kamar selnya dengan membawa beberapa buku yang sudah di pinjamnya, diikuti Ani dari belakang.


Kembali masuk kamar sel, Shifa kembali membaca sambil berbaring di tempat tidur tanpa mengajak Ani berbicara, Ani hanya mengambil nafas panjang ikut berbaring tidur di tempat tidur sendiri pura-pura tertidur pulas dan mengigau.


"Jangan....jangan....dia suamiku"


Shifa tersentak kaget saat melihat Ani Marsiti matanya terpejam dan menggelengkan kepalanya sambil mengigau.


Shifa berlari mendekati Ani menggoyangkan badannya "Mbak...mbak Ani bangun".


Ani Marsiti langsung membuka matanya dan spontan memeluknya dengan erat.


"Sudah baikan Mbak Ani?" tanya Shifa setelah Ani mengendurkan pelukannya.


Pukul tiga sore waktu besuk untuk keluarga telah tiba, hampir seluruh napi mendapatkan kunjungan dan menemui mereka di ruang tamu keluarga, termasuk Ani Marsiti bergegas keluar menemui tamu yang datang.


"Senior bagaimana keadaan Shifa?" tanya Rafael saat duduk berhadapan di ruang khusus untuk menerima tamu.


"Ini laporannya" Ani menunjukkan foto foto tentang kegiatan Shifa selama sehari ini, dan menceritakan semua tanpa kecuali.


"Bersabarlah aku akan berusaha sekuat tenaga, tetapi dia sangat tertutup" nasihat Ani Marsiti.


Kegiatan Shifa setiap hari selalu berulang, diam, membaca buku, masjid, kamar sel dan makan hanya sekali sehari, tanpa mau menemui tamu yang mengunjunginya, sudah empat hari Shifa dan Ani Marsiti tinggal satu sel, tetapi belum satupun informasi yang di dapatnya, sampai saat sore ini Ani kembali dari bertemu Rafael saat jam besuk tiba.


"Shifa, selama empat hari ini saya melihat ada orang yang menunggu ingin besuk kesini, tetapi napinya tidak pernah keluar, setelah saya tanya dia ingin bertemu kamu, mengapa kamu tidak mau menemuinya?".


"Saya tidak mau bertemu siapapun Mbak".

__ADS_1


"Kenapa?".


"Saya tidak punya siapapun di dunia ini mbak, saya hanya di korbankan untuk menanggung dosa mereka, lebih baik saya menghabiskan sisa hidup disini daripada harus mengikuti perintah yang dilarang agama".


"Memang kamu tahu siapa yang besuk kamu setiap hari?".


"Tidak mbak Ani, saya tidak ingin mendengar namanya seumur hidup saya".


"Kok gitu, seandainya yang besuk itu sahabat atau pacar kamu bagaimana?".


"Tidak mungkin mbak, sahabat dan pacar saya tidak tahu kalau saya ada disini".


"Mengapa kamu tidak menghubungi mereka?"


"Saya tidak ingin melibatkan mereka mbak nama baik mereka harus saja jaga, saya memilih berdamai dengan hati, merelakan mereka bahagia dengan orang lain saja toh cinta tidak harus memiliki".


"Itu namanya menyerah sebelum berperang Shifa, seharusnya kamu berusaha dulu".


"Tidak mbak Ani, semenjak saya kehilangan cincin itu, saya sudah tidak ada harapan untuk masa depan saya, saya tidak bisa melaksanakan amanah dari Mami saya, setidaknya saya bisa melaksanakan amanah Mami tidak berdekatan dengan orang yang sudah membuang saya disini" tanpa di sadari air mata Shifa menganak sungai dengan deras.


Ani Marsiti langsung memeluk Shifa dengan erat "Menangis lah agar beban hati kamu bisa berkurang sedikit".


Menangis dalam pelukan Ani Marsiti, hati Shifa mulai menghangat, sudah hampir satu bulan dia tinggal di rutan baru kali ini dia berbicara panjang lebar, kemampuan argumen Ani Marsiti memang tidak diragukan lagi, setelah Shifa merasa lebih tenang kembali Ani Marsiti mengajak berbincang dari hati ke hati.


"Seharusnya kamu lihat dulu siapa yang mengunjungi kamu?".


"Tidak mbak Ani, saya sudah memutuskan untuk tinggal di lapas ini seumur hidup saya dari pada saya hidup di luar dengan melakukan aktivitas yang di larang agama".


Keesokan harinya saat jam besuk tiba, Ani Marsiti menemui Rafael dan komandan Conan untuk memberikan laporan tentang percakapan dengan Shifa kemarin yaitu berupa rekaman suara antara Shifa dan dirinya.


"Bagaimana komandan apa langkah selanjutnya?" tanya Ani Marsiti setelah menyerahkan handphone miliknya.


"Kita pelajari dulu setelah sampai markas besar" jawab komandan Conan singkat.


"Terima kasih senior, anda memang yang terbaik" Rafael bahagia sudah mulai mengetahui titik terang mengapa Shifa tidak mau bertemu dengan siapapun.


"Ini demi kamu El, aku sudah hampir seminggu tidak bertemu suamiku" celoteh Ani dengan cemberut.


"Eleh...eleh kangen ceritanya, biasanya satu bulan tidak bertemu kalau kamu sedang tugas biasa aja kenapa sekarang mengeluh" protes komandan Conan.


"Beda komandan, biasanya masih bisa VC, ini sama sekali tidak bisa".

__ADS_1


__ADS_2