
Pagi ini saat kafe dekat puskesmas tempat Aisyah bekerja belum di buka, anak buah dari komandan Conan bekerja sama dengan pemilik kafe sudah mulai menyisir seluruh ruangan, di kafe inilah rencananya akan diadakannya pertemuan antara Aisyah dan Papi-nya Shifa yaitu Thora Thanapon.
Sengaja komandan Conan tidak memasang CCTV khusus, hanya CCTV milik kafe itu saja, komandan Conan membuat kafe itu dalam keadaan senormal mungkin, hanya melakukan pengecekan keamanan sisanya akan di lakukan di saat pertemuan itu jika sudah berlangsung.
Kafe buka pukul sepuluh pagi, sedangkan rencana pertemuan akan dilakukan saat istirahat makan siang, komandan Conan menugaskan senior Ani Marsiti yang menyamar sebagai pelayan kafe.
Ani Marsiti sudah di kafe itu saat kafe baru buka, bukan tanpa alasan, untuk mengawasi anak buah dari Thora Thanapon pasti akan mendatangi kafe terlebih dahulu sebelum orang terpenting dalam organisasi mafia itu tiba di tempat.
Pukul sebelas siang datang rombongan orang yang berseragam hitam hitam datang menyusuri area kafe dari mulai parkiran, area sekitar kafe dan area dalam kafe termasuk kitchen.
Mereka tanpa basa-basi langsung memeriksa area kafe tanpa minta ijin terlebih dahulu, nyelonong masuk dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di artikan.
"Komandan ada enam orang laki-laki yang menyisir kafe saat ini" kirim pesan WA dari senior Ani Marsiti kepada komandan Conan.
Dan tidak lupa foto foto dari keenam orang laki-laki yang berseragam hitam itu yang di ambilnya dari kamera yang berbentuk seperti kancing baju yang ada di kemejanya.
Komandan Conan, Kanno dan Cello di tambah Papi Faro sekarang sudah duduk di kantor puskesmas milik Aisyah, membuka leptop masing-masing karena akan mengawasi perbincangan antara Aisyah dan Papi Thora Thanapon.
Aisyah juga di pasangi kamera CCTV yang berbentuk kancing baju yang di letakkan di baju dokter yang dia kenakan.
"Sayang jangan gugup ya, bersikaplah sewajarnya agar mereka tidak mencurigai kamu" nasehat Cello saat melihat Aisyah gelisah.
"Mereka siapa kak?" tanya Aisyah dengan sedikit takut.
"Barusan ada enam orang laki-laki yang melakukan penyisiran di kafe, itu pasti orangnya Papi Thora.
"Apakah kak Cello bisa mendampingi aku, aku takut".
"Sayang, ingat dulu saat kalian bertemu Papi Thora, bersikaplah seperti itu walaupun tidak ada Shifa atau aku yang mendampingi mu".
"Waktu itu ada di penjara kak, sekarang ada mereka yang mengawasi takutnya aku jadi gugup".
"Atau bersikaplah antara pasien dan seorang dokter, asal jangan melirik anak buah nya saja, aku bisa marah besar".
"Idih kak Cello kenapa jadi ketularan jealous seperti kak Rafael sih".
"Itu tandanya cinta sayang, kau tahu aku sangat mencintaimu?".
"Tahu lah, sudah aaah jangan ketularan kak Rafael, aku ke kafe dulu ini sudah waktunya"
"Tunggu sebentar, disana ada senior Ani Marsiti yang akan menjagamu nanti, hati hati ya" Cello langsung memeluk Aisyah erat.
"Kak Cello, jangan sering peluk, belum muhrim tahu".
__ADS_1
"Di peluk suami itu wajar sayang"
"Benar benar ketularan kak Rafael, suami halu".
Sambil tersenyum meninggalkan Cello, dan berpamitan kepada Papi Faro, komandan Conan dan Kanno yang dari tadi cuma mendengarkan saja.
Setelah masuk ke dalam kafe, menyapu seluruh area kafe mencari sosok laki-laki tua yang sedang menunggunya.
"Dokter, saya disini" ucap Papi Thora memanggil Aisyah.
"Apakah anda sendirian Pak?" tanya Aisyah mengulurkan tangannya untuk pejabat tangan.
"Tadi saya di antar oleh anak buah tetapi sekarang mereka sudah kembali ke kantor, silahkan duduk dokter".
"Terima kasih tuan".
Setelah mereka duduk berhadapan, belum sempat berbincang datang senior Ani Marsiti langsung menawarkan menu makanan.
"Silahkan, mau pesan apa?" tanya senior Ani Marsiti sambil mengulurkan buku menu.
Aisyah yang sudah terbiasa ke kafe itu tanpa membaca buku menu langsung memesan satu spaghetti bolognese dan jus alpukat.
Papi Thora membolak-balik buku menu mencari menu apa yang yang cocok untuk di pesannya.
Saat senior Ani Marsiti akan mengambil buku menu dari Papi Thora pura-pura kakinya tergelincir karena menginjak polpoin yang sengaja senior Ani Marsiti jatuhkan, dan kedua tangannya spontan memegangi pinggir meja sebagai pegangan tetapi kedua tangan itu sambil menempelkan kamera kecil dan satu lagi frekwensi getaran untuk memecah frekuensi suara milik siapapun yang ada di sekitar mereka duduk.
"Maaf Pak, saya tergelincir karena menginjak polpoin saya yang jatuh" ucap senior Ani Marsiti gugup dan menunduk.
"No problem miss, It's ok" jawab Papi Thora singkat.
"Baiklah bisa kita mulai dokter" awal Papi Thora mengawali pembicaraan serius.
"Silahkan tuan apa yang bisa saya bantu?".
Papi Thora menarik nafas dalam-dalam, melirik daerah sekitar mencari keberadaan anak buah yang tadi mengantarnya.
"Sebenarnya ini masalah amnesia dokter".
"Maksud anda tuan?".
Datang senior Ani Marsiti membawa pesanan makanan dan di letakkan di atas meja "Silahkan, selamat menikmati".
"Terima kasih mbak" jawab Aisyah.
__ADS_1
"Selamat menikmati dokter".
Makan dengan lahap tanpa mengeluarkan suara, sampai habis menu dipiring dan menghabiskan minumnya juga.
"Ok mari kita lanjutkan tuan".
"Maksudnya begini dokter, saya ini mengalami amnesia semenjak awal di penjara, saya tidak tahu sama sekali apa yang saya lakukan di masa lalu, tetapi setelah saya keluar dari penjara saya harus melakukan aktivitas yang tidak saya mengerti, saya mengingat anda saat itu menyarankan ikutilah kata hati, Sekarang ini saya sedang dilema, antara tanggung jawab dengan seluruh karyawan atau kata hati".
"Mengapa harus dilema tuan, bukankah memiliki karyawan berarti anda menghidupi banyak keluarga, berarti memiliki usaha yang halal untuk seluruh keluarga karyawan tuan, dimana letak kesalahannya?".
"Masalahnya usaha yang saya lakukan adalah sebagian besar ilegal nona, itu yang membuat saya dilema".
"Ilegal maksudnya anda adalah pengusaha di bidang barang terlarang?".
"Iya dokter, saya juga masih bingung, semua sudah di atur oleh asisten, makanya saya berusaha mencari anda, hanya anda yang bisa saya ajak bicara dari hati ke hati".
"Kalau menurut saya itulah yang membuat hati anda dilema tuan, dihati kecil anda tidak setuju dengan usaha ilegal, tetapi anda tetap melaksanakan karena hanya sebagai tanggungjawab".
"Jadi apa sebaiknya yang harus saya lakukan dokter?".
"Kalau menurut saya seperti awal kita bertemu tuan, ikutilah kata hati, lebih tepatnya ikutilah jalan yang benar, yang legal, ketenangan yang hakiki akan kita dapatkan dengan jalan yang lurus".
Papi Thora hanya hanya menganggukkan kepalanya, dilema yang selama ini dipendamnya sendiri tanpa berani diutarakan kepada siapapun bahkan asistennya sendiri yang selama ini setia kepadanya.
"Oya tuan keluhan apa yang anda alami selama ini, apakah mau saya periksa lagi seperti dulu?".
"Iya dokter, akhir akhir ini pusing dan sakit kepala sering muncul lagi"
Dengan peralatan yang dibawanya dari puskesmas Aisyah memeriksa Papi Thora dari Tensi darah, kolesterol, gula darah denyut nadi semua di periksa dengan teliti.
"Ini resep yang harus di beli di apotik ya tuan, sudah saya buatkan untuk satu bulan ke depan, kalau merasa berangsur angsur membaik, bisa di hentikan obatnya".
"Terima kasih dokter, apakah saya perlu membayar----?" Papi Thora tidak jadi melanjutkan ucapannya karena sudah di potong ucapannya oleh Aisyah.
"Tidak tuan, anggap saja ini perbincangan antara teman, bukan antara pasien dan dokter, tidak ada seorang teman akan memberikan tarif kepada temannya yang baru datang dari jauh".
"Terima kasih, semoga suatu saat nanti kita masih di pertemukan lagi sebagai seorang teman".
"Aamiin" jawab Aisyah singkat.
"Oya tuan, waktu istirahat saya sudah selesai, saya mohon diri, saya bertugas di puskesmas yang ada di sebelah kafe ini, silahkan datang berkunjung jika anda ada di Jakarta?"
"Ok terima kasih, selamat bekerja kembali dokter" mengulurkan tangannya untuk bersalaman kemudian membungkukkan badannya hormat dan keluar dari kafe dengan perasaan yang lega.
__ADS_1
Papi Thora tersenyum memandangi Aisyah sampai tidak terlihat lagi, hanya senior Ani Marsiti yang sekarang memperhatikan Papi Thora yang tetap menatap luar walaupun Aisyah sudah meninggalkan tempat itu.