
Tidak di sengaja ternyata setelah makan malam bersama keluarga Kanno langsung bertemu ke kediaman keluarga Agnes, karena Keluarga Agnes setelah melihat konferensi pers itu menghubungi Agnes agar Keluarga Kanno untuk datang.
Hanya bedanya Kanno sudah secara resmi melamar Agnes, dan sudah di tentukan tanggal acara akad nikah dan resepsinya, karena sesuai rencana awal akan diadakan secara besar-besaran sehingga akan memerlukan waktu yang cukup lama.
Pulang dari panti asuhan cello langsung berbincang dengan Papa dan Mama untuk merencanakan tanggal berkunjung dan lamaran resmi ke panti asuhan.
Setelah selesai lamaran tengah malam tiga Elang Emas berkumpul di markas mini menceritakan tentang lamaran keduanya, plus Shifa yang sudah terlelap di pangkuan Rafael.
"Jadi elo bagaimana rencananya Kanno?" tanya Rafael penasaran.
"Karena Daddy akan mengadakan acara secara besar-besaran memerlukan waktu lumayan lama kemungkinan empat bulan lagi baru semua siap".
"Empat bulan lagi berarti, kalau elo bagaimana Cello?".
"Gue tidak lebih sebulan lagi kemungkinan, karena bini gue maunya sederhana aja, tidak mau mewah yang penting sakralnya".
"Elo belum resmi melamar Ais, Cello?" tanya Kanno kemudian.
"Kemarin gue baru ngomong sama bunda Aulia, tetapi Mama dan Papa akan resmi kesana dua hari lagi tepatnya malam Minggu besok?".
"Baiklah nanti gue temani elo ke panti asuhan sebagai adik ipar" Seloroh Rafael tersenyum tipis.
Dua hari berlalu dengan cepat, Bunda Aulia sudah mempersiapkan dengan matang menanti kedatangan orang tua Cello, walaupun sudah beberapa kali bertemu tetapi dua belah pihak belum pernah membahas tentang lamaran dan pernikahan.
Acara masih nanti malam tetapi Cello pagi pagi sudah mempersiapkan diri, bahkan hari ini tidak berangkat ke kantor hanya duduk mengikuti perawatan bersama Mima Cinta di rumah kecantikan milik Mama Ara.
Mencuci rambut, potong rambut, facial, menikur pedikur jika tidak lupa Cello lakukan sambil bercanda bersama Mima Cinta.
"Say, emangnya bini elo juga melakukan perawatan seperti ini?" tanya Mima Cinta.
"Kagak, si doi malah hari ini masih tugas di puskesmas pulangnya sore" cerita Cello saat sedang mengulurkan tangannya karena perawatan kuku.
"Kenapa tidak elo bawa sini aja, bareng bareng perawatannya, nanti Mima Cinta yang melakukan perawatan langsung".
"Dia itu tidak perawatan aja sudah cantik paripurna, gue sudah klepek klepek karenanya, apalagi elo yang rawat, nanti gue malah tidak tahan ingin memakannya, malah jadi berabe".
"Otak elo aja yang kotor, sini otaknya gue cuci sekalian".
"Enak aja, Mima aja yang di cuci, biar tidak suka godain brondong".
"Elo kalau ngomong suka pas dah".
__ADS_1
"Naah sekarang brondong mana yang menjadi incaran Mima?".
"Rahasia dong".
Sampai saat istirahat siang Cello langsung meluncur ke puskesmas untuk mengajak Aisyah makan siang berdua, sampai di depan kantor Aisyah sengaja Cello mengetuk pintu layaknya seorang pasien yang ingin berobat.
"Tok..tok..tok".
"Silahkan masuk!" jawab Aisyah dari dalam kantor.
"Permisi dokter, apakah ada obat untuk rasa rindu yang tidak bisa tertahankan?" goda Cello setelah membuka pintu dan melihat Aisyah sedang memeriksa dokumen rekam medis pasien.
Aisyah langsung mendongakkan kepalanya kearah suara yang tidak asing di telinganya dan melihat penampilan Cello yang tidak seperti biasanya.
"Kak Cello kok beda banget penampilannya, habis perawatan ya?".
"He he he kok tahu sih ini aku melakukan perawatan khusus untuk kamu, makanya aku langsung kesini, agar kamu bisa menikmati wajahku yang tampan".
"Narsis banget sih kak, lagian genit banget sih pakai perawatan segala".
"Sayang bukannya di puji suaminya sudah ganteng malah di bilang genit sih tega banget".
Aisyah hanya tersenyum dan tidak menanggapi celotehan Cello, terus konsentrasi memeriksa dokumen yang ada di depannya.
"Aku ijin pulang jam dua siang kak, kak Cello kalau lapar sana makan aja sendiri, aku juga belum lapar".
Cello menunggu hampir dua jam di ruang Aisyah, hanya diam dan bermain game di handphonenya, dan sesekali melirik Aisyah yang konsentrasi dengan pekerjaannya.
"Ayo kak pulang aku sudah selesai" ajak Aisyah setelah selesai merapikan meja kerjanya.
Cello dan Aisyah pulang ke panti asuhan, tetapi diam diam menghubungi Mima Cinta untuk datang ke panti asuhan karena ingin melihat Aisyah tidak tegang dan dan terlihat segar.
Tiba di panti asuhan Cello dan Aisyah ternyata datangnya bersamaan dengan Mima Cinta dan satu anak buahnya yang juga seorang laki-laki tetapi lemah gemulai bernama Jenny.
Setelah makan siang Aisyah terpaksa melakukan perawatan yang di rencanakan oleh Cello berdua bersama bunda Aulia.
Pada malam harinya Cello sekeluarga datang tepat pukul tujuh, berbincang dan bercengkerama dengan bunda Aulia sambil menunggu Kanno dan Agnes serta Rafael dan Shifa yang sudah on the way dari rumah.
Rafael dan Shifa sebelum menuju Panti asuhan berniat untuk membelikan pizza untuk anak-anak panti terlebih dahulu, karena memesan pizza dalam jumlah besar membuat antrian panjang yang ada di belakang Rafael dan Shifa.
Setelah mendapatkan pizza yang di pesannya, Rafael dan Shifa kembali berjalan menuju Panti asuhan, tetapi baru berjalan sekitar sepuluh menit melajukan mobilnya ada satu mobil yang dari gerai pizza tadi mengikutinya.
__ADS_1
"Kak El sepertinya itu mobil yang ada di belakang mengikuti kita dari gerai pizza tadi deh".
"Honey, aku juga merasa seperti itu, coba kamu catat nomor kendaraannya!".
"Aku kirim nomor kendaraan ke handphone kak El ya".
Sampai hampir setengah jam ternyata mobil itu masih mengikutinya, mata tajam Rafael bisa melihat dari spion mobil melihat ada tiga orang laki-laki yang ada di mobil itu termasuk sopirnya.
Saat Rafael menambah kecepatan tinggi, mobil itu juga menambahkan kecepatannya sehingga jarak antara keduanya tetap saja terlihat.
"Kak coba setelah lampu merah depan sana ada sebuah pom bensin, bagaimana kalau kak El memutar sehingga kita bisa bertukar tempat kita yang mengejar mereka".
"Waah ide bagus itu, tetapi seharusnya dia tepat berada di lampu merah saat kita melaju berbelok ke pom bensin jadi tidak terlalu terlihat kalau kita sudah mengetahui kalau kita sudah mengetahui jika kita diikuti".
"Betul kak, sebaiknya kak El kurangi kecepatan mobilnya".
"Baiklah".
Dengan strategi yang diusulkan oleh Shifa, Rafael memperkirakan saat mobilnya melesat tepat lampu merah menyala dan mobil yang mengikutinya terpaksa harus berhenti karena terjebak oleh lampu merah.
Rafael perlahan berbelok ke pom bensin hanya berjalan perlahan agar mobil yang masih ada di lampu merah kembali berjalan dan bisa menyusul mobil yang di kendarainya, saat lampu hijau menyala mobil yang tadi mengikuti Rafael langsung melesat ingin menyusul Rafael dan dengan cepat pula Rafael mengikuti mobil itu dari belakang.
Sehingga sekarang jadi terbalik Rafael lah yang mengejar mobil itu, bahkan sudah hampir seperempat jam Rafael mengikuti mobil itu, mereka sepertinya belum menyadari jika mobil Rafael ada di belakang dan mengikuti mereka.
"Honey coba kamu foto nomor kendaraan itu pakai handphone aku aja, lalu kirim ke komandan Conan".
Shifa mengambil handphone Rafael yang berada di kantong baju Hem nya, mengambil foto dan di kirim langsung ke komandan Conan.
"Honey apakah bisa kamu mengambil foto wajah mereka satu persatu?".
"Ya sebentar aku coba, kak El bisa lebih dekat lagi jarak mobilnya tetapi harus hati-hati".
"Ok aku usahakan".
Entah sudah berapa kali Shifa mengambil foto orang laki-laki yang ada di dalam mobil itu, baik dari posisi samping dan posisi dari belakang mobil.
"Sudah kak, jaga jarak lagi nanti takutnya kita ketahuan?".
"Coba kamu pilih yang terlihat jelas kemudian kirim ke komandan Conan lagi!".
"Ok siap" Shifa mengirim beberapa foto yang di ambilnya dan di kirimnya cepat melalui pesan WA kepada komandan Conan.
__ADS_1
Hampir setengah jam Rafael masih mengikuti mobil dalam kecepatan tinggi, tetapi lama-kelamaan kecepatan mobil itu mulai berkurang, dengan terpaksa Rafael juga mengurangi kecepatan mobilnya dan menjaga jarak agar tidak ketahuan jika dia mengikuti mereka.
"Bagaimana sekarang kak El, apakah mereka sudah menyadari kalau kita mengikutinya?".