Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
20. Jakarta I Am Home


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Shifa dan Aisyah berada di Singapura, mengajak makan siang pegawai catatan sipil dan organisasi sosial yang hampir tiga Minggu ini mereka ikuti.


Shifa mengajak mereka semua makan siang bersama di sebuah kafe yang berada di sebelah kantor catatan sipil, dengan mentraktir makan siang bersama menambah keakraban dan saling mengenal satu sama lainnya.


Ternyata ada satu pemuda anggota organisasi sosial sedari awal selalu memperhatikan Shifa tanpa Shifa sadari, saat acara perpisahan itu awalnya dia mendekati Aisyah untuk menanyakan tentang Shifa, ingin tahu siapa dan dimana Shifa tinggal, tetapi karena Aisyah bisa membaca dan gerak gerik dan ketertarikan pemuda itu, Aisyah tidak mau memberikan informasi tentang sahabatnya yang hatinya sudah terpaut dengan Rafael.


Pemuda itu namanya Ramzi Kristian, pemuda keturunan Singapura Amerika berbadan tegap dan memiliki restauran seafood terkenal di Singapura, ketertarikan Ramzi dengan organisasi sosial itu karena dia sering melihat omanya mendatangi dan menyumbang dana untukorganisasi sosial itu, saat Shifa dan Aisyah bergabung Ramzi lebih sering hadir pada setiap acara, padahal biasanya dia akan hadir saat weekend saja.


Saat Aisyah sedang memesan makanan sendiri kepada pelayanan kafe, Ramzi bergegas mendekatinya untuk mencari informasi tentang gadis yang dikaguminya.


"Ais katanya besok sudah akan kembali ke Indonesia jam berapa?" tanya Ramzi sambil memegang satu gelas kofilate yang baru dipesannya.


"Iya insyaallah, pagi rencananya?" jawabnya singkat tanpa melihat Ramzi hanya fokus pada menu makanan saja.


"Apakah boleh saya antar ke bandara?" tanya Ramzi ragu-ragu.


Spontan Aisyah mendongak memandang wajah Ramzi lekat-lekat seolah ada rasa sedikit kesal tetapi tersenyum terpaksa yang dilakukan olehnya.


"Maaf kak, sudah ada sih yang mengantar, tetapi silahkan tanya langsung ke Shifa sebab dia yang mengaturnya" jawabnya cepat.


Ada rasa kecewa dengan jawaban Aisyah, tetapi mencoba tetap tersenyum, bergabung kembali dengan anggota yang lain dimana ada Shifa disana.


"Guys apakah ada tim yang mengantar Shifa ke bandara besok, saya ikut jika ada?" tanya Ramzi dengan niat terselubung ingin berdekatan dengan Shifa.


"Eeee jangan kak maaf tidak usah ada tim segala, sebab saya subuh petang nak berangkat, sudah ada uncle dan Papi yang siap sedia" alasan Shifa agar tidak ada yang mengantarkannya besok.


Shifa bisa merasakan jika Ramzi tertarik padanya, mencoba bersikap sebisanya mungkin, berpikir sejenak bagaimana agar bisa menghindari dia untuk tidak ikut mengantar ke bandara, karena mengingat Rafael saja dalam hatinya sehingga Shifa memanfaatkan situasi atas nama pujaan hati.


"Maaf teman-teman, sebenarnya nanti saya juga didampingi oleh pasangan, jadi mohon doanya saja semoga perjalanan kami selamat sampai tujuan" kembali Shifa berucap padahal dalam hati Shifa pasangan yang di maksud adalah Aisyah.


Dengan sedikit tersentak kaget Ramzi menyembunyikan perasaannya karena Shifa menyebutkan pasangan, berarti dia sudah memiliki kekasih gumamnya dalam hati.


"Baiklah Shifa semoga besok perjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan" doa Ramzi walaupun hati terasa perih, cintanya layu sebelum berkembang.

__ADS_1


Aisyah mendekati dan mendengar Shifa saat dia mengatakan akan diantar oleh pasangan, duduk disampingnya menyentuh bahunya dan berbisik "Siapa yang di maksud pasangan?" bisik Aisyah ditelinga Shifa".


Shifa tersenyum tipis dan menjawab pertanyaan Aisyah dengan berbisik juga di telinganya "Dirimu".


"Waah sekarang sudah pintar modus ya" Aisyah ikut tersenyum dan melirik kearah Ramzi yang menatap Shifa dengan lekat.


Pada pagi harinya, setelah sholat subuh Shifa dan Aisyah memesan mobil online untuk mengantarnya ke bandara internasional Singapura.


Dalam perjalanan Shifa mengirim pesan WA kepada Rafael karena sudah beberapa hari ini Rafael selalu bertanya kapan akan pulang ke Indonesia.


"Kakak El, Shifa sekarang sudah di bandara internasional Singapura, kemungkinan sekitar tiga jam lagi sudah tiba di bandara internasional Soekarno Hatta" tulis Shifa dalam pesannya.


Aisyah hanya melirik kearah handphone Shifa, tahu betul siapa yang dikirimi pesan, seketika mengingat sosok Cello, hatinya terasa nyeri mengingat saat dia berdua di kantin dengan sang pacar.


Aisyah memang tidak mengetahui jika Cello sudah putus dengan pacarnya saat ini, hanya mengambil nafas panjang, mencoba ikhlas dan berdamai dengan hatinya, tidak ingin berlarut-larut dalam cinta yang tidak terbalas, tetapi hati dan otaknya seolah olah tidak bisa diajak kompromi, mata dan hatinya selalu mengingat senyum dan candanya saat mereka berada di rumah sakit waktu itu.


Dalam waktu tiga Minggu ini Cello sering mengirim pesan juga sebenarnya, memberikan perhatian seolah olah perhatian pacar, tetapi Aisyah tidak begitu memberi harapan untuk hatinya, hanya sekedar menjawab sesekali saja, jika tidak terlalu penting untuk menjawab Aisyah memilih mengabaikan pesan dari Cello.


Aisyah selalu mengingat saat Cello berdua dengan sang pacar agar hatinya tidak goyah saat Cello memberikan perhatian, Aisyah tidak ingin di cap sebagai perebut pacar orang, tidak ingin menjadi orang ketiga diantara hubungan dengan Norma dengan Cello pujaan hatinya.


Tanpa terasa sudah sampai di bandara internasional Singapura Aisyah tersadar dari lamunannya, turun dari mobil, menarik koper kecilnya, membantu koper Shifa yang lumayan besar dan kotak kardus milik Shifa yang isinya oleh oleh yang disiapkan oleh bibi pengasuh, karena memang selama tiga Minggu di Singapura mereka berdua tidak sempat jalan-jalan ataupun mencari oleh oleh bahkan Aisyah juga tidak membeli kenang kenangan dari sana karena memang keterbatasan keuangan juga karena memang tidak memiliki banyak uang saku yang dia miliki.


Mendorong troli masuk area bandara, melewati dua pintu pemeriksaan, cek-in, menyerahkan koper kepada petugas bagasi dan menunggu di gate yang sudah di tentukan oleh pihak petugas bandara.


"Ais, mengapa melamun terus dari tadi, apakah selalu membayangkan kak Cello?" goda Shifa saat mereka sudah di ruang tunggu bandara.


"Terbalik Shifa, yang membayangkan sang kekasih itu dirimu, dari tadi handphone aja yang kamu pandangi, aku selalu diacuhkan" cabik Aisyah mengerucutkan bibirnya.


"Ah masak.... perasaan tidak deh, kamu yang sedari tadi hanya melamun, apakah kak Cello tidak menghubungi Ais pagi ini?".


"Ada nich, dia tanya kapan pulang kembali Jakarta" .


"Terus, mengapa tidak dijawab?".

__ADS_1


"Malas aaah, buat apa juga tau aku pulang kapan, memangnya mau jemput Upik abu seperti aku?, itu hal yang tidak akan mungkin terjadi".


"Iiiih... mengapa sahabatku pesimis sekali sih,ayo dong semangat, katanya kemarin kita harus percaya jika jodoh pasti bertemu, tidak ada hal yang tidak mungkin jika Allah sudah menghendaki".


Aisyah hanya menarik nafas panjang, tidak ingin berharap hal yang tidak mungkin terjadi, lebih baik menata hati, menerima dengan ikhlas dan sadar diri siapa dirinya.


"Sudahlah, jangan bahas dia terus, lebih baik kita siap-siap untuk mencari aunty Ara, itu seharusnya prioritas kita" jawab Aisyah mengalihkan pembicaraan.


"Betul juga, apa langkah kita ya, saya masih bingung?".


Mengerutkan keningnya berpikir sejenak Shifa sambil memandangi langit langit ruang tunggu bandara dan bersandar di sofa panjang yang didudukinya.


"Bagaimana kalau kita sarching di google mencari nama Amara Khadijah terlebih dahulu, media sosial, Facebook atau Twitter?" saran Shifa setelah berpikir sejenak.


"Betul juga ya, baiklah itu ide bagus" jawabnya singkat.


Panggilan dari pegawai bandara jika pesawat komersial yang akan di tumpangi Shifa dan Aisyah sudah menggema terdengar di telinga.


"Let's go, Jakarta I am home" semangat Shifa dengan berjalan berjalan mengantri menuju pesawat terbang yang sudah berada tak jauh dari pintu masuk.


"Bunda, aku pulang, adik-adik I miss you" Aisyah juga ikut bersemangat ingin segera bertemu ibu angkatnya dan adik adik panti yang selalu menganggapnya saudara sendiri.


Duduk di kursi yang bersebelahan setelah memasuki pesawat, memasang seat belt dan berdoa semoga perjalanan selamat sampai Jakarta nanti Aamiin.


_______________


Jangan lupa like vote dan komentar serta


hadiahnya shobat author semua


sehat selalu, jaga kesehatan seluruh keluarga


dalam dari dunia halu.

__ADS_1


terima kasih


__ADS_2