Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
82. Otak Ngeres Cello


__ADS_3

Kembali menginjakkan kakinya di Jakarta Shifa tersenyum setelah turun dari helikopter milik mertua, di gandeng oleh Mami Inneke yang sangat tulus menyayanginya.


Apalagi setelah bertemu keluarga besar yang ada di perkebunan, hati Shifa perlahan tetapi pasti benar benar merasakan kehangatan keluarga yang sesungguhnya.


"Apakah El tahu kalau kita pulang hari ini nak?" tanya Mami Inneke saat mereka turun menggunakan lift.


"Tidak Mami, aku tidak menghubungi kak El, biar buat surprise aja".


"Mami langsung ke kamar aja ya istirahat".


"Ya Mami, selamat beristirahat, aku juga langsung ke kamar".


Di dalam kamar, Rafael sedang bersiap-siap berangkat untuk menyusul Shifa ke perkebunan teh, berdandan rapi, packing menggunakan tas punggung, KTP dan identitas diri juga tidak lupa di persiapkan.


"Assalamualaikum kak El, aku pulang".


"Honey, aku mau nyusul kesana Alhamdulillah kamu sudah sampai rumah"


Shifa langsung mendekati meja riasnya duduk di sana membuka masker, hijab, softlens di letakkan di atas meja rias.


"Sini aku bantu buka ya" usil Rafael mendekati Shifa memeluk dari belakang kursi membuka kancing baju satu persatu.


"Kak El mengapa ini yang di buka, aku mau ke kamar mandi dulu, masak aku ke kamar mandi tidak pakai baju sih?".


Rafael hanya tersenyum tanpa memperdulikan protes dari Shifa tetap saja kancing baju di buka dari atas sampai bawah, langsung di gendong bridal masuk ke kamar mandi.


"Celananya aku buka sekalian sini, tapi jangan ditutup bajunya ya".


"Kak El mau ngapain ikut masuk kamar mandi, sana keluar dulu, aku mau buang air kecil".


"Baiklah aku keluar sebentar, tetapi jangan di kunci pintunya, kalau dalam waktu lima menit tidak keluar aku susul kesini ok".


Rafael keluar dari kamar mandi berniat untuk mengganti baju dengan baju tidur tetapi hanya celananya saja yang di pakai sedangkan atasannya di lempar begitu saja di dashboard tempat tidur.


Shifa keluar dari kamar mandi dengan baju yang sudah di kancing rapi, tidak seperti saat masuk ke kamar mandi tadi.


"Lho kok sudah di kancing lagi, tadi sudah di bilangin jangan ditutup mulai bandel ya"


"Dingin kak".


Rafael menarik tangan Shifa sampai tempat tidur di kelitikin pinggangnya, tertawa terbahak bahak "Ampun kak, geli".


"Salah sendiri bandel banget di bilangin suami" Rafael mengungkung Shifa tetap di kelitikin.

__ADS_1


"Ampun kak, ok aku buka tapi stop, geli tau kak El".


Rafael berhenti, tetapi posisi masih berada di atas Shifa, tangan Shifa membuka kancing baju satu persatu sambil menatap sendu wajah El dengan penuh cinta.


"Sini aku bantu buka yang lain ya".


Rafael mulai membuka satu persatu semua yang melekat di badan Shifa, padahal belum sekali memulai pemanasan untuk pergumulan panas Shifa sudah tidak mengenakan sehelai benang pun di badannya.


Gantian Rafael juga membuka celana tidur yang dikenakan tadi baru mulai melakukan pemanasan dan sampai keduanya mereguk nikmatnya bercinta sampai ke ******* bersamaan.


Pagi harinya setelah sholat subuh Rafael dan Shifa berangkat ke rumah Mama Ara dan Papa Mario untuk membantu persiapan acara akad nikah dan resepsi sederhana Cello dan Aisyah besok hari Minggu.


Karena Rafael masih sering diikuti oleh orang yang tidak di kenalnya, sehingga memutuskan untuk berangkat setelah subuh karena pengawasan mereka seringnya di mulai setelah pukul tujuh pagi.


Akan berniat menginap di rumah Mama Ara malam ini, Shifa sudah packing baju untuk berdua, berangkat dengan di antar sopir yang biasa mengantar Mami Inneke tidak berniat membawa mobilnya sendiri agar tidak terlihat mencolok jika di awasi oleh anak buah dari Agus Martono.


Sampai di rumah Mama Ara rumah masih terlihat sepi, hanya ada Mama Ara yang sibuk di dapur mempersiapkan sarapan pagi bersama bibi, setelah menyapa Mama Ara Shifa langsung berlari menuju ke lantai atas untuk meletakkan tas ransel ke kamarnya.


Ternyata Rafael ikut masuk ke kamar Shifa, padahal awalnya ingin mengganggu tidur Cello tetapi Cello tidak ada di kamarnya, dia sedang berada di ruang olahraga.


"Kok ikut kesini, kak CL kemana memang?".


"Dia tidak bisa tidur katanya, jadi olahraga di lantai atas".


"Ogah lebih baik aku olahraga bersama istriku aja lebih asyik dan nikmat tiadatara" Rafael mulai memeluk Shifa dan mulai menyusup di balik bajunya meremas gunung kembar dengan lembut.


"Kak El nanti ada yang masuk, malu iiih".


"Palingan kabur kalau lihat kita sedang olahraga pagi" kembali Rafael bergerilya sampai Shifa ikut terpancing dan menikmati semua sentuhan tangan Rafael.


"Aku kunci pintu dulu deh, tapi janji ya hanya sekali aja, nanti keburu ada yang datang".


Rafael hanya tersenyum, selama ini dia tidak pernah hanya sekali jika sedang bercinta, Shifa kembali setelah mengunci pintu Shifa sengaja mendorong Rafael sampai terlentang di atas tempat tidur, dan Shifa mulai naik di atas tubuh Rafael "Janji sekali saja ok".


"Aku tidak bisa janji honey, emang tega kalau aku masih menginginkan istriku tetapi di batasi"


Hampir satu setengah jam mereka melakukan pergumulan panas nya, tetap Rafael tidak puas jika hanya melakukan sekali saja, ini baru selesai ronde kedua tumbang di samping Shifa dengan nafas yang memburu.


"Kak sebentar lagi pasti Mama Ara akan memanggil untuk sarapan, aku mandi duluan ya, kak El disini aja".


Baru Shifa ingin turun dari tempat tidur dengan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya ada ketukan pintu dengan keras.


"Tok..tok..tok, El, Shifa buka pintunya, ngapain pagi pagi kunci pintu?"

__ADS_1


"Sebentar tunggu".


Rafael sengaja hanya memakai celana pendek saja bahkan CD pun tidak di pakainya, setelah Shifa memunguti baju dan pelengkapnya termasuk hijab dan berlari masuk kamar mandi Rafael bergegas membuka pintu untuk Cello.


"Ada apa mengganggu aja sih?".


Cello menatap nanar kearah tubuh Rafael yang hanya memakai celana pendek membuat dahinya berkerut.


"Jam segini elo habis olahraga dengan Shifa, kurang aseeeem, ini yang buat gue semaleman kagak bisa tidur breng sek lo".


Cello nyelonong masuk ke kamar dan duduk di tempat tidur yang seprai kusut yang lebih parah lagi ada CD yang masih tergeletak di atas tempat tidur.


"Gelo lo El, elo sengaja pamer CD di depan mata gue, jangan jangan elo kagak pake CD ya El?" Cello menarik celana pendek Rafael.


"Emang kenapa gue sengaja biar elo semalam lagi kagak bisa tidur, pikiran elo pasti sudah ngeres".


"Pokoknya elo harus tanggung jawab nanti malam temani gue tidur, awas lo esek-esek lagi dengan Shifa malam ini gue akan tidur disini" ancam Cello semakin kesal karena Rafael berhasil membuat pikirannya melayang membayangkan hal yang mesum.


"Terserah aja kalau elo tahan lihat gue sedang ngadon sama bini gue, hitung hitung elo berguru dulu bagaimana cara membuat bini melayang-layang menuju puncak nirwana".


"Kampret lo, gara-gara elo pikiran gue jadi ngeres, padahal gue sudah olahraga hampir tiga jam, sekarang ngeres lagi, Aisyah kamu dimana aku kagak tahan lagi" teriak Cello dengan suara kencang.


Shifa keluar dari kamar mandi dengan memakai baju lengkap dan rambut yang di tutupi oleh handuk besar, Cello hanya bisa menatap Shifa dengan tatapan mata yang tidak bisa di artikan.


"Ada apa kak CL, kok menatapku seperti itu, apa aku punya salah?" tanya Shifa kepada kakaknya.


"Gara-gara elo dan Rafael otak gue jadi kongslet, ngeres terus nich tidak bisa hilang, gila gue jadinya" Cello memukul mukul kepalanya karena pikiran yang selalu negatif.


"Sini kak, aku sapu saja tuuuh pikiran kakak, biar bersih tidak ngeres lagi".


Rafael jadi tertawa terbahak-bahak karena Shifa juga ikut mengganggu Cello.


"Elo mau jadi adik durhaka, otak kok di sapu" cabik Cello kesal diikuti gelak tawa Rafael.


Datang Mama Ara membuka pintu kamar Shifa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Cello, disuruh panggil Rafael dan Shifa turun untuk sarapan, mengapa malah ngobrol sih?".


Cello menepuk dahinya sendiri, dia lupa tujuannya masuk kamar adiknya seharusnya memanggilnya untuk diajak sarapan jadi lupa gara-gara Rafael yang pamer habis olahraga pagi.


"Maaf Mama, keasyikan ngobrol jadi lupa" jawab Cello sekenanya saja.


"El cepat pakai baju, Papa sudah menunggu untuk sarapan, Cello ayo turun dulu di tunggu Mima Cinta" Mama Ara menarik tangan Cello dan keluar dari kamar Shifa.

__ADS_1


"Ya Mama, nanti El nyusul, terima kasih" jawab Rafael tetapi mengedipkan matanya kepada Cello tetapi tangan Rafael memeluk Shifa.


__ADS_2