Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
73. Siang Pertama


__ADS_3

Permasalahan dengan Papi Thora hari ini selesai, bersamaan dengan pulangnya kembali beliau ke Singapura, Shifa sudah merasa lega setelah mengenal lebih dekat walaupun hanya semalam saja bersama Papi kandungnya.


Siang ini Rafael pulang untuk makan siang, juga ingin meminta tanda tangan Papi Faro yang hari ini tidak ke kantor karena tidak ada agenda penting di kantor dan besok adalah hari libur nasional sehingga hari ini waktu dihabiskan untuk bersantai dengan Mami Inneke.


Saat masuk kamar ingin mengajak Shifa makan siang bareng keluarga dibawah, melihat Shifa menghadap kiblat, menghadap sang Khaliq dengan khusyuk, dengan tersenyum berlari kecil menuju kamar mandi, mengambil air wudhu ikut bersujud menghadap sang maha pencipta, setelah selesai Shifa mengambil dan mencium punggung tangan Rafael.


"Sejak kapan tamunya pergi, kenapa tidak pamit aku ingin memarahinya kalau datang jangan lama-lama"


Shifa membuka mukena dengan tersenyum mengingat hampir satu Minggu ini selalu mempersalahkan tamu yang menurutnya mengganggunya.


"Pagi setelah kak El berangkat kerja aku mandi besar kak, memang kenapa?"


"Sebenarnya pingin siang pertama, tetapi ini lagi di tunggu untuk makan siang bersama di bawah".


"Siang pertama, apa itu kak?".


"Istriku yang cantik dan polos, di luaran sana sering orang menyebutnya malam pertama karena sekarang ini siang hari maka namanya siang pertama".


"Kak El seharusnya kalau itu yang istimewa gitu lo, jadinya terkesan".


"Maunya seperti apa honey, asal aku dapat jatah siang pertama aku jabanin deh semua permintaan kamu?"


Belum sempat Shifa menjawab ada ketukan dan teriakan Najja dengan keras.


"Tok...tok.... tok kak El, kak Shifa di tunggu Papi sama Mami".


"Ya sebentar ini sudah mau keluar" jawab Shifa ikut berteriak.


"Ayo kak El, kita turun dulu" dengan menautkan tangannya Shifa sedikit menarik Rafael yang seakan enggan keluar dari kamar.


Makan dengan pikiran setengah hati merasakan kenikmatan hidangan yang ada di piring, pikirannya tertuju pada ucapan Shifa yang menginginkan sesuatu yang istimewa dan berkesan saat momen yang di tunggu tunggu pasangan pengantin baru.


Setelah hampir makan di piring hampir habis, mempunyai ide untuk liburan ke Bali karena besok adalah hari libur nasional, selesai makan siang, Najja kembali ke kamarnya, tinggal berempat di meja makan.


"Papi, El ijin ke Bali ya besok libur ini?".


"Mau ngapain El libur cuma satu hari, nanti adikmu bingung pingin ikut, Mami jadi tidak tega kalau adikmu merengek ingin ikut".


"Bulan madu yang sesungguhnya Mami".


"Eee kemarin sudah tiga hari di Brunai Darussalam bulan madu, memang itu palsu?".


"Karena kemarin tamu bulanannya datang Papi, jadi kemarin itu bulan madu palsu, El jadi pusing nich".

__ADS_1


"Kak El ngomong apa sih malu tau sama Papi dan Mami?".


Papi Faro dan Mami Inneke tertawa lepas mendengar kejujuran Rafael dan muka Shifa yang merah karena malu.


"Ya sudah sana siap siap Papi hubungi pilot dan co-pilot untuk mengantar kalian ke Bali".


"Benar Pi, asyik Papi emang is the best, honey ayo kita berangkat".


"El ke reservasi hotel online aja sekalian jadi sampai sana tinggal masuk, apa Mami aja yang pesankan?".


"Iya Mami El tinggal tau beres aja".


Semua serba mendadak tanpa berpamitan dengan kedua sahabatnya Cello dan Kanno, hanya mengirim pesan WA kepada keduanya.


Belum sampai pukul tiga sore Rafael dan Shifa sudah berada di dalam kamar hotel suite room khusus untuk penganten baru, Rafael ingin cepat cepat melakukan ritual siang pertama beserta istri tercinta.


Tetapi baru mulai memeluknya dari belakang saat Shifa membuka hijab, melepas masker dan mengambil Softlens biru yang biasa di pakainya tiba tiba perut Rafael mulas.


"Aduh aduh, honey sebentar kok tiba-tiba perutku sakit, aduh...aduh aku mau ke kamar mandi sebentar".


"Apakah gantian ada tamunya kak El yang datang tidak di undang?".


"Iya tamuku paling sepuluh menit datangnya, paling lama setengah jam sudah minggat, tenang saja".


Rafael masuk kamar mandi melaksanakan buang hajat mengusir tamu yang tidak di udang yang tiba-tiba datang, sedangkan Shifa hanya tiduran menunggu Rafael keluar dari kamar.


"Yaaah malah tidur, padahal cuma setengah jam saja, tega banget".


"Kak El lama sih"


Suara serak Shifa mengagetkan Rafael saat memandangi wajah Shifa yang terpejam tetapi masih mendengar Rafael sedang menggerutu.


"Kirain tidur nyenyak, ya sudah kamu diam aja aku mau pemanasan dulu mengambil cicilan terakhir".


"Hhhmm" jawab Shifa.


Rafael naik di tempat tidur berbaring miring menghadap kearah Shifa, kepala di topang dengan tangan kirinya, tangan kanan mulai membuka kancing satu persatu sampai terlepas semua, membelai dari perut lembut ke atas meremas gunung kembar yang masih tertutup sempurna oleh bra, digesernya sedikit keatas sampai puncak gunung kembar terlihat nyata.


Sedikit bergerak naik diatas badan Shifa, mulai menyusuri leher jenjang Shifa dengan bibirnya memberi tanda merah dan beralih ke puncak gunung kembar mengulumnya dengan lembut, yang awalnya Shifa mengantuk karena sentuhan Rafael matanya langsung terbuka sempurna saat Rafael tepat diatas dadanya dan bermain disana.


Rafael mendongak ke wajah Shifa yang mulai merona, duduk di samping Shifa membuka baju Hem dan kaos singlet di lemparkan ke lantai.


"Sudah tidak ngantuk lagi sekarang?".

__ADS_1


Shifa hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, Shifa duduk bersandar di dastbor tempat tidur.


"Sini aku bantu buka baju dan bra nya".


Rafael menarik baju, memeluknya melihat kearah punggung Shifa membuka pengait bra yang kecil, setelah terbuka di tarik dan di lemparkan ke lantai juga.


Kembali mencium bibir Shifa dengan penuh gairah, keduanya sudah terbuai menikmati indahnya surga dunia, sudah seluruh lekuk tubuh dari Shifa di absennya tanpa ada yang tertinggal, kembali Rafael membuka celana yang bagian bawah dan rok serta segitiga yang menempel dan dilemparkan kembali ke lantai.


"Sudah siap honey, aku ijin masuk ya?".


"Iya kak, tetapi pelan-pelan ya, takutnya sakit".


Perlahan dibaringkan Shifa, naik diatas badan Shifa, di bukanya kaki dengan dorongan kaki juga, masuk sedikit demi sedikit, sambil melihat Shifa yang sedikit meringis, Rafael kembali mencium bibirnya untuk mengalihkan agar tidak terasa sakit saat pertama kali masuk ke tempatnya.


Setelah masuk dengan sempurna Rafael diam tidak bergerak, agar Shifa merasa nyaman terlebih dahulu.


"Apakah masih sakit, jalannya sempit banget sih?"..


"Sudah tidak terlalu kak".


"Aku mulai bergerak ya".


"Aaaaah iya kak, terus sayang".


Yang awalnya perlahan gerakan Rafael semakin dipercepat, antara rasa perih dan nikmat yang bersamaan tidak bisa di gambarkan betapa nikmat Tuhan yang mana lagi yang bisa di dusta kan.


Bersamaan ******* kecil yang keluar dari mulut Shifa menambah gairah Rafael semakin menggila, gerakan semakin cepat, disertai bibir yang terus bergerilya sampai keduanya terpuaskan keluarnya cairan pekat bersama, dan tumbang di samping Shifa sambil tersenyum.


"Terima kasih, ini tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata I love you" Rafael kembali memeluk tubuh Shifa yang polos tanpa sehelai benangpun.


Dari sore, malam sampai kembali pagi hari Rafael tidak mengijinkan Shifa keluar kamar sedikitpun, dihabiskan waktu berdua hanya bercinta dan bercinta lagi, makan juga hanya memanfaatkan layanan kamar.


"Kak El kita sudah di Bali, kenapa hanya di kamar saja, ayo aku maunya makan jalan juga ke tempat wisata".


"Kemarin katanya minta siang pertama kita di tempat terkesan, ini sudah aku penuhi, tidak ada rencana untuk jalan jalan honey".


"Jadi sampai kita di jemput, hanya akan di kamar terus gitu?".


"Iya rencananya begitu, pemandangan di luar sana tak seindah yang ada disini apalagi itu yang ada di depan, buuiih keduanya sangat indah, sekarang menjadi pemandangan terindah dan favorit dalam hidupku".


"Yang mana, didepan yang mana?".


"Sebentar aku tunjukkan, tetapi tangannya diam ya jangan proses".

__ADS_1


Rafael membuka kancing baju Shifa dan menangkup kedua gunung kembar itu dengan sempurna.


"Inilah pemandangan yang terindah dan favorit ku sekarang" kembali keduanya memadu kasih sampai puncak kenikmatan surga dunia.


__ADS_2