Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
63. Tamu Bulanaan


__ADS_3

Pukul sembilan pagi mobil jemputan kerajaan sudah standby di depan rumah Uncle Mahfud, dengan berpenampilan berbeda setelah Shifa menikah penampilannya semakin anggun dengan mengenakan pasmina gaya anak muda jaman sekarang.


Setelah siap keluar dari kamar dengan penampilan yang anggun mendekati Rafael yang setia menunggu di ruang tamu duduk sambil minum kopi bersama Uncle Mahfud.


"Ayo kita berangkat kak El".


"Waaah cantiknya istriku, sini kopernya aku yang bawa".


"Uncle, kita berangkat dulu ya, aunty mana?" pamit Shifa meraih dan mencium punggung tangan nya.


"Aunty di sini" jawab aunty Ziyah berlari mendekati Shifa cipika cipiki dan memeluknya dengan erat.


"Have fun ya, always happy for you" pesannya singkat.


"Thanks aunty, kami pamit" Shifa melambaikan tangannya perpamitan.


Paket honeymoon hari pertama Rafael dan Shifa adalah menuju hotel bintang lima yang tidak jauh dari istana Kesultanan, tetapi hampir dua hari ini Shifa hampir tidak tidur saat ada di dalam mobil kerajaan sedang mengantar mereka sampai ke hotel mata Shifa sama sekali tidak bisa diajak kompromi betul betul sangat mengantuk.


"Kak El, bolehkah kita mulai wisatanya sehabis asar aja, aku ingin tidur, hampir dua hari sudah aku tidak tidur?".


"Baiklah sini tidurlah, aku juga ngantuk".


Langsung tertidur pulas Shifa dalam pelukan Rafael hingga pukul dua siang, sudah terbiasa tidur sendiri, saat mata mengerjap ada tangan kekar melingkar sempurna di perut, Shifa tersentak kaget dan langsung duduk di pinggir tempat tidur.


"Ada apa honey, apakah sudah tidak ngantuk lagi?" tanya Rafael tetapi matanya masih terpejam.


"Sssttt " tiba tiba Shifa mendesis menahan rasa nyeri di pinggangnya sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri pula.


Rafael langsung terduduk di samping Shifa mendengar suara Shifa menahan sakit.


"Ada apa honey, apanya yang sakit?".


"Sepertinya aku kedatangan tamu deh kak El" ucap Shifa masih meringis menahan sakit.


"Eeee tamunya mana, kedatangan tamu kok perutnya yang di pegang?" matanya menyapu ke seluruh kamar hotel.


"Kak El, tamu bulanan bukan tamu yang lain" jawab Shifa kesal memukul lengan Rafael.


"Mana tamu bulanannya, aku tidak lihat?" Rafael masih belum faham apa yang di maksud oleh Shifa.


"Kakak iiih, ini lo tamunya, datang bulan" Shifa menunjuk kearah perutnya yang terasa nyeri dan pinggang terasa pegal.


Rafael langsung mengerutkan keningnya, belum faham betul dengan ucapan Shifa, setelah beberapa saat faham maksudnya ada kekecewaan yang mendalam di hatinya.


"Kenapa kak kok malah berubah gitu mukanya?".


"Kenapa datangnya sekarang?".


"Apanya kak?".

__ADS_1


"Itu bulan, kenapa tidak datang Minggu depan aja sih, kenapa sekarang datangnya?'.


"Maaf ya kak, dia datang tidak di undang, sini di kasih DP aja dulu, biar tidak kecewa"


Shifa mencium bibir Rafael dengan lembut tanpa malu-malu, tidak seperti sebelum menikah dulu.


"Hhhmm, istriku kok sekarang pintar, mau lagi dong" setelah Shifa melepaskan tautan bibirnya.


"Sudah halal kak, sudah sekali aja, namanya DP itu cuma sekali" jawab Shifa sekenanya dan turun dari tempat tidur.


"Mau kemana, minta cicilan pertama setelah DP dong" Rafael menarik tangan Shifa dan memonyongkan bibirnya.


"Iiih kak El, cicilan pertama harus nya ada jedanya, ini kenapa langsung, aku mau ke kamar mandi dulu ok".


Shifa meninggalkan Rafael yang masih dalam posisi yang sama bibir yang siap untuk di ***** dan mata terpejam, setelah beberapa saat tidak gerakan, Rafael membuka matanya melihat Shifa sudah hampir sampai di kamar mandi.


"Honey, tega iiiih, untung cinta aku rela menunggu".


"Modus" jawab Shifa masuk kamar mandi dan menutup pintu.


Setelah Shifa kembali, Rafael bergegas dalam posisi semula, siap siap menerima cicilan pertama yang dimintanya sebelum Shifa ke kamar mandi.


"Honey, kok lama mana cicilan pertama nya?"


"Baiklah".


Shifa kembali mencium lembut bibir Rafael, tetapi El langsung merangkul leher Shifa dan semakin memperdalam tautan itu sampai menjelajahi didalam sana sampai hampir habis pasokan oksigen keduanya.


"Pingin makan apa kak, sekalian ini aku mau ke supermarket beli pembalut, dimana ya supermarket nya?".


"Bukan pingin makan nasi honey, tapi pingin makan kamu".


"Eee maaf sabar ya sayang" Shifa hanya mengusap lembut pipi Rafael, dan kembali meringis nyeri pinggangnya mulai lagi.


"Honey, apakah memang sakit setiap tamunya datang, sini berbaringlah, biar suami idaman yang membelikan pembalut untuk istri tercinta" rayu Rafael sambil tersenyum.


"Apakah kak El tidak malu, sekalian beli minuman mereda nyeri haid lo kak?"


"Buat apa malu namanya bukan suami idaman dong kalau malu, tulis aja merk-nya yang harus aku beli ok"


"Baiklah suami idamanku, asal jangan jadi suami idaman wanita lain" seloroh Shifa dengan tersenyum devill.


Saat Rafael mengambil dompet dan handphone yang ada di meja samping tempat tidur kembali Shifa meringis menahan sakit.


"Mengapa menyiksa begini kalau lagi ada tamu, sini aku obati sebentar".


"E.. kakak mau ngapain?".


"Sudah diam dulu" Shifa hanya diam aja saat Rafael mengelus perutnya dan mencium lembut perut Shifa yang terhalang baju".

__ADS_1


"Sudah aku berangkat dulu ya, lain kali ciumannya tidak terhalang bajunya ok".


"Kan modus lagi, hati hati kak".


Keluar kamar hotel dengan menyunggingkan senyuman turun menggunakan lift mencari supermarket terdekat dari hotel, hanya dalam waktu setengah jam Rafael sudah kembali masuk kamar hotel kembali.


"Honey, ini di minum dulu, apakah masih sakit?" Rafael membukakan tutup botol minuman untuk penghilang rasa nyeri, sisanya di letakkan meja nakas.


"Kok banyak sekali belinya kak?"


"Kalau datang bulan memang berapa hari, ini cuma untuk lima hari sepuluh botol"


"Minumnya hari pertama dan kedua aja kak, atau nanti kak El mau minum juga?"


"Enak aja, aku tidak punya tamu bulanan, ngomong ngomong sampai berapa hari tamunya pergi?".


"Paling lama satu Minggu kak".


"Waduh lamanya honey, tidak bisa di usir sehari dua hari gitu suruh cepat pulang, tamu bandel betul"


"Kakak bisa aja, bagaimana ngusirnya?".


Saat Shifa ke kamar mandi untuk memakai pembalut, Rafael mendapatkan pesan WA dari sopir mobil jemputan kerajaan yang ditugaskan mengantar kemanapun pengantin baru itu menghabiskan waktunya selama di Brunei Darussalam.


"Tuan, saya sudah standby di bawah katanya habis Azar Anda ingin bertamasya?" tulis pesan dari sopir kerajaan.


Setelah Shifa keluar dari kamar mandi, dan setelah minum minuman pereda nyeri tidak terlihat sakit seperti siang tadi.


"Honey ini sopir sudah standby nunggu di bawah, bagaimana jadi kita ke One Billionth Barrel Monument".


"Jadi dong ayo berangkat!".


"Tunggu dulu honey, pakai Softlens nya, masker dan jangan lupa kacamata, ini wajib di pakai kalau kamu keluar rumah agar anak buah uncle Agus tidak mengenalnya".


Sesampainya di One Billionth Barrel Monument, mobil kerajaan meninggalkan tempat itu dan berjanji akan menjemputnya setelah matahari terbenam.


"Ramai banget tempatnya kak, monumen ini memperingati apa ya kak?" tanya Shifa sambil melihat


"Monumen ini di resmikan tahun 1991 memperingati satu milyar barel minyak mentah yang diproduksi di lapangan Seria, monumen ini didirikan di dekat lokasi sumur pertama yang ditemukan di Brunei pada tahun 1929, enam lengkungannya, yang bergabung di bagian atas, mewakili aliran minyak dari bawah tanah ke permukaan, serta jumlah dekade dari eksplorasi dan produksi minyak yang menghasilkan miliaran barel, di atas monumen duduk lambang nasional Brunei, mewakili kemakmuran bangsa dan rakyatnya"


"Kok kak El tahu sejarah monumen ini, memang sudah pernah kesini?".


"Baru sekarang ini honey aku kesini berdua dengan mu, aku sempat baca di destinasi wisata kemarin"


Sambil menikmati suasana sore hari, udara yang sejuk, mengabadikan momen berdua, berfoto dengan pose di dekat monumen, berjalan bergandengan tangan sampai sore menjelang.


"Itu kak kok banyak yang berdiri disana sepertinya sedang menunggu sesuatu kita ikut kesana yok!".


"Ayo kesana, biasanya mereka menunggu sunset datang, apalagi matahari tenggelam di atas laut Cina Selatan sungguh sangat indah".

__ADS_1


Shifa dan Rafael berpelukan berdiri menghadap matahari terbenam, degradasi warna yang sangat indah memandangi langit yang mulai meredup sangat membuat hati begitu damai dan bahagia apalagi menikmatinya berdua dengan pasangan.


__ADS_2