
Hampir tiga hari ini Ani Marsiti selalu menempel pada Shifa, kemanapun Shifa melangkah dia selalu mengikutinya, padahal hanya ada beberapa anak buah Teteh yang sering mengantri mengambil jatah makan, sedangkan Teteh dan dua anak buahnya masih di rawat di klinik karena luka melepuh karena tumpahan bubur kacang hijau panas yang ada di pipi dan perutnya.
Ani Marsiti hanya ingin mendramatisir keadaan, ingin menunjukkan jika dia teraniaya, dia sangat ketakutan dengan si Teteh dan anak buahnya, terkadang memang salah satu anak buah dari Teteh mengancam dan mengintimidasi Ani Marsiti dengan ancaman ataupun tatapan mata yang tajam serta melotot.
"Awas lo, gara-gara elo Teteh mukanya jadi bopeng, lihat aja nanti kalau dia sudah keluar dari klinik, habis lo" cabik salah satu anak buah dari Teteh.
Dan satu lagi anak buah Teteh hanya memberikan kode gerakan tangan yang memotong lehernya.
"Sebentar lagi mamp*s lo palingan nasib lo tamat tinggal nama?".
Ani Marsiti semakin menempelkan badannya mendekati Shifa, bahkan terlihat bersembunyi di balik badan Shifa padahal tubuh Ani Marsiti lebih besar dari tubuh Shifa "Shifa aku takut, apa yang harus aku lakukan?".
"Tenang aja mbak Ani, jangan takut ada aku yang akan melindungi dari si Teteh"
Keesokan harinya Teteh sudah keluar dari rawat inap klinik lapas, saat para napi mengantri mengambil makan siang bersama, Shifa berjalan ke taman bacaan diikuti oleh Ani Marsiti dari belakang.
"Shifa kamu tidak lapar, kok malah kesini bukannya ngantri ambil makan siang?' tanya Ani Marsiti
"Saya tidak lapar mbak, kalau mbak Ani lapar, ikut antri sana tidak usah takut" jawab Shifa mulai mencari buku yang belum pernah si bacanya.
"Hari ini di Teteh sudah keluar dari klinik, walaupun aku lapar aku tidak akan mengantri ambil makan kalau tidak ada kamu, aku takut" cabik Ani Marsiti dengan raut wajah yang memegang.
Shifa hanya menarik nafas dalam-dalam sambil menatap sendu Ani Marsiti antara kasihan dan rasa iba berdiri dan memandangi wajahnya yang tampak ketakutan.
"Ayo kalau mau makan saya temanin mbak!".
"Tidak usah Shifa, aku juga tidak lapar kok, makannya nanti malam saja".
Setelah satu jam duduk di taman bacaan dan waktunya untuk kembali ke sel kamarnya masing-masing mereka berdua berpapasan dengan rombongan geng lapas yang di pimpin oleh Teteh, tetapi sayangnya banyak petugas lapas yang menjaga saat semua napi masuk kamar selnya, sehingga geng lapas tidak berani mengusik Ani Marsiti, mereka hanya melotot tajam kearah Ani Marsiti dengan raut wajah yang kesal.
Tangan Ani Marsiti memegangi tangan Shifa dengan erat berjalan dengan ragu-ragu agar tidak terjadi keributan.
"Tidak usah khawatir mbak, mereka tidak bakal berani berulah, lihatlah banyak petugas lapas yang sedang mengawasi" ucap Shifa mengusap tangannya dan tersenyum manis.
__ADS_1
Kembali masuk kamar sel Shifa kembali membaca buku yang baru saja di pinjamnya di taman bacaan sedangkan Ani Marsiti berjalan mondar-mandir di hadapan Shifa dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan, bagi Shifa menganggap jika Ani Marsiti mengalami kecemasan dan ketakutan dengan ancaman geng lapas, tetapi bagi Ani Marsiti sendiri ingin menambah suasana ketidak berdayanya dirinya.
"Mbak Ani mengapa mondar-mandir seperti setrikaan begitu, lihatlah lantainya sudah licin?" canda Shifa menatap sendu wajah Ani Marsiti yang terlihat cemas.
"Aku takut Shifa, ternyata muka Teteh sampai bopeng begitu, kalau ancaman mereka beneran bagaimana?".
"Tenang aja mbak masih ada saya, insyaallah mbak Ani akan aman".
"Nanti malam tidak usah ikut ngantri makan saja ya, aku masih takut, muka Teteh bisa sembuh seperti semula enggak ya?".
"Emang mbak Ani tahan tidak makan seharian?, tadi siang sudah tidak makan, sudahlah sekarang kosmetik banyak kok mbak yang bisa menutupi muka seperti muka Teteh"
"Iya deh aku percaya kepada Shifa, aku mau istirahat dulu ya".
"Ya mbak tidurlah, jangan berpikir macam-macam ok".
Ani Marsiti langsung berbaring di tempat tidur dengan tersenyum puas, memejamkan matanya sesekali membuka sedikit melirik kearah Shifa yang santai membaca buku tanpa beban.
Ani Marsiti terlelap sampai waktu besuk sore tiba, tanpa sadar Shifa juga tertidur sambil duduk di lantai dengan kepala bersandar di pinggiran tempat tidur sampai ada teriakan petugas lapas membangunkan mereka.
"Bangun sekarang pukul tiga sore, Ani Marsiti kamu ada tamu!" teriak petugas lapas wanita.
Sontak Ani Marsiti dan Shifa terduduk dan terbangun sambil memandangi wajah petugas lapas wanita yang terlihat garang dan galak.
"Apa lihat lihat, cepat Ani Marsiti kamu ada tamu, Shifa tidak ada yang besuk" petugas lapas wanita itu membukakan pintu sel.
"Baik Bu, terima kasih".
"Shifa, aku tinggal sebentar ya" hanya tersenyum dan mengangguk sopan Shifa hanya melihat Ani Marsiti dan petugas lapas itu berlalu.
Seperti biasa Ani Marsiti menemui Rafael dan komandan Conan memberikan informasi dan laporan secara lisan tetapi kali ini suami tercinta juga ikut membesuknya, melepas kerinduan dengan sang suami membuat Ani Marsiti tidak banyak berbincang dengan Rafael, sehingga Rafael hanya sedikit melamun memikirkan keadaan Shifa yang sekarang berada didalam sana.
"Apakah kamu pingin melihatnya sebentar dia dari kejauhan?" tanya komandan Conan mengagetkan lamunan Rafael.
__ADS_1
"Tidak usah komandan semoga senior Ani bisa menyelesaikan tugas secepatnya, takutnya aku tidak bisa mengendalikan diri jika bertemu dengannya" tolak Rafael dengan hati yang gamang.
"Ya sudah kita pulang kalau begitu, jangan menggagalkan rencana kita, bersabarlah sedikit lagi" nasehat komandan Conan bijak.
"Ya siap komandan" jawab Rafael singkat.
Waktu makan malam tiba, saat ini Shifa dan Ani Marsiti mengantri mengambil makan malam dalam barisan depan sedangkan geng lapas mengantri agak belakang, awalnya suasana tenang dan tertib seperti biasa sampai Shifa dan mbak Ani selesai mengambil makanan dan ingin mencari tempat duduk yang kosong, tetapi naasnya saat mendekati geng lapas pura-pura Ani Marsiti tersandung kaki meja dan terjatuh sedangkan piring stainlies yang di pengang jatuh mengenahi kaki Teteh, bahkan napi lainnya yang berada di sekitar Ani Marsiti dan Teteh juga ikut terjatuh beserta piring stainlies yang di pegangnya.
Bukan kepalang marahnya si Teteh dengan menghentakkan kakinya Teteh berniat ingin mendekati Ani Marsiti bermaksud memukulnya tetapi karena di lantai banyak kuah sayur yang tumpah Teteh seketika terpeleset tepat mengenai kaki Ani Marsiti, dengan spontan Ani meloncat menginjak kaki Teteh tepat di tulang keringnya serta Ani terjatuh diatas tubuh Teteh.
"Aaaargh kaki gue br*ngsek lo rasain ini" dengan membabi-buta Teteh menghajar Ani Marsiti.
"Tunggu jangan pukuli dia!" teriak Shifa menarik tubuh Teteh menjauhkan dari Ani Marsiti yang menunduk memegangi kepalanya.
"Jangan ikut campur lo, apa elo mau gue bunuh juga ha?" dengan sengaja Teteh mendorong Shifa menjauh dari Ani Marsiti duduk jongkok menutupi kepalanya.
"Kamu hadapi saya dulu sebelum membunuh kakak saya!" dengan mata yang melotot Shifa geram melihat tingkah Teteh yang main hakim sendiri.
"Baiklah elo dulu yang gue habisin, dia belakangan, hyaaaaaat bhuuuuk" Teteh menyerang Shifa dengan amarah yang meledak-ledak.
Karena Teteh mengalami luka disalah satu kakinya yang diinjak oleh Ani Marsiti sehingga serangan Teteh tidak terlalu akurat dengan mudah Shifa menangkis serangannya.
"Hug......haag" hanya segitu saja kemampuan kamu?" ejek Shifa setelah bisa menangkis serangan Teteh.
"Ayo serang gadis sok tau ini cepetan!" perintah Teteh dengan suara yang keras dan penuh amarah.
Lima anak buah Teteh ikut menyerang Shifa dengan memutari Shifa, akhirnya satu lawan enam orang "hyaaat...... bruuuk.....hah...hug".
"Ayo pengecut aku tidak takut walaupun kalian mengeroyokku rasakan hyaaaaaat".
"Aaaah bruuuk aduh" tumbang satu anak buah Teteh.
Karena Shifa begitu emosi sehingga satu persatu anak buah Teteh tumbang dengan luka yang berbeda-beda ada yang patah kaki, tangan bengkak, darah mengalir dari sudut bibir dan lebih parah lagi ada yang langsung pingsan karena terkena tendangan maut Shifa.
__ADS_1
Tinggal Teteh yang masih bisa berdiri, karena selama ini emosi Shifa selalu di pendam, di tahannya dalam hati ini seperti pelampiasan kemarahan Shifa tanpa disadarinya "Kau yang terakhir rasakan ini hyaaaaaat" tendangan terakhir Shifa mengenai kaki yang tadi di injak Ani