
Aku faham, sebentar aku ambil makeup di koper" Shifa langsung berlari kembali ke kamar mandi setelah kotak makeup ada di tangan.
Hanya dalam sepuluh menit Shifa keluar dengan penampilan yang berbeda, ada lingkar mata yang terlihat sayu, pipi bersemu gelap, wajah pucat, wig yang tadinya lurus sebahu sekarang sedikit berantakan.
Rafael yang melihat penampilan Shifa saat ini, spontan berlari mendekati Shifa dengan raut wajah yang khawatir.
"Honey kok mukanya jadi begini?".
Mengeratkan tubuhnya ******* bibir manis Shifa tanpa memperdulikan beberapa pasang mata menatap tajam kearah mereka.
"Woi, ini penjara bukan kamar hotel" teriak Cello dengan suara lantang.
"Elo ya, dari kemarin bikin gue ngiri terus, Agnes gue pingin kawin" celoteh Kanno dengan suara keras juga.
"Hedeh palingan kawinnya sudah yang belum nikah dan ijab qobul nya" ledek komandan Conan tertawa lepas melirik Kanno.
"Ndan, jangan menuduh sembarangan ya, keponakan komandan aku jaga dengan baik, masih ori sampai sekarang" cabik Kanno kesal.
Shifa berusaha melepas tautan bibir Rafael yang tanpa malu menciumnya di depan mereka.
"Kak El, malu tahu" Shifa mengusap bibirnya yang basah karena ulah suami mesumnya.
"Habisnya mukanya pucat begitu, aku jadi khawatir kalau di cium biar tidak pucat lagi".
"Ini hanya makeup kak, jangan khawatir'.
Waktu sudah menunjukan pukul tiga sore, seharusnya tamu yang ingin bertemu dengan Shifa sudah berada di ruang khusus untuk menerima pengunjung yang ingin bertemu dengan keluarga yang tinggal di lapas, tetapi hampir setengah jam menunggu belum ada kabar tentang kehadiran mereka.
"Kak El sepertinya mereka jadi datang, kita pulang saja yok" Shifa menutup mulutnya karena menguap rasanya kantuk mulai datang.
"Kamu ngantuk sini tidurlah dulu" Rafael menepuk pangkuannya agar Shifa merebahkan kepalanya bisa tidur sebentar.
Shifa langsung merebahkan tubuhnya di pangkuan Rafael, di elus nya rambut Shifa dengan lembut memejamkan matanya Shifa bernafas dengan teratur terlelap di pangkuan Rafael.
"Bagaimana Ndan, kita tunggu atau pulang?" tanya Rafael.
"Tunggu setengah jam lagi lah, siapa tahu mereka terjebak macet saat perjalanan kesini".
Hampir dua puluh menit Shifa tertidur, sampai ada pegawai lapas datang menemui mereka.
__ADS_1
"Lapor Ndan, tamu yang ingin menemui nona Shifa baru saja datang sekarang sudah ada di ruang tunggu tamu" pegawai lapas berucap dengan lantang.
"Ok terima kasih, silahkan kembali ke tempat tugas mu!".
"Siap Ndan, saya mohon diri".
Suara lantang pegawai lapas membangunkan Shifa yang sedang terlelap.
"Ada apa kak El kok berisik sekali?" Shifa kembali duduk dan melihat sekeliling.
"Sudah bangun, itu ada pegawai lapas memberitahu jika mereka sudah menunggu di ruang tamu".
"Mereka siapa kak?" Shifa belum terkumpul sepenuhnya kesadaran karena masih mengantuk.
"Uncle Agus dan Papi Thora".
"Are you ready, Shifa?" tanya komandan Conan dengan tegas.
"Wait a minute, Ndan!" ucap Rafael mengecup bibir Shifa sekilas.
"Sudah ingat sekarang?" tanya Rafael memiringkan kepalanya, dan diikuti anggukkan kepala oleh Shifa.
"Baiklah, selamat berjuang, aku tunggu disini, ingat kontrol emosinya ok" dengan mengusap pipinya Rafael memberi nasehat dan semangat.
"I love you to".
Berjalan ragu-ragu meninggalkan mereka, sesekali menengok ke belakang memandangi wajah Rafael yang terlihat khawatir sampai di ruang tamu tahanan.
Disana ternyata banyak sekali tamu yang datang menemui keluarganya masing-masing, disediakan kursi dan meja untuk para tamu yang datang.
Shifa menyapu pandangannya ke seluruh ruangan itu mencari sosok Uncle Agus dan Papi yang baru sekali di lihatnya itupun tidak dikenali oleh nya.
Dua laki-laki berbeda usia duduk berdampingan menatap Shifa yang sedang berjalan mendekatinya, tanpa ekspresi Shifa langsung duduk hanya menatap tajam kearah dua orang laki-laki yang duduk di depannya.
"Shifa, apa kabar kamu?" tanya Uncle Agus ingin meraih tangan Shifa yang di letakkan di atas meja, dengan spontan Shifa menarik tangannya hingga Uncle Agus tidak sempat menggenggamnya.
"Seperti yang anda lihat, siapa dia, untuk apa anda kesini dan membawa orang yang saya tidak kenal?" Shifa pura-pura tidak mengenal orang yang duduk di samping Uncle Agus.
"Ini Papi, Shifa!, mengapa kamu tidak mengenali Papi kamu sendiri?" tanya Papi Thora dengan suara lirih.
__ADS_1
"Ha...anda Papi saya, tidak mungkin, saya merasa tidak punya Papi, karena dari kecil saya tidak pernah merasakan memiliki Papi".
"Shifa jangan cakap seperti ini, dia Papi kamu!" Uncle Agus berbicara dengan suara meninggi.
"Apa maksud anda Uncle, adakah orang tua yang sanggup mengkambing hitamkan putrinya sendiri, saya di hukum seumur hidup di negeri orang karena siapa?" Shifa berbicara ikut berbicara dengan nada meninggi.
Papi Thora membelalakkan matanya, memandangi wajah Shifa dan beralih kearah Uncle Agus dengan mata yang berkaca-kaca, seakan syok mendengar ucapan Shifa.
"Salah sendiri, saat di lapas yang ada di Jakarta kamu tidak mau menemui saya atau pengacara yang saya kirim!" Uncle Agus semakin meninggi ucapannya.
Shifa terkekeh berhasil memancing emosi Uncle Agus, dan melirik Papi Thora yang meneteskan air matanya.
"Sekarang anda pikir aja sendiri, apakah aku harus percaya kepada orang lari terbirit-birit melihat saya di tangkap polisi Indonesia dengan tuduhan ketua mafia se-Asia tenggara ha!," Shifa menyondongkan badannya mendekati Uncle Agus.
Uncle Agus terdiam sesaat, tidak bisa menjawab pertanyaan Shifa karena memang ucapan Shifa benar adanya.
"Mengapa tidak di jawab ha!, inilah yang terjadi sekarang, saya sudah menerima dengan ikhlas di hukum seumur hidup di pulau ini" tanpa disadari air mata Shifa menganak sungai, dadanya terasa sesak melihat Uncle Agus yang terdiam seribu bahasa
"Tujuan saya kemarin setelah saya kabur dari Aceh saya bisa membebaskan kamu dari tuduhan itu" jawabnya lirih, sudah bisa mengontrol emosinya.
"Membebaskan dengan cara apa, sedangkan persidangan saya saja anda tidak menunjukkan batang hidungnya barang semenit pun" tanya Shifa lagi dengan menyunggingkan senyum mengejek.
Uncle Agus mendongakkan kepalanya kearah Shifa, kaget dengan ucapan gadis yang diasuhnya sejak kecil.
"Sidang, kapan persidangannya, mengapa aku tidak mendengar persidangan kamu?".
"Ha, anda yang notabene tangan kanan seorang ketua mafia se-Asia tenggara yang hebat tidak mengetahui tentang persidangan saya, waah hebat sekali sandiwara anda" Shifa dengan bertepuk tangan dengan mendongakkan kepalanya memandangi wajah Uncle Agus yang terlihat bingung.
Uncle Agus semakin bingung dengan intimidasi yang di ciptakan oleh Shifa, Papi Thora semakin tidak bisa menahan air matanya yang terus menganak sungai.
"Mengapa aku tidak mendapatkan informasi tentang persidangan kamu sama sekali?" tetap Uncle Agus masih tidak percaya jika Shifa sudah menjalani persidangan.
Shifa tetap menatap tajam wajah Uncle Agus yang masih bingung, mengingat pesan yang di interuksikan oleh komandan Conan beberapa saat lalu, Shifa berhasil membuat Uncle Agus merasa bersalah tentang apa yang terjadi pada dirinya.
"Shifa aku akan naik banding ke Mahkamah tinggi untuk kasus kamu, aku berjanji akan berusaha untuk mengeluarkan kamu dari tempat ini" ucap Uncle Agus merasa bersalah dan menyesal.
"Tidak perlu uncle, anda sudah terlambat, aku sudah menandatangani berkas jika aku sudah menerima semua yang diputuskan oleh pemerintah Indonesia, aku akan menghabiskan sisa hidupku disini".
Papi Thora yang semula menunduk langsung mendongakkan badannya, mendengar ucapan dari putrinya, suara putus asa dari Shifa membuat hatinya nyeri tak terkira, lidahnya seakan kelu, tidak sanggup untuk mengucapkan sepatah katapun untuk putrinya yang jelas jelas menolak dirinya.
__ADS_1
"Sudahlah percuma anda kesini, sebaiknya Anda berdua pulang saja tidak ada manfaatnya sama sekali, jangan sekali kali anda berkunjung ke sini lagi aku tidak ingin bertemu lagi dengan anda" Shifa berdiri ingin meninggalkan tempat itu.
"Satu lagi khusus untuk anda, saya dari kecil tidak mengenal anda sama sekali, sebaiknya semua biarkan seperti ini anggap saja kita tidak punya hubungan antara ayah dan anak, toh selama ini anda tidak perduli dan mengabaikan saya, kecuali anda bertobat, baru akan saya pertimbangkan, permisi".