
Dengan senyum sumringah Aisyah memakai baju toga didampingi oleh Cello dan bunda Aulia, sedangkan Shifa didampingi oleh Kanno, Agnes dan Rafael tidak kalah bahagia walaupun dalam hati menjerit tanpa seorang keluarga dekat yang mendampinginya.
Acara wisuda menjadi riuh dan ramai setelah kehadiran alumni tiga sahabat jenius yang terkenal pada masa mereka kuliah, dengan menggandeng pasangan masing-masing.
Banyak mahasiswi yang iri dengan mereka, banyak juga yang nyinyir, kagum ataupun tidak rela sang idola menggandeng pujaan hati, dengan penampilan yang berbeda saat kuliah Ketiga sahabat mantan idola kampus semakin berkharisma saat menggunakan pakaian stelan jas warna hitam.
Pengukuhan berjalan dengan lancar, satu demi satu acara berlangsung dengan meriah, mengabadikan dengan berfoto baik sendiri, berdua ataupun bertiga dengan pasangan membuat hati terutama Shifa dan Aisyah sangat bersyukur dan bahagia.
Keluar dari ballroom hotel tempat wisuda selesai ketiga pasangan melanjutkan melakukan makan malam bersama di sebuah kafe di sebelah kampus, untuk merayakan kelulusan dan wisuda Shifa dan Aisyah.
"Selamat honey, sekarang sudah tidak menjadi mahasiswi lagi, jangan merasa sendiri, aku akan selalu ada untukmu" Rafael memeluk Shifa dengan erat setelah serangkaian acara dilaluinya tanpa kendala.
"Terima kasih kak El, saya merasa sangat bahagia, di saat penting saya tak sendiri" celoteh Shifa membalas pelukan Rafael.
Saling memberikan selamat dan dukungan sambil menikmati hidangan makan malam bersama ketiga pasangan itu bercengkerama bersama dengan akrab.
Aisyah sudah bekerja di sebuah Puskesmas yang letaknya tidak jauh dari Panti asuhan tempatnya tinggal, sebagai dokter muda dia memang harus bertugas selama dua tahun untuk bisa melanjutkan ke dokter spesialis.
"Shifa setelah ini apakah kamu akan kembali ke Singapura?" tanya Kanno saat mereka selesai makan malam bersama.
Sedangkan Shifa hanya melamun, masih bingung apa yang harus di lakukannya, apa akan tetap tinggal di Indonesia untuk mencari aunty Ara atau kembali ke Singapura dengan konsekuensi harus menggantikan posisi Papi Thora sebagai ketua mafia se-Asia tenggara.
Jika masih ingin tinggal di Indonesia harus memperpanjang ijin tinggal karena pasport Shifa selama empat tahun ini hanya untuk menempuh pendidikan di Indonesia.
"Haiii, kok malah melamun, apa sih yang dipikirkan?" gantian Agnes bertanya kepada Shifa, membuat Shifa kaget dan tersentak dalam lamunannya.
Tetapi belum sempat menjawab pertanyaan Kanno dan Agnes handphone Shifa berdering, ada nama bibi pengasuh yang Shifa baca dalam tulisan panggilan masuk, Shifa bergegas berdiri sedikit menjauhi mereka mengangkat handphone itu dengan menekan tombol hijau.
"Halo bibi, ada apa bibi?" ucap Shifa dengan suara pelan.
"Permisi nona, saya nak cakap dengan nona Shifa jika anda berkenan?" suara di balik handphone itu adalah laki-laki bukan suara bibi pengasuh.
"Ya saya Shifa, siapakah anda dan dimana bibi pengasuh saya?" tanya Shifa mulai gelisah setelah tidak mendengar suara bibi pengasuh yang menghubunginya.
"Sorry nona, saya keponakan dari bibi, beliau meninggal dunia satu jam yang lalu, apakah anda bisa ke rumah kami sekarang?" pinta laki-laki dalam suara handphone itu.
__ADS_1
Air mata Shifa tidak bisa terbendung lagi, ingin rasanya berteriak sekuat tenaga, lagi-lagi harus menangis, kehilangan orang yang selalu memperhatikan adalah hal yang sangat membuat hati goyah dan merasa sendiri.
"Posisi saya ada di Indonesia, saya akan berangkat sekarang, apakah kiranya saya masih bisa melihat beliau untuk terakhir kalinya?" tanya Shifa sambil terisak.
"Tentu nona, sebelum meninggal beliau berpesan untuk menunggu nona kembali, kami tunggu terima kasih"
Setelah sambungan handphone di matikan, Shifa menghapus air matanya, mendekati mereka kembali.
"Kak El, dan semua mohon maaf, saya harus kembali ke Singapura sekarang juga" Shifa mengambil tas yang tadi berada di kursi yang didudukinya tadi disamping Rafael.
Semua tersentak kaget dengan ucapan Shifa bahkan Rafael dan Aisyah spontan berdiri mendekati Shifa bersamaan.
"Ada apa honey, what happen?" tanya Rafael khawatir.
"Bibi pengasuh saya satu jam yang lalu meninggal dunia kak El, saya harus pulang" jawab Shifa berusaha tegar tertunduk, wajah pucat dengan linangan air mata yang tidak bisa terbendung lagi
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un" ucap mereka bersamaan.
"Aku antar ke apartemen Wika City dulu untuk bersiap-siap" Rafael mengambil tas dan kunci mobil berdiri mendekati Shifa.
"Bayar bill makanan dulu gelo" Kanno berjalan menuju kasir membayar menu makanan dengan menggunakan kartu yang diambilnya dari dalam dompet.
Sambil berjalan ke parkiran Rafael memesan tiket secara online kebetulan masih ada pesawat terakhir yang akan terbang ke Singapura pukul sepuluh malam, sedangkan sekarang baru pukul tujuh malam masih ada waktu untuk mempersiapkan diri untuk packing.
Sampai di apartemen Shifa bergegas masuk kamar diikuti oleh Aisyah sedangkan yang lain menunggu di ruang tamu.
"Ais, nanti jika masih ada waktu saya akan kembali ke sini, saya akan memperpanjang pasport untuk pendidikan S2 jika bisa" ucap Shifa saat Aisyah sudah terisak menangis karena akan berpisah dengan sahabat karibnya.
"Janji ya harus kembali, kamu belum melaksanakan amanah Mami Fatty, kamu harus kembali" Aisyah memeluk Shifa dengan erat seolah tidak ingin berpisah
"Iya janji saya pasti akan kembali suatu saat nanti, tetapi ingat jika tidak bisa menghubungi saya selama satu Minggu lebih tolong ceritakan siapa saya kepada kak Rafael" pesan Shifa.
"Kenapa harus menunggu satu Minggu atau lebih, kenapa tidak sekarang aja?" tanya Aisyah mulai takut jika benar-benar kehilangan sahabat karibnya
"Jangan Ais, maksud saya bercerita nanti saja agar kakak El bisa merelakan saya pergi, tidak harus mencari saya, atau mungkin dia bisa mencari pengganti saya yang lebih baik, saya tidak mau kakak El mendapatkan masalah dari orang orang uncle Agus ataupun anak buah dari Papi Thora"
__ADS_1
"Tapi Shifa?"
"Please Ais, rahasiakan ini demi saya ok".
"Baiklah, everything for you my best friend".
Packing sudah selesai, keluar kamar menarik koper mendekati Rafael dan duduk di bangku sebelahnya.
"Kak El, saya titip apartemen ya, tolong sesekali di tengok, bisa hubungi bibi untuk membersihkan apartemen ini biar terlihat bersih dan rapi" pinta Shifa dengan suara sendu.
"Tentu, berapa hari kamu disana, tidak lama kan?" tanya Rafael bergeser duduknya mendekati Shifa.
"Saya belum bisa memastikan berapa hari nya kak, doakan saja" Shifa tidak berani menatap wajah Rafael yang menatap tajam kearah Shifa.
"Kak Cello, kak Kanno titip kak El ya, jangan biarkan dia kesepian, dan saya doakan semoga kak Cello dan Ais serta kak Kanno dan kak Agnes berjodoh dan melanjutkan hubungan ke jenjang pernikahan" dia Shifa dengan tulus.
"Aamiin" jawab mereka bersamaan.
"Kenapa hanya mendoakan hubungan mereka berdua honey, bagaimana dengan kita?, mengapa seolah olah kamu berpamitan akan pergi jauh dan tidak akan kembali kesini lagi?" protes Rafael dengan mengerucutkan bibirnya sedikit kesal mendengar ucapan Shifa.
Shifa hanya tersenyum dan menggenggam tangan Rafael dengan erat, hatinya memang sudah memiliki firasat jika akan semakin susah untuk bertemu dengan pujaan hati setelah mereka berada di negara masing-masing, tetapi Shifa hanya bisa berusaha semoga ada keajaiban dengan hubungan nya suatu saat nanti.
"Kak El jaga diri baik-baik, jangan terlalu mengkhawatirkan saya, saya akan berusaha secepatnya kembali ke Indonesia setelah selesai nanti" pesannya lagi.
Saat turun lift dari apartemen Shifa berjalan berjajar dengan Agnes saat Rafael, Kanno dan Cello berjalan kearah parkiran.
"Kak bagaimana dengan penyelidikan aunty saya apakah ada perkembangan?" tanya Shifa sedikit berbisik.
"Oya aku sampai lupa bercerita" ucap Agnes dengan menepuk dahinya.
"Bagaimana kak?" tanya Shifa lagi.
"Saya minta waktu sekitar lima atau satu Minggu ya, untuk memastikan keberadaan aunty kamu, aku sudah mendapatkan titik terang, maka itu cepatlah kembali ke sini, insyaallah aku akan menemukan beliau untuk mu ok" bisik Agnes di telinga Shifa.
"Baik kak terima kasih, saya tunggu kabar baiknya, saya akan berusaha untuk secepatnya kembali ke Jakarta, karena sebagian hati saya ada disini" ucap Shifa sambil melirik Rafael dari kejauhan.
__ADS_1