Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
24. Paket Uncle Agus


__ADS_3

Saat tiba di panti asuhan seluruh penghuninya sudah menunggu kedatangan Aisyah termasuk ada Adrian disana, dengan kelembutan hati Aisyah membuat adik-adik sangat menyayangi kakak tertua mereka.


"Assalamualaikum" ucap Aisyah yang membawa beberapa paper bag berisi kue lapis yang dibeli oleh Cello sebelumnya masuk dari pintu utama panti asuhan diikuti oleh Cello di belakangnya yang menarik koper dan satu kotak dus.


"Walaikum salam" jawab mereka serempak dan mencium punggung tangannya satu persatu dengan tertib.


"Kok bisa berdua dengan kakaknya Adrian, nak?" bisik bunda saat Aisyah mencium punggung tangannya.


"Iya Bun, tadi Kaka Cello dan kak Rafael menjemput kami di bandara" jujur Aisyah sambil melirik kearah Cello.


"Ini baju games khusus dari Shifa buat bunda" Aisyah menyerah paper bag dari tas ransel punggungnya.


"Terima kasih, seharusnya bunda tidak usah, yang penting adik-adik kamu saja nak" bunda menerima paper gue itu dengan tersenyum.


"Tenang aja Bun, semua sudah dipersiapkan oleh Shifa" anak-anak hanya memperhatikan gerakan Aisyah berharap juga mendapatkan oleh-oleh dari Singapura


Cello juga hanya berdiri di samping Aisyah memperhatikan interaksi keakraban mereka layaknya keluarga yang baru pulang merantau.


"Adik-adik ini oleh-oleh dari kak Shifa sudah ada namanya masing masing, dan ini kue lapis dari kak Cello, dibagi rata jangan berebutan, Ahmad dan Rian yang bertugas membaginya" perintah Aisyah dengan lembut.


"Yeee.... prok...prok.." suara teriakan dan tepuk tangan antusias dari mereka.


Anak-anak begitu antusias mendapatkan oleh-oleh dari Singapura, kebahagiaan itu sebetulnya hanya sederhana tidak harus barang mewah ataupun harta yang melimpah, dengan dibelikan kaos dengan desain khas logo Singapura yaitu patung ikan berkepala singa dengan tulisan khusus nama mereka masing-masing membuat mereka bahagia, disinilah hati Cello sangat tersentuh, melihat keceriaan mereka membuat hati Cello menghangat.


"Kak, kenapa kakak Cello yang jemput kak Ais?" tanya Rian penasaran.


"Jelas dong dia kan----!" jawab Cello menggantung, karena datang Aisyah mengambil koper yang berada di tangan Cello.


"Kak, maaf kopernya, sebentar ya kak, aku mandi dulu" Cello hanya mengangguk dan matanya mengikuti arah punggung Aisyah yang menghilang di balik pintu kamar.


"Dia kan apa kak?" lanjut Adrian penasaran.


"Gebetan gue apa lagi" cicit Cello tanpa beban sedikitpun.


"Idiih ngarep" seloroh Adrian.


Setelah setengah jam Aisyah kembali mendekati Cello yang sedang asyik bermain handphone di ruang tamu dengan membawa minuman es jeruk.


"Silahkan di minum kak es jeruknya, maaf menunggu lama" ucap Aisyah duduk di depan Cello dengan gugup.


"Iya terima kasih"


Sejenak mereka terdiam, rasa canggung itu begitu terlihat terutama Aisyah yang tidak tahu harus bicara apa tentang laki-laki yang ada dihadapannya.


"Apakah hari Senin besok langsung ke kampus?".


"Iya kak, saya ada jadwal kelas pagi"

__ADS_1


"Jam berapa berangkat dari rumah?"


"Paling jam setengah tujuh, Oya kak ini parfum buat kak Cello, terus terang ini juga Shifa yang membelikan" diserahkan paper bag kecil berisi parfum yang bertuliskan parfum coople.


"Waaaah aku dapat juga terima kasih" tanpa ragu Cello mengeluarkan dari paper bag, dibaca dan diamati dengan teliti "Ini coople"


"Iya kak, kenapa kakak Cello itu parfum coople, apakah kakak malu parfumnya coople dengan saya?" ragu-ragu Aisyah berucap dengan sedikit menunduk.


"Eeee ngomong apa sih, justru aku sangat beruntung, terima kasih" tersenyum dengan menunjukkan giginya yang putih Cello menatap sendu wajah Aisyah.


"Oya sudah sore, aku pulang dulu ya, mana bunda aku mau pamit sama beliau?".


"Ayo aku antar!".


Aisyah berjalan kearah dapur diikuti oleh Cello dari belakang sambil mencari adiknya Adrian di area yang Cello lewati, ternyata mereka sedang bercengkerama di dekat dapur dengan riang.


"Bun, kak Cello mau pamit pulang" Aisyah memanggil bunda dan diikuti tatapan oleh seluruh adik-adik penghuni panti.


"Saya pamit ya Bun, terima kasih" pamit Cello dengan mencium punggung tangan bunda.


"Ya, hati-hati nak" jawab bunda dengan mengusap lembut punggung Cello.


"Rian ayo pulang bareng kakak, sudah sore!" ajak Cello dengan menatap wajahnya dengan tajam.


"Baiklah, Ahmad, bunda, Rian pamit, kak Ais sampaikan terima kasih Rian buat kak Shifa" pamit Rian mencium punggung tangan bunda dan Aisyah bergantian.


"Kakak El, maaf saya mandi sebentar ya, tunggu dulu beristirahat lah sejenak" Shifa masuk kamar mengambil koper yang di tarik oleh El.


Rafael hanya menganggukkan kepalanya, duduk di ruang tamu sambil bermain handphone, tetapi lama-kelamaan El tertidur di sofa sambil duduk bersandar dan handphone ada di pangkuan.


Saat Shifa keluar dari kamar hanya tersenyum melihat Rafael tertidur lelap, ditinggalnya ke dapur, melihat kulkas ternyata sama bibi sudah di penuhi olehnya, bergegas Shifa memasak nasi dengan rice cooker, mengeluarkan ikan salmon di marinasi sebentar dan didiamkan, buncis, jagung manis di rebus sebentar dan ikan di grill sampai matang, bau harum ikan salmon yang di grill membuat Rafael terbangun.


Rafael berjalan mendekati Shifa yang sedang menata menu ikan salmon bumbu teriyaki, dengan tersenyum Rafael bergumam sendiri ternyata pintar juga dia memasak.


"Hm..lagi ngapain?".


"Sudah bangun kak, duduklah, saya buat ikan salmon bumbu teriyaki, semoga kak El suka".


"Aku ke kamar mandi dulu ya"


Rafael masuk kamar mandi yang berada di samping dapur, setelah selesai keluar dan duduk di samping Shifa yang sudah menunggunya.


"Ayo makan kak, mau seberapa nasinya?".


"Satu centong saja" diambilnya nasi di piring Rafael dan satu lagi untuk dirinya sendiri.


Makan berdua dengan lahap, tanpa mengeluarkan suara kecuali suara sendok yang beradu dengan piring.

__ADS_1


"Rasanya sangat enak, terima kasih, ternyata kamu pandai memasak" puji Rafael setelah selesai menghabiskan makanannya di piring.


"Terima kasih kak"


Saat Shifa mau mengambil piring kotor ada notifikasi suara pesan WA masuk di handphonenya, di bacanya perlahan, ternyata dari uncle Agus meminta tolong untuk mengambilkan paket lagi tetapi kali ini harus mengambilnya di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.


Shifa mengerutkan keningnya berpikir, dari pengalaman terakhir terkena masalah karena paket berisi narkoba, Shifa menjadi sedikit trauma.


"Ada apa, apakah ada masalah?".


"Ini kak, uncle Agus meminta saya mengambil paket kembali, tetapi sekarang mengambil paket itu ke pelabuhan Tanjung Priok Jakarta".


"Kapan di ambilnya?".


"Besok pagi pukul delapan pagi".


"Besok aku antar, pakai mobil aku saja, besok aku jemput setengah tujuh ya".


Shifa malah melamun, setelah mengetahui profesi uncle Agus dalam dua tahun terakhir ini, membuat hatinya menjadi gamang, takutnya yang di ambil adalah barang haram, pasti akan membuat almarhumah Mami Fatty kecewa jika melaksanakan tugas yang diberikan oleh uncle Agus.


"Hay...malah melamun, ada apa?".


"Itu kak, saya takut kejadian kemarin terjadi lagi, bagaimana kita mencari tahu apa isi paket itu kak?".


"Gampang serahkan saja kepadaku, mana nomor registrasi paket itu, kirim lewat pesan WA, sebelum pukul enam pagi, aku akan mengetahui isinya".


Shinta mengirim nomor registrasi kepada Rafael melalui pesan WA serta alamat EMKL (Ekspedisi Muatan Kapal Laut) dengan jelas.


"Sudah kak, bagaimana cara mencari tahu tentang hal itu?".


"Serahkan semua itu padaku, jangan khawatir, baiklah aku pulang dulu nanti aku kabari nanti"


Rafael mengambil kunci mobil yang di letakkan diatas meja ruang tamu tadi saat mereka tiba di apartemen, tetapi setelah sampai pintu Rafael kembali berbalik badan.


"Apa ada yang ketinggalan kak?" tanya Shifa saat melihat Rafael memandangi wajahnya dengan tersenyum dan penuh damba.


"Apakah tidak ada tanpa sebagai kekasih begitu, kenapa pergi begitu saja?"


"Tanda apa sih kak El, jangan aneh-aneh ya?"


"Sini sebentar gin!".


Shifa mendekati Rafael dengan ragu-ragu, saat sudah semakin dekat posisi Rafael dengan Shifa.


"Cup..." Rafael mengecup pipi Shifa sebelah kiri dan berlari menuju pintu dengan tersenyum manis.


"Kakak nakal iiih" cabik Shifa dengan mengusap pipinya yang baru di kecup tanpa ijin, wajah Shifa jadi merona karena cinta yang menggebu di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2