
Di UGD, Shifa dan Rafael didampingi oleh polisi di periksa dengan teliti, duduk di brankar yang saling berhadapan, tidak henti hentinya Rafael melirik gadis yang selalu berhasil membuat hatinya bergetar karena dia sesekali mendesis menahan sakit.
"Ssstttt... perlahan suster, penat sangat badan saya nich...eee maaf badan saya sakit semua" Shifa meringis menahan sakit.
"Berbaringlah, agar badan kamu bisa istirahat" Rafael ingin turun dari brankar tetapi di tahan oleh suster.
"Mas jangan turun dulu, ini di pungung anda darah terus merembes, sebaiknya anda buka kaosnya" perintah satu suster yang ada didepannya.
"Kak El, cepat dibuka kemungkinan luka itu yang terkena balok kayu tadi" ikut Shifa memerintahkan Rafael karena sangat khawatir.
Rafael membuka kaos olahraganya, hanya memakai kaos dalam membuat Shifa menelan ludah dengan kasar karena melihat dada bidang Rafael yang terbentuk seperti roti sobek, terlihat kekar dan berotot, Rafael hanya tersenyum simpul melihat Shifa memperhatikan dadanya tanpa berkedip, menyadari senyum simpul Rafael, akhirnya Shifa mengalihkan pandangannya ke suster yang sedang memeriksa punggungnya.
"Auuuw...pelan pelan suster" Rafael kaget karena sentuhan suster yang membersihkan darah yang hampir mengering membuatnya terasa sakit.
"Maaf mas, ini luka dan robeknya lumayan lebar, harus di jahit supaya tidak infeksi" keterangan suster lagi.
Datang dokter laki-laki yang berumur menghampiri mereka berdua, bersamaan komandan Conan juga mendekati mereka berdua.
"Kamu Dan!!..." kata dokter itu langsung memeluknya dengan erat.
"Jadi dia---?" lanjut dokter ingin melanjutkan ucapannya tetapi langsung dipotong oleh komandan Conan seolah memberi kode untuk tidak melanjutkan ucapannya.
"Yap, tangani saja dengan baik" dengan cepat komandan Conan memberikan perintah.
"Suster persiapan dua kamar rawat inap untuk dua pasien ini, atau kalau perlu satu ruangan aja" perintah dokter kepada suster tetapi mengedipkan matanya kepada Rafael yang dari tadi menatap Shifa penuh damba.
"Eeee no dokter, saya tak nak menginap, boleh tak saya pulang saja?" pinta Shifa gugup.
"Tidak boleh nona, anda harus melakukan rongsen di lengan sebelah kiri bengkaknya agak besar, takutnya ada keretakan" jawab dokter sambil membaca laporan dari suster.
Dengan cepat suster mempersiapkan dua kamar rawat inap untuk Shifa dan Rafael, dengan telaten suster merawat mereka setelah sampai di ruang rawat inap, sedangkan Rafael masuk ruang operasi kecil untuk menjahit luka yang berada di punggung.
Papi Faro dan Mami Inneke menunggu dengan cemas di depan kamar operasi, padahal menjahit luka yang robek bisa dilakukan di ruang UGD tadi, hanya saja komandan Conan mendapat provokasi dari Kanno dan Cello karena Rafael tidak berani menyatakan perasaannya kepada gadis yang dikaguminya selama satu tahun ini.
"Papi, Mami ngapain kesini?" tanya Rafael keluar dari ruang operasi duduk di kursi roda hanya menggunakan kaos dalam.
__ADS_1
"Anak nakal, Mami hampir sesak nafas mengkhawatirkan El, malah ditanya ngapain kesini?" Mami Inneke sambil menjewer putra kesayangannya.
"Auw...ampun Mami sakit tau, ini gara-gara komandan sableng teman Papi tuuh, El cuma robek dikit di punggung, malah dimasukkan ruang operasi" cabik Rafael mengusap telinganya yang panas karena di jewer Mami.
"Jangan salahkan gue, enak aja salahkan Kanno dan Cello, lagian juga salahkan aja putra kalian sendiri, suka sama cewek tidak berani nembak, padahal setiap hari pegangannya pistol" celoteh komandan Conan dengan cengar-cengir.
"Maksudnya bagaimana, apakah yang El tolong tadi pagi gadis cantik yang pernah menolongnya saat acara eniversery kampus?" tanya Papi Faro penasaran memandangi wajah El dan komandan Conan.
Rafael hanya cengar-cengir tanpa merasa bersalah dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa perlu Papi yang nembak gadis itu?" goda Papi Faro mengedipkan matanya kepada Mami Inneke.
"Papi.... maksudnya Papi mau selingkuh dengan gebetannya El?" marah Mami Inneke kesal sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bukan begitu sayang, habisnya putramu itu aneh sih, dia sudah hampir S1, nembak cewek aja tidak punya nyali, dasar anak Mami" kesal Papi Faro melihat putranya yang hanya cengengesan.
"Mi...baju El mana?, Malu nich tidak pakai baju"
"Kita ke kamar aja dulu, Mami mau lihat wajah gadis cantik yang membuat El lemah tak berdaya" Mami Inneke berjalan mendahului kursi roda yang diduduki oleh Rafael.
Bersamaan datang pihak kepolisian untuk meminta keterangan tentang laporan seorang gadis yang ditolong oleh Rafael ternyata Shifa.
"Oooo baik mari saya antar" mereka berjalan beriringan menuju kamar rawat inap Shifa.
Masuk ke ruang Shifa tanpa permisi Rafael menggunakan kursi roda yang didorong oleh suster.
"Kakak El, are you ok?, kok belum mengenakan pakaian" tanya Shifa.
Ternyata datang rombongan kedua orang tua Rafael, komandan Conan, kepolisian, Kanno dan Cello.
"Silahkan..."Shifa jadi gugup banyak yang masuk keruangan nya.
"Shifa perkenalkan beliau Papi dan Mami aku, kebetulan bersamaan dengan pihak polisi yang akan menanyakan kasus tadi pagi" Rafael memperkenalkan orang tuanya.
"Selamat pagi uncle, aunty, perkenalan saya Shifa, terima kasih sudah berkenan menengok saya?" Shifa membungkukkan badannya tanda hormat.
__ADS_1
"Ya terima kasih, bagaimana keadaan kamu sekarang sudah baikan?" tanya Mami Inneke mendekati Shifa dan duduk disampingnya.
"Saya baik aunty, ini ada nak saya bantu bapak polis?" tanya Shifa melihat ada beberapa petugas kepolisian.
"Begini nona, kami ingin meminta keterangan dari mana anda tahu jika paket itu adalah barang terlarang?" tanya salah satu polisi yang berada disamping Papi Faro.
"Oooo itu ceritanya begini"
Flashback on.
Tadi malam saya di telpon oleh uncle Agus untuk mengambil paket di suatu jasa pengiriman barang antar negara, paket uncle berisi obat herbal produksi industri rumahan produksi rumah obat dari Singapura, walaupun hari Minggu tetapi tempat agen jasa pengiriman tetap buka, uncle Agus meminta Shifa pukul tujuh harus sudah berada di TKP karena sudah di tunggu pegawai agen, tetapi saat Shifa baru berada diparkiran ada dua orang laki-laki yang sedang berbincang bincang.
"Apakah bos tidak kasihan dengan gadis itu?"
"Memangnya mengapa?".
"Paket itu berisi narkoba sebanyak 15 kilogram, jika dia tertangkap pasti akan dihukum seumur hidup".
"Sudahlah itu urusan bos, sekarang hari Minggu pengawasan tidak terlalu ketat tenang aja".
Shifa yang mendengar pembicaraan dua orang laki-laki itu jadi berfikir, takut yang dimaksud gadis yang akan mengambil paket adalah dirinya menyusun strategi agar bisa menyerahkan paket itu kepada pihak yang berwajib, dan saat berjalan keluar dari parkiran ada seorang polisi wanita yang sedang duduk di halte bus bersama putranya, rupanya polisi wanita itu akan mengantar putranya latihan futsal di lapangan tertutup yang berada di samping agen jasa pengiriman barang, Shifa ikut duduk di halte sebentar di samping polisi wanita.
"Bu bisa saya nak minta tolong?" bisik Shifa.
"Iya mbak apa yang bisa saya bantu?" polisi wanita itu ramah, Shifa akhirnya menceritakan tentang dua laki-laki yang berbincang, dia firasat buruk dan mencurigai paket yang akan diambil adalah narkoba.
"Begini saja, ambil paket itu bawalah berjalan sampai belakang gapura itu, saya akan bersembunyi di balik gapura, nanti lempar paketnya kearah saya akan saya bawa ke kantor polisi, bersikaplah sewajarnya agar mereka tidak curiga, tetapi tunggu saya antar putraku dulu ke sekolah futsalnya" ide seorang polisi wanita itu dengan cerdik.
"Baiklah saya ambil paket nya Sekarang, terima kasih bantuannya, nama saya Shifa Fatmala, anda siapa Bu?".
"Saya Diyah, saya duluan".
Shifa kembali ke kantor jasa pengiriman barang bertemu pegawai disana, dan memberikan bukti pengambilan barang yang dimaksud oleh Shifa, satu paket sebesar kotak mi instan, dengan tenang Shifa berjalan perlahan dan mengawasi sekitar jalan yang dia lalui.
Ternyata ada orang yang berjalan dibelakangnya sekitar delapan orang, semakin cepat langkah Shifa sampai didekat gapura itu Shifa melempar kardus yang berbungus lakban kepada Bu Diyah dan ternyata Bu Diyah sangat cerdik, dia juga melemparkan kardus kepada Shifa dan berlari menjauh memasuki gang membawa kardus palsu.
__ADS_1
Berlari menjauhi Bu Diyah dan dikejar oleh delapan orang laki-laki yang mengeluarkan senjata rakitan saat sampai di gang belakang gedung IH, membuang kardus itu berlari sekencang mungkin sampai bertemu dengan Rafael.
Flashback off