Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
43 Mengawasi Shifa


__ADS_3

Malam ini saat para napi mengambil jatah makan nya, mata Ani Marsiti hanya tertuju pada seorang wanita yang berwajah Melayu dengan menggunakan kerudung panjang, duduk bersebelahan dengan ibu tua yang sering diajaknya bercerita, tetapi bukan memakan jatah makan nya wanita itu justru selalu memperhatikan gerak-gerik Shifa.


Mata Ani Marsiti selalu tepat jika menilai tingkah mencurigakan target, hanya dalam satu jam saat di ruang makan lapas Ani bisa menyimpulkan jiwa wanita itu sedang mengawasi dan menyelidiki Shifa, mengambil beberapa foto dari kamera digital yang di sematkan di kancing baju tahannya bergegas ke kamar mandi untuk melaporkan kepada komandan Conan agar besok tidak salah langkah dalam mengambil keputusan untuk Shifa, Ani Marsiti sendiri tidak bisa mencari informasi wanita itu memalui internet, hanya tiga Elang Emas yang bisa menembus batas mencari data orang yang di curigai.


Masih ada sedikit waktu untuk sekedar berbincang dengan sesama napi, Ani Marsiti langsung duduk di samping ibu tua yang belum selesai menikmati hidangan makan malam.


"Bu, bolehkah saya bertanya?" tanya Ani Marsiti sambil berbisik.


"Tanya apa nak, silahkan saja?".


"Tadi siapa yang duduk sama ibu, kok wajah dan dandanannya kayak orang Melayu?".


"Ooo dia memang Melayu Malaysia, di tuduh menggelapkan dana arisan online, suaminya orang Bandung katanya" cerita ibu tua sambil minum air putih setelah menyelesaikan makan malamnya.


"Kapan dia masuk lapas kok saya tidak pernah lihat Bu?".


"Dia sudah hampir tiga Minggu disini, cuma seringnya mengantri makan paling belakang, kamu kan kalau ngantri di depan jadi jarang lihat, kalau makan siang kadang dia tidak datang, seperti gadis yang satu sel sama kamu itu" cerita ibu tua lagi.


"Apakah mereka saling kenal Bu?".


"Sepertinya sih tidak hanya saja wanita itu sering memperhatikan gadis itu, tetapi tidak pernah mengobrol langsung".


Ani Marsiti hanya mengangguk dengan cerita ibu tua, menelaah berarti kecurigaan bahwa dia sedang memata matai Shifa gumamnya dalam hati.


Karena baru menyadari jika Shifa sudah meninggalkan ruang makan Ani Marsiti bergegas berpamitan kepada ibu tua dan berlari kecil menuju sel kamarnya, tetapi akibat terburu buru dan tidak melihat Ani Marsiti menabrak ketua geng lapas yang sangat disegani di lapas, sekitar ada lima wanita yang umurnya hampir sama dengan dirinya ada di belakang ketua geng lapas


"Bruuuaaak.. aduh" pekik ketua geng.


"Maaf Bu...maaf saya tidak sengaja sekali lagi maaf" Ani Marsiti menunduk sambil membungkukkan badannya.


"Bu Ba Bu memang ibu elo, gue gibeng lho, panggil gue Teteh" bentak ketua geng lagi.


"Maaf teteh saya tidak sengaja, karena perut saya mules ingin BAB, ini saya mau buang angin, tolong tutup hidung semua ya" Ani Marsiti sambil menahan tawa karena memiliki ide ingin buang angin agar tidak memancing keributan.


Spontan para geng lapas itu menutup hidungnya hampir bersamaan, dan salah satu dari mereka mendorong Ani Marsiti.


"Pergi sana lo jangan buang angin disini, dasar wanita gila".


"Terima kasih Teteh, permisi" berlari menjauhi mereka sambil menahan tawa.

__ADS_1


Langsung masuk kamar sel dengan tertawa terbahak-bahak dengan memegangi perutnya yang sakit.


"Ada apa Mbak Ani, kok sampai begitu tertawanya?".


"Itu Shifa, geng lapas yang sok berkuasa itu aku kerjain" Ani Marsiti masih sambil tertawa geli.


"Maksudnya apa sih mbak?".


"Tadi saya tidak sengaja menabrak mereka, dengan spontan saya beralasan sakit perut mau BAB dan ingin buang angin" cerita Ani Marsiti sambil menahan tawa.


"Mbak Ani ada-ada aja" Shifa jadi ikut tertawa walaupun hanya sebentar.


"Oya Shifa kamu itu baca terus apa tidak bosan?"


"Tidak Mbak, saya berniat ingin melanjutkan S2 dari lapas sini jika diizinkan"


Ani Marsiti mengerutkan keningnya bergumam sendiri gadis ini memang sudah pasrah dan ikhlas menerima semua yang di tuduhkan, seperti sudah tidak memiliki harapan untuk memilih hidup yang lebih baik atau memperjuangkan masa depannya sendiri.


"Memang kamu sudah daftar kuliahnya?" tanya Ani Marsiti penasaran.


"Belum mbak yang saya dengar sih masih bulan depan pendaftarannya, makanya saya mempersiapkan diri semoga saya bisa lolos tes masuk Universitas Terbuka".


Sedangkan di markas besar, setelah komandan Conan mendapatkan laporan dari Ani Marsiti langsung memanggil tiga anggota Elang Emas untuk datang ke markas besar.


Saat Rafael di hubungi komandan Conan, dia sedang meeting bersama dengan klien seorang wanita cantik pengusaha muda yang berasal dari Surabaya yang bernama Rania Handayani.


Meeting itu sudah berlangsung selama satu jam, mendapatkan suara notifikasi pesan masuk dengan nada khusus, Rafael langsung membuka pesan itu dengan cepat.


"Setelah selesai pekerjaan masing-masing, datanglah ke markas besar, saya tunggu maksimal satu jam lagi, penting" tulis komandan Conan dalam pesannya.


Klien yang sesekali melirik Rafael dan sengaja mencari perhatiannya bahkan asistennya hanya tersenyum karena tingkah atasannya, bukannya Rafael tidak tahu, tetapi Rafael bersikap se-biasa mungkin walaupun sebenarnya merasa ilfil dan risih.


Hampir setengah jam berlalu Rafael mulai gelisah, saat sudah deal dan kesepakatan bersama tercapai, langsung tanda tangan.


"Maaf Bu, saya ada janji dengan klien lagi, selanjutnya saya serahkan kepada asisten Zain" ucap Rafael berdiri menyalami klien yang ada didepannya.


"Apakah tidak memesan makanan terlebih dahulu Pak?" ajak Rania Handayani masih bersikap profesional.


"Sekali lagi maaf Bu, ini sangat penting, maaf jika masih ada pertanyaan silahkan berhubungan langsung dengan asisten Zain, permisi" tanpa menunggu jawaban dari Rania Handayani Rafael langsung berdiri mendekati asisten Zain.

__ADS_1


"Bro, biasa lanjutkan ya, saya harus pergi, ini penting nich soalnya" dengan menepuk pundak Zain, Rafael langsung berdiri dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan tergesa-gesa.


Rania Handayani hanya menatap dengan kesal karena penolakan dari Rafael padahal dari awal sudah menyusun strategi agar bisa lebih dekat dengan koleganya.


"Maaf Bu, silahkan anda tanda tangani ini terlebih dahulu" ucap asisten Zain kepada Rania Handayani menyadarkan dari lamunannya.


"Baik terima kasih" jawabnya singkat.


Rafael langsung melajukan mobilnya menuju markas besar agen rahasia, tanpa menghubungi Cello dan Kanno, sesampainya tiba di markas itu ternyata Rafael datang paling terakhir.


"Maaf terlambat" kata Rafael duduk di samping Cello yang sudah mulai membuka leptop yang ada didepannya.


"Sudah kumpul semua, baiklah kita mulai" komandan Conan mengawali rapatnya.


Komandan Conan memindahkan data pesan ke leptop yang sudah di hubungkan dengan layar monitor besar yang berada di depan mereka.


"Cari data wanita itu, tadi malam Ani Marsiti memberikan informasi awal jika wanita itu berasal dari Malaysia dan suaminya asli orang Bandung" titah komandan Conan.


Hanya dalam sepuluh menit Kanno bisa menembus batas meretas data yang di perlukan.


"Binggo dapat" pekik Kanno dengan cepat.


Kanno membacakan data dari orang yang baru saja di retas oleh Kanno yaitu seorang laki-laki kelahiran Bandung bernama Endang Samuji salah satu orang kepercayaan Agus Martono yang tinggal di Jakarta, yang sedang ditugaskan mengawasi Shifa di lapas adalah istri dari Endang Samuji gadis asli kelahiran Malaysia tetapi sudah lama tinggal di Indonesia.


"Coba Kanno kamu cari informasi di lapas wanita itu siapa saja yang sudah berusaha menemui Shifa, dan siapa saja yang sudah menemui istri dari Endang Samuji" perintah komandan Conan.


"Sepertinya Agus Martono juga berusaha membebaskan Shifa komandan, jangan sampai kita keduluan mereka komandan" pinta Rafael cemas.


"Tentu El, besok kita sudah harus bergerak, akan aku perintahkan Ani Marsiti membuat keonaran dan yang di hukum Shifa" jawab komandan Conan tegas.


"Maksudnya komandan, mengapa harus Shifa yang di hukum?" tanya Rafael bertambah cemas.


"Jangan khawatir El, maksudnya jika Shifa yang mendapatkan hukuman dia bisa kita informasikan Shifa di pindahkan dari lapas itu ke Nusa Kambangan" keterangan komandan Conan lagi.


"Terus dalam perjalanan kita selamatkan dia, kita hanya mengecoh orang Agus Martono agar tidak mengusik Shifa lagi kedepannya nanti, begitu kah maksudnya komandan?" lanjut keterangan Cello menebak rencana komandan.


"Yap, itu betul sekali, maka itu sebaiknya kalian bersiaplah sebentar lagi kita beraksi".


"Siap komandan" jawab mereka bertiga kompak.

__ADS_1


__ADS_2