
Hari ini saat Ani Marsiti mengantri mengambil makan siang bersama seluruh napi wanita, wajahnya di buat se-kusut dan sesedih mungkin, bercerita kepada setiap napi yang di temui nya jika nanti jam lima sore Shifa akan di pindahkan ke lapas Nusa Kambangan akibat kejadian tadi malam.
Tujuan Ani Marsiti untuk mengabarkan kepada wanita yang selalu mengawasinya yaitu anak buah dari Agus Martono benar-benar tepat sasaran, hanya dalam seperempat jam wanita itu menikmati makanan sambil menunduk dan tangan kirinya ada dibawah meja sedangkan melakukan sesuatu.
"Semoga berita ini cepat sampai kepada atasannya Aamiin" monolog Ani Marsiti sendiri.
Persiapan pihak lapas ternyata di luar prediksi dari anak buah Agus Martono, mereka menunggu dan mengawasi sekitar lapas wanita, ternyata tepat pukul lima sore ada tiga mobil tahanan keluar dari lapas dengan ada satu penumpang di setiap mobil tahanan itu, yang parahnya lagi siluet tubuhnya hampir sama, panjang rambutnya, seragam nya, menggunakan masker, topi, hampir semua sama walaupun tangan tidak di borgol setiap mobil tahanan di kawal oleh tiga mobil polisi.
Berangkat beriringan keluar lapas, sampai di luar kota Jakarta ketiga mobil tahanan itu memasuki jalan tol Jagorawi baru dari jalan tol itu satu berbelok arah ke daerah puncak langsung di kawal oleh tiga mobil polisi, sedangkan dua mobil tahanan menuju arah Jawa Tengah dengan di kawal enam mobil polisi.
Yang mengikuti mulai dari awal keluar lapas hanya satu mobil saja tetapi ada sekitar enam orang plus sopirnya, masih mengikuti dari jarak dekat tanpa disadari di belakangnya ada mobil Rafael dan rombongan agen rahasia pemerintah.
Dalam perjalanan hampir mendekati daerah Cilacap setelah dua mobil tahanan dan enam mobil polisi yang mengawal lewat, ada kemacetan panjang yang mengular sampai dua kilometer sedangkan mobilnya anak buah Agus Martono yang mengikuti terjebak dalam kemacetan itu, setelah menunggu sekitar sepuluh menit mobil berbelok ke kiri kebetulan ada jalan gang kecil mencari jalan tikus agar tidak tertinggal terlalu jauh mengawasi mobil tahanan yang sudah tidak terlihat.
Sopir mobil anak buah Agus Martono memang handal dalam waktu singkat setelah keluar dari gang dan terhindar dari kemacetan bisa menyusul mobil tahanan itu tetapi tinggal satu mobil tahanan dan tiga mobil polisi yang mengawal.
"Kemana satu lagi mobil tahanan itu pergi?" tanya sopir setelah mereka menemukan mereka.
"Tidak masalah yang satu tidak ada, yang penting yang kearah Nusa Kambangan kita masih bisa mengawasi" jawab orang yang duduk di samping sopir.
Mereka mengikuti mobil tahanan itu sampai pintu gerbang penyeberangan masuk menunju pulau Nusa Kambangan dengan pengawalan ketat dan dengan senjata yang lengkap, sehingga mereka hanya mengawasi dari kejauhan saja tanpa bisa berbuat apa-apa.
Tetapi mobil tahanan yang tadi sempat menghilang dari pandangan anak buah Agus Martono tadi, ternyata kembali berbelok menuju ibu kota kembali, masih dalam pengawalan tiga mobil polisi, setelah sampai Jakarta kembali dan mobil Rafael dan rombongan melihat tidak ada yang mengikuti mobil tahanan itu berbelok kearah Polda langsung menuju area parkir bagian belakang.
Mobil tahanan belum berhenti sempurna, dan mobil Rafael juga belum terparkir Rafael sudah membuka pintu melesat secepat kilat berlari mendekati mobil tahanan.
Bergegas salah satu petugas membukakan kunci gembok tanpa mengeluarkan sepatah katapun, memahami bagaimana hati Rafael yang berdegup kencang, ternyata yang menyamar menjadi petugas lapas adalah komandan Conan sendiri.
"Masuklah temui gadismu!" perintah komandan Conan setelah pintu mobil tahanan terbuka.
__ADS_1
Yang awalnya Shifa hanya bersandar memandangi langit-langit mobil dengan melamun, menengok kearah pintu mobil setelah pintu itu terbuka langsung membulatkan matanya sempurna.
"Shifa .... honey, Shifa" Rafael langsung naik ke mobil memeluk tubuh kurus dengan pelukan yang sangat erat.
"Kakak El, anda kah ini, apakah saya tidak bermimpi?" lirih Shifa yang awalnya Shifa hanya termangu dan kaget akhirnya ikut memeluknya dengan erat.
"I Miss you so much honey, I love you" ucap Rafael semakin erat memeluk Shifa dengan linangan air mata.
Antara tidak percaya, rasa lapar karena dari semalam sampai sore menjelang petang ini Shifa hanya mendapatkan jatah makan siang saja sisanya hanya menenggak air putih, rasa bahagia bisa bertemu dengan pujaan hati, membuat Shifa berkecamuk antara mimpi dan nyata seperti tidak ada bedanya, hampir seperempat jam dalam pelukan Shifa lunglai lemas pingsan dalam pelukan Rafael.
"Shifa.... Shifa bangunlah, Shifa" Rafael menepuk pipinya dengan lembut.
Dipandanginya wajah Shifa yang pucat, badan kurus tidak terawat, muka polos tanpa make-up, mata terpejam lunglai tak berdaya, langsung di gendongnya secara bridal di bawa turun dari mobil tahanan.
"Komandan cepat rumah sakit!" teriak Rafael sambil berlari mendekati mobilnya yang parkir tidak jauh.
Ternyata sudah ada satu dokter dan satu suster yang standby dalam mobil ambulance itu, sambil mobil berjalan membelah jalanan ibukota Jakarta yang padat, dokter memeriksa dengan teliti kondisi Shifa.
"Suster pasang infus cepat!" perintah dokter setelah selesai memeriksa Shifa.
"Kenapa harus pasang infus dok?" tanya Rafael sambil menggenggam erat tangan Shifa.
"Sepertinya badannya lemas, karena tidak adanya asupan gizi seimbang dalam tubuhnya" keterangan dokter lagi.
Rafael semakin erat menggenggam tangan Shifa dan mengelus pipinya yang terlihat tirus hanya bisa bergumam sendiri kita tidak bertemu hampir tiga bulan mengapa begitu berat penderitaan mu, mengapa semua kamu pikul sendiri deritamu, bangunlah honey aku berjanji akan melindungi dan membahagiakan kamu, tidak perduli rintangan akan menghadang kita kelak, aku tidak mau berpisah lagi dengan mu.
"Dok kok belum sadar juga, kenapa?" tanya Rafael cemas.
"Jangan khawatir, setelah infus masuk, vitamin dan obat yang saya suntikan di infus insyaallah dia akan baik-baik saja".
__ADS_1
Sampai mobil ambulance itu berhenti sempurna di depan UGD yang di nanti tidak kunjung sadar, semakin resah dan khawatir Rafael di buatnya, didorong brankar tempat tidur ke dalam UGD tetap saja Shifa masih tidak bergerak.
"Maaf Pak, silahkan anda tunggu sebentar ya, jangan lupa data diri pasien di daftarkan di lobi samping UGD" sister memberikan perintah.
Asisten Zain yang baru datang menyusul Rafael setelah di perintahkan oleh Papi Faro untuk membantu Rafael berlari mendekati dan menepuk pundaknya.
"Bos, beristirahat dan duduklah semua aku yang akan mengurus administrasi nya" Zain kembali berjalan meninggalkan Rafael menuju lobi rumah sakit.
Datang rombongan agen rahasia dan duduk di samping Rafael yang sedang tertunduk berlinang air mata.
"Sabar bro, semoga setelah ini semua akan baik-baik saja, jangan khawatir" nasehat Cello dengan menepuk pundak Rafael.
Datang dokter UGD yang kebetulan adalah teman komandan Conan yang waktu itu pernah menangani Shifa dan Rafael.
"Komandan, Rafael masuklah dia sudah mulai sadar, nama Rafael dan Ais yang dipanggilnya terus" cabik dokter jaga UGD berteriak dari depan pintu.
Sambil berlari masuk ruang UGD Rafael berteriak kepada Cello yang masih duduk bengong.
"Kakak ipar, panggil Aisyah sekarang juga, kalau perlu jemput dia sekarang"
Cello yang belum faham saat di panggil Rafael kakak ipar, di toyor kepalanya oleh Kanno dengan senyuman yang mengejek.
"Elo nyadar kagak barusan di panggil oleh adik ipar lo suruh menjemput calon bini, malah bengong".
"Ooo yang di maksud kakak ipar oleh Rafael tadi gue ya, gue lupa" cabik Cello menepuk jidatnya sendiri sambil tersenyum.
"Gue juga mau jemput Agnes sekalian deh, nebeng sampai rumah ya kakak ipar Rafael?" canda Kanno merangkul Cello dan berjalan menuju parkiran berdua.
Tidak bisa di pungkiri hati keduanya sangat lega setelah melihat sahabatnya Rafael bisa sedikit bercanda setelah ketegangan beberapa saat lalu terjadi, melihat sahabatnya bahagia kembali bertemu dengan pujaan hati membuat keduanya sangat bahagia.
__ADS_1