Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
22. Jadian di Mobil


__ADS_3

Sudah hampir satu jam Rafael dan Cello duduk di ruang tunggu kedatangan, sesekali hanya melirik pintu keluar berharap akan segera ada sosok gadis yang ditunggunya keluar dari sana.


Sampai perut Cello tidak bisa diajak kompromi, ada suara keroncongan, bahkan dangdutan dalam perutnya minta diisi.


"Gue lapar banget perut gue tidak cuma keroncongan, dangdutan, rok and rol" Cello memegangi perutnya.


"Gue juga lapar, kalau tidak tahan sana itu banyak restauran atau kedai, gue nanti aja mau sarapan berdua dengan Shifa pasti dia juga lapar, karena berangkat dari rumahnya tadi pagi subuh" cerita Rafael panjang lebar.


"Gue juga ikutlah, masak sarapan berdua saja, kita sarapan berempat" protes Cello mengerucutkan bibirnya.


Dari dalam bandara Shifa dan Aisyah sedang menunggu bagasi, satu persatu koper dan kotak kardus yang dibawanya dari Singapura sudah di dapatkan.


"Aisyah, ini kardus isinya kaos untuk adik-adik yang ada di panti asuhan, ada juga baju games untuk bunda Aulia, dan termasuk temannya Ahmad siapa namanya?".


"Adrian" jawab Aisyah singkat, bahkan mereka tidak tahu jika Adrian adik Cello.


"Dan ini satu lagi, parfum coople untuk Ais dan kak Cello" kata Shifa memberikan paper bag kecil yang diambil dari kopernya.


"Mengapa harus kak Cello, bagaimana kalau coople dengan bunda Aulia saja?".


"Untuk bunda Aulia beda lagi, yang ini untuk bunda, nih bawa sekalian" kembali Shifa memberikan paper bag kecil pada Aisyah.


"Kapan Shifa belanja semua ini, padahal kita hampir tidak punya waktu selama di Singapura?".


"Bukan saya yang belanja, tetapi ini semua bibi pengasuh yang menyiapkan, saya tahu beres.


"Oooooo".mulut Aisyah ber-o ria dengan membulatkan bibirnya.


"Ayo sudah kita pulang" ajak Shifa kemudian.


Shifa menarik satu koper besar dan satu kardus kecil, sedangkan Aisyah menarik koper kecil dan kardus yang lumayan besar, sedangkan paper bag kecil berisi parfum Aisyah masukkan kedalam tas ranselnya.


Berjalan beriringan menuju pintu keluar dengan hati bahagia dan merasa puas karena semua target yang disusun sebelum berangkat kemarin sudah berjalan lancar, tinggal menyusun lagi untuk mencari tahu tentang aunty Ara yang sudah berubah nama menjadi Amara Khadijah.


Sampai pintu keluar, Shifa dan Aisyah nampak terkejut dan menghentikan langkahnya karena ada dua sosok laki-laki yang berdiri menatapnya dengan penuh tatapan berbinar dan tersenyum manis, ini diluar ekspektasi mereka berdua, seolah Shifa dan Aisyah tidak percaya bahwa orang yang berdiri dihadapannya adalah orang yang selama ini di kagumi nya walaupun hanya dalam hati.


"Shifa, Aisyah ayo mengapa malah bengong?" Rafael mendekati mereka berdua mengambil koper Shifa dan ditariknya dan diikuti oleh Cello juga mengambil koper milik Aisyah.


"Kenapa kak El dan kak Cello jemput kami?" tanya Shifa masih sedikit kaget tidak menyangka bahwa pesan WA yang dikirim tadi pagi, diartikan sebagai permintaan untuk di jemput.


"Memang tidak bolehkah kami jemput kalian?" tanya Cello karena Shifa masih terpaku apalagi Aisyah yang hanya terbengong dan menunduk tanpa berani menatap wajah Cello.


"Aisyah.. malah melamun, ayo jalan" ajak Cello dengan menarik tangan Aisyah dengan tangan kanan dan koper di tangan kiri.

__ADS_1


"Kak Cello maaf, saya... saya" Aisyah menarik tangannya dengan sekuat tenaga.


"Oya maaf, refleks aja menarik tangan Aisyah, makanya ayo jalan".


Akhirnya dengan diam Shifa berjalan disamping El dan Aisyah berjalan disamping Cello dengan diam tidak ada sepatah katapun yang terucap.


Sampai di parkiran untuk kedua kalinya Shifa dan Aisyah kaget karena Rafael memasukkan kopernya kedalam mobilnya sedangkan Cello memasukkan koper dan kardus juga kedalam mobilnya sendiri.


"Kakak El kok mobilnya sendiri sendiri?" tanya Shifa heran.


"Memang kenapa?, Toh pulangnya kalian juga berbeda bukan?" jawab Rafael singkat.


"Iya sih tapi--?" Shifa semakin dibuat bingung karena kedua laki-laki yang menjemputnya itu hanya tersenyum melihat Shifa dan Aisyah bingung dan seolah tidak percaya.


"Sudah tidak usah pakai tapi, ayo naik!" perintah Rafael membukakan pintu mobil untuknya.


"Bro, kita sarapan dimana?" tanya Cello setelah menutup pintu bagasi mobil.


"Aisyah ayo naik!" perintah Cello sambil membukakan pintu mobil.


"Di restauran JK yang ada dekat lampu merah depan itu saja, ayo kita berangkat" jawab Rafael lagi.


Sampai didalam mobil Shifa masih melamun, bukan tentang El saja, tetapi dengan perubahan drastis Cello yang seperti begitu perhatian dan romantis kepada Aisyah.


"Eeee itu...anu, saya... saya?" dengan terbata bata Shifa tidak bisa melanjutkan ucapannya.


"Saat saya tadi pagi mengirim pesan WA, saya tak minta di jemput, saya hanya sekedar memberikan informasi kalau saya sudah pulang".


"Aku tahu, memang aku tidak boleh menjemput kamu?".


"Tidak ada yang melarang kak, tapi saya jadi merasa tidak enak aja selalu merepotkan kakak El".


"Aku tidak merasa di repot kan, aku malah suka bisa selalu dekat sama kamu".


"Eeee tetapi--?"


Saat Shifa ingin melanjutkan ucapannya, tangan kiri Rafael meraih dan menggenggam tangan kanan Shifa.


"Kenapa sih, kok gugup dan bingung begitu, apakah aku tidak boleh jika selalu dekat dengan kamu?".


"Maksud kak El?"


"Apakah selama ini kamu tidak merasakan apa-apa padaku?".

__ADS_1


"Siapalah saya kak El, tak berani saya menyukai seorang pangeran kampus yang terkenal".


"Tapi aku suka sama kamu, aku selalu ingin dekat dengan kamu, rasanya akan hampa jika tidak mendengar kabar ataupun suaramu".


Mendengar perkataan Rafael dan tangannya masih menggenggam, Shifa menjadi bingung harus bagaimana dan berkata apa, hanya gugup dan grogi, hatinya berdegup kencang, seolah habis berlari berpuluh puluh kilometer.


"Shifa... Shifa"


"I..iya kak ada apa?" semakin Shifa gugup dan tersentak kaget karena tadi melamun dengan pikirannya sendiri.


"Jadi bagaimana, apakah hatimu sama seperti apa yang aku rasakan?"


"Maksudnya kak, saya kurang faham?".


Shifa masih ragu dan tidak percaya jika Rafael menyatakan perasaannya, menambah suasana menjadi canggung walaupun hati seolah ingin meloncat karena bahagia.


"Apakah harus aku katakan, aku suka sama kamu Shifa, aku mencintai kamu Shifa, maaf aku orangnya tidak romantis, menyatakan cinta di dalam mobil".


Shifa hanya tersenyum, akhirnya hatinya terbalaskan walaupun menyatakan cinta hanya di dalam mobil, baru pertama kalinya jatuh cinta, menghangat hatinya, tak perduli dimana tempatnya yang penting hatinya berbunga-bunga.


"Tersenyum berarti diterima ya?" Masih tetap menggenggam tangannya, Rafael tersenyum bahagia walaupun Shifa hanya menganggukkan kepalanya.


"Dijawab dong, diterima kan?"


"Iya kak saya juga suka sama kak El, tetapi---!".


"Sudah tidak ada tapi tapian, kita sudah resmi jadian ya...hari ini, di mobil ini Shifa dan Rafael adalah pasangan kekasih".


Kembali Shifa terdiam, setelah melaksanakan satu persatu amanah dari Mami fatty hatinya semakin tenang dan bahagia, keberuntungan selalu saja mendatanginya, kebahagiaan batin pun semakin sempurna, sudah mengetahui nama auny Ara, sekarang meraih cinta pertamanya, nikmat apalagi yang aku dustakan gumamnya dalam hati.


"Kok melamun lagi, ada apa?" tanya Rafael membangunkan lamunannya, hanya dijawab gelengan kepala oleh Shifa, tanpa mengeluarkan sepatah kata.


"Kita sudah jadian, jadi kalau punya masalah, ceritakan padaku, aku ingin kita bisa berbagi suka ataupun duka" kembali Rafael berkata.


Shifa hanya menarik nafas dalam-dalam, membetulkan posisi duduknya "Semua butuh proses kak El, sekarang saja saya hampir belum percaya kalau seorang Rafael Sanjaya Wiguna menyatakan cintanya pada gadis biasa seperti saya".


"Siapa bilang kamu itu biasa, kamu itu istimewa Shifa, terutama di mataku sangat sangat istimewa" Rafael mulai berani merayunya.


"Kak El mulai ngegombal ya, darimana istimewanya coba?" tanya Shifa sambil menunduk karena takut ketahuan mukanya yang merah merona karena rayuan receh Rafael.


"Banyak Shifa istimewanya dari kamu itu, yang salah satunya adalah kamu berhasil membuat jantungku berdetak kencang saat aku memandang mu, selama ini aku tidak pernah merasakan seperti ini jika di dekati oleh cewek, seringnya aku ilfil semakin mereka mendekatiku, tetapi sekarang terbalik aku yang sering ingin medekatimu ee malah kamunya sering menjauhiku"


'

__ADS_1


__ADS_2