
Sabtu siang Cello nekat menemui Aisyah padahal sudah di larang oleh Mama Ara, gara-gara provokasi Rafael yang berhasil membuat pikirannya melayang dan tidak bisa di kendalikan, dengan alasan ingin melakukan perawatan Berdua dengan calon istri Cello nekat mengantar Mima Cinta dan Jenny ke Panti asuhan.
Tiba di Panti asuhan Cello, Mima Cinta dan Jenny menemui Aisyah yang berada di dapur sedang membuat makan siang untuk anak panti, rencana Aisyah dan bunda Aulia malam nanti akan ke kediaman keluarga Papa Mario, sehingga harus membuat makanan yang lumayan banyak sampai cukup untuk makan malam.
"Assalamualaikum Bunda, Aisyah" kata Cello mendekati mereka.
"Walaikum salam, kak Cello kok kesini ada apa?" tanya Aisyah kaget berlari mendekati Cello.
"Ini ngantar Mima dan Jenny, kita harus perawatan dulu, aku maunya perawatan Berdua" jawab Cello dengan suara manja.
"Sana Ais perawatan di aula saja, jangan di ruang tamu, biar bunda dan anak-anak yang melanjutkan masaknya" titah bunda Aulia.
"Bunda juga harus perawatan dong, biar cantik paripurna, gantian aja setelah calon pengantin" ucap Mima Cinta dengan suara khasnya.
"Iya Mima tapi aku masak dulu".
Melakukan perawatan hampir tiga jam baru selesai, bergantian dengan bunda, membuat badan dan wajah menjadi fress dan terlihat segar.
Waktu selesai Cello tidak langsung pulang, karena Mima Cinta dan Jenny harus bertemu pelanggannya di sebuah perumahan elit di daerah dekat Panti asuhan mereka menggunakan mobil online.
"Sayang sudah packing baju belum, apa perlu bantuan ku?" tanya Cello kepada Aisyah saat mereka sedang duduk di kursi meja makan.
"Sudah kak, tidak usah repot-repot, sudah di koper tinggal angkat aja kok?".
"Berapa koper memangnya?".
"Maaf cuma satu saja aku tidak---".
"Sssttt, cukup tidak usah di lanjutkan kalau perlu tidak usah packing, kamu cuma bawa diri, aku tidak memerlukan embel-embel yang lain, aku hanya butuh dirimu, sisanya bisa diatur" Cello langsung menggenggam tangan Aisyah.
Setelah Aisyah bisa menguasai perasaannya, menghilangkan rasa rendah diri yang selalu membuatnya tidak percaya diri, tersenyum agar Cello tidak merasa bersalah.
"Maaf kak, aku tidak mau merepotkan kak Cello, satu koper bagiku sudah cukup banyak".
"Kalau perlu tidak usah di pakai saja, aku akan semakin cinta sama kamu" bisik Cello karena mulai mengingat peristiwa tadi pagi saat di kamar Shifa.
"Kak Cello jangan mulai lagi, masih besok akad nikahnya, kenapa mesumnya sekarang?".
Cello hanya nyengir kuda, memandang wajah Aisyah dengan penuh cinta, rasanya tidak sabar menunggu besok pagi.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang yok, ada Shifa dan Rafael di rumah, katanya Kanno dan Agnes juga sudah otw ke rumah".
"Kata Bunda setelah magrib aja kak, atau kak Cello pulang duluan sana, nanti aku sama Bunda naik angkutan umum aja".
"Tidak mau, aku tunggu aja sampai magrib, aku maunya tidak berpisah lagi, aku kangen terus kalau jauh dari kamu".
"Gombal aja kak Cello ini".
Hampir dua jam Cello menunggu magrib dan menunggu persiapan Aisyah dan Bunda Aulia, walaupun Mama Ara, Kanno dan Kanno mengubungi Cello untuk segera pulang tetapi Cello tetap ingin pulang bersama Aisyah.
Setelah pukul delapan malam Cello baru kembali sampai rumah bersama Aisyah dan Bunda Aulia, rumah yang tadi pagi masih seperti biasa setelah pulang rumah menjadi indah karena dekorasi pelaminan dan tempat untuk akad nikah yang sangat indah walaupun sederhana tetapi terlihat sangat elegan.
Tidak kalah kamar Cello sudah di hias menjadi kamar pengantin yang senada dengan dekorasi pelaminan, saat Cello mengajak Aisyah dan Bunda Aulia meletakkan koper miliknya ke kamar pengantin dan baru sampai depan pintu kamar Cello mulai usil lagi.
"Sayang, apakah bisa nanti malam kita berdua disini?" tanya Cello berbisik di telinganya, karena takut Bunda Aulia mendengarnya.
Aisyah langsung mencubit lengan Cello dengan keras dan tatapan mata yang tajam kearah Cello.
"Auw...auw.... aduh sakit" teriak Cello kaget.
"Ada apa nak Cello?" spontan Bunda Aulia kaget dan menghentikan langkahnya.
Malam ini kamar pengantin di tempati oleh Aisyah, Agnes dan Bunda Aulia sedangkan Cello dan Kanno tidur di ruang tamu, Rafael dan Shifa di kamarnya sendiri, diminta untuk menemani Cello dan Kanno Rafael justru sengaja mengejek mereka berdua.
"Ogah banget gue menemani kalian berdua, lebih baik gue olahraga malam bersama bini gue, elo berdua tau semalam gue bisa melakukan dua sampai empat ronde ha ha ha" ejek Rafael meninggalkan kamar tamu.
"Dasar gelo siak" teriak Kanno dan Cello bersamaan sambil melempar bantal.
"Jangan buat gue ngeres lagi El, aseeem" kata Cello mengambil bantal yang berada di lantai.
Rafael berlari masuk kamar melihat istrinya sedang VC dengan Uncle Mahfud duduk di samping Shifa ikut berbincang, mengabarkan jika saat ini tidak bisa menghadiri acara pernikahan Cello dan Aisyah karena acara yang mendadak juga karena tidak mendapatkan ijin dari kesatuan polis Diraja Brunei Darussalam.
Pagi harinya Mima Cinta mulai merias Aisyah, halaman rumah banyak sekali bodyguard dan petugas keamanan yang sedang menjaga tamu karena tamu harus membawa undangan saat masuk ke acara pernikahan antara Cello dan Aisyah.
Tepat pukul sepuluh pagi penghulu sudah standby dan siap berada di depan meja dan duduk lesehan beserta saksi, dan seluruh keluarga dan orang tua dari Cello berserta seluruh anggota dan sahabat dengan versi lengkap.
Cello duduk bertiga di dampingi oleh Kanno da Rafael menunggu Aisyah yang di dampingi oleh Shifa dan Agnes turun dari lantai atas, penampilan yang berbeda dari biasanya, yang notabene seorang Aisyah yang sangat sederhana dan tidak pernah berdandan, semua tamu undangan melihat pengantin wanita yang sangat cantik dan anggun bahkan Cello sendiri hampir tidak mengenali wajahnya.
"Itu Aisyah, apa aku tidak salah lihat, takutnya aku salah nikah mengapa cantiknya kebangetan begitu" ucap Cello dengan mata tanpa berkedip.
__ADS_1
"Dasar gelo siak, itu calon bini elo" Kanno menoyor pundak Cello.
"Habisnya cantiknya paripurna" Cello tetap menatap wajah Aisyah tanpa berkedip sampai mulut menganga karena terpana.
Aisyah duduk di samping Cello dengan tersenyum dan menunduk malu, Cello terus saja menatap sendu Aisyah yang sangat cantik dan anggun.
"Cantiknya istriku, I love you" bisik Cello di telinga Aisyah.
Semua sudah berkumpul di ruang keluarga pembawa acara mulai dengan susunan acaranya, membacakan ayat suci Al-Quran dan tilawahnya adalah awal dari acara akad nikah, pemeriksaan dan pembacaan saksi dan wali nikah sudah di bacakan oleh wakil penghulu.
Setelah selesai pemeriksaannya penghulu mulai menghadap kearah Cello dan menjabat tangannya.
"Sudah siap, dimana mas kawinnya apakah sudah di persiapkan?" tanya penghulu kepada Cello.
"Sudah siap Pak, Oya ini mas kawinnya" Cello mengeluarkan bingkai kecil seukuran pas foto 2R yang berada di kantong jasnya.
Setelah diperhatikan dan dibaca oleh penghulu dengan mata terbuka dengan sempurna di letakkan mas kawin yang di berikan oleh Cello
"Baiklah saudara Cello apakah sudah siap?".
"Siap Pak penghulu, cepatlah aku sudah tidak sabar lagi" jawab Cello dengan jujur.
"Waaaah sudah ngebet rupanya Anda" canda Pak penghulu mulai menjabat tangan Cello diikuti oleh gelak tawa semua keluarga yang hadir.
"Saudara Marcello Kurniawan bin Mario Kurniawan aku nikahkan dan kawinkan engkau Aisyah Rahayu binti Fulan dengan wali hakim dengan mas kawin uang tunai sebesar 3 milyar dibayar tunai".
"Aku terima nikah dan kawinnya Aisyah Rahayu binti Fulan dengan mas kawin tersebut diatas dibayar tunai".
"Bagaimana semua sah?" tanya Pak penghulu.
"Sah...."
"Sah Alhamdulillah"
Setelah tanda tangan di buku nikah pembacaan ikrar kewajiban dan hak suami istri, Aisyah menghadap Cello mencium punggung tangan Cello dengan deraian air mata yang menganak sungai, saat ijab qobul tadi Aisyah menahan agar tidak menangis tetapi setelah mendengar mas kawin dengan uang yang sangat fantastis Aisyah tidak bisa lagi menahan air matanya.
"Sayang mengapa menangis?" tanya Cello memegang pipi Aisyah.
"Mengapa harus sebanyak itu mas kawinnya kak Cello?".
__ADS_1
"Aku ingin menunjukkan kepada dunia kalau istriku sangat berharga, seharusnya lebih dari itu sayang".