
Hampir dua hari ini Rafael selalu diikuti oleh orang yang tidak di kenalnya, walaupun orang yang mengikuti berbeda-beda tetapi mata tajam Rafael selalu bisa mengenali mereka dengan gerak gerik khas mereka.
Selalu mengambil foto mereka jika orang yang mengikuti berganti orang, di kirimnya ke komandan Conan langsung, setiap mereka menemui penguntit di sekitar Rafael.
Setelah mempertimbangkan situasi yang dua hari ini akhirnya Papi Faro memutuskan untuk sementara Shifa akan di ungsikan ke perkebunan teh milik keluarga besar di kampung.
Disana ada mantan trio cabe-cabean Ezo, Rayhan dan Bagas, yang hidup bahagia bersama istri dan putra putrinya, yang terpenting lagi ada Opa Kenzie dan Oma Imma yang menghabiskan masa tuanya bersama keluarga Ezo di perkebunan.
Ezo telah menikah dengan seorang gadis yang berasal dari Surabaya dan di karuniai putra kembar bernama Fassal dan Faisal yang sekarang duduk di kelas 9 SMP.
Rayhan menikah dengan teman kuliahnya yang kebetulan anak dari pegawai pemetik teh milik keluarga Papi Faro dan memiliki satu putra yang duduk di kelas 8 SMP dan seorang putri cantik yang duduk di kelas 6 Sekolah dasar SD.
Bagas yang terakhir menikah diantara ketiganya, menikah dengan gadis Betawi teman kecilnya dan di karuniai seorang putri kecil yang berumur lima tahun.
"Papi, El belum ada satu bulan Berdua dengan Shifa mengapa harus berpisah lagi?" protes Rafael saat Shifa akan berangkat di antar menggunakan helikopter dan di dampingi oleh Mami Inneke.
"Nanti weekend bisa nyusul kesana El, tidak usah khawatir" nasehat Papi Faro tersenyum devill.
"Papi teganya" cabik Rafael mengerucutkan bibirnya lima cm karena kesal.
"Sayang jangan menyalahkan Papi terus, ini demi kebaikan dan keselamatan keluarga kita" rayu Shifa mengusap lembut pipi Rafael.
"Tapi honey itu masih lama, mana bisa aku jauh darimu?" suara manja Rafael membuat kesal Mami Inneke.
"Alaaah dasar gombal, Papi dan putranya sama aja sekalian lima bulan El di larang ketemu menantu Mami, ayo Shifa kita berangkat" celoteh Mami Inneke menarik tangan Shifa dan mengedipkan matanya kepada Shifa.
"Mami dan Papi sama aja tega dua duanya, honey tunggu aku antar sampai di atas" Rafael berlari mengikuti langkah Mami Inneke dan Shifa naik lift untuk ke lantai atas.
Helikopter sudah menunggu diatas, dengan berat hati Rafael harus melepas kepergian istri tercintanya untuk menghindari dari pengawasan anak buah Agus Martono serta mengunjungi Opa Abi dan Oma Umi di perkebunan teh.
Di dalam lift Rafael tidak jauh dari pinggang Shifa, sampai masuk helikopter pun tetap memeluknya dengan erat.
"Da da sayang, aku berangkat dulu, kak El yang semangat kerjanya ya, aku tunggu weekend nanti, I love you" pamit Shifa melepaskan pelukannya.
"Setelah sampai sana jangan lupa kabari aku ya honey, I love you to".
Menempuh perjalanan hanya satu jam saja Shifa dan Mami Inneke tiba di perkebunan, di jemput langsung oleh Ezo dan istrinya Alma Humaira.
"Kak Keke apa kabarnya?".
"Alhamdulillah sehat, bagaimana dengan keluarga disini?" jawab Mami Inneke cipika-cipiki dengan adik iparnya dan bergantian dengan Alma.
"Umi dan Abi sehat kak, Fassal dan Faisal juga sehat, hallo keponakan uncle Ezo selamat datang di perkebunan".
"Hallo Uncle Ezo, Aunty Alma Assalamualaikum?" ucap Shifa mencium punggung tangan mereka bergantian.
"Walaikum salam, maaf saat kalian nikah kita tidak bisa hadir" ucap Ezo saat mereka sudah berada di mobil dan menuju ke kediaman keluarga Ezo.
__ADS_1
"No problem Uncle, acaranya juga mendadak, yang penting doa restu Uncle dan Aunty itu sudah cukup buat kami".
"Tentu selalu samawa dan hidup bahagia itu harapan kami".
"Aamiin"
Baru sampai halaman rumah Ezo, Rafael sudah VC Shifa, padahal baru satu jam mereka berpisah.
"Honey, sudah sampai rumah Uncle Ezo, mana beliau, El ingin menyapanya?".
Shifa mengarahkan kamera VC kearah Ezo dan Alma istrinya bergantian.
"Uncle, Aunty apa kabar?" ucap Rafael dengan melambaikan tangannya.
"Baik El, bagaimana dengan Papi mu dan Najja, sehat kan?" tanya Ezo lagi.
"Alhamdulillah sehat uncle, Opa Abi dan Oma Umi dimana Uncle, El kangen dengan mereka?".
"Ini baru mau masuk rumah El, kamu ini sibuk banget sih" kesal Mami Inneke dengan tingkah putranya sendiri.
"Mami cantik, jangan marah terus nanti hilang lo cantik nya" rayu Rafael sambil tersenyum.
"Tunggu dulu, Mami menemui Opa Abi dan Oma Umi dulu sabar"
Masuk rumah menemui Abi dan Umi yang sedang menunggu di ruang keluarga bersama Fassal dan Faisal, tetapi sebelumnya Shifa membuka masker yang menutupi wajahnya.
"Waaah ini cucu menantu Opa Abi, cantik sekali, dasar El pintar mencari istri dia" ucap Kenzie dengan mengusap punggungnya.
"Opa Abi, bagaimana Istri El cantik kan, cantik kan mana sama Oma Umi?" celoteh Rafael dengan tertawa lepas.
"Tetap Oma Umi yang tercantik El, istrimu nomor dua ok" canda Opa Abi kepada cucu kesayangan.
"Iya Opa, Oma Umi tetap yang tercantik".
"Opa, Oma, El ijin ingin bicara dengan Istri cantik nomor dua ok".
"El, Oma Umi masih kangen, tapi sana berbincang kalau sudah cepat VC Oma Umi lagi!".
"Siap Oma Umi cantik".
"Kak El, nanti aku VC lagi ya, aku minta waktu seperempat jam lagi ok"
"Iya jangan lama-lama".
"Oya Shifa, kenalkan ini putra Uncle yang satu namanya Fassal dan yang satu lagi Faisal".
Shifa memperhatikan kedua pemuda tampan yang ada di depannya, Fassal dan Faisal memiliki wajah yang sangat mirip yang membedakan adalah Faisal memiliki tanda lahir hitam kecil di ujung alis sebelah kanan.
__ADS_1
"Ok, Fassal dan satu lagi Faisal, sekarang aku punya adik yang sangat tampan, salam kenal".
"Salam kenal juga kak, ayo kita antar ke kamarnya kakak El"
Fassal dan Faisal menggandeng Shifa dari sebelah kanan dan kiri naik ke lantai atas bercanda ria dengan akrab.
"Oya ini oleh oleh dari kak El, semoga kalian suka" Shifa mengambil dua paper bag dari koper di serahkan kepada kedua adiknya.
"Terima kasih kak, ini yang kami inginkan dari kemarin" jawab Fassal dengan hati yang bahagia.
Dari sore Shifa, Mami Inneke bersama Opa Abi dan Oma Umi bercengkerama di ruang keluarga beserta Ezo, Alma dan si kembar, dan tidak lupa VC bersama Rafael dan Papi Faro setelah selesai makan malam.
Opa Abi dan Oma Umi banyak bercerita kepada Shifa tentang masa kecil Papi Faro ataupun Rafael di ruang keluarga.
Walaupun sudah tidak muda lagi pasangan Umi dan Abi masih terlihat mesra, keharmonisan keduanya masih terlihat, cinta keduanya tidak pernah surut dan lekang di makan usia.
Shifa dan Mami Inneke terkadang saling pandang melihat kemesraan keduanya, terkadang tidak malu saat keduanya menunjukkan kemesraan mereka di depan anak ataupun cucunya.
Hampir tengah malam Shifa baru masuk kamar dan ingin beristirahat tetapi baru merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, Rafael menghubungi dengan VC.
"Ada apa lagi sayang, ini sudah malam, besok pagi harus ke kantor".
"Honey tega banget sih, aku tidak bisa tidur tanpa memegang itu dulu".
"Terus sekarang bagaimana, apa yang bisa aku lakukan agar kak El bisa tidur?".
Rafael hanya tersenyum menyeringai dan memandangi wajah dan bagian dada Shifa dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Malah tersenyum aneh begitu, apa maunya kak El?".
"Buka kancing bajunya!".
"Baiklah" Shifa membuka kancing bajunya dari atas sampai bawah.
"Itu nya juga di buka dong!".
"Itu apaan?".
"Cepat honey, ayo kita tidur".
Akhirnya tanpa mematikan VC Rafael ada di Jakarta sedangkan Shifa ada di perkebunan sama sama berbaring miring dengan berbincang Rafael menatap nanar kearah baju yang terbuka dan bra juga terlepas sampai keduanya terlelap.
Saat siang Shifa berwisata bersama seluruh keluarga besar yang ada di perkebunan, dan malamnya akan VC dengan Rafael dan melakukan aktifitas rutin dengan membuka kancing baju dan yang lainnya sampai terlelap keduanya.
Hari Jum'at malam seperti biasa Shifa menunggu Rafael CV, saat suara dering handphone berbunyi Shifa langsung menekan tombol hijau.
"Sudah dibuka honey?" tanya Rafael dengan tersenyum devill.
__ADS_1
"Kak El, kenapa tidak sabaran sih, belumlah kak El juga belum berbaring di tempat tidur"