
Setelah pulang dari apartemen Shifa, Rafael bergegas mandi dan membersihkan diri, baru kemudian Rafael mencari Papi Faro, menceritakan tentang paket yang akan diambil besok pagi,
Dengan cepat Papi Faro menghubungi Conan, Kanno dan Cello untuk berkumpul di markas mini yang berada di lantai empat kediaman Papi Faro.
Kurang dari satu jam, semua sudah berkumpul di laboratorium mini, langkah pertama adalah Rafael mengirim alamat EMKL dan nomor registrasi data yang telah di kirim oleh Shifa kemarin kedalam leptop yang di teruskan ke proyektor yang berada didepan mereka.
Langkah kedua adalah tugas Kanno karena pemuda berkacamata itu yang paling ahli dalam meretas suatu data dengan mudah seperti menjentikkan jarinya saja.
Tidak kurang dari sepuluh menit tangan dingin Kanno mendapatkan data pengiriman barang beserta foto detail barang tersebut baik nama pengirim dan penerima barang, jumlah dan berat barang.
Sekarang langkah ketiga kini tugas Cello yang memilah dan memisahkan barang yang khusus di kirim dari Singapura, awalnya saat di cari pengiriman itu bernama Agus sesuai keterangan Shifa tidak ada data itu.
Rafael akhirnya memasukkan nomor registrasi data pengiriman ternyata ada dua nomor yang sama tetapi satu dari Singapura dan satu lagi dari Thailand, tetapi menurut catatan itu nama pengirim dan penerima sama persis tetapi yang mengirim barang itu bukan uncle Agus seperti yang Shifa ceritakan.
Langkah terakhir adalah meneliti dua kotak dengan menggunakan berbagai metode, dari metode manual sampai menggunakan infrared, setelah semua metode di teliti kemungkinan besar paket itu hanya satu yang berisi barang selundupan terlarang, dan satu lagi berisi ginseng yang berasal dari Korea tetapi memiliki sertifikat legal dari pemerintah Thailand.
"Papi, bagaimana langkah selanjutnya, mohon petunjuknya?" pinta Rafael kepada Papi Faro.
"Besok El tetap berangkat sesuai jadwal, tetapi ingat ada dua kotak boks dengan ukuran yang berbeda" titah Papi Faro pada awalnya.
"El harus bisa membedakan kotak boks yang mana yang akan diserahkan kepada siapa namanya gadis itu?" Komandan Conan melanjutkan titahnya.
"Shifa namanya komandan" jawab Kanno cepat.
"Oya, Shifa, tapi ngomong-ngomong sudah resmi jadian belum El, kalau belum biar gue yang nyikut si doi" kembali Kanno nyinyir meledek sahabatnya yang loading jika menyangkut cewek.
"Ini lagi kerja, gue beri lo berani nyikut gebetan gue" cabik El dengan melotot kearah Kanno.
"Jika nanti Shifa mendapatkan paket yang benar, suruh dia mengantar sampai tujuan, tetapi nanti El harus bertukar mobil saat di cucian mobil atau pom bensin" keterangan Papi Faro.
"Kanno dan Cello yang akan membawa mobil kedua" komandan Conan menambah perintah.
"Terus kalau nanti mendapatkan paket yang salah bagaimana?" gantian tanya Cello.
"Nanti ada anggota yang menyamar untuk membuat keributan agar Shifa dan Rafael tidak sempat memegang paket itu secara langsung" ide komandan Conan.
"Ada pertanyaan lagi?" tanya Papi Faro lagi.
"Baiklah jika sudah faham semua, tinggal tunggu besok eksekusi, jangan lupa nanti kita bekerja sama dengan kepolisian bagian narkoba, ada yang memakai seragam ada juga yang menyamar, maka itu semua berhati-hatilah" nasehat komandan Conan.
__ADS_1
Di dalam kamar, Rafael melamun mengingat peristiwa saat menyelamatkan Shifa dari kejaran delapan orang waktu itu, dia mempunyai senjata otomatis.
Flashback on
Di dalam kamar rawat inap rumah sakit Rafael menanyakan tentang senjata otomatis yang di miliki Shifa.
"Tentang senjata otomatis itu dari mana kamu memiliki senjata dan kemampuan menembak?".
"Oooo itu, senjata otomatis saya resmi kak, legal dan ada sertifikatnya, saya dari kecil sudah belajar menembak di ajari oleh uncle Agus" awal cerita Shifa.
Rafael mengerutkan keningnya, seorang gadis kecil belajar menembak itu tidak wajar merurut pemikirannya.
"Bahkan tidak cuma menembak, karate bela diri, mengangkat beban, mendaki gunung itu adalah makanan saya sehari hari" cerita Shifa selanjutnya.
"Apa yang melatar belakangi kamu harus melakukan aktivitas fisik seperti itu?" tanya Rafael penasaran.
"Kata uncle Agus, dulu kakak sepupu saya pernah mengalami penculikan karena persaingan bisnis, persaingan dunia bisnis terkadang di lakukan dengan tidak sehat, sehingga saya mengalami imbas dari penculikan itu, saya selalu diawasi 24 jam full, mengakibatkan saya tidak memiliki teman dan pacar sekalipun"
"Jadi kamu selalu membawa senjata otomatis itu kemanapun kamu pergi?".
"Tidak kak El, saya membawanya saat tertentu saja".
Shifa mengambil nafas dalam-dalam, tidak ingin terbongkar identitas sebenarnya sebelum menemukan sosok aunty yang selama ini di carinya.
Setelah mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat Shifa memang berniat lepas dari bayang-bayang atau masa lalu dari Papi kandungnya sesuai keinginan Mami Fatty, sehingga Shifa tidak berniat menceritakan siapa sebenarnya dirinya, dia hanya ingin hidup damai tanpa ada gangguan atau ancaman dari kawan atau lawan anak buah Papi dan uncle Agus.
"Tadi pagi kebetulan saya akan mengikuti lomba menembak yang diadakan oleh pihak swasta, tetapi uncle Agus meminta saya mengambil paketnya, jadi saya membawa senjata itu niatnya untuk ajang lomba" cerita bohong Shifa.
"Apakah kamu pernah memenangkan pertandingan menembak?".
"Saat di Singapura saya sering menjadi juara umum saat duduk di bangku SMU".
Sebetulnya dalam benak Rafael ingin menyelidiki latar belakang siapa sebenarnya Shifa, tetapi setelah mendapatkan cerita Shifa, Rafael mengurungkan niatnya.
"Kakak El apakah tadi kakak melaporkan jika saya menggunakan senjata otomatis, saya mohon jangan kak, senjata itu semata mata hanya untuk melindungi diri saja kok?" pinta Shifa dengan penuh hangat.
"Tidak, saya tidak cerita pada siapapun".
"Terima kasih kak El".
__ADS_1
Flashback off
Tidur hampir menjelang tengah malam, ternyata setelah pernyataan cinta walaupun di dalam mobil hatinya menjadi tenang, perasaan cinta yang terbalas membuat hatinya menghangat dan bahagia, terlelap dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Pukul lima pagi alarm Rafael berbunyi dengan kencang, tadi malam sengaja mengatur alarm agar tidak terbangun kesiangan, baru mau beranjak dari tempat tidur ada notifikasi pesan WA masuk yang memiliki suara khusus.
"Tring...tring... My heart".
Rafael spontan meloncat turun dari tempat tidur meraih handphone yang ada di atas nakas dan membacanya perlahan.
"Assalamualaikum kak El, apakah sudah mendapatkan informasi tentang paket yang akan saya ambil" tulis pesan Shifa.
Rafael tersenyum tipis, membaca pesan itu menjadi teringat saat mencuri ciuman pipi Shifa saat akan berpamitan pulang.
"Walaikum salam, tenang aja aman kok sebentar lagi aku jemput, tetapi aku baru mau mandi" jawab dalam tulisan Rafael.
"Baiklah kak, terima kasih, saya juga baru mau mandi, sampai jumpa nanti" kembali Shifa menjawab.
Dengan hati riang Rafael masuk kamar mandi membersihkan diri sambil bersenandung kecil, selesai memakai celana jeans dan kaos yang nyaman keluar kamar dengan wajah yang berseri-seri.
"Buuiih kakak El, pagi pagi sudah ganteng dan harum begini mau kemana?" tanya Najja dengan suara manja.
"Dari dulu kakak ganteng, tidak cuma sekarang" celoteh Rafael berjalan ke meja makan dan duduk disana.
"Mau kemana sih kak, Najja ikut dong?" tanya Najja kembali bergelayut manja di lengan kakak kesayangannya.
"Kepo, anak kecil di larang ikut belum cukup umur".
"Segitunya sih kak, Mami kak El mau kemana sepagi ini biasanya hari Minggu ke car-free day?" dengan penasaran Najja mencoba mengadu pada Mami Inneke yang berada di dapur sedang membuat sarapan pagi dan susu coklat.
"Tidak usah kepo terus, kakak mau jalan-jalan sama gebetan" seloroh Rafael mengedipkan matanya.
"Emang kakak punya gebetan, tidak percaya, dari dulu jika di dekati cewek ilfil terus?" tanya Najja cepat dengan mengerucutkan bibirnya tidak percaya.
Datang Papi Faro keluar dari lift berjalan kearah ruang makan dengan menggenakan pakaian yang tidak formal seperti Rafael.
"Sayang, kakak El itu mau kerja sama Papi" kata Papi Faro duduk di samping kursi Najja dan membelai rambut panjangnya dengan lembut.
"Kakak El, bohong, gebetan apa halu, ternyata cuma mau kerja sama Papi" cabik Najja kesal dan melemparkan tisu kearah kakak El.
__ADS_1
Selesai sarapan walaupun menggunakan mobil yang berbeda Rafael dan Papi Faro berangkat, akan melaksanakan semua yang telah direncanakan kemarin.