
Besok adalah hari yang bersejarah bagi Shifa yaitu hari lahirnya, tetapi Shifa tidak pernah merayakan hari jadi itu dari dia kecil, waktu masih tinggal di rumah utama milik Papi Thora biasanya Shifa hanya merayakan bersama almarhumah bibi pengasuh, tidak pernah mau diberikan hadiah oleh siapapun bahkan hadiah dari uncle Agus tidak pernah di terimanya, biasanya jika mendapat hadiah dari uncle Agus akan di berikan kembali kepada Anjas putra kandung uncle Agus.
Waktu masih kuliah biasanya hanya minta doa saja tetap tidak pernah menerima hadiah apapun, yang tahu pasti saat Shifa ulang tahun hanya Aisyah saja saat tinggal di Jakarta, bahkan tidak seorang teman yang mengetahui tanggal ulang tahun dirinya.
Uncle Agus juga tidak pernah mengucapkan selamat hari jadi, karena tahu betul bagaimana perasaan Shifa apalagi saat tinggal di Jakarta, sekarang setelah di jadikan kambing hitam harus bertanggung jawab sebagai pengganti Papi Thora.
Setelah menjalin hubungan dengan Rafael pun Shifa sering menghindar jika saat ulang tahun, biasanya akan beralasan pulang ke Singapura jika sedang ulang tahun, pernah juga saat Shifa ulang tahun Rafael dan sahabatnya sedang menghilang karena mendapatkan tugas dari agen rahasia.
Sebenarnya ada yang Shifa sembunyikan yang memang tidak seorangpun yang ada di Jakarta tahu mengapa dia melakukan itu bahkan Aisyah pun juga tidak tahu, bertahun tahun sejak kecil, dia selalu merasa kecewa saat ulang tahun tiba, karena saat Shifa ulang tahun semua keluarga dari Papi Thora dan seluruh anak buahnya akan mengenang hari meninggalnya Theo Thanapon dan istrinya.
Saat kecil Shifa tidak pernah mengerti mengapa dia tidak pernah dirayakan ulang tahunnya, selalu diabaikan, karena mereka hanya konsentrasi mengenang mendiang ketua mafia se-Asia tenggara saja dan tidak pernah memperhatikan dirinya.
Semakin tahun semakin Shifa menganggap mereka memang tidak pernah menganggap ulang tahunnya penting, lebih penting mengenang ketua mereka dari pada ulang tahun dirinya, tetapi setelah Shifa membaca amanah dari Mami mengetahui mengapa ulang tahunnya tidak di rayakan hari kematian kakek neneknya adalah juga hari kelahirannya.
Maka dari itu Shifa sudah terbiasa tidak merayakan ulang tahunnya, tetapi sekarang saat tinggal di rumah Mama Ara Shifa bingung harus bagaimana, apa yang akan di lakukan agar keluarga dan Rafael tidak mengucapkan atau merayakan ulang tahun, mau beralasan apa agar mereka lupa dengan peristiwa bersejarah besok, Shifa hanya mondar-mandir di kamarnya berpikir keras apa yang harus di lakukan sedangkan di otaknya buntu dan tidak memiliki ide sama sekali.
Sedangkan di panti asuhan Kasih Bunda saat ini sedang berkumpul Aisyah, Agnes, Cello, Kanno dan Rafael, sedang merencanakan membuat kejutan untuk ulang tahun Shifa.
Aisyah awalnya ragu-ragu untuk bercerita tentang kebiasaan Shifa saat ulang tahun yang tidak pernah mau di berikan hadiah, dan bahkan Aisyah dengan jujur bercerita kepada Rafael saat Shifa sudah menjadi kekasih Rafael, Shifa pernah berbohong jika dia pulang ke Singapura, padahal dia hanya berdiam diri di apartemen Wika City.
"Apakah Shifa tidak bercerita apa sebabnya, mengapa tidak pernah di rayakan ulang tahunnya?" tanya Rafael.
"Tidak kak El, tetapi yang jelas, ada sesuatu yang dia sembunyikan, soalnya biasanya saat hari jadinya tiba Shifa tidak pernah merasa bahagia, dia malah murung" cerita Aisyah dengan mata yang sendu.
"Jadi apa yang dia lakukan saat dia ulang tahun?" tanya Cello ikut penasaran dan heran.
"Biasanya aku hanya memberikan doa saja, dia tidak pernah mau menerima kado apapun itu hanya satu yang dia minta yaitu doa" jawab Aisyah lagi.
Rafael jadi melamun memang selama pacaran dengan Shifa memang tidak pernah sekalipun merayakan ulang tahunnya, tetapi saat Rafael ulang tahun dia selalu ada dan memberikan sport juga memberikan hadiah, hanya sekali tidak merayakan saat Rafael tugas ke Malaysia dan tidak bisa melakukan kontak baik secara langsung ataupun lewat pesan WA itupun setelah pulang mereka melakukan dinner berdua.
Cello juga ikut melamun, apalagi yang di sembunyikan Shifa, Cello baru tahu jika besok ulang tahun adik sepupunya itu karena di minta berkumpul di panti asuhan Kasih Bunda, setelah beberapa saat semua dalam pikiran masing-masing, besok tanggal yang tidak bisa Cello lupakan seumur hidup dimana saat ayah Shifa salah menculik, yang seharusnya Rafael yang di culik tetapi salah target.
__ADS_1
"El, Kanno apa elo tidak ingat peristiwa yang terjadi tentang tanggal besok?" tanya Cello setelah mengingat peristiwa saat itu.
Rafael dan Kanno hanya saling memandang mengingat peristiwa yang terjadi dulu saat bertiga saat salah culik waktu TK.
"Ya besok hari meninggalnya kedua orang tua kandung Mama Ara" teriak Rafael sambil berdiri dari kursinya.
"Jadi selama ini Shifa akan merasa kehilangan saat dia sedang ulang tahun?" tanya Aisyah setelah tahu penyebabnya.
"Cello biasanya Mama Ara ngapain saat hari meninggalnya kedua orang tuanya?" tanya Kanno cepat.
"Oya gue lupa, satu Minggu lalu Mama cerita mau kirim doa buat nenek, dan mau berkunjung ke panti asuhan sini" ucap Cello sambil menepuk dahinya sendiri.
"Mau ngapain berkunjung ke panti asuhan sini?" tanya Aisyah kaget.
"Melamar kamu kali Ais" seloroh Agnes dengan mengedipkan matanya.
"Waaaah aku mau banget itu, boleh ya besok Mama kesini sekalian melamar?" tanya Cello mendekatkan wajahnya pada Aisyah sambil mengedipkan matanya.
Aisyah hanya mengerucutkan bibirnya, melengos melihat arah samping tidak berani menatap wajah Cello yang terlihat bahagia.
"Jangan bahas itu dulu, kita kan lagi bahas ulang tahun Shifa" Aisyah mengalihkan perhatian Cello agar tidak membahas tentang itu dulu.
"Itu baru betul, malah bahas yang lain" cabik Rafael mengacungkan jempolnya
"Tapi kalau bisa tidak usah memberikan kado ya kak El, takutnya dia nanti malah sedih bagaimana?" saran Aisyah kemudian.
"Mana ada ulang tahun tidak pakai kado, tidak serulah?" Agnes ikut protes.
"Daripada dia sedih, dia itu hanya minta di doakan aja" jawab Aisyah cepat.
"Sebaiknya kita ke rumah gue aja, minta pertimbangan Mama" ajak Cello.
__ADS_1
Mereka pindah ke rumah Cello berkumpul di ruang keluarga bersama Mama Ara dan Papa Mario, menceritakan tentang rencana ulang tahun Shifa yang bertepatan dengan hari meninggalnya almarhum kedua orang tua Mama Ara.
Untungnya Shifa tidak mengetahui rencana mereka, karena Shifa masih gelisah mondar-mandir di dalam kamarnya, tanpa mau keluar dari kamarnya sendiri.
Sampai waktu makan malam tiba, dan sudah mendapatkan kesepakatan bersama, Mama Ara mengajak makan malam bersama di ruang makan, sudah siap semua duduk di tempat masing-masing tetapi sayangnya Shifa juga tidak turun untuk makan malam padahal biasanya Shifa akan langsung turun tanpa di panggil untuk makan bersama.
"El, sana kamu panggil Shifa ajak untuk makan malam!" perintah Mama Ara.
"Baik Ma, dengan senang hati".
Berlari naik tangga masuk kamar Shifa tanpa mengetuk pintu seperti biasanya, melihat Shifa sedang berdiri di pintu balkon menghadap keluar, melamun bahkan Rafael masuk kamar pun Shifa tidak menyadarinya.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun Rafael langsung memeluknya dari belakang, melingkarkan tangannya di pinggang hanya tersenyum manis.
"Eeee kak El kapan datang?" tanya Shifa kaget.
"Sudah dari tadi, kok melamun, apa yang di pikirkan sih?".
"Tidak, siapa yang melamun?".
Rafael tidak menjawab pertanyaan Shifa, malah menowel hidungnya yang mancung, tahu betul bagaimana perasaan Shifa sekarang, hanya memberikan dukungan dengan memeluknya dengan erat, memberikan energi positif agar tidak merasa sendiri ataupun terabaikan.
"Ayo makan dulu, semua sudah menunggu di bawah!".
"Aku tidak lapar kak, kak El aja sana yang makan".
"Honey please, ayo makan dulu, nanti lambungnya sakit lagi lo".
"Ada Aisyah dan Agnes juga sedang menunggu di ruang makan".
"Kapan mereka datang?".
__ADS_1
"Tadi bareng bareng kita kesini, ayo makan dulu!".
Dengan menautkan tangannya Rafael menggandeng Shifa keluar kamar turun ke lantai bawah untuk bergabung menikmati makan malam bersama.