
Hampir semalaman tidak ada yang bisa tidur karena memikirkan Shifa yang sedang berada di rutan, merasa bersalah, sudah hampir satu Minggu tidak melihatnya, walaupun Rafael tahu dimana dan bagaimana dia sekarang ini membuatnya frustasi.
Detik demi detik, menit demi menit dan jam demi jam matanya sama sekali tidak bisa di pejamkan, seandainya terpejam pun hati dan pikirannya tetap pada gadis pujaan hati, terbayang di pelupuk mata saat gadis itu terluka, terpejam tanpa daya, dibawa dengan paksa walaupun tak sadarkan diri, entah kapan dia sadar, entah apa yang di lakukannya saat ini, membuat hatinya frustrasi.
Duduk, berbaring, terlentang, tengkurep bahkan nungging sudah Rafael lakukan, tetapi hatinya tetap resah, gelisah tidak menentu, mondar-mandir duduk di sofa, menonton film, televisi dan hiburan juga tidak bisa membantu hatinya tenang.
"Aaaargh, Shifaaaaaa" teriak Rafael frustasi, kakinya menendang sofa panjang yang ada didepannya.
"Auw...auw..." pekiknya lagi.
Menyambar jaket, dompet dan kunci mobil keluar kamar sambil berlari menuruni tangga malas melewati lift.
"Tak...tak...tak" suara sepatu Rafael turun dari tangga dengan tergesa-gesa.
"Mau kemana El ini sudah jam satu malam?" Suara bas Papi Faro duduk di ruang keluarga bersama Mami Inneke yang tertidur kepala di pangkuannya.
Papi Faro sudah menduga jika putranya itu pasti akan gelisah dan tidak bisa tidur karena kepikiran dan merasa bersalah kepada Shifa.
"Tidak usah keluar, Papi habis menghubungi Papa Mario dan Daddy Rendi, katanya Kanno dan Cello otw kesini, mereka juga tidak bisa tidur" cerita Papi Faro dengan melambaikan tangannya mengajaknya untuk duduk.
"Komandan Conan juga kesini Pi?" tanya Rafael duduk di depan Papi Faro.
"Iya tunggu aja sini, nanti kalau mereka datang ajak ke atas, Papi mau nganterin Mami dulu" Papi Faro langsung menggendong bridal Mami Inneke yang sudah terlelap masuk ke dalam lift menuju lantai dua ke kamar utama.
Berkumpul lengkap tiga sahabat jenius anggota agen rahasia yang sering disebut Elang Emas di dampingi oleh Papi Faro dan komandan Conan.
"Baiklah Kanno coba kamu cari informasi tentang organisasi mafia yang ada saat ini!" perintah komandan Conan.
Tangan dingin Kanno mulai berselancar menembus batas, meretas pada ke sebuah organisasi terlarang pemerintah, baik organisasinya atau personal dari anggotanya.
__ADS_1
Yang pertama Kanno dapatkan data dari pimpinan ketua mafia se-Asia yang menjabat sejak dia masih remaja Thora Thanapon, mereka membaca secara bersamaan data itu yaitu seorang cucu angkat dari Theo Thanapon yang di didik dari kecil di persiapkan untuk menggantikan posisi ayahnya sayangnya setelah waktunya tiba tanpa sengaja menembak kakeknya sendiri dan di penjara karenanya, dan naasnya lagi terjatuh dari tangga penjara mengalami amnesia, di bebaskan sekitar lima bulan yang lalu karena berkelakuan baik, tetapi tetap memimpin organisasi mafia dibantu oleh wakil ketua sekaligus asistennya Agus Martono, sesuai dengan rapat yang di selenggarakan oleh seluruh ketua cabang di Asia tenggara kepemimpinan ketua akan di bebankan kepada putrinya setelah lulus kuliah nanti.
Selesai membaca data itu Papi Faro mengulang nama wakil ketua atau asisten yang bernama Agus Martono.
"Agus Martono, Agus Martono bukankah itu putra dari almarhum pak Basiran?" ucap Papi Faro dengan mengetuk meja menggunakan bolpoin yang di pegangnya.
"Papi kenal uncle Agus, Shifa sering cerita jika dia dari kecil tinggal bersama dengan dia dan di didik keras olehnya, jadi dia orang Indonesia?" tanya Rafael penasaran.
"Ya dia asli Indonesia, putra dari kepala gudang di perusahaan kita dulu, dan ibunya adalah asisten rumah tangga Papa Mario, Cello ingat mereka?" tanya Papi Faro kepada Cello.
"Ya Cello ingat mereka, saat Cello kecil kedua orang tua itu sangat ramah dan baik, mengapa putranya ada di Singapura?" tanya Cello kemudian.
"Coba elo cari data pribadi tentang Agus Martono aja, cepetan!" Perintah Rafael tidak sabaran.
Kembali Kanno berselancar, kedua tangannya seolah menari-nari diatas keyboard tidak menunggu lama data itu langsung muncul di layar.
Setelah data pribadi kedua tokoh di dapat Kanno kemudian mencari tentang sepak terjang organisasi mafia itu dalam satu tahun terakhir ini, penyelundupan narkoba adalah hal yang sering mereka lakukan, penjualan barang terlarang itu hampir mereka kuasai perdagangannya di seluruh Asia tenggara, dari data tersebut diketahui juga pelantikan ketua mafia se-Asia tenggara akan di lakukan bertepatan hari ulang tahun dari Thora Thanapon yaitu pertengahan bulan Juni sedang sekarang baru bulan Mei.
"Berarti Shifa saat ini belum resmi di lantik menjadi ketua mafia?" kata Rafael saat selesai membaca data tersebut.
"Kalau di ingat ingat, Shifa baru kembali pulang satu bulan yang lalu karena bibi pengasuhnya meninggal dunia, berarti dia di paksa memimpin organisasi itu belum ada satu bulan sudah tertangkap oleh pemerintah Indonesia" analisa Cello dengan cermat.
"Tetapi mengapa dia berada di Aceh, dengan siapa dia ke tempat terpencil itu?" Rafael masih belum percaya tentang apa yang dilakukan oleh Shifa.
"Informasi yang aku terima, di TKP saat itu Shifa ke Aceh berdua dengan Agus Martono, Oya satu lagi semua barang milik Shifa kemarin baru di kirim dari Aceh, sebaiknya kita nanti yang mengurusnya" keterangan komandan Conan.
Sampai menjelang pagi mereka tidak tidur mencari sebanyak banyaknya informasi yang akan di pakai untuk membebaskan Shifa, baru pukul tujuh pagi Aisyah dan Agnes sudah datang berkunjung ke kediaman Rafael, setelah kedua gadis itu meminta alamat dari kekasihnya.
Ternyata Aisyah dan Agnes juga tidak bisa tidur, mereka juga terjaga sampai pagi, bahkan Aisyah dan Agnes hari ini mengambil cuti agar bisa bertemu dengan Shifa di rutan, duduk menunggu di pos sekuriti rumah Rafael sambil menunggu tuan rumah atau kekasihnya keluar.
__ADS_1
Keluar bersamaan Kanno dan Cello dengan sedikit berlari menemui kekasih hati, saat keduanya menerima pesan WA dari keduanya.
"Darling!" panggil Kanno sambil sedikit berlari mendekati Agnes.
"Sayang ini masih pagi, rutan belum buka" cabik Cello duduk di samping Aisyah dengan raut wajah yang khawatir.
"Aku tidak bisa tidur kak, ayo cepat kita kesana kak please" lirih Aisyah dengan muka yang pucat dan ada lingkar matanya karena kurang tidur.
"Darling apakah kamu sudah sarapan?" gantian Kanno bertanya, hanya di jawab gelengan kepala olehnya.
"Kita sarapan dulu yok masuk Mami Inneke sudah masak sarapan buat kita" ajak Cello dengan menggandeng tangan Aisyah.
"Tetapi kak aku tidak----?" Aisyah hanya berdiri terpaku tidak berani melangkah masuk rumah Rafael yang terlihat mewah.
"Sudahlah tidak usah berpikir macam macam, ayo cepat supaya kita juga cepat berangkat ke rutan" ajak Cello dengan menarik tangan Aisyah.
"Assalamualaikum nyonya" ucap Aisyah ragu-ragu saat bertemu Mami Inneke di ruang makan dan semua sudah berkumpul disana.
"Walaikum salam nak, panggil Mami aja ya seperti Cello dan yang lain ayo kita sarapan dulu" dengan lembut Mami Inneke mengajak Aisyah dan Agnes setelah keduanya mencium punggung tangan Mami Inneke dan Papi Faro.
Sarapan pagi bersama dengan akrab, dan bercengkerama di ruang keluarga sampai pukul sepuluh pagi, akhirnya berangkat ke rutan berlima untuk menjenguk Shifa.
Sampai di rutan mengisi buku tamu dan menunggu di tempat yang sudah di sediakan bersama dengan tamu yang lain dengan hati yang gelisah dan tidak menentu terutama Rafael, satu persatu para tahanan keluar menemui keluarga mereka, Rafael dan rombongan semakin gelisah karena yang di tunggu-tunggu tidak muncul juga, sampai ada petugas lapas mendekati mereka.
"Maaf, apakah anda yang ingin mengunjungi nona Shifa?".
"Betul Pak?" jawab Rafael singkat.
"Nona Shifa menolaknya, dari hari pertama disini dia selalu menolak tamu yang datang bahkan pengacara yang akan menangani kasusnya, dia tetap tidak bersedia menemuinya, silahkan anda pulang saja" kata petugas lapas.
__ADS_1