Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
70. Berbakti


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam siff pergantian perawat, Rafael dan Shifa masuk ke ruang rawat inap Papi Thora, masuk bersama dengan dokter Aisyah.


"Selamat malam Tuan, bagaimana keadaan anda malam ini?" tanya Aisyah mendekati brankar tempat tidur Papi Thora.


"Selamat malam, saya sudah baikan Dokter terima kasih" jawab Papi Thora.


"Tuan untuk malam ini mereka berdua yang yang akan bertugas untuk menjaga anda, kebetulan mereka pasangan suami istri namanya Jaya dan Fatma" keterangan Aisyah memperkenalkan mereka.


"Selamat malam Tuan, saya Jaya, dia istri saya Fatma dan maaf istri saya tidak bisa bicara jadi mohon harap maklum" Rafael memperkenalkan diri.


"Bisakah anda membantu saya berganti baju?" pinta Papi Thora kepada Rafael.


"Baik Tuan," Rafael mengambil baju bersih milik puskesmas karena memang saat pertama kali datang Papi Thora tidak membawa ganti baju.


"Honey, kamu ambilkan makan malam untuk pasien dulu, saya akan membantunya memakai baju" perintah Rafael kepada Shifa, dijawab hanya anggukan kepala dan keluar ruang rawat inap.


Sebelum berganti baju Rafael membersihkan badan Papi Thora menggunakan handuk kecil yang sudah di basahi dengan air hangat.


Rafael hanya bergumam sendiri dalam hati saat membersihkan badannya, inilah tanda baktiku kepada anda Papi mertua, semoga anda sehat selalu, semoga anda bisa membedakan antara kebenaran yang hakiki, semoga anda bisa menilai mana yang halal dan haram, semoga suatu saat nanti Papi mertua bisa berkumpul dengan putrimu, bisa mengikuti jejak putrimu, Aamiin".


Selesai membantu membersihkan badan Papi Thora dan memakaikan baju datang Shifa dengan satu porsi makan malam dan segelas susu.


"Tuan ayo makan dulu, istriku yang akan menyuapi anda" kembali Rafael membantu papi Thora duduk.


Dengan telaten Shifa menyuapi Papi Thora, walaupun hanya diam seribu bahasa, tetapi hati Shifa bisa merasakan kedekatan dengan Papi Thora tanpa memakai emosinya, sambil sesekali melirik raut wajah Papi Thora yang seolah menyimpan kepedihan yang mendalam di hatinya, semoga setelah ini Papi bisa berubah, bisa menjalani sisa hidupnya ke jalan yang benar, tidak mencari nafkah dengan cara yang salah, semoga suatu saat nanti kita bisa bersama berdampingan hidup bahagia, gumam Shifa dalam hati.


Selesai makan malam, minum susu dan minum obat dengan telaten Shifa membantu Papi Thora.


"Terima kasih nak, kalian baik sekali, walaupun saya orang asing tetapi kalian tetap memperlakukan saya dengan baik" ucap Papi Thora, Shifa hanya membungkukkan badannya.


"Baiklah Tuan, istirahatlah kami pamit, jika anda membutuhkan kami, anda bisa menekan bel yang ada di atas dastbor tempat tidur" pamit Rafael dengan mengajak Shifa keluar ruang rawat inap Papi Thora dan bergabung dengan Cello dan Aisyah yang ada di kantor.


Di kantor Aisyah sedang bersandar di bahu Cello tertidur lelap karena seharian ini terlalu banyak pekerjaan yang di tanganinya.


"Waaah Cello, kalian mesum di kantor, sono ijab qobul dulu!" cabik Rafael membuka maskernya dan duduk di depan Cello.


"Sssttt, diam lo, bini gue lagi tidur tau!" Cello meletakkan telunjuknya di bibir tanda tidak boleh berisik.


"Kak CL, mengapa ketularan suamiku mesumnya, Ais itu baru calon, ingat kak baru calon" suara Shifa di tekan di ucapan yang terakhir.


Aisyah tetap saja terlelap tidur, tidak terganggu sama sekali dengan obrolan mereka bertiga, Cello menarik tubuh Aisyah dan di letakkan di pangkuannya.


"Honey, sini kalau kamu ngantuk, bobok sini" Rafael menepuk pangkuannya.


"Aku belum ngantuk kak El" Shifa duduk di sebelah Rafael.


"Terus maunya apa, mau bayar cicilan disini?".


"Iiih kak El mulai deh, ini kantor tidak boleh macam-macam, ingat ada kak CL, ada Ais juga ada CCTV".

__ADS_1


"Cup...cup..." Rafael mencium pipi kanan dan kiri Shifa dengan cepat.


"Tuuuh kalian justru yang mesum, jangan pamer mesra-mesraan di depan mata gue!" kembali Cello protes.


"Kalau gue sudah resmi suami istri, no problem jika harus mesra-mesraan, sudah halal" jawab Rafael memeluk Shifa dengan erat dan kembali mencium puncak kepala Shifa.


Belum sempat Cello menjawab pernyataan Rafael ada bel berbunyi dari ruang rawat inap Papi Thora yang sengaja di hubungkan ke kantor Aisyah.


"Honey, ada panggilan dari Papi, ayo pakai maskernya kita kesana sekarang!".


"Iya kak, cepatlah!"


Berlari kecil menuju kamar Papi Thora setelah masker terpakai rapi.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Rafael Setelah berada di depan Papi Thora yang sedang duduk di brankar tempat tidur.


"Saya boleh minta tolong Jaya?".


"Tentu Tuan, apa yang harus kami lakukan?".


"Ini kartu ATM, dan kartu kredit saya, tolong bisa belikan baju lengkap untuk saya, tetapi--!".


"Tetapi apa Tuan?".


"Saya sebetulnya ingin menggunakan kartu itu setelah keluar dari puskesmas ini, kalau saya gunakan sekarang anak buah saya akan mengetahui jika saya ada disini".


"Saya tidak ingin mereka khawatir, mereka tidak tahu kalau saya sedang di rawat di sini".


Rafael dan Shifa saling menatap, alasan Papi Thora sangat logis, walaupun Rafael tahu bagaimana sebenarnya situasinya, justru Rafael bisa menyimpulkan bahwa Agus Martono dan anak buah Papi Thora belum mengetahui keberadaan beliau saat ini.


"Oooo kalau begitu pakai uang saya aja dulu Tuan, anda ingin membeli apa?".


"Saya tidak membawa baju sepotong pun saat masuk puskesmas ini, jadi bisakah anda membelikan baju lengkap beberapa pics, tetapi asal tidak merepotkan".


"Ooo tidak merepotkan sama sekali Tuan, saya justru senang bisa membantu anda".


Papi Thora menyebutkan ukuran baju yang akan dibelinya, dicatat oleh Rafael dengan menggunakan handphone.


"Baik Tuan, silahkan istirahat, saya akan membeli keperluan anda sebentar".


"Terima kasih, nanti akan saya ganti setelah saya keluar dari sini".


"Sama-sama Tuan, kami permisi".


Setelah keluar dari ruang rawat inap Papi Thora, Rafael langsung menghubungi asisten Zain dengan menggunakan handphone.


"Halo.."


"......".

__ADS_1


"Bang tolong belikan baju dan perlengkapannya seperti daftar yang sudah gue kirim lewat pesan WA, sekarang".


Tanpa menunggu jawaban asisten Zain, Rafael menutup handphone dan kembali masuk kantor Aisyah, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, di dalam kantor Aisyah dan Cello sedang makan nasi goreng satu bungkus berdua.


"Ini makan berdua suap suapan, kayak pengantin baru saja, mana jatah nasi goreng buat kita?" celoteh Rafael mendekati mereka yang sedang asyik menikmati nasi goreng.


"Tuuuh di meja, ambil sendiri, tidak usah mengganggu pasangan yang sebentar lagi menjadi pengantin baru beneran" Cello hanya menggerakkan kepalanya kearah nasi goreng yang ada di atas meja kerja Aisyah.


"Honey, ayo makan dulu, sini aku suapin kamu duduk sini".


Makan nasi goreng satu bungkus berdua sama seperti Cello dan Aisyah, tetapi bedanya Rafael yang menyuapi Shifa makan.


Dalam satu jam asisten Zain datang membawa pesanan yang di minta Rafael komplit tanpa ada yang tertinggal satupun.


"Bos ini pesanan anda, ada lagi yang di perlukan?" tanya Zain memberikan paper bag.


"Tidak ada, terima kasih".


"Tetapi maaf bos saya bawa berkas penting yang harus anda tandatangani untuk keperluan meeting besok pagi".


"Baiklah bawa sini, duduklah sebentar!".


"Siap bos".


Menandatangani berkas yang diberikan asisten Zain dengan cepat, setelah selesai dan asisten Zain pamit pulang, Rafael dan Shifa kembali ke ruang rawat inap Papi Thora.


"Anda belum tidur Tuan?".


"Eeee Jaya, ini baru bangun tidur, ingin minum air putih".


Shifa langsung berlari kecil mengambilkan segelas air putih dan di sodorkan kepada Papi Thora.


"Terima kasih, Fatma" kata Papi Thora dengan tersenyum, Shifa hanya mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


"Ada lagi yang anda perlukan Tuan?".


"Tidak ada terima kasih, ini semua habis berapa nanti saya ganti kalau saya keluar dari sini".


"Masalah itu gampang Tuan, besok saja kita bahas lagi, anda harus beristirahat agar cepat sembuh.


Shifa membawa nampan berisi segelas air putih, obat yang harus di minum sebelum tidur mendekati mereka dan menyodorkannya dengan isyarat menganggukkan kepalanya.


"Silahkan di minum obatnya Tuan sebelum tidur" titah Rafael mewakili Shifa bicara.


"Terima kasih, kalian berdua baik sekali, padahal baru pertama kali bertemu".


"Sama sama Tuan, ini adalah salah satu tugas kami, selamat malam Tuan, happy nice dream".


"Selamat malam".

__ADS_1


__ADS_2