
Di belakang tempat konferensi pers tepatnya di ruang tunggu perusahaan milik Papi Faro, Aisyah, Agnes, Mama Ara dan Mommy Erna bercengkerama menunggu mereka yang sedang mengadakan konferensi pers.
Aisyah saja yang termenung melamun setelah mendengar Papi Faro dan Papa Mario mengumumkan bahwa sebentar lagi akan menyusul untuk menikah, selama ini di dalam pikirannya masih bingung jika diajak untuk segera menikah, tidak memiliki orang tua ataupun keluarga yang selalu berkecamuk dalam pikirannya, wali nikah, saksi pernikahan itulah yang selalu ada dalam pertanyaan di benaknya, tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya yang selalu membuatnya rendah diri, walaupun ada bunda yang selalu mendampingi sejak kecil tetapi hatinya tetap masih bertanya tanya sebenarnya dimana sekarang Keluarganya.
Sampai rombongan masuk di ruang tunggu perusahaan bergabung Aisyah masih melamun dan tidak menyadari jika Cello mendekatinya.
"Sayang, kamu melamun, apa yang kamu pikirkan?".
"Eee kak Cello tanya apa aku tidak dengar?".
Cello duduk bersimpuh di depan Aisyah yang matanya sudah berkaca-kaca menggenggam erat kedua tangannya.
"Apa yang kamu pikirkan mengapa mata berkaca-kaca begitu hhmm?".
"Tidak apa-apa kak, bangunlah jangan duduk dibawah begitu, nanti aja kita ngomong, tidak enak dengan yang lain"
Cello akhirnya duduk di samping Aisyah dan memeluknya dari samping, mengusap punggungnya hanya sekedar untuk memberikan dukungan dan semangat.
"Mumpung dalam versi lengkap kita makan bersama di restauran dekat sini ayo semua?" ajak Papi Faro.
"Ide bagus ayo tenang aja aku yang traktir" jawab Daddy Rendi.
"Ok deh kalau ada bos yang traktir dengan senang hati menghabiskan menu yang ada, let's go" Papa Mario semangat mengajak semua berangkat ke restauran bersamaan.
Saat semua makan bersama dengan riang, Aisyah hanya sesekali ikut berinteraksi, lebih banyak diam dan menanggapi semua candaan dan pertanyaan dan tersenyum saja, Cello yang mengetahui hati kekasih hati sedang kurang baik, setelah selesai makan mengajaknya untuk berpamitan terlebih dahulu.
Mengajak keluar restauran tetapi tidak diantar langsung pulang, di belokkan ke taman kota yang lumayan ramai, duduk di gazebo yang ada di taman kota berdua berdampingan.
"Bicaralah ada apa, mengapa dari tadi banyak melamun aja?".
"Apa sih kak, aku tidak apa-apa kok".
"Masih mau mengelak, kamu tidak percaya pada calon suamimu sendiri, semua masalah akan kamu pendam sendiri?".
Aisyah mengambil nafas dalam-dalam, melirik Cello yang masih menunggu dengan menatap wajahnya tanpa berkedip sedikitpun.
"Soal ucapan Papi Faro dan Papa Mario tadi, tentang rencana pernikahan dalam waktu dekat" kata Aisyah lirih.
"Apakah kamu masih ragu, atau tidak ingin menikah dengan ku?".
"Bukan begitu kak, aku mau menikah dengan kak Cello tetapi---!".
"Tetapi apa lagi sayang, kalau masalah ingin menikah dengan sederhana dan hikmad Papa dan Mama juga sudah setuju, apalagi yang kamu pikirkan lagi?".
"Soal wali nikah kak Cello, siapa yang akan menjadi wali pernikahan aku?".
__ADS_1
Cello mengerutkan keningnya, memang selama ini Aisyah yang notabene tidak tahu siapa Keluarga dan orang tuanya selalu ingin mengulur waktu jika diajak untuk segera menikah.
"Sayang, tenang aja ada wali hakim, itu sah menurut agama dan negara, jangan mikirin macam macam ok".
"Tetapi kak aku masih takut, bagaimana Keluarga besar kak Cello nanti dengan keadaan aku?".
"Sayang bukankah dari awal sudah aku bilang, aku menerima kamu apa adanya, demikian juga dengan keluarga aku, kami tidak mempermasalahkan latar belakang kamu, bukankah kita bisa bercermin pada Papa dan Mama, Rafael dan Shifa, bukankah mereka juga berawal dari keluarga yang tidak biasa".
"Iya juga sih, terkadang aku masih ragu, aku tidak percaya diri".
"Yang penting bagi aku, aku hanya ingin hidup menua bersamamu, hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak lengkap sekeluarga, cukup kita yang tidak memiliki keluarga lengkap yang penting anak-anak kita kelak tidak mengalaminya".
Aisyah hanya mengangguk dan tersenyum dan langsung di tarik oleh Cello dalam pelukan hangat.
"Berarti sekarang sudah resmi aku melamar kamu, tolong jangan di ulur waktu lagi, dalam waktu dekat aku dan keluarga akan melamar langsung ke panti asuhan".
Aisyah hanya mengangguk dalam pelukan Cello, sudah merasa tenang, dan tidak lagi merasa sendiri, hanya akan berdamai dengan hati, tidak harus memaksakan untuk mencari Keluarga sendiri, toh dari dulu seandainya memang tidak diinginkan oleh keluarga sekarang akan memiliki keluarga lengkap setelah menikah nanti.
"Atau perlu begini, Will You Marry Me?" Cello berjongkok di depan Aisyah mendongakkan kepalanya tangannya meraih tangan Aisyah.
"Yes sure, I do" meraih tangan Cello kembali memeluknya dengan erat.
Aisyah mulai yakin keputusan yang diambil adalah jalan yang terbaik untuk masa depannya, Ikhlas dan tulus adalah kunci dalam menjalani takdir illahi yang tak seorangpun tahu kemana masa depan akan menanti.
"Antar pulang kak, ingat kita belum satu rumah!".
"Maksudnya kita bertemu bunda Aulia dulu untuk membicarakan tentang pernikahan kita, sebelum Papa dan Mama datang melamar secara resmi".
"Mengapa harus sekarang kak Cello, masih banyak waktu jangan buru-buru!".
"No big no no, harus sekarang, takutnya nanti kamu berubah pikiran lagi, harus sekarang".
Hanya dalam satu jam Cello dan Aisyah tiba di panti asuhan Kasih Bunda dan masuk ke dalam ruang tamu dan duduk disana.
"Kak Cello tunggu disini aku panggil Bunda dulu, jangan kemana-mana".
"Ok tapi jangan lama-lama".
Aisyah masuk kamar sebentar untuk meletakkan tas dan kembali keluar kamar untuk mencari Bunda Aulia.
"Bun, ada kak Cello di ruang tamu, ingin bicara dengan Bunda" kata Aisyah saat melihat Bunda sedang duduk termenung di ruang makan sendirian.
"Ada apa Ais, apakah ada yang penting?'.
"Bunda temui aja dulu, aku mau mandi sebentar" pamit Aisyah kembali ke kamar, sedangkan Bunda berjalan menuju ruang tamu untuk bertemu dengan Cello.
__ADS_1
"Bunda" Cello meraih dan mencium punggung tangan Bunda.
"Ada perlu apa nak Cello dengan Bunda?".
Cello menceritakan semua tentang rencana pernikahan antara dirinya dan Aisyah, bercerita juga tentang kegundahan hati Aisyah tentang siapa Keluarga dan orang tua kandung yang selama ini yang tidak dia ketahui, serta rasa rendah diri seorang Aisyah yang selalu di rasakan nya sejak kecil.
"Jadi kapan rencana Papa dan Mama nak Cello datang, nanti aku persiapkan semuanya?".
Cello belum sempat menjawab datang Aisyah mengenakan baju rumah dengan badan yang segar setelah mandi.
"Apakah aku ketinggalan, sudah selesai kah?".
"Waaah harumnya istriku, duduk sini" celoteh Cello memeluk sofa yang kosong di sebelahnya.
"Naah begitu tuuh Bun, kak Cello selalu aja halu, istri istri yang selalu di bicarakan" gerutu Aisyah melapor kepada bunda duduk di sebelah Cello.
"Betul kan Bun, sebentar lagi sudah jadi istriku, apa salahnya?" bela Cello tidak mau kalah.
Bunda hanya tersenyum melihat keduanya berinteraksi, rasa bahagia tidak bisa di ungkapkan lagi oleh bunda Aulia melihat putri angkatnya sebentar lagi akan menikah.
"Sudah jangan berdebat, sekarang tentukan kapan orang tua nak Cello datang ke sini?".
"Kok buru-buru sekali Bun, di perhitungkan terlebih dahulu dong" kembali Aisyah ingin menunda lagi.
"Tuuh Bun, dia mulai ragu lagi, jangan mundur lagi dong sayang, Bunda tolong yakinkan putrimu please".
"Ais, ada apa lagi, apa yang membuat kamu ragu?".
"Tidak ada sih Bun, bagaimana dengan adik adik nanti kalau aku pindah dari sini?".
"Itu urusan Bunda nak, toh kalian juga tidak jauh pindahnya bukan, masih bisa berkunjung kesini?".
"Sayang, kalau kamu masih menunda lagi, aku mulai saat ini akan mogok" ucap Cello dengan mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Mau mogok bagaimana kak Cello?".
"Mogok segalanya, mogok makan, mogok kerja, mogok mandi, mogok tidur, aku akan duduk disini sampai kamu setuju seperti saat kita jalan kesini".
Aisyah hanya tersenyum melihat tingkah Cello semakin hari memang bertingkah lebih manja jika mereka sedang berdua.
"Iya aku janji tidak akan menunda lagi, sekarang kak Cello tentukan kapan Mama dan Papa akan datang kesini?".
"Kalau perlu sekarang juga aku telepon mereka bagaimana?".
"Jangan sekarang juga dong nak, Bunda belum mempersiapkan semuanya, masalah calon istrimu, Bunda yang jamin dia tidak akan berubah lagi".
__ADS_1