
Shifa hampir satu Minggu ini dilanda kegelisahan yang tidak tahu apa sebabnya, mengecek handphone, memandangi pintu yang selalu tertutup, seolah olah menunggu datangnya seseorang yang tidak kunjung menghubungi atau sekedar bertandang ke apartemen seperti satu Minggu yang lalu tetapi nyatanya tidak ada kabar sama sekali bak ditelan bumi.
Saat di kampus juga setali tiga uang tidak ada yang tahu dimana keberadaan orang yang ditunggu selama satu Minggu ini bahkan kedua sahabatnya juga menghilang bak ditelan bumi.
Mencari informasi tentang mereka bertiga sebagian besar mahasiswa senior mengatakan jika orang yang di maksud memang sering absen secara bersamaan kadang satu Minggu ataupun lebih, jika masuk kembali juga bersamaan dan tak seorang pun tahu kemana mereka berada, tetapi yang jelas kampus tidak pernah mempermasalahkan raibnya mereka bertiga karena mengingat otak ketiganya diatas rata-rata.
Bahkan adanya mereka bertiga sangat membuat kampus negeri itu semakin bersinar dan terkenal di dunia pendidikan, walaupun hanya diam diam Shifa menyelidiki tentang tiga sahabat yang salah satunya membuat hatinya gelisah tetapi bagi Aisyah sahabat yang selama ini bersamanya sangat memahami apa yang menimpa hati Shifa.
"Apakah belum ada kabar sama sekali dari si dia?" tanya Aisyah saat mereka berdua berada di kantin kampus melihat Shifa lesu dan tidak bersemangat.
"Belum ada" jawab Shifa sambil menggelengkan kepalanya, wajah murung tetapi mencoba tidak terlalu terlihat jika hatinya sedang gundah gulana.
"Mengapa tidak mencoba menghubungi dia, atau kirim pesan WA gitu?".
"No Ais, siapalah saya?, tak ada keberanian hati untuk menghubungi dia, bukankah waktu itu saya dah cerita jika dia hanya bertanggung jawab atas kejadian saat itu".
"Kalau begitu jangan murung dong, come on cerialah, besarkan hati untuk berdamai dengan ikhlas" nasehat Aisyah bijak.
Karena tidak tega melihat hati sahabat karibnya merindu tanpa ada kejelasan, akhirnya mengajaknya untuk berkunjung ke rumah Aisyah, tepatnya panti asuhan dimana dia tinggal selama ini.
Ya Aisyah gadis yatim-piatu yang memiliki otak cerdas mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk berkuliah di universitas negeri ternama dengan jurusan kedokteran.
"Bagaimana kalau Shifa berkunjung ke panti asuhan bermain bersama adik adikku?".
"Boleh juga lama saya tak berkunjung dan bertemu dengan bunda Aulia" antusias Shifa dengan mata berbinar.
Tetapi setelah itu Shifa melamun lagi saat mengingat hangatnya bunda Aulia yang begitu tulus menyayanginya walaupun baru dikenal selama satu tahun ini, karena memang Shifa sangat mendambakan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah dirasakannya, dari kecil sudah di tinggal Mami sejak umur tujuh tahun.
__ADS_1
Selama ini hanya tinggal bersama uncle Agus asisten Papi, bahkan juga tidak pernah merasakan kasih sayang Papi yang tak pernah ditemui sama sekali, hanya cerita dari uncle Agus jika Papi akan menemuinya saat Shifa berumur 24 tahun dan tak tahu apa alasannya.
Baru mengetahui semuanya saat Shifa lulus SMU mendapatkan amanah surat dari almarhumah maminya yaitu Fatty Fatimah yang diberikan oleh bibi yang mengasuhnya dari kecil sampai saat ini.
"Shifa...hay kamu melamun lagi, apakah masih memikirkan pangeran kampus?" Aisyah mengagetkan dan menyadarkan lamunan Shifa.
"Ais buat saya kaget saja, saya tak mengingat pangeran kampus yang susah dijangkau itu, saya mengingat Mami yang sudah di surga saat mengingat bunda Aulia" dengan memegangi dadanya tersentak Shifa tersadar dari lamunannya.
"Bercerita lah agar beban hati berkurang daripada selalu melamun" nasehat Aisyah karena tahu jika sahabatnya itu sedang banyak beban pikiran.
"Ya nanti setelah sampai di panti asuhan saya nak cerita pada Asiyah dan bunda".
Disinilah Shifa sekarang setelah selesai kuliah ke panti asuhan "Kasih Bunda" dengan membawa berbagai macam peralatan tulis untuk adik-adik penghuni panti yang sebagian besar masih duduk di sekolah dasar, dan sekolah menengah pertama.
Saat selesai makan malam duduk beriga diruang keluarga, Shifa menceritakan tentang dirinya sejak meninggalnya Mami kandung.
Sejak usia tujuh tahun Shifa tinggal bersama uncle Agus, di didik dengan keras bahkan melebihi didikan seorang laki-laki, karate, tinju, menembak, mengangkat beban, lari ataupun mendaki gunung adalah makanannya sehari-hari, bahkan terluka, kesleo adalah bagian dari hidup Shifa, tomboi penampilannya tidak pernah menggunakan gaun seperti gadis pada umumnya.
Tidak pernah mendapatkan kasih sayang baik dari Papi yang katanya masih ada tetapi entah kemana karena selama tinggal bersama uncle Agus tidak boleh bertanya sama sekali kecuali hanya "Jika sudah berumur 24 tahun baru akan menemuinya demi keselamatan Shifa" hanya itu jawabannya.
Hidup mandiri, kuat tidak mudah ditindas membuat pribadi Shifa sangat disegani oleh teman teman baik di bangku SMP ataupun SMU, mempunyai banyak prestasi di bidang non akademik terutama olahraga adalah kelebihan dari Shifa.
Shifa juga tidak mengetahui profesi dari Papi kandungnya yang selama ini tidak pernah ditemuinya, karena uncle Agus tidak pernah bercerita sepak terjang seorang Papi yang misterius bagi Shifa, jika bertanya hanya akan mendapatkan hukuman dari uncle Agus tanpa ampun.
Didikan keras itu dilalui bersama putra dari uncle Agus yang berbeda usia lima tahun lebih muda dengan Shifa bernama Anjas yang sekarang baru duduk di bangku SMP kelas dua belas.
Tidak pernah mengenal lawan jenis kecuali di sekolah, belum pernah jatuh cinta seperti teman-teman saat duduk di bangku SMU, karena memang dilarang oleh uncle Agus, jika melanggar pasti akan mendapatkan hukuman yang berat.
__ADS_1
Bahkan yang namanya pesta Shifa tidak pernah mengetahui sama sekali, ulang tahun juga tidak pernah dirayakan selama tinggal bersama uncle Agus, pernah dulu sekali saat bersama Mami waktu duduk di sekolah TK dirayakan di sekolah.
Jika mengenai fasilitas ataupun uang, Shifa tidak pernah mengalami kekurangan, bahkan bisa dikatakan Shifa selalu dihujani dengan harta dan kekayaan tanpa adanya kasih sayang yang tulus dari orang yang ada di sekitarnya.
Shifa hanya mendapatkan kasih sayang dari seorang bibi pengasuh sejak Mami meninggal dunia, bahkan sampai sekarang beliu sudah tua renta masih sering menghubungi saat waktu senggang.
Bibi pengasuh itu sebetulnya adalah asisten pribadi Mami semasa masih hidup, hanya kepada beliaulah Shifa bisa berkeluh kesah tanpa ada sedikitpun yang ditutup tutupi.
Sampai Shifa berumur 19 tahun barulah berubah 360° saat Shifa mengetahui segalanya tentang keluarga besarnya dan siapa dia sebenarnya.
"Jika dulu tomboi dan selalu berlatih keras, kenapa sekarang Shifa cantik jelita dan memiliki badan mulus begini?" tanya Aisyah setelah Shifa selesai bercerita.
"Selama satu tahun ini saat saya ada di Jakarta saya merubah total penampilan dengan sering ke salon" jawab Shifa.
"Apa yang membuat Shifa bisa berubah 360° dari kehidupan dahulu?" tanya bunda Aulia dengan penasaran.
"Karena amanah dari Mami...bunda, dan salah satunya adalah tentang agama, apakah bunda dan Aisyah bisa membimbing Shifa nantinya?" pinta Shifa dengan hati hati.
"Maksud Shifa apa, aku tidak faham?" tanya Aisyah dengan sedikit ragu.
Dengan mengambil nafas panjang Shifa menjawab pertanyaan Aisyah "Bunda dan Aisyah tahu kalau nama saya ini seharusnya beragama Islam, tetapi di kartu identitas saya beragama Hindu".
"Ternyata Mami saya berasal dari Brunei Darussalam, seorang wanita berhijab dan taat agama, Mami meninggalkan wasiat salah satunya adalah saya bisa menjadi seperti beliau karena nama Shifa artinya obat atau penyembuh hati" lanjut Shifa bercerita.
Bunda dan Aisyah saling menatap dengan mata berbinar ternyata sahabatnya yang berbeda keyakinan itu berniat memeluk agama yang mayoritas penduduk Indonesia.
"Alhamdulillah..... apakah itu merupakan keyakinan atau karena wasiat?" tanya bunda lagi.
__ADS_1
"Kalau itu saya belum mendapatkan jawabannya bunda, yang jelas niat dalam hati sudah ada, mohon bimbingannya" Shifa menunduk tanpa berani menatap wajah bunda Aulia.
"Memangnya apa wasiat Mami Shifa sebelum meninggal?" tanya Aisyah kemudian.