
"Untuk sementara kamu tinggal di rumah aunty Ara sayang jangan khawatir, sampai kamu nikah dengan Rafael" suara lembut dari wanita setengah baya yang baru masuk ke ruang rawat inap itu.
Shifa dan Rafael langsung menengok arah pintu tanpa ada ketukan pintu mereka masuk mengagetkan obrolan mesra keduanya.
"Dimana aunty Ara?" tanya Shifa kaget.
Yang masuk di ruangan itu adalah aunty Ara, Uncle Mario, Cello dan Aisyah serta Adrian.
"Saya aunty Ara sayang, Amara Khadijah atau Achara Thanapon" Mama Ara langsung memeluk Shifa dengan erat.
Yang awalnya Shifa hanya bengong dan diam saja akhirnya memeluk aunty yang dicarinya hampir lima tahun terakhir ini sambil berlinang air mata.
"Mengapa susah sekali saya mencari anda aunty, dimana kak CL aunty dan dimana kakak kecil hiks hiks?" Shifa sedikit mengendurkan pelukannya melihat ada tiga laki-laki berbeda usia yang tersenyum kepadanya dan ada Aisyah diantara mereka bertiga.
"Aisyah....apa kabar?" Shifa langsung memeluk Aisyah dengan erat semakin terisak dia menangis.
"Aku jadi gila karena memikirkan kamu Shifa, jangan buat aku khawatir" cabik Aisyah ikut menangis tersedu-sedu.
Hampir lima menit Shifa baru bisa mengontrol emosi dan berhenti menangis.
"Kak CL dimana aunty?" memandang Mama Ara dengan tatapan sendu setelah mengendurkan pelukan Aisyah.
"Ini kak CL mu, kamu tahu nak CL adalah singkatan dari Cello lengkapnya Marcello" sambil menarik lengan Cello dan mendekati Shifa menunjukkan giginya yang putih tersenyum sambil merentangkan tangannya.
"My sister, I am CL, your brother" Cello ingin memeluk Shifa.
"'Ee big no no, jangan peluk istri gue!" Rafael menahan pundak Cello.
Cello hanya menyeringai, melotot tajam kearah Rafael "Istri elo, belum resmi, enak aja dia adik gue, gue yang berhak atas dia, elo itu nomor dua" mendorong Rafael pelan dan ingin kembali memeluk Shifa dan Shifa juga merentangkan tangannya ingin memeluk kakak yang baru diketahuinya.
"Jangan peluk dia, hanya gue yang berhak memeluknya" masih kekeh Rafael menahan pundak Cello.
"Kak El, aku hendak peluk kakak CL ku, Please!" dengan manja Shifa memohon.
"No honey, you just my mine, peluk aja tuuh Aisyah jangan peluk Shifa gue".
"Kak El, please".
__ADS_1
"Baiklah baiklah, awas lo ya" Rafael mengijinkan tetapi masih tidak rela.
"Dasar bucin lo" seloroh Cello sambil memeluk Shifa dengan erat tanpa memperdulikan Rafael yang cemburu berat.
"Shifa lihatlah ini, cincin perak yang bertuliskan CL, pakailah lagi, ini adalah simbul persaudaraan kita" Cello memakaikan cincin itu dimasukkan di dalam kalung emas.
"Thanks kak CL, so he is my little brother dan my uncle?" tunjuk Shifa kearah Adrian dan Papa Mario.
"Yes, peluk juga dong kak Shifa" cabik Adrian tersenyum sambil melirik Rafael yang masih menatap dengan rasa cemburunya.
"Jangan macam-macam ya elo Rian, gue gebok lo!" tangan Rafael dengan mengepalkan tangannya.
"Gue rela di gebok sama kak El demi adik cantik gue, week" Adrian langsung memeluk Shifa dan di sambut pelukan hangat Shifa.
"Papa peluk Mama Ara aja dari tadi rebutan pelukan terus, atau peluk menantu dokter aja" canda Papa Mario menjadikan suasana lebih hangat.
"No Papa" gantian Cello yang cemburu menarik Aisyah dalam pelukannya.
Dengan tertawa bersama suasana menjadi lebih hidup dan tidak terasa tegang seperti pada awal mereka bertemu.
"Yes Mama, senengnya saya punya Mama sekarang, Papa apakah anda tidak ingin memeluk putrimu?" Shifa memandang Mario dengan dengan merentangkan tangannya.
"Mengapa semua jadi memeluk istri gue, giliran gue kapan?" protes Rafael dengan kesal, setelah di peluk Papa Mario, Rafael menarik dan memeluk dengan erat.
Datang rombongan kedua masuk dalam ruangan rawat inap itu Papi Faro sekeluarga, Daddy Rendi sekeluarga plus Agnes secara bersamaan.
"Mana calon menantu Mami, apakah sudah sehat?" tanya Mami Inneke mendekati Shifa mendorong Rafael dan memeluknya dengan erat.
"Mami, El baru memeluknya sebentar, kenapa Mami juga harus memeluknya, awas Papi tidak boleh ya"ancam Rafael kesal.
"Eeh, kok kak El jealous, Najja aja yang peluk, hai kakak ipar, kenalin aku Najja adiknya kak El yang gak jelas itu" gantian Najja memeluk Shifa dan mengedipkan matanya.
"Waaaah adiknya kak El, cantik banget seperti Mami" rayu Shifa ikut memeluknya dengan erat pula.
Dengan kehangatan keluarga dan sahabat seolah penderitaan yang dialami Shifa menguap begitu saja, tak di rasakan lagi sakit lambung yang baru saja dirasakannya, tak dirasakan lagi kesendirian dan ketakutan kehilangan keluarga yang sering dialaminya.
Hanya saja hubungan memang harus disertai dengan keterbukaan diantara keduanya, saling mendukung dan saling memberikan support, jika tidak seperti inilah contohnya, terjadi kesalah pahaman selama bertahun-tahun, yang lebih parahnya lagi akan terjadi Mis komunikasi yang yang berkepanjangan.
__ADS_1
Papi Faro lah yang banyak menasehati pada ketiga pasangan yang sedang jatuh cinta itu, karena saat menikah beliau juga pernah mengalami kesalahan antara Papi Faro dan Mami Inneke, untungnya saja berakhir dengan kebahagiaan.
Malam harinya, tinggal Shifa yang di temani oleh Rafael seorang, benar benar Rafael tidak mau lepas sedikitpun dari Shifa tidurpun tangan sekalu di genggamnya, duduk di samping Shifa kepala di letakkan di samping Shifa berbaring.
"Kak El tidurlah disana ada sofa atau tempat tidur single bad itu, mengapa tidur disini?" tanya Shifa saat terjaga hampir tengah malam.
"Disana aku tidak bisa tidur, aku maunya dekat dan menggenggam tanganmu, aku takut kamu pergi dariku lagi" jawab Rafael matanya masih terpejam.
"Kak El nanti badannya sakit semua kalau tidur sambil duduk begitu, ayolah sayang".
Antara sadar dan tidak sadar Rafael mendengar Shifa memanggilnya sayang langsung membelalakkan matanya dan tersenyum manis.
"Honey lagi dong panggil sayang please" pintanya dengan manja.
Shifa langsung tersenyum menunjukkan giginya yang putih, setelah berpisah selama tiga bulan sikap Rafael semakin terbuka dan mulai menunjukkan rasa cintanya.
"Sayang istirahatlah, aku tidak akan pernah pergi darimu lagi percayalah" ucap Shifa memiringkan tubuhnya menghadap Rafael ikut menggenggam tangannya erat".
"Terima kasih I love you so much, boleh aku berbaring di sampingmu?".
"Eeee belum boleh dong kak El, ayolaah ini sudah tengah malam".
"Tapi maunya aku dekat kamu terus, boleh ya aku cuma berbaring dan memelukku saja kok, tidak lebih dari itu, aku masih sangat merindukanmu kamu tau itukan, boleh kan?"
Kembali Rafael merayu Shifa sama sekali tidak mau terpisah sedikitpun, cukup tiga bulan saja perpisahan yang sangat menyakitkan.
"Sayang, aku mohon Bersabarlah, aku juga sangat mencintai kak El, tetapi aku ingin semua sesuai dengan kaidah agama yang kita anut sekarang, bukannya aku tidak percaya sama kak El, please bersabarlah ok" dengan menangkup pipinya Shifa memberikan pengertian.
"Baiklah baiklah, calon istriku yang Sholehah, aku tidur di single bad itu, tapi janji ya jangan pernah pergi lagi dariku, aku akan mati berdiri jika aku membuka mata tak melihat mu" rayu Rafael lagi.
"Sekarang sudah pandai merayu ya, sudah jangan modus terus beristirahat lah, aku akan selalu ada untuk kak El".
Dalam satu kamar tidur berbeda tempat tidur, membuat Shifa merasakan kebahagiaan yang belum pernah di rasakan nya selama ini, di perhatikan kekasih, merasa ada yang menyayangi kembali Shifa mengingat nasehat dari almarhumah bibi pengasuh, bahwa manusia di ciptakan berpasangan suatu saat nanti pasti tidak akan merasa sendiri, ternyata betul adanya nasehat itu, ada Rafael di sisinya, mencintai tanpa melihat latar belakangnya, tanpa melihat bagaimana dulu keluarganya selalu membuat keluarga Rafael merasa tidak aman, tetapi mereka menerima dirinya dengan tangan terbuka.
Tersenyum melihat Rafael akhirnya bisa terlelap setelah susah payah meyakinkan bahwa tidak akan pergi darinya lagi, walaupun hati masih terasa gamang, bagaimana jika keberadaannya nanti di ketahui oleh uncle Agus ataupun Papi Thora.
Mengingat Papi Thora, Shifa jadi teringat surat wasiat untuk Mama Ara dan kak CL yang sekarang masih di simpan di loker disalah satu Bank swasta di Indonesia tetapi kuncinya ada di tas yang tertinggal di Aceh tiga bulan yang lalu.
__ADS_1