
Setelah jamuan makan siang selesai, rombongan pamit dari istana kesultanan menuju di kediaman uncle Mahfud Hamdhani, bahkan jenderal As'ari sudah menghubungi mereka, sehingga mereka sudah bersiap siap menyambut keponakan yang selama ini hanya di rindukan dalam angan, di nantikan setiap saat, Keluarga Mahfud Hamdhani hanya menunggu keajaiban terjadi, ternyata Allah maha adil, akhirnya kesempatan itu datang juga.
Kartu identitas yang menyatakan sebagai penduduk Brunei Darussalam, kartu keluarga bahkan pasport sudah di persiapkan dari Shifa berusia tujuh belas tahun, itu di lakukan sesuai amanah dari kakak kandung Mahfud Hamdhani yaitu Fatty Fatimah sebelum beliau meninggal dunia, bahkan dua Minggu yang lalu identitas itu sudah ada di tangan jenderal As'ari untuk mengurus surat pernikahan, Mahfud Hamdhani menerima beres saja, semua sudah diurus oleh pihak agen rahasia.
Ternyata perjalanan darat menuju ke rumah uncle Mahfud Hamdhani membutuhkan waktu satu setengah jam, padahal perjalanan tidak macet seperti Jakarta.
Sesampainya di depan rumah, ada satu pasang suami-istri yang berdiri di teras rumah menggandeng dua anak kecil, diikuti oleh keluarga besar yang berdiri di belakang pasangan itu, saat Shifa turun dari mobil diikuti oleh Rafael dan Papi Faro, Shifa hanya berdiri mematung memandangi wajah seorang laki-laki yang berdiri tegap mirip foto Mami Fatty air mata seakan tidak pernah mau diajak kompromi mengalir deras bak air hujan, seperti mimpi benar benar bisa bertemu keluarga yang sebenar benarnya, Keluarga sedarah dari Mami,
Demikian juga sebaliknya, Mahfud Hamdhani memandangi wajah Shifa hanya terpaku mematung, wajah gadis itu persis seperti kakak kandungnya hanya bedanya Mami Fatty menggunakan hijab sedangkan Shifa membiarkan rambutnya terurai panjang.
Tanpa disadari air mata Mahfud Hamdhani juga menetes deras, seperti mimpi akhirnya firasat kakaknya ternyata benar, jika suatu saat nanti pasti akan bertemu dengan keponakannya, antara percaya atau seperti mimpi gadis jangkung itu sekarang ada di depannya.
"Jangan menangis honey, itu uncle Mahfud, come on!" ajak Rafael menyadarkan lamunan Shifa yang dari tadi mematung
Dengan sedikit berlari Shifa mendekati laki-laki yang usianya hanya beda sepuluh tahun itu dengan berteriak.
"Uncle.... uncle....!"
Dipeluknya dengan erat tubuh Shifa, dengan menangis tersedu-sedu, mengelus pundak sambil mengusap air matanya sendiri.
"Shifa.... Shifa..... terima kasih".
Keduanya tidak bisa mengungkapkan dengan kata kata hanya memeluknya dengan erat sebagai ungkapan bahagia yang memuncak.
Rafael kali ini tidak menunjukkan rasa kecemburuannya, hanya mukanya masam dan mengerucutkan bibirnya lima cm, saat meliriknya kekasih hati Shifa hanya tersenyum dan mengendurkan pelukannya
__ADS_1
"Uncle, perkenalkan dia calon suamiku namanya Rafael, dan beliau Papi Faro" awal Shifa membuka pembicaraan.
"Selamat datang saudara ku, terima kasih telah menjaga putri kami, ayo Shifa aku perkenalkan Keluarga besar kita satu persatu.
"Ya Allah, aku seperti sedang memandangi wajah kakakku Fatty, kamu benar-benar persis seperti almarhumah setelah dewasa" cerita Uncle Mahfud dengan tersenyum.
"Iya ternyata putri Fatty benar mirip sekali, kami sangat bahagia bisa melihatmu nak" ucap salah satu saudara jauh dari Mami Fatty.
Memperkenalkan diri satu persatu semua keluarga besar Mami Fatty beramah tamah di ruang keluarga, kebahagiaan terpancar di hati Shifa.
Saat Papi Thora, menteri pertahanan Ramli dan jenderal Hendro berbincang di teras rumah dengan akrab, uncle Mahfud dan istrinya Aunty Ziyah mengajak Shifa dan Rafael ke dalam rumah mereka tepatnya kamar yang dari dulu di persiapkan untuk Shifa.
"Come on Shifa, I show you something" Uncle Mahfud menarik tangan Shifa dan Rafael dengan akrab menuju kamar yang khusus untuk Shifa.
"Look at that, lihatlah!" tunjuk uncle Mahfud setelah membukakan kamar yang dipersiapkan untuk Shifa.
"Mr Dani, uncle apakah anda mengenal beliau?" tanya Shifa heran.
"Kamu tidak mengenalnya, coba perhatikan baik baik wajahnya?" dengan tersenyum Uncle Mahfud tersenyum dan menunjuk ke wajahnya sendiri.
"Uncle, apakah anda Mr Dani?" tanya Shifa lagi.
"Honey siapa Mr Dani?" tanya Rafael mulai merasa jealous kembali.
"Entahlah kak El aku sendiri juga bingung" ucap Shifa masih bingung.
__ADS_1
"Duduklah saya nak cerita tuk kalian berdua" jawab uncle Mahfud dengan bahasa Melayu.
Aku dua saudara Fatty Fatimah dan Mahfud Hamdhani, ibuku asli dari Brunei Darussalam tetapi ayahku keturunan Eropa Brunai dan non muslim, kami awalnya tidak tahu profesi ayah yang sebenarnya, yang kami tahu ayah adalah adalah seorang pialang saham yang handal, sampai kak Fatty di jodohkan dengan teman ayah dari Singapura baru kami tahu jika ayah adalah ketua mafia cabang Brunai dan mertua kak Fatty adalah ketua mafia se-Asia tenggara.
Saat kejadian kedua mertua kak Fatty tertembak di Singapura dan Shifa berumur 3,5 tahun adalah awal kehancuran hidup dari kak Fatty, suaminya yang menembak mati kedua orang tuanya mendapatkan hukuman selama 20 tahun dan parahnya lagi setelah jatuh dari tangga suaminya amnesia permanen.
Kak Fatty kembali ke Brunai Darussalam dengan hati yang hancur karena di larang membawa Shifa, dengan sekuat tenaga merebut hak asuh Shifa baik melalui jalur hukum atau cara damai tetapi apa daya kami rakyat biasa tidak memiliki kekuasaan apapun, tetap kalah dan tidak bisa membawa Shifa pulang,
Kak Fatty hampir lima tahun berusaha memperjuangkan hak asuh Shifa tetapi tidak pernah berhasil, sampai beliau jatuh sakit dan meninggal dunia tanpa bisa menjangkau putrinya sama sekali, hanya meninggalkan wasiat Shifa harus tetap menjadi warga negara Brunai Darussalam apapun yang terjadi, jika sudah berumur 17 tahun buatkan di kartu identitas dan pasport Brunai Darussalam suatu saat nanti pasti dia akan datang dengan sendirinya.
Aku kuliah di perguruan tinggi Brunai mempunyai sahabat akrab yang berasal dari Singapura, aku KKN di Singapura bersama sahabat karibku di sebuah sekolah dasar saat Shifa sudah kelas enam, bukan kebetulan aku mengajar di sekolah, sengaja karena ingin mendekati keponakan tetapi sayangnya aku ketahuan oleh anak buah dari mantan suami kak Fatty, dan aku di deportasi dan di black list oleh pemerintah Singapura.
Tetapi dengan diam diam aku sering di kirimi foto keseharian Shifa oleh sahabatku yang tinggal di Singapura sampai Shifa lulus SMU, karena ternyata sahabatku juga ketahuan oleh anak buah dari mantan suami kak Fatty dan lebih parahnya lagi aku mendengar sahabatku meninggal karena tabrak lari oleh orang yang tidak di kenalnya, aku menjadi frustasi dan putus asa, serta merasa bersalah karena aku sahabatku meregang nyawa, walaupun sebetulnya sahabatku meninggal karena mereka atau memang murni sebuah kecelakaan lalu lintas.
Sejak lulus SMU aku kehilangan jejak Shifa karena keberadaan Shifa yang di rahasiakan oleh mereka, aku mencari dengan menggunakan jasa seorang detektif swasta, tetapi karena tahu siapa sebenarnya yang akan diselidiki rata rata mereka mundur teratur, dan tidak ada yang berani membantu saya.
"Naah sekarang apakah Shifa sudah ingat dengan Mr Dani, nama belakangku adalah Hamdhani" ucap uncle Mahfud setelah selesai bercerita.
"Mengapa waktu itu Uncle tidak bercerita kepada aku jika anda adalah adik kandung dari Mami Fatty?".
"Bagaimana bisa bercerita kalau kamu selalu di kawal ketat oleh anak buah Papi kamu terus".
"Bukan anak buah Papi, tetapi uncle Agus" jawab Shifa dengan raut wajah yang sedih.
"Uncle, apakah ayah anda sekarang masih ada?" tanya Rafael penasaran.
__ADS_1
"Entahlah, aku sendiri tidak pernah mendengar tentang kabar beliau lagi, setelah tiga tahun kak Fatty meninggal dunia Ibuku juga meninggal dunia setelah itu ayah pulang ke Eropa sampai sekarang tidak ada kabar beritanya lagi, bahkan tinggal dimana juga kami tidak mengetahui nya" jawab Uncle Mahfud sambil menarik nafas dalam-dalam.