
Malam nanti adalah hari bersejarah bagi Rafael dan Shifa, hanya mengikuti skenario yang di buat oleh Sultan mengikuti semua prosesi yang sudah di atur.
Setelah makan siang di minibar yang ada di dapur istana tiga sahabat anggota elang emas duduk beriga sambil menikmati kopi yang di buat oleh koki istana bertiga.
"Gue masih bingung El, sebenarnya apa yang terjadi kok bisa elo mendadak menikah?" Kanno masih penasaran tentang kejadian saat ini.
"Awalnya gue juga tidak percaya, kata Sultan setelah mendapatkan informasi kalau putra dari idolanya akan menikahi gadis warga Brunai dia sendiri yang merencanakan pernikahan ini" awal cerita Rafael
.
"Maksud elo siapa idola Sultan?" Cello ingin tahu maksud dari Rafael.
"Papi Faro" Rafael berkata singkat sambil menyeruput kopi hitam.
"Elo tahu, tidak cuma Sultan yang mengidolakan Papi, menteri pertahanan dan keamanan Ramli dulu juga mengidolakan Papi, makanya Sultan ingin gue jadi warga Istimewa disini".
"Terus elo harus tinggal disini gitu?" Kanno menepuk pundak Rafael.
"Kagak gitu juga, yang jelas jika sewaktu-waktu perlu bantuan gue Sultan tidak akan sungkan meminta bantuan".
"Jadi elo punya dua identitas dong, betul nggak Kanno?".
"Entahlah gue juga bingung" jawab Kanno mengerutkan keningnya.
Datang Faro, Mario dan Rendi bergabung dengan mereka bertiga duduk di kursi minibar.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Papi Faro.
"Palingan membicarakan rencana pernikahan masing-masing" Papa Mario menembak pembicaraan diantara ketiganya.
"Apalagi sekarang mereka itu kalau bertemu tidak ada yang lain kecuali wanita, dasar bucin" Daddy Rendi ikut juga meledek ketika putranya.
"Memang waktu dulu saat muda apa tidak begini, sama aja kan?" cabik Rafael menebak.
__ADS_1
"Lebih parah malahan terutama Daddy kalian, dia yang paling kenyang merayu cewek" cerita Papa Mario dengan cengar-cengir.
"Pantesan buah tidak jauh dari pohonnya, Kanno juga dulu hobynya ngerentengin cewek dimana-mana" sambil tertawa Cello meledek Kanno yang mukanya di tekuk.
"Itu kan dulu sekarang gue serius dengan Agnes, duarius malahan" Kanno membela diri.
Hampir pukul dua siang mereka baru masuk kamar masing-masing untuk beristirahat sampai menunggu acara nanti sore.
Dari tadi malam tidak bertemu dengan kekasih hati, rasa rindu yang mendalam tak sabar ingin segera memandang wajahnya, sekarang ini seluruh keluarga sudah duduk di dalam masjid dalam lingkungan istana, selalu melihat pintu berharap dia segera datang, Rafael duduk di apit Papi Faro dan Mami Inneke yang mengenakan baju kurung couple.
Rafael mengenakan pakaian adat Melayu yaitu baju kurung warna putih tulang dengan kain songket berlapiskan benang emas sebagai sarung yang melilit di pinggang, songkok dengan warna senada tampak terlihat gagah dan maskulin.
Datang rombongan pengantin wanita memasuki majelis istiadat akad (tempat diselenggarakannya akad nikah) dengan mengenakan baju kurung warna putih tulang jilbab senada dengan di sematkan mahkota bertahtakan berlian diatas kepalanya, baju kurung juga dihiasi dengan benang emas senada dengan baju Rafael.
"Bro sekarang adik gue berjilbab, tambah cantik dia" bisik Cello di telinga Rafael dari belakang nya
"Waaaah, iya cantik banget semoga selalu Istiqomah Aamiin" jawab Rafael dengan tatapan mata yang berbinar dan tanpa berkedip.
Duduk di samping Rafael sambil menunduk tanpa berani menatap wajah Rafael hanya tersenyum dengan debaran jantung yang berdegup kencang.
"Aamiin Insyaallah kak, itu niatnya kalau dapat restu dari suami" shifa ikut berbisik.
"Pasti aku restui, kalau perlu tunjukkan wajah cantikmu khusus hanya untukku seorang".
"Kalau itu mah terlalu jealous namanya".
"Tidak jealous honey, karena terlalu cinta"
"Kak El bisa aja cari alasan, tapi aku suka" dengan tersenyum Shifa berbisik membuat Rafael menghangat hati dan perasaannya.
Datang Sultan beserta istri, jenderal As'ari juga beserta istrinya, dan menteri pertahanan dan keamanan Ramli juga beserta istrinya, penghulu dan perwakilan duta besar Indonesia yang bertugas di Brunei Darussalam.
Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, sambutan dari jenderal As'ari sebagai tuan rumah, dan komandan Conan sebagai wakil dari mempelai pria di tambah dengan pesan walimah dari duta besar Indonesia
__ADS_1
Baru di mulai acara sakral yang di tunggu tunggu oleh Rafael terutama, berhadapan langsung Rafael dan Uncle Mahfud berjabat tangan.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau Putraku Rafael Sanjaya Wiguna bin Faro Sanjaya Wiguna dengan putriku Shifa Fatmala binti Thora Thanapon dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan emas sebesar 50 gram dibayar tunai".
"Saya terima nikah dan kawinnya Shifa Fatmala binti Thora Thanapon dengan mas kawin tersebut diatas tunai".
"Bagaimana sah?".
"Sah....." jawab semua keluarga dengan kompak.
"Alhamdulillah".
Penghulu meminta tanda tangan orang tua kedua mempelai yaitu Papi Faro dan Uncle Mahfud, saksi pernikahan yaitu Sultan dan komandan Conan, baru di lanjutkan pembacaan doa oleh menteri pertahanan dan keamanan Ramli.
Selesai akad Shifa menghadap kearah Rafael memakaikan cincin pernikahan bergantian dan mencium punggung tangan Rafael, dibalas Rafael mencium pucuk kepala Shifa, di lanjutkan meminta restu dan sungkem kepada seluruh keluarga satu persatu.
Acara di lanjutkan di dalam istana kesultanan yaitu di aula istana yang sudah disulap menjadi tempat resepsi yang indah dan megah kedua mempelai duduk di majelis bersanding (pelaminan kalau orang Indonesia bilang).
Ada perbedaan yang mencolok antara pernikahan di Indonesia dengan di Brunei Darussalam, yaitu jika di Indonesia sudah tersedia kontak untuk amplop bagi tamu yang datang tetapi jika di Brunei Darussalam tidak disediakan.
Setelah menikmati hidangan di majelis hidangan (prasmanan) di lanjutkan dengan acara yang dinamakan berziarah di sini tidak sama artinya dengan di Indonesia yang berarti mendatangi tempat pemakaman atau tempat keramat. Berziarah dalam bahasa Melayu berarti mengunjungi atau pergi ke suatu tempat atau pergi melawat, dalam konteks acara majlis bersanding, prosesi berziarah adalah ketika pihak keluarga (dipimpin ibu/bapak atau saudara dekat mempelai) mendatangi tamu-tamu yang datang dan mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu saat itulah amplop berisi uang itu diberikan kepada ibu/bapak atau saudara dekat mempelai ketika mereka berziarah ke tempat kita duduk, dengan cara model salam tempel saat kita salaman dan cipika cipiki dengan ibu dan kerabat mempelai, saat itu juga kita selipkan amplop ke tangannya.
Untung sore tadi jenderal As'ari sudah menceritakan adat itu kepada Papi Faro sehingga seluruh keluarga sudah mempersiapkan amplop masing-masing saat keluarga besar uncle Mahfud berziarah ke seluruh keluarga yang sedang duduk di kursi tamu.
"Kak Cello konsepnya sederhana tetapi sangat elegan, aku suka sekali" kata Aisyah melihat tempat resepsi yang digelar di aula istana kesultanan.
"Betulkah sayang, kamu sukanya yang sederhana?" Cello memiringkan kepalanya menggenggam tangan Aisyah.
"Iya terkesan lebih sakral acaranya, emang kak Cello maunya seperti apa konsep nya?".
"Kalau aku sih maunya pesta yang sangat meriah, mewah mengundang banyak orang, agar semua orang tau kalo Cello memiliki seorang dokter cantik dan Sholehah".
"Coba lihat tamunya, terbatas tetapi terlihat sangat hikmat, sakral, aku sangat menyukainya, kalau seandainya aku menikah, aku ingin seperti ini sederhana tetapi sakral dan hikmat" celoteh Aisyah lagi Cello tersenyum sambil melihat sekeliling.
__ADS_1
Tamu memang hanya terbatas kalangan anggota intelejen sahabat Papi Faro, anggota agen rahasia anak buah jenderal As'ari dan keluarga Sultan Brunai Darussalam serta Keluarga dari Indonesia.
Tepat pukul sepuluh malam semua sudah selesai, para tamu berpamitan pulang satu persatu, tinggal Keluarga besar Papi Faro sedang beramah tamah dengan keluarga Uncle Mahfud.