
Pagi harinya setelah sholat subuh, Shifa sudah rapi, duduk di samping brankar tempat tidur mengisi perutnya sedikit roti yang mudah di cerna agar tidak terasa perih lambungnya, hanya melirik Rafael yang masih terlelap dalam damai.
Mengerjap mata Rafael, hanya menggeliat, sepertinya belum terkumpul betul nyawanya, Shifa hanya memandanginya dengan tersenyum simpul, setelah ada yang memandanginya baru terbangun segera terduduk sambil mengucek matanya.
"Honey, ya Allah ya Tuhanku kamu sudah rapi dan cantik, waaaah harum lagi" mencium pipi sekilas dan memeluknya erat dari samping.
"Iiiih kak El masih bau jigong sana mandi"
"Ok mandi dulu ya, muuah" Rafael mencuri ciuman sekilas di pipinya sambil tertawa lepas berlari masuk kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi hanya handuk yang melilit pinggang nya dengan rambut basah yang masih menetes menambah terlihat maskulin dan gagah tubuh atletis Rafael.
"Kak El porno iiih, pakai baju di kamar mandi sana!" pekik Shifa menutup wajahnya dengan satu tangan.
"Tidak usah di tutup honey, hitung hitung latihan, kalau perlu sini boleh lihat kalau perlu pegang sebagai tanda perkenalan" seloroh Rafael mendekati Shifa.
"No kak El no, jauh sana, jangan mesum!"
Dengan tertawa terbahak bahak Rafael mengambil baju ganti yang ada di lemari depan brankar tempat tidur Shifa, dan tanpa canggung memakainya di depan Shifa, kembali duduk dan memeluknya tersenyum.
"Kak El apakah bisa aku minta tolong?" tanya Shifa ragu-ragu.
"Ada apa honey, memang seharusnya antara suami istri harus terbuka, bukan minta tolong, ada apa?".
"Suami istri, kakak kalau ngomong asal aja, masih lama kak".
"Sebentar lagi kita suami istri honey, kan lamarannya sudah kemarin?"
Shifa hanya mengerutkan keningnya, tidak semudah membalikkan telapak tangan jika Menikah dengan dua negara yang berbeda.
"Mau tidak nich aku minta tolong?"
"Tentu lah, emang apa sih?".
"Apakah kak El bisa mengambilkan koper yang masih tertinggal di barak waktu di Aceh".
Dengan tersenyum Rafael memiringkan kepalanya, mengingat koper itu ada kamarnya sendiri.
"Gampang itu honey, apa bonusnya jika aku berhasil mengambil koper itu?".
"Bonus apa ya, terserah kak El mau minta apa, soalnya isinya penting banget nich".
"Kalau terserah berarti boleh dong nanti malam aku tidurnya sambil memeluk kamu?"
"Eeeee no, big no no".
__ADS_1
"Katanya terserah, gimana sih?" Rafael mengerucutkan bibirnya pura-pura merajuk dan berdiri menjauhi Shifa.
"Terserah tetapi tidak yang itu juga dong kak, tidak boleh melampaui batas juga dong, dasar mesum!" Shifa ikut juga merajuk dan ikut mengerucutkan bibirnya.
Rafael memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya mengambil handphone untuk menghubungi asisten Zain hanya dengan pesan WA saja "Tolong bawakan koper yang ada di samping lemari di kamarku sekarang" di masukkan kembali handphone nya dan duduk kembali di samping Shifa.
"Jadi bolehnya apa bonusnya, cium boleh?" goda Rafael lagi.
"Kakak..... heran, kenapa sekarang jadi aneh sih pikirannya, tidak jadi minta tolong kalau gitu, biarkan saja aku tidak bisa ambil surat amanah Mami Fatty untuk kak CL dan aunty eeeee Mama Ara".
"Memang surat amanah itu ada di koper?" tanya Rafael lagi sambil mengingat bahwa tidak ada surat di koper itu saat di buka kemarin.
"Tidak ada kak, tetapi kunci loker nya ada di koper itu"
"Loker Bank?".
"Lo kok kak El tahu sih?".
Mengingat pesan Papi Faro jika hubungan harus terbuka dan tidak boleh selalu menyembunyikan apapun Rafael akhirnya bercerita.
"Sebetulnya koper itu sudah ada padaku tiga Minggu yang lalu".
"Lo kok tidak di berikan kepadaku kak, kenapa?".
Shifa langsung mengerutkan keningnya, bergumam sendiri apakah setiap hari yang datang besuk ke lapas dia, bukannya uncle Agus ataupun pengacaranya.
"Jadi selama ini yang sering meneteskan air mata saat ingin bertemu dengan aku itu kak Rafael, bukan uncle Agus?".
"Iya tidak cuma aku saja sayang, Aisyah, Agnes, Cello dan Kanno, kamu memang tega!".
"Maaf, aku kira kak El tidak tahu, aku kira kak El sudah dapat penggantiku, masalahnya dari dulu kak El banyak di taksir cewek"
"Memang semudah itu hati berpaling, cari pengganti enak aja, kamu itu satu-satunya wanita yang aku cintai tahu tidak?".
"Hhhmm eee tapi bukannya kak El anggota agen rahasia seharusnya kak bisa memanfaatkan itu untuk menemui aku?"
"Ya memang satu satunya jalan lewat agen rahasia, makanya sekarang kita bisa berpelukan seperti ini ya karena agen rahasia"
Shifa hanya ber-o ria dan menganggukkan kepalanya merasa bersyukur karena sudah lepas dari masalah yang telah menimpanya.
Datang asisten Zain dengan membawa koper milik Shifa yang di simpan selama di kamarnya.
"Ini kopernya bos, dan ini tolong di tandatangani berkas dari kantor" asisten Zain menyodorkan setumpuk berkas.
Saat Rafael sedang konsentrasi dengan pekerjaannya, Shifa membuka koper, semuanya masih utuh dan tidak hilang satupun, diambilnya kunci loker dan kartu identitas untuk di persiapkan mengambil surat amanah dari Mami Fatty untuk Mama Ara dan Cello.
__ADS_1
Setelah asisten Zain pamit dan sarapan bubur untuk Shifa dari rumah sakit datang di letakkan di meja, di raihnya bubur itu dan di tuangkan kuah serta pelengkapnya.
"Ayo sarapan dulu, setelah itu baru minum obat, buka mulutnya haaa" Rafael mulai menyuapkan satu sendok bubur ke mulut Shifa.
"Aku bisa makan sendiri kak, tidak usah di suapin".
"Jangan protes, tidak boleh makan sendiri, selama ada suami yang merawat" mulai lagi Rafael merayu Shifa.
"Suami suami, mulai lagi kak El ya, jangan halu terus, ini kunci lokernya kak El saja yang ambil" sambil tetap tetap makan dengan di suapin.
"Tenang aja kalau yang itu tugasnya seorang kakak bukan tugas suami" seloroh Rafael tersenyum defil.
"Itu namanya cari enaknya aja, kasihan dong kak Cello nya".
"Tidak apa-apa, itu surat juga untuk dia, tenang aja, sebentar aku kirim pesan WA kepada Cello dulu".
Belum sempat mengambil handphone yang ada di kantong celana, pintu terbuka datang Cello, Aisyah dan bunda Aulia dengan membawa buah dan kue untuk Shifa.
"Assalamualaikum" ucap salam mereka bersamaan.
"Walaikum salam, bunda apa kabar?" Shifa langsung memeluk bunda Aulia yang dianggap seperti Mama kandungnya sendiri.
Saat Shifa, Aisyah dan bunda Aulia bercengkerama dengan akrab, Rafael memberikan kunci loker dan identitas Shifa untuk mengambil surat amanah Mami Fatty yang di simpan di sana.
"Nich tugas pertama elo sebagai seorang kakak, ambil surat amanah dari Mami mertua buat elo dan Mama Ara" Rafael memberikan kunci loker dan identitas Shifa.
"Elo aja dong yang ambil, itu tugas elo sebagai adik ipar yang baik" protes Cello dengan kesal.
"Gue tidak bisa lah, kan gue lagi merawat adik elo biar cepat sembuh" alasan Rafael tidak mau kalah.
"Tapi El ini harus menggunakan surat kuasa biar cepat".
"Gampang itu nanti dibuatkan, sabar aja".
"Baiklah, gue ambil sekalian bisa berduaan dengan dokter cantik gue" sambil tersenyum Cello melirik Aisyah.
Setelah satu jam lebih berbincang, Cello berpamitan karena harus mengambil surat amanah itu segera, tetapi mengantar bunda Aulia terlebih dahulu sebelum ke Bank.
Shifa beristirahat tidur saat Rafael sedang konsentrasi membaca dan memeriksa file yang di kirim oleh asisten Zain, tetapi setelah mendengar ada suara nafas yang teratur Rafael tersenyum mendekatinya dan mengelus pipinya dengan lembut.
Semoga kedepannya akan semakin yakin dalam kita menghadapi rintangan yang akan menghadang masa depan kita, jangan jauh lagi dariku, aku sangat takut kehilanganmu lagi, monolog Rafael dengan lirih.
Tetap memandangi wajah Shifa yang terlelap tidur, Rafael tidak henti hentinya mengelus pipinya, rasanya seperti mimpi bisa sedekat ini, dulu sebelum terjadi musibah ini walaupun pacaran tetapi masih saling menjaga jarak, hanya saling memegang tangan, atau merangkul pinggang atau pundaknya saja, hanya sesekali mencium pipinya itupun tanpa ijin, mencuri ciuman lebih tepatnya.
Sekarang harus benar benar di perjuangkan, walaupun rintangan yang akan menghadang setinggi gunung, seluas samudra asal bersama akan membuat hati sangat bahagia, hanya itu harapan Rafael bisa bersatu dalam mahligai rumah tangga bahagia walaupun rintangan akan selalu ada.
__ADS_1