Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
75. Bertemu Anjas


__ADS_3

Tepat pukul lima sore Rafael, Cello dan Kanno tiba kembali di hotel setelah melaksanakan tugas tiga hari ke pulau Madura.


Masuk kamar hotel bertiga dengan disertai tatapan aneh dari penghuni kamar hotel yang berada di sebelahnya.


"Mengapa mereka memandangi kita seperti itu?" tanya Kanno heran.


"Mene ketehe, gue kagak tahu" cabik Cello sambil menaikkan bahunya.


Rafael mendorong pintu hotel yang tidak di kunci dan langsung masuk.


"Honey aku datang".


Shifa, Aisyah dan Agnes yang sedang santai tiduran di atas tempat tidur kaget dan bangun duduk di pinggir tempat tidur.


"Kalian dua malam ini tidur disini?" tanya Rafael setelah melihat dua koper yang berjajar rapi di samping sofa.


"Iya kak, memang kenapa?".


"Ya Allah ya Tuhanku, emang suami kalian tidak punya uang untuk menyewakan kamar hotel untuk kalian" Rafael sedikit kesal.


"Jangan menghina lo, hotel ini langsung gue bayar kes sekarang gue mampu" kesal Kanno menoyor pundak Rafael.


"Aku yang minta mereka tidur disini kak, kamar segede ini sayang kalau cuma ditempati sendiri" jawab Shifa menjelaskan.


"Kita aja sampai di bilang lesbi sama orang yang menyewa kamar yang ada di sekitar kita tinggal" cerita Agnes dengan tersenyum devill.


"Pantas aja saat kita masuk kamar ini ada beberapa orang memandang kita datang dengan tatapan yang aneh" jawab Kanno mulai memahami situasi yang terjadi.


"Ya sudah sana kalian keluar, sewa kamar sendiri, gue mau berdua dengan istri gue" Rafael mengusir kedua pasang sahabatnya.


Bayangan saat di pesawat tadi jika sudah masuk kamar hotel langsung bisa menikmati indahnya berbulan madu, sekarang jadi berantakan semua rencananya.


"Honey, kemarilah" Rafael langsung menarik Shifa dalam dekapannya tidak memperdulikan ada dua pasangan yang memperhatikan mereka.


"Kak malu sama mereka" Shifa mencoba keluar dari dekapan Rafael.


"Diam sebentar honey, aku kangen banget, seharusnya aku langsung makan kamu kalau tidak ada mereka" bisik Rafael di telinga Shifa.


"Tidak usah berbisik bisik begitu gue dengar, sono makan di restauran jangan buat telinga bini gue tercemar, cepat ayo packing sekarang, helikopter sudah menunggu kita" celoteh Cello sambil melempar bantal kearah mereka yang sedang berpelukan.


"Darling berpelukan juga dong, gue kangen juga nich" Kanno merentangkan kedua tangannya ingin memeluk Agnes.


"Sini gue aja yang peluk, mereka harus packing sekarang" Cello memeluk Kanno dengan cepat.


"Ogah ngapain peluk elo, Sono lo ke laut aja" Kanno mendorong Cello sampai Cello mundur beberapa langkah di sertai tawa semua yang keduanya sempat berpelukan sejenak.

__ADS_1


Berjalan keluar hotel setelah melakukan cek-out, dan menggunakan mobil online menuju hanggar helikopter yang letaknya lumayan dari hotel tempat menginap.


Tiba dan mendarat di landasan di atas rumah Rafael, rombongan langsung turun ke lantai dasar karena sudah di tunggu oleh Papi Faro dan Mami Inneke untuk makan malam bersama.


"Bagaimana liburannya nak, apakah kalian bahagia?" tanya Papi Faro.


"Sangat Pi, kita jalan ke daerah wisata terkenal di Bali yang sangat indah" Agnes bercerita dengan antusias.


"Kalian bahagia gue kagak, baru ngerasain berdua sebentar aja ada rombongan pengganggu datang tengah malam" cabik Rafael mengerucutkan bibirnya kesal.


"Yeeee, kenapa menyalahkan kami, salahkan sono komandan Conan" Cello melempar kerupuk kearah Rafael yang masih kesal.


"El, kamu masih ingin mengadakan resepsi pernikahan kalian?" tanya Papi Faro lagi.


"Tidak usah Papi, El dan Shifa sudah sepakat tidak akan mengadakan resepsi pernikahan, nanti takutnya malah banyak masalah dan bisa terendus oleh anak buah Agus" jawab Rafael tegas.


"Kamu tidak menyesal nantinya Shifa?" gantian Cello bertanya.


"Tidak, pernikahan di Brunei Darussalam sudah sangat terkesan bagiku, itu sudah cukup, kak El tidak menyesal kan?".


"No honey, biarkan dua pasang absurt itu saja yang akan menggelar pernikahan nanti".


"Baiklah, tetapi kita harus mengabarkan ini terutama kepada relasi bisnis kita El, takutnya mereka ingin menjodohkan putrinya dengan kamu" cerita Papi Faro karena mengingat kemarin ada rekan bisnisnya yang terus terang ingin meminta Rafael menjadi menantunya.


"Mengapa harus begitu Papi?" tanya Shifa penasaran.


"Besok sore kita adakan jumpa pers, Papi sudah meminta pertimbangan kepada komandan Conan".


"Maksudnya Pi, El tidak faham?".


"Kita mengadakan jumpa pers, mengatakan bahwa El sudah menikah dengan gadis asli dari Brunei Darussalam bernama Fatmala dan mengadakan resepsi disana, dan untuk kamu Shifa sebaiknya saat jumpa pers besok lebih baik memakai cadar saja, nanti Papi saja yang bicara dan cukup kamu duduk mendampingi Rafael tanpa boleh mengucapkan sepatah katapun, faham Shifa?".


"Ya Papi, aku faham".


"Tidak usah pakai konferensi pers juga tidak apa-apa Papi, El sama Shifa bahagia kok".


"Itu sebetulnya Mami yang minta El, alasannya agar Agus Martono dan anak buahnya tidak memata-matai kita, karena di mata publik menantu Mami gadis dari Brunei Darussalam bukan dari Singapura".


"Waaaah itu Cello setuju Mami, dengan demikian mereka tidak begitu mengawasi keluarga Papi Faro lagi".


"Papi, kemungkinan pasti aku dan Cello akan di tanya juga kapan menyusul, karena sebagian relasi bisnis mengenal kita bertiga bersahabat" Kanno ikut memberi pendapat.


"Betul juga ya, nanti Papi bicarakan dengan Papa dan Daddy saja".


Aisyah jadi menatap tajam kearah Cello takut akan diumumkan untuk pernikahannya juga dengan acara yang besar-besaran seperti impian Cello.

__ADS_1


"Kenapa sayang, kamu mau kita sekalian menikah?" dengan usil Cello menggoda Aisyah.


"Kakak jangan bikin malu iiih" Aisyah hanya menunduk tidak berani untuk mengutarakan pendapatnya.


"Kenapa nak, kalau mau ngomong tidak usah ragu ragu, Aisyah juga punya suara yang sama tentang rencana pernikahan?" tanya Mami Inneke dengan suara lembut.


"Aku tidak mau acara besar besaran Mami, maunya sederhana tetapi sakral dengan suasana yang hikmad" jawab Aisyah dengan menundukkan kepalanya.


"Titah putri anggap saja sudah terealisasi" jawab Cello dengan mengacungkan dua jempolnya.


"Berarti nanti acara yang diadakan sangat meriah hanya aku dan Agnes saja dong?" tanya Kanno.


"Kalau yang itu sesuai tradisi keluarga Kanno, Daddy memang sering mengadakan pesta yang sangat meriah pada hari penting" kata Mami Inneke tersenyum dan melirik Kanno.


Sedangkan Kanno hanya nyengir kuda tidak membantah sedikitpun karena memang benar adanya.


"Shifa besok pagi bisa temani Mami ke butik langganan Mami, kita beli baju untuk konferensi pers besok".


"Iya Mami siap, konferensi pers diadakan pukul berapa Papi?".


"Pukul empat sore" jawab Papi Faro.


Keesokan paginya Mami Inneke dan Shifa ke butik langganan di sebuah mall ternama, dengan di kawal oleh bodyguard seperti biasa.


Selesai membeli baju yang akan di gunakan untuk konferensi pers besok, berniat untuk langsung pulang tetapi baru melangkah ingin keluar mall Shifa melihat sosok pemuda yang jangkung sedang berjalan masuk mall masih menggunakan jas almamater sebuah perguruan tinggi negeri di Jakarta.


"Mami tunggu sebentar, sepertinya aku mengenal pemuda itu".


"Yang mana nak?".


"Itu Mam, yang memakai jas almamater universitas negeri yang warna kuning".


"Memang siapa pemuda itu nak?".


Seketika Shifa berdiri mematung saat pemuda itu melangkah melewati samping Shifa dan Mami Inneke.


Walaupun pemuda itu tidak mengenali wajah Shifa yang memakai softlens biru, hijab dan masker, tetapi saat keduanya berdiri sejajar pemuda itu perkara dengan lirih.


"Mengapa aku merasa ada kak Shifa di dekatku ya, bau parfumnya juga sama, tetapi dimana dia" ucap pemuda itu lirih dan menyapu ke seluruh area mall.


Shifa semakin mematung tak berani bergerak, keluar keringat dingin, menyadari Shifa merasa gugup dengan cepat Mami Inneke menarik lembut tangannya diajaknya duduk di sebuah sofa panjang.


"Siapa sebenarnya pemuda itu nak, kenapa dia memanggil namamu?".


"Dia bernama Anjas Mami, putra dari Uncle Agus Martono".

__ADS_1


Melihat Shifa merasa syok, Mami Inneke menghubungi Rafael untuk menjemput mereka berdua, Mami juga bercerita tentang pemuda yang baru saja di mall itu, hanya dalam empat puluh lima menit Rafael datang dengan sangat lkhawatir.


"Are you ok honey" Rafael memeluk Shifa untuk memberikan dukungan.


__ADS_2