
Sehari setelah peristiwa pertemuan Shifa dengan Papi Thora, siang ini puskesmas tempat Aisyah bertugas di hebohkan oleh seorang laki-laki tua yang berjalan gontai dengan memegangi kepalanya memanggil nama dokter Aisyah.
"Dokter Aisyah, dimana dia, dokter tolong saya!" ucapnya dengan suara serak saat baru masuk pintu puskesmas.
Sekuriti langsung berlari mendekati laki-laki itu itu untuk membantunya, tetapi belum sempat bertanya, laki-laki tua itu lemas dan pingsan dan di tangkap oleh sekuriti.
Di bantu oleh pengunjung yang dingin berobat juga laki-laki tua itu di gotong ke ruangan dokter Aisyah.
"Dokter ada yang pingsan, sebelum nya dia memanggil nama anda" lapor sekuriti dan membaringkan tubuh laki-laki tua itu di brankar tempat tidur.
"Tuan Thora, apa yang terjadi mengapa sampai pingsan" gumam Aisyah dalam hati.
"Terima kasih Pak, tolong panggilkan suster yang berjaga di depan!".
"Siap dokter terima kasih".
Setelah sekuriti dan orang yang telah menolong tadi keluar dari ruang dokter, Aisyah bergegas memeriksa Tuan Thora dengan teliti dan di bantu oleh seorang suster yang baru datang.
"Suster tolong pasang infus untuk tuan ini, saya akan VC sebentar".
"Baik dok, laksanakan!".
Membuka handphone mencari nama kak Cello dan menunggu beberapa saat.
"Halo sayang, ada apa di jam kerja tumben VC?".
"Coba kak Cello lihat!".
Aisyah mengarahkan kamera handphone nya kearah Papi Thora yang sedang pingsan dipasang infus di tangannya.
"Sayang, mengapa ada papi Thora di situ?".
"Barusan dia datang kesini, dan pingsan di depan pintu kamar puskesmas".
"Sebentar aku kesana daaa sayang".
"Kak jangan lupa kabari Shifa atau Rafael, bagaimanapun juga mereka harus tahu tentang keadaan beliau?".
"Tentu sayang, daaaa I love you".
"I love you to"
Setelah selesai VC dengan Cello, Aisyah kembali mengecek nadi dan suhu tubuh Papi Thora, dan memerintahkan perawat laki-laki untuk menggantikan bajunya dengan baju ganti milik puskesmas.
Hampir satu jam Papi Thora belum sadar juga, Setelah Aisyah duduk untuk beristirahat sejenak di kursi yang ada dirawat inap baru melihat Papi Thora mengerjap dan menggerakkan kepalanya.
"Anda sudah sadar Tuan?"
"Dokter Aisyah, maaf saya merepotkan anda lagi!" jawab Papi Thora dengan suara serak dan terbata bata.
__ADS_1
"No problem Tuan, ada apa mengapa anda sampai pingsan?".
"Dokter, kepala saya pusing sekali".
"Itu karena tensi anda 180/90 Tuan Tensi anda sangat tinggi, apa yang anda pikirkan?".
Papi Thora tidak menjawab pertanyaan Aisyah, hanya meneteskan air mata dengan ekspresi wajah yang datar.
"Anda harus hati-hati Tuan, takutnya bisa mengakibatkan stroke jika tensi darah terlalu tinggi, jika ada masalah berceritakan, saya siap menjadi mendengarkan".
"Terima kasih dokter, saya hanya kecapean saja, tidak usah khawatir".
"Oya satu lagi Tuan, sepertinya anda kekurangan asupan gizi dan kekurangan cairan, apakah anda tidak makan secara teratur?".
"Maaf dokter, akhir akhir ini saya tidak memiliki selera makan, jadi terus terang saya jarang makan".
"Ya Allah, bagaimana anda ini, semua harus diawali dari diri sendiri Tuan, jika anda tidak berniat untuk sembuh bagaimana bisa anda sehat".
"Maaf Dokter".
"Suster tolong belikan bubur dan susu coklat di depan sana sebentar, ini uangnya!" Aisyah memberikan satu lembar uang lima puluh ribuan kepada suster.
"Baik Dokter, permisi".
Dalam sepuluh menit bubur sudah siap ada di meja makan pasien lengkap dengan air mineral dan susu coklat.
"Ayo makan dulu Tuan, aku sendiri yang akan menyuapi anda".
"Saya tidak menerima penolakan Tuan, jika anda mau saya menjadi Dokter anda, anda harus patuh dengan peraturan saya ok".
Papi Thora akhirnya hanya mengangguk dan membuka mulutnya dan makan dengan disuapi langsung oleh Aisyah.
"Susunya harus di habiskan, silahkan di minum sekarang baru minum obat".
Dalam satu teguk susu habis dan tidak lupa Aisyah memberikan obat yang harus di minum.
"Istirahatlah, jangan berpikir macam-macam, anda harus rileks agar cepat sembuh, saya akan visit pasien lagi ok".
"Terima kasih Dokter".
Puskesmas tempat Aisyah praktek termasuk puskesmas pusat, karena ada ruang rawat inap walaupun hanya terbatas jumlah kamarnya, saat Aisyah Keluar ruang Papi Thora bersamaan Cello, Papa Mario dan Rafael masuk ke area puskesmas.
"Sayang!!" Panggil Cello.
"Papa anda ikut kesini?" Aisyah meraih dan mencium punggung tangan Mario sebagai tanda bakti.
"Iya Papa ingin melihat keadaan ayahnya Shifa, bagaimana keadaannya?" tanya Papa Mario.
"Beliau kurang cairan dan kurang asupan gizi Papa, dan Tensi juga sangat tinggi, tapi ini sedang tidur setelah makan bubur".
__ADS_1
"Ayo kita lihat dia dengan diam diam saja" ajak Rafael dan diikuti oleh Cello dan Papa Mario.
"Lewat sini Papa, kak!".
Setelah mereka melihat Papi Thora terlelap tidur, kembali keluar dari ruang rawat inap, dan masuk ke ruang dokter Aisyah.
"Apakah ada yang mendampingi saat Papi Thora datang kesini Ais?" tanya Rafael setelah duduk di kursi di depan kursi Aisyah.
"Tidak tahu kak El, tadi sekuriti yang mengantarnya ke ruangan".
"Kita ke ruang CCTV saja ayo!" ajak Cello langsung menggandeng tangan Aisyah diikuti oleh Papa Mario dan Rafael.
Di CCTV terlihat dari kejauhan sosok laki-laki tua itu terseok seok berjalan dari seberang jalan raya sendirian sesekali memegangi kepalanya, tampak dia masih mengenakan pakaian yang sama saat bertemu dengan Shifa di lapas Nusa Kambangan kemarin, di sekitar dia berjalan diperhatikan selama beberapa saat tidak ada yang mencurigakan dan semua normal dan aman.
"Apa mungkin Agus Martono tidak menemukan Papi Thora setelah mereka berpisah di penyeberangan pulau Nusa Kambangan?" analisa Rafael setelah selesai melihat CCTV.
"Sepertinya belum, sebaiknya kita hubungi komandan Conan saja" jawab Cello cepat.
"Nak, kemungkinan berapa hari dia dirawat disini sampai dia pulih kembali?" tanya Papa Mario kepada Aisyah.
"Dua atau tiga hari mungkin sudah bisa pulang Papa".
Setelah lapor kepada komandan Conan, area puskesmas dijaga oleh pihak intelijen yang menyamar, untuk mengawasi gerak-gerik dari anak buah Agus Martono, karena sesuai prediksi komandan Conan pasti Agus Martono akan mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari ketua mereka dan salah satunya dokter yang pernah di temui nya kemarin sebelum bertemu dengan Shifa.
Dari puskesmas Rafael langsung pulang untuk menemui Shifa dan menceritakan tentang kejadian Papi Thora yang sedang di rawat di puskesmas tempat Aisyah praktek.
"Sekarang bagaimana keadaan Papi, kak El?".
"Saat aku pulang tadi dia sedang tidur, Setelah makan dan minum obat, apakah kamu ingin melihatnya?".
"Apakah boleh?".
"Sebentar aku hubungi komandan Conan terlebih dahulu ok".
"Baiklah, terima kasih".
Rafael langsung menghubungi komandan Conan meminta ijin jika Shifa ingin melihat keadaan Papi-nya, walau bagaimanapun juga Shifa adalah anak kandungnya, tetap saja ada rasa ingin berbakti kepada orang tua.
Komandan Conan mengijinkan Shifa untuk merawat Papi Thora dengan syarat menyamar sebagai perawat, menggunakan masker, di larang berbicara dan harus didampingi oleh satu orang selain dokter Aisyah.
"Saya saja Ndan, yang mendampingi, saya akan menyamar juga sebagai perawat laki-laki" usul Rafael karena tidak ingin terjadi pada isterinya.
"Silahkan saja, ingat dengan syarat Shifa tidak boleh berbicara, bilang saja dia seorang gadis tuna wicara, dan hanya boleh merawat saat malam hari, faham Rafael?".
"Ok siap Ndan, terima kasih".
Keamanan sekitar puskesmas sudah siap siaga sebelum Shifa dan Rafael datang, Aisyah juga akan ikut berjaga mendampingi Shifa serta Cello juga tidak mau kalah ikut mempersiapkan diri untuk ikut menjaga Papi Thora, tepatnya menjaga Aisyah.
Rafael menggunakan seragam perawat, menggunakan wig rambut keriting kribo pendek, memakai kacamata bulat, masker juga tidak lupa, sehingga penampilannya menjadi culun tetapi terlihat lucu, wajah tegas dan garangnya tidak terlihat lagi.
__ADS_1
Shifa menggunakan seragam perawat hijab pashmina berwarna putih ada topi perawat diatas hijabnya, menggunakan softlens biru, masker standar kesehatan yang terlihat hanya sorot mata yang tajam, jika tidak bersuara tak seorangpun mengenalinya, riasan wajah yang terlihat elegan dan dewasa semakin menambah wajah Shifa susah di kenali.