Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
18. Cello Modus


__ADS_3

Sementara setelah Cello mendapat surat kaleng yang berisi tentang foto Norma dengan hot daddy-nya membuat hatinya hancur lebur tanpa sisa, saat Kanno dan Rafael ikut melihat foto dan surat perjanjian itu ikut membulatkan matanya dengan sempurna.


"Pacar elo ini, yang benar aja, dia simpanan om om?" Celoteh Rafael, sedangkan Kanno yang hanya diam saja melihat Cello naik pitam.


"Apakah kalian pernah melakukan hubungan badan dengan dia, Cello?" tanya Kanno karena mengingat foto foto itu begitu fulgar.


"Gila lo, kagak lah, gue kira dia wanita baik baik, gue cuma mencium bibirnya juga baru berpelukan, hanya bergandengan tangan aja jika bertemu" sanggah Cello berapi-api suaranya.


"Sabar bro, jangan marah sebaiknya elo selesaikan hubungan elo dengan si ****** itu?" Titah Rafael dengan menepuk pundaknya.


"Naah itu yang betul, elo tau nggak, kemarin Aisyah menangis tersedu-sedu setelah lihat elo bermesraan di kantin, lebih baik elo sama Aisyah saja, wanita baik baik walaupun dia anak yatim-piatu" jujur Kanno pada Cello.


"Temani gue cari Norma!" Cello berdiri memasukkan kembali foto dan kertas berisi surat perjanjian itu keluar dari sekretariat kemahasiswaan dengan emosi yang memuncak diikuti oleh Rafael dan Kanno.


Sampai di ruang kelas tidak banyak mahasiswa yang ada disana, kebetulan waktu tengah hari, sebagian mahasiswa sedang liburan semester, kecuali yang sedang melaksanakan sidang skripsi saja yang ada di kampus.


Dalam ruang kelas ternyata Norma sedang duduk santai bersama seorang mahasiswa dengan mesra.


"Norma.....!!" panggil Cello kesal, dengan refleks Norma bergeser menjauhi mahasiswa.


"Sayang...gue cuma bercanda dengan dia jangan marah" suara manja Norma ingin meraih tangan Cello, tetapi dihempaskan begitu saja oleh Cello.


"Jangan sok baik, dan sok suci, gue benci dengan orang munafik seperti elo, lihatlah ini" Cello mengeluarkan foto dan surat perjanjian itu.


Dengan tangan bergetar Norma meremas kertas dan foto fulgar nya, menunduk tanpa berani berbicara sedikitpun.


"Mulai sekarang kita putus, gue tidak sudi berhubungan dengan wanita seperti lo" Cello berbalik badan meninggalkan tempat itu dengan mata yang merah karena menahan marah.


"Tapi sayang aku sangat mencintaimu" Norma mencoba menarik tangan Cello dan duduk berlutut untuk mendapatkan simpatinya.


"Makan aja cinta murahan lo, gue tidak butuh" mengibaskan tangannya pergi keluar dan meninggalkan kampus untuk pulang ke rumah padahal belum selesai urusan dengan sekertariat kemahasiswaan.


Keesokan harinya Cello baru menyadari merindukan sosok Aisyah gadis yang dikaguminya saat masih berhubungan dengan Norma, menghubungi Rafael menanyakan tentang Aisyah melalui vedio call.


"Halo ada apa, apakah elo masih memikirkan Norma?"


"Kagak sebaiknya mantan tetap di belakang, bro bantu gue dong?" pinta Cello dengan memelas.


"Apakah yang elo mau?".


"Mintakan nomor handphone Aisyah dong, gue kagak punya nich" dengan cengar-cengir Cello mengarahkan mukanya kepada Rafael.


"Gile lo, baru putus cinta kemarin sudah move on rupanya" celoteh Rafael nyengir kuda.


"Shifa sedang pulang ke Singapura, gue tidak punya nomor Aisyah".

__ADS_1


"Lewat pesan WA aja mintanya apa susahnya?"


Rafael mengambil nafas panjang sudah dua hari ini menghubungi dia tetapi tidak aktif handphonenya, kirim pesan WA cuma centang satu, baru dapat kabar tadi pagi subuh, mengatakan jika jaringan sedang ada masalah.


"Gue aja dari kemarin tidak bisa menghubungi dia, katanya jaringan sedang tidak bagus, baru dapat kabar tadi pagi itupun cuma kirim pesan, tidak bisa mendengarkan suaranya, elo cari aja di sekretariat kemahasiswaan"


"Oya kenapa gue tidak kepikiran kesana ya?" Cello menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Dasar... Orang kalau sedang kasmaran kenapa jadi o'on sih?".


"Yeee kayak elo tidak o'on aja, elo lebih parah dari gue tahu, sampai sekarang belum berani nembak dia"


"Gue ke kampus, gue tunggu disana, awas aja kalau elo tidak bantu gue, gue pecat lo jadi sahabat".


"Iya dasar gelok siak".


Dengan terpaksa Rafael dan Kanno pergi ke kampus, padahal mereka bertiga sudah tidak ada kegiatan perkuliahan, tinggal menunggu hasil sidang dan wisuda saja.


Di sekretariat kemahasiswaan dengan mudah Cello mendapatkan biodata Aisyah serta alamat panti asuhan dimana dia dibesarkan.


"Kita kesana dengan alasan memberikan sumbangan aja untuk anak-anak panti, hitung hitung menyelam sambil minum air" kata Rafael memberikan ide.


"Baiklah pake uang gue aja, elo berdua tidak usah" larang Cello dengan penuh antusias.


"Kenapa begitu, gue juga pingin ikut andil lah" Kanno tidak mau kalah.


"Cih dasar posesif, belum juga jadian, elo sama El sama aja, posesif tanpa adanya kata cinta, lihat aja nanti, dua duanya gue pacari kalau tidak cepat bertindak" dengan menyeringai dan senyum defil mengejek dua sahabatnya yang antik.


"Awas gue beri lo!" ancam El dengan kesal.


"Gue juga, gue pecat lo jadi sahabat kalau berani merayu calon gebetan gue" tidak kalah mengancam Kanno.


Cello dengan cepat memesan menu makan di restauran Mama Ara, membelikan peralatan sekolah untuk anak panti yang mayoritas masih SD dan SMP.


Pukul tiga sore mereka bertiga meluncur ke panti asuhan Kasih Bunda dengan harapan bertemu dengan Aisyah terutama Cello.


Disambut oleh bunda Aulia langsung menurunkan semua barang dan makanan yang sudah dibeli oleh Cello.


Sambil menurunkan barang Cello menyapu seluruh ruangan panti asuhan itu mencari sosok gadis yang di disukainya, tetapi sayangnya yang diharapkan tidak kunjung keluar.


"Ini mas mas dari organisasi mana?" tanya bunda Aulia sambil membantu menurunkan barang.


"Kami satu kampus dengan Aisyah Bu, hanya beda jurusan dan beda angkatan" jawab Cello cepat.


"Panggil bunda saja seperti Aisyah dan anak panti lainnya" perintah bunda tersenyum ramah.

__ADS_1


"Baik Bun, dibawa kemana ini Bun, kami bantu bawa kedalam" Kanno mulai mengangkat barang masuk kerumah.


"Di situ aja nak dekat meja, nanti biar Ahmad yang mencatat dan membagi rata, Ahmad bantu bunda sini nak!" teriak bunda sedikit keras sambil menengok kearah dalam.


Datang dua pemuda masih mengenakan seragam SMU berlari kecil mendekati mereka, tetapi alangkah kagetnya mereka bertiga terutama Cello melihat salah satu dari yang memakai seragam itu sangat Cello kenal.


"Adrian...?" pekik Cello kaget.


"Kak Cello, kok disini?" Adrian juga kaget melihat orang yang sangat dikenalnya.


Adrian Dwi Kurniawan adalah adik kandung Cello, putra kedua dari Mario dan Amara Khadijah yang sekarang duduk di kelas sepuluh SMU.


"Kalian saling kenal?" tanya bunda penasaran.


"Si sableng Rian ini adik kandung saya bunda, Oya perkenalkan saya Cello, itu Rafael dan satu lagi Kanno" akhirnya Cello memperkenalkan diri.


Tetapi Cello tetap saja celingak-celinguk mencari sosok gadis yang tidak ditemukannya sama sekali.


"Kakak cari siapa sih, jangan bilang kakak cari kak Ais ya?" bisik Rian ditelinga Cello.


"Iya dimana dia kok tidak muncul?" penasaran Cello ikut berbisik ditelinga Rian juga.


"Naah betulkan dugaan gue, terus siapa yang naksir kak Shifa?" tanya Rian lagi sambil menengok Rafael dan Kanno.


"Kalau Shifa itu gebetannya kak El, dimana dia ayo katakan?" bisik Cello lagi.


"Gue aduin ke bunda lo kalau kakak macam macam" ancam Rian dengan senyum menyeringai.


"Kenapa kok kalian bisik bisik?" tanya bunda saat mendekati mereka membantu mengangkat kotak makan.


"Bunda ternyata kak Cello modus, niatannya mencari Kakak Ais kesini" adu Rian kepada bunda dan mendapatkan cubitan maut dari Cello, Rian dengan cepat mengusap lengannya yang memerah.


"Tidak apa-apa Rian, tetapi maaf nak, Aisyah menemani Shifa ke Singapura" jawab bunda Aulia dengan ramah.


"Memang ada acara apa bunda kok harus ditemani?" tanya Cello lagi penasaran.


"Kemarin di panti asuhan ini nak Shifa menjadi mualaf, jadi ke Singapura ingin mengubah identitas dari non muslim menjadi beragama Islam" keterangan bunda, Rafael yang mendengar perkataan bunda jadi tersenyum manis.


"Berapa lama mereka ke Singapura Bun?" tanya Cello lagi.


"Tiga Minggu" jawab Rafael spontan dan membuat bunda Aulia dan yang lainnya kaget.


"Kok elo tahu sih?" tanya Kanno kaget.


"Eeeee keceplosan, tahulah, kemarin dia pamit ama gue" akhirnya Rafael jujur tentang Shifa.

__ADS_1


"Mereka berdua kakak kesayangan kami, awas aja kalau kak Cello dan kak El menyakiti hatinya, harus berhadapan dengan kami" kesal Rian dengan sedikit mengancam.


__ADS_2