
Shifa sering melamun setelah mendengar tanpa sengaja percakapan uncle Agus dengan asistennya, baik tentang keinginan bertemu dengan Papi ataupun tentang jabatan yang harus di laksanakan setelah lulus kuliah nanti.
Mengingat tentang aunty Ara yang di lindungi oleh agen rahasia pemerintah dan agen rahasia Eropa, Shifa langsung mencari informasi tentang agen rahasia di google dan media sosial tetapi tidak ada informasi tentang organisasi itu, apa yang harus saya lakukan Mami gumamnya dalam hati.
Satu Minggu berlalu dengan cepat, karena kesibukan dalam skripsi yang banyak menyita waktu, Shifa sengaja ijin Minggu besok tidak bisa bertemu dengan pujaan hati, yang biasanya di usahakan akan bertemu walaupun hanya sebentar.
"Sayang, apakah perlu bantuan, mengapa kita tidak bisa bertemu Minggu besok?" protes Rafael saat Shifa mengabarkan melalui pesan WA jika besok tidak bisa bertemu.
"Maaf kak El, Minggu besok saya harus bertemu dengan dosen pembimbing, tidak tahu sampai jam berapa?" tulis Shifa dalam jawabannya sedikit berbohong.
Padahal Shifa akan bertemu dengan dosen hanya satu jam saja yaitu pikul sembilan pagi, Shifa hanya ingin menyendiri, besok adalah tepat hari kebebasan Papi Thora dari penjara.
Di sinilah Shifa sekarang setelah satu jam bertemu dengan dosen pembimbing tadi, Shifa duduk di perpustakaan sampai menjelang sore, bahkan makan siang pun Shifa lewatkan, walau matanya tertuju pada buku yang ada di depannya, tetapi pikirannya bercabang menerawang jauh di Singapura, hati yang berkecamuk memikirkan bagaimana cara menolak saat nanti di paksa memimpin organisasi mafia yang akan di emban di pundaknya.
Shifa juga memikirkan bagaimana bertemu dengan aunty Ara sebelum jabatan itu di paksakan padanya, Shifa ingin meminta bantuan dan perlindungan dari aunty yang hampir empat tahun ini dicarinya, tetapi apa boleh buat, aunty tidak bisa terdeteksi bak di telan bumi.
Handphone sengaja di matikan seharian ini, sampai menjelang senja Shifa baru keluar dari perpustakaan, pikirannya hanya tertuju pada satu orang yaitu Aisyah ingin meminta pertimbangan tentang masalah pribadinya padahal sudah hampir satu Minggu terakhir ini mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri, tetapi tidak mendapatkan solusinya.
Tiba di panti asuhan Kasih Bunda Shifa langsung di sambut oleh bunda dan Aisyah, Shifa mencium punggung tangan bunda dan menyerahkan ikan dan ayam bakar yang di belinya di kedai langganan sebelum nya.
"Bun kami ke kamar dulu ya" pamit Aisyah kepada bunda Aulia.
"Tidak makan dulu nak?".
"Nanti aja Bun, adik-adik dan bunda duluan aja, kami belakangan.
Sampai di kamar dan menutup pintu, Aisyah langsung bertanya "Ada apa sebenarnya, hampir seharian ini aku menghubungi Shifa handphone tidak aktif, kak Rafael juga menanyakan terus?" Aisyah langsung memberondong pertanyaan.
Tetapi Shifa spontan memeluk Aisyah dengan tangisan yang tersedu-sedu, air mata yang menganak sungai, Aisyah hanya bisa mengusap lembut punggungnya, di peluknya dengan erat sampai beberapa saat, di tunggunya hingga hatinya tenang dan emosinya terlampiaskan.
"Menangis lah sampai hatimu lega" dengan tetap memeluknya Aisyah sesekali mengusap punggungnya dan mengatakan "Bersabarlah, pasrahkan semua kepada Allah yang maha Agung".
Setelah tenang Shifa mengendurkan pelukannya berkata lirih "Maaf, bajumu jadi basah".
"No problemo, asalkan jangan ingus menempel di bahuku" seloroh Aisyah dengan tersenyum agar Shifa ikut tersenyum.
__ADS_1
"Ais jahat ya, saya tidak jorok, tidak ada ingusnya" cabik Shifa dengan mengerucutkan bibirnya karena di ledek oleh Aisyah tetapi akhirnya berdua tertawa lepas.
"Naaah begitu, kalau tertawa tambah cantik" rayu Aisyah sambil menowel pipinya.
"Terima kasih" jawab Shifa singkat.
"Ceritakan, apa yang sebenarnya terjadi?" pinta Aisyah setelah Shifa tenang dan mulai tersenyum kembali.
Akhirnya Shifa menceritakan tentang kejadian satu Minggu yang lalu saat tidak sengaja mendengar percakapan antara uncle Agus dan asisten Ali, serta menceritakan jika hari ini Papi Thora bebas dari penjara ingin bertemu dengannya tetapi di tolaknya.
"Ais, mungkin suatu saat nanti aku tidak bisa dihubungi sampai satu Minggu lebih, berarti aku harus melaksanakan tugas yang tidak aku inginkan itu, baru ceritakan kepada kak El, untuk sementara ini tolong rahasiakan ini padanya" pesan Shifa dengan menerawang memandangi langit langit kamar Aisyah.
"Bagaimana dengan amanah Mami Fatty kalau Shifa malah menjadi ketua mafia?" kesal Aisyah karena khawatir.
"Saya akan sekuat tenaga menolaknya Ais, tetapi bagaimana hasilnya nanti saya juga belum tahu, sebelum saya menemukan aunty Ara mungkin saya akan sengaja mendekati mereka kalau perlu"
"Shifa itu sangat berbahaya, nyawa taruhannya".
"Saya tidak perduli dengan nyawa Ais, saya harus menyampaikan surat amanat dari Mami Fatty".
Shifa langsung berbinar, seperti ada harapan baru untuk menemukan aunty Ara, ada secercah harapan walaupun hanya kecil kemungkinannya tetapi apa salahnya untuk mencoba.
"Baiklah kita temui Agnes, kapan Ais?".
"Sabar dong, sekarang hubungi dulu kak El, dia sudah empat kali menelpon aku karena handphone Shifa seharian mati!".
"Baiklah saya hubungi dia sekarang".
Shifa mengaktifkan handphone kembali, baru beberapa menit di buka ada banyak sekali pesan masuk, panggilan masuk baik dari Rafael, Aisyah, uncle Agus bahkan asisten Ali juga menghubunginya.
Baru mau menulis pesan WA kepada Rafael, ternyata Rafael langsung menghubunginya dengan cepat.
"Halo my heart, where are you now?" dengan suara khawatir Rafael bertanya kepada Shifa.
"Kak El sorry, saya---?".
__ADS_1
"Dimana sekarang kamu Shifa, mengapa seharian ini tidak bisa di hubungi?".
"Saya di panti asuhan kak, jangan risau, maaf tadi handphone baterai kosong, lupa tidak bawa power Bank, I am ok, don't worry".
"Aku kesana sekarang, don't go, wait for me" suara handphone langsung mati padahal Shifa masih ingin berbicara dengan Rafael.
"Bagaimana Shifa?" tanya Aisyah setelah suara handphone itu terputus.
"Kak El mau kesini" jawabnya singkat.
Aisyah hanya tersenyum, hampir seharian ini Rafael selalu menghubungi baik menelepon ataupun mengirim pesan untuk menanyakan keberadaan Shifa.
"Dia sangat khawatir seharian ini dia tidak bisa menghubungi Shifa, wajar aja sekarang langsung kesini, ayo makan dulu".
Akhirnya sambil menunggu Rafael datang Shifa dan Aisyah makan malam berdua, sedangkan bunda dan penghuni panti asuhan sudah selesai makan malam bersama.
Selesai makan malam, Shifa dan Aisyah menunggu Rafael duduk di teras rumah sambil berbincang, tetapi tidak di sangka yang datang tidak cuma Rafael aja, Cello, Kanno dan Agnes juga ikut bersama Rafael dengan membawa martabak manis untuk keluarga besar Panti.
Rafael langsung berlari mendekati Shifa yang berdiri mematung melihat kedatangan mereka, memeluknya dengan erat.
"Don't make me worry please" ucap Rafael dengan suara bergetar.
"Yeee, dasar modus, nyosor kayak bebek aja lo, baru tidak ketemu seminggu aja" cicit Kanno dengan memukul pundak Rafael yang sedang memeluk erat tubuh Shifa.
"Kakak El malu iih, I am ok, don't worry" Shifa mendorong tubuh Rafael dengan sekuat tenaga.
Bercengkerama dengan hangat bersama seluruh keluarga besar Panti asuhan sambil menikmati martabak manis, Shifa sesekali membaca pesan WA dari uncle Agus.
"Shifa, Papi menunggu mu pulang nak, dia masih ingin bertemu dengan Shifa, pulanglah sekejap" tulis pesan WA uncle Agus dan di tambah sebuah foto Papi Thora dengan mengenakan pakaian setelan jas warna hitam.
Di pandangi lekat-lekat foto wajah Papi Thora yang tampak berbeda penampilan dia saat ini dengan penampilan dua tahun lalu yang menggunakan seragam tahanan saat Shifa menemuinya.
Hati terasa teriris sembilu, mengingat Mami Fatty, amanahnya belum semua di laksanakan, sekarang harus menghadapi masalah dengan Papi Thora dan anak buahnya.
Mami, apa yang harus saya lakukan, saya tidak mau menggantikan posisi Papi, saya ingin bertemu dengan Mami, daya merindukan Mami gumamnya sendiri dalam hati, ingin rasanya menangis dalam pelukan kekasih hati tetapi hanya dipendamnya sendiri,
__ADS_1