
Hari ini saat jam besuk tiba, seperti biasa Ani Marsiti bertemu dengan komandan Conan dan Rafael, komandan Conan mengisi buku tamu hanya bertemu Ani Marsiti tetapi Rafael mengisi buku tamu untuk bertemu dengan Ani Marsiti dan Shifa masalah dia mau bertemu atau tidak itu tidak penting karena Rafael sudah merasa tenang karena setiap hari mendapatkan informasi dari senior Ani Marsiti
"Ani buatlah keributan yang besar dengan napi yang lain usahakan Shifa yang mendapatkan hukumannya nanti" perintah komandan Conan memberikan perintah kepada Ani Marsiti.
Ani Marsiti langsung mengerutkan keningnya, berpikir sejenak setelah mengingat ketua geng lapas kemarin dia ingin membuat keributan dengan dia.
"Seberapa besar komandan keributan yang harus saya lakukan?".
"Sebesar mungkin, satu lagi isyu-kan setelah kejadian itu Shifa akan di pindahkan ke Palas Nusa Kambangan" lagi komandan Conan memberikan penjelasan.
"Mengapa harus Nusa Kambangan komandan?" tanya Ani Marsiti kemudian.
"Nusa Kambangan adalah lapas yang berada di sebuah pulau kecil daerah Cilacap Jawa tengah, disana penjagaannya ketat, tidak sembarang orang bisa menembus pulau itu hanya dengan ijin khusus jika ingin berkunjung disana, jadi saya berharap orang orang Agus Martono tidak bisa mengusik Shifa lagi nantinya"
"Berarti nanti saat Shifa dipindahkan ke Nusa Kambangan kita akan merencanakan hal yang tidak diketahui oleh orang Agus Martono" Rafael ikut menyusun rencana untuk besok.
"Ya seperti rencana awal kita, hey lihatlah bukankah itu orangnya Agus Martono yang siapa yang dia temui itu? tanya komandan Conan sambil melirik wanita itu yang sedang memeluk anak kecil dengan erat.
"Saya juga kurang faham komandan mungkin dia putrinya, oya komandan berikan aku waktu sedikit lagi agar bisa membuat keributan, aku akan menyelidiki target yang akan aku jadikan korban nanti" jawab Ani Marsiti.
"Baiklah" jawab komandan Conan singkat.
"Tapi senior kalau bisa jangan lama-lama ya" pinta Rafael dengan tatapan sendu.
"Iya El pasti itu, jangan khawatir dengan dia, aku akan menjaganya dengan segenap jiwa ragaku" janji Ani Marsiti dengan sepenuh hati.
Sepulangnya komandan Conan dan Rafael pulang, Ani Marsiti hanya termenung memikirkan bagaimana cara membuat keributan yang besar tetapi Shifa yang harus mendapatkan imbasnya, berarti aku harus pura-pura tidak berdaya dan Shifa yang akan menghajar korban gumamnya dalam hati.
"Mbak Ani ada apa kok tumben dari tadi diam saja?" tanya Shifa saat melihat Mbak Ani diam dengan pandangan mata yang kosong.
Karena Ani Marsiti bingung harus menjawab apa, dari tadi melamun memikirkan bagaimana cara membuat keributan menjawab sekenanya saja pertanyaan Shifa.
"Aku lagi mikirin kamu Shifa".
"Kok aku yang dipikirkan, emang ada apa denganku?".
__ADS_1
"Heran aja sama kamu, tadi aku melihat seseorang meneteskan air matanya gara-gara ingin bertemu dengan kamu tapi kamu nya tetap tidak mau menemuinya".
Sekarang gantian Shifa yang melamun, apakah uncle Agus berani mencari saya kesini, ingin membebaskan saya di lapas ini, tapi tidak mungkin aaah tidak mungkin gerutu Shifa tetapi tidak di dengar oleh Ani Marsiti.
Hari Jum'at pagi adalah saatnya para penghuni lapas wanita melaksanakan senam dan di lanjutkan kerjabakti untuk membersihkan lingkungan lapas, saat senam Ani Marsiti berjajar disamping Shifa, mengikuti instruktur senam bergerak, satu jam selesai senam semua napi mendapatkan satu gelas bubur kacang hijau, Ani Marsiti sengaja berdiri di belakang geng lapas ingin mencari celah bagaimana cara bisa membuat onar dengan mereka.
Semakin antrian memanjang saat mengambil bubur kacang hijau itu, semakin lama semakin meringsek maju dan mendorong yang ada didepannya, kebetulan Ani Marsiti tepat menerima bubur kacang hijau panas itu terdorong dari belakang dengan sengaja Ani memajukan badannya pura-pura terdorong dari belakang dan di tumpahkan bubur itu di badan bagian perutnya ketua geng lapas yang sering dipanggil Teteh.
"Aaaaargh....panas,...panas....breng sek lo" teriaknya si Teteh dengan mengusap perutnya yang terkena panas.
"Apa yang kamu lakukan hah?" teriak salah satu anak buah Teteh dengan menatap nanar kearah Ani Marsiti.
"Maaf Teteh, aku tidak sengaja, tadi aku di dorong dari belakang" pura-pura Ani Marsiti takut dan menundukkan kepalanya.
"Gue balas lo, membuat perut gue melepuh dan terasa panas" geram teteh mendekati Ani Marsiti dengan memegang satu gelas bubur kacang hijau yang masih panas.
Saat si Teteh mendekati Ani Marsiti pura-pura takut dan menundukkan badannya tetapi kakinya bergerak menendang kaki meja tempat gelas kosong dengan gerakan yang tak terlihat.
"Street kreeeek bruuuaaak" meja tergeser pura-pura Ani Marsiti terjatuh ke samping karena terkena pojok meja, sedangkan kaki meja itu terpental mengenai kaki si Teteh dan bubur kacang hijau itu tumpah mengenai sebagian muka si Teteh dan satu sebagian lagi mengenai anak buah Teteh.
"Aaaargh panas, panas elo cari masalah sama gue ya sialan, apa sih mau lo?" cabik si Teteh mengusap pipinya yang sudah memerah karena panas.
Datang petugas lapas berlari mencari datangnya keributan, para petugas lapas itu tampak marah karena meja yang ada sudah berserakan dan gelas kosong tergeletak berhamburan di lantai.
"Ada apa ini, mengapa ribut-ribut?" tanya petugas lapas.
"Ini Pak, wanita ini menumpahkan bubur kacang hijau ke perut dan muka, sekarang jadi merah dan melepuh" lapor Teteh dengan kesal.
"Sudah jangan di perpanjang, sana yang terkena panas langsung ke klinik, jangan hanya membuat keributan" bentak petugas lapas wanita.
Dengan kesal Teteh melangkah meninggalkan tempat itu tetapi sambil melotot tajam kearah Ani Marsiti "Awas lo"
"Kali ini elo selamat tetapi awas besok lo gue patahkan kaki lo" ancam salah satu anak buah Teteh.
Ani Marsiti hanya pura-pura menunduk dan memegangi sikunya, saat terjatuh tadi tidak sengaja sikunya terkena batu bata yang ada di bawah meja dan ada sedikit lecet.
__ADS_1
Shifa yang dari tadi berada di kamar mandi ada salah satu napi wanita yang bercerita jika Ani Marsiti terkena masalah dengan ketua geng lapas.
Bergegas Shifa berlari mendekati arah tempat Ani Marsiti sedang meringis kesakitan memegangi sikunya memar dan terluka.
"Mbak Ani ada apa, kenapa sikunya terluka begini?" tanya Shifa khawatir.
"Shifa aku takut, aku diancam oleh mereka" cabik Ani Marsiti seolah dia yang teraniaya.
"Ya sudah ayo kita ke klinik diobati sikunya, takutnya infeksi lukanya" ajak Shifa sambil membantu Ani Marsiti berdiri.
"Tidak Shifa tidak usah, mereka ada di klinik, aku takut, nanti juga kering sendiri".
Ani Marsiti tersenyum dalam hati ini baru awalnya saja, baru percikan api kecil, besok akan lebih besar lagi Teteh yang belagu dan sombong.
Saat makan siang Ani Marsiti sengaja mengikuti Shifa ke taman bacaan, tidak ikut mengantri mengambil makan siang, hanya ingin menciptakan agar semakin Shifa menganggap jika dirinya lemah dan takut dengan ketua geng lapas.
Awalnya Shifa tidak memperhatikan sekelilingnya saat sedang asyik membaca buku sampai ada suara batuk Ani Marsiti yang berada di belakangnya.
"Uhuk...uhuk...uhuk".
"Mbak Ani kok tidak ikut ngantri ambil makan siang?" tanya Shifa sambil menoleh kearah belakang.
"Eee ketahuan, gara-gara batuk, aku takut Shifa" jawab Ani Marsiti cengar-cengir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
"Takut dengan siapa mbak?"
"Takut sama geng lapas itu, tadi mereka mengancam aku mau mematahkan kakiku" cerita Ani Marsiti dengan raut wajah yang takut kepada mereka.
Shifa hanya menarik nafas panjang, melihat Mbak Ani begitu takut dengan anggota dan ketua geng lapas terkenal arogan dan suka semaunya sendiri.
"Tenang aja mbak Ani, saya yang akan melindungi mbak dari mereka, apa sekarang mau antri mengambil makanan, biar saya antar?".
"Tidak usah Shifa, aku juga tidak lapar kok, nanti saat makan malam aja kamu jangan jauh dari aku ya, aku takut".
"Tenang aja mbak saya yang akan selalu melindungi mbak Ani dari geng lapas itu" ucap Shifa meyakinkan agar mbak Ani tidak merasa ketakutan.
__ADS_1
Ani Marsiti menatap Shifa dengan tatapan penuh harap seolah olah memang dia merasa takut, merasa tidak ada yang mendukungnya dan merasa terancam agar semakin Shifa mau melindungi keselamatan dan akan membuat rencanannya berhasil sesuai dengan rencana awal komandan Conan dan Rafael, semoga ini cepat selesai Aamiin gumamnya sendiri.