Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
13. Kita Hadapi Berdua


__ADS_3

Hari ini tepat dua Minggu sebelum liburan semester tiba, Shifa sudah membeli tiket berdua ke Singapura, mengabarkan kepada uncle Agus akan liburan selama dua Minggu bersama sahabatnya Aisyah.


Dan hari ini juga sidang pertama Rafael dalam pengajuan skripsi yang sudah disusunnya selama tiga bulan terakhir ini, diam diam Shifa menghadiri sidang itu tepatnya duduk di bangku belakang paling pojok dan tidak lupa menggunakan masker, dan wig rambut berwarna pirang sebahu, seperti biasa hanya Aisyah yang mengetahui kegundahan Shifa.


"Apakah segitu susahnya untuk melupakan pujaan hati?" Aisyah ikut duduk di samping Shifa yang terpaku memandangi Rafael yang sedang melakukan presentasi dengan fokus didepan dosen.


"Ais, membuat jantung saya mau lepas dari tempatnya" cabik Shifa kaget dengan memegangi dadanya.


"Ayo kita keluar, sebentar lagi si dia selesai, nanti malah ketahuan, mau dikemanakan itu muka" Aisyah menarik Shifa keluar dari ruangan itu dengan sedikit menunduk agar tidak diketahui oleh Rafael dan kedua sahabatnya.


Setelah selesai sidang El, Kanno dan Cello nongkrong di kantor sekretariat, melepas lelah seakan hampir berlari berkilo-kilo meter karena ketegangan sidang skripsi yang baru pertama kali di lakukannya, padahal berbagai macam ketegangan pernah dialaminya saat menjadi anggota agen rahasia tetapi saat sidang tidak dipungkiri ada rasa tegang dan nerfes disana.


"Apakah El tidak melihat tadi ada Aisyah yang duduk di bangku paling belakang, saat elo ada didepan?" tanya Kanno memiringkan kepalanya El yang melamun.


"Apa hubungannya Aisyah sama gue?" jawab Rafael singkat.


"Dodol lo, biasanya dimana ada Aisyah disitu juga ada cewek yang elo pandangi dari kejauhan selama ini" Cello ikut juga memprofokasi agar El jadi bisa menyadari tentang perasaannya.


"Emang tadi disana ada dia?" tanya Rafael penasaran dengan hati yang berdegup kencang.


"Sepertinya yang memakai masker tadi adalah dia" seloroh Kanno dengan yakin.


Rafael malah melamun dan mengerutkan keningnya mengingat ingat siapa saja yang ada di ruang sidang tadi pagi, Shifa memiliki rambut hitam dan panjang, tetapi seingat Rafael yang duduk di bangku belakang tadi rambutnya pirang sebahu, apakah dia merubah penampilannya hanya sekedar ingin menghadiri sidang tadi, atau sebenarnya dia juga menyimpan rasa.


"Hoi..... El...malah melamun, kalau memang suka, Pepet sana, nanti kalau di tikung orang baru nyahok lo" ledek Kanno tanpa filter ngomongnya.


"Diam lo, gue lagi galau berat nich" Rafael kembali mengingat orang yang pernah merangkul pinggang Shifa saat akan naik di lift apartemen Wika City beberapa bulan lalu.


Sidang skripsi Rafael dan kedua sahabatnya berlangsung sampai tiga pertemuan, dan setiap sidang itu ada Aisyah dan Shifa yang memakai wig sebahu dan memakai masker, baru Rafael mulai merasakan jika dia juga memiliki perasaan yang sama tetapi sama sama memiliki ego yang tinggi.


Hari Minggu pagi Rafael sedang lari pagi di car-free day di jalan raya ibukota ada notifikasi pesan WA masuk dengan nada khusus dari agen rahasia.


"Siapa saja yang ada diposisi daerah car-free day, ada seorang gadis berambut pirang sebahu yang sedang dikejar oleh anggota geng narkoba, dia berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba dalam jumlah besar, posisi di gang KH berada di belakang gedung IH" tulis pesan yang masuk ke handphone Rafael.


Tanpa menunggu lama Rafael yang ada di daerah sekitar TKP langsung menjawab


"Rafael ada di TKP siap meluncur dan menyelamatkan target".


Berlari kencang kearah alamat sesuai petunjuk, mendekati seorang gadis yang berlari kencang datang kearahnya dan sesekali melihat kebelakang ada sekitar delapan orang yang mengejar gadis itu dengan menggunakan senjata rakitan.


Gadis itu mengenakan celana jeans hitam, kaos hitam, masker kaca mata, topi dan rambut pirang sebahu serta menegang senjata otomatis juga berada di tangannya, Rafael yang menyadari gadis itu memiliki kemampuan lari yang cepat, memegang senjata dan anehnya siluet tubuh yang tidak asing di matanya, Rafael mengurungkan niatnya untuk mengeluarkan senjata otomatis yang ada di balik kaos olahraganya.

__ADS_1


Saat berpapasan Rafael menarik gadis itu berlindung di balik countener yang berada di pinggir jalan raya.


"Apakah kau baik-baik saja?" Rafael menarik lengan dan spontan memeluknya saat gadis itu bersandar di countener.


"Kakak El, andakah itu?" Shifa memanggil nama Rafael dengan suara bergetar.


"Yes Shifa, are you ok?" tanya Rafael dengan menatap wajahnya dengan posisi wajah yang berdekatan.


"Hhmm, apakah mereka sudah dekat kak?"


Rafael sedikit melamun siapa sebenarnya gadis ini, mengapa bisa memiliki senjata otomatis yang sangat canggih.


"Pertanyaan kakak nanti saja saya jawab, kita hadapi dulu orang yang mengejar saya" ucap Shifa menyadarkan lamunan Rafael.


"Kamu tahu apa yang saya pikirkan?".


"Nanti saja kak jawabnya".


"Doooor..."


Ada suara tembakan dari arah samping countener yang mengenai dinding countener dekat Shifa dan Rafael berdiri.


"Baiklah kita hadapi berdua" jawab Rafael sambil mengintip mengawasi gerak-gerik musuh yang berada sekitar 5 meter dan berlindung di balik mobil yang terparkir dan pos kamling samping mobil.


Ada kayu kecil bekas pagar taman yang tergeletak dibawah kaki Rafael ujungnya sedikit runcing, diambilnya dan di lemparkan kearah salah satu laki-laki yang tadi melepaskan tembakan, kayu itu melesat tepat di betis.


"Jleeep.....aduh kakiku aaaargh, baj*ng*n" teriak laki-laki itu menjatuhkan senjatanya menunduk menarik kayu yang tertancap dengan berteriak "Aaaduuuuh ssstttt".


"Tumbang satu, yes" Rafael menyeringai puas.


"Wuuuih kakak El keren" puji Shifa dengan kagum.


"Dimana lagi yang bisa kita lumpuhkan duluan?" tanya Rafael sambil mengintip lawan yang masih sembunyi.


"Itu kak terlihat bahunya ada disamping pos kamling" setelah Shifa mengintip musuh.


"Baiklah sebentar" Rafael mengambil batu yang lumayan besar, diayunkan seperti sedang lempar lembing, dengan cepat batu itu melayang kearah tengkuk dan tepat sesuai sasaran.


"Aaauuuw.... bruuk" spontan satu lagi kaki-laki itu tumbang tanpa mengeluarkan darah pingsan seketika.


Bersamaan dengan aksi Rafael melempar dengan batu, Shifa menembak dua laki-laki yang berada di samping laki-laki yang tumbang tepat mengenai senjata rakitan yang dipegangnya.

__ADS_1


"Dooor".


"Dooor"


Pistol itu jatuh tergeletak dilantai dengan teriakan kedua laki-laki itu menggema.


"Aaaaah sial, br*ng*ek" pekik dua orang laki-laki yang tangannya terasa panas karena pistolnya tertembak dan pistol itu jatuh tergeletak di tanah.


"Kurang berapa orang lagi?" tanya Rafael berbisik disamping Shifa.


"Tinggal empat orang kak".


"Sebelah mana posisinya?".


"Tidak terlihat, apa yang harus kita lakukan?".


Rafael menengok kearah kanan dan kiri mengawasi daerah sekitar, melihat ada warung kaki lima yang sudah tutup berjarak sekitar lima belas meter dari posisi mereka bersembunyi di samping countener.


"Kita pancing mereka keluar, sebentar" Rafael mengambil dua batu yang lumayan besar digenggamnya dan tangan kiri dan kanan.


"Caranya gimana kak?".


"Kamu lihat warung kaki lima yang tutup itu, kita lari kesana, tetapi hati hati masih ada empat orang laki-laki yang memegang senjata, sebisa mungkin kamu tembak dua orang, dan aku akan melempar batu pada dua orang juga, faham" diikuti anggukkan kepala Rafael dan Shifa mengambil ancang-ancang.


"Satu ....dua....tiga....go!" teriak Rafael.


Berlari beriringan dengan sekencang kencangnya sekitar tiga meter, dan berbalik badan setelah ada enam orang mengikuti mereka, empat orang laki-laki bersenjata dan dua orang dengan tangan kosong.


"Doooor..."


"Doooor..."


Shifa menembak yang satu terkena paha kaki sebelah kanan, dan satu lagi terkena ujung pistol rakitan dan pistol terpenting ke sebelah kanan laki-laki itu diikuti teriakan kesakitan mereka, bersamaan Shifa menembak tangan ajaib Rafael melempar dua batu dengan tangan kanan dengan cepat.


"Wuuuuus..."


"Wuuuuus...".


Tepat mengenai senjata rakitan dua orang laki-laki lainnya yang berada di belakang mereka.


"Aaauuuw..."

__ADS_1


"Br*ngs*k......bang sat" sumpah serapah orang yang mengejar Shifa dan Rafael dengan suara kesal.


__ADS_2