Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
35. Menyelamatkan Shifa


__ADS_3

"Oh no, kak CL ku, no...no...kak CL" teriak Shifa dengan keras tanpa memperdulikan keadaan sekitar Shifa langsung mengejar cincin yang menggelinding ke jurang.


"Shifa....... Shifa...." ada suara yang tidak jauh dari sana memanggil namanya.


Mereka dari kejauhan memanggil nama Shifa, mereka adalah agen rahasia pemerintah sekitar enam orang diantaranya ada Rafael, Kanno dan Cello berlari mendekati Shifa saat bertarung melawan dua orang laki-laki itu posisi rombongan masih sedikit jauh.


Suara yang terdengar memanggil dari kejauhan seperti suara Rafael dan kak Cello gumam Shifa dalam hati, tetapi kakinya tetap saja berjalan mengikuti arah menggelindingnya cincin perak ke dalam jurang walaupun jurang itu dalam, sampai Shifa bisa menangkap cincin dengan cepat tetapi naas kepalanya terbentur batu dan kakinya terkena batang kayu dan tangannya tersangkut dahan yang tajam.


Flashback on.


Agen rahasia pemerintah dan kepolisian setempat sedang mengejar dua orang laki-laki berkulit hitam yang berasal Papua keturunan Afrika yang telah menembak salah satu agen rahasia pemerintah Indonesia di Thailand.


Saat di Thailand hampir satu Minggu mereka mencari dua orang laki-laki itu, hampir mencari seperti mencari jarum di tumpukan jerami, semua agen rahasia di kerahkan untuk mencari keberadaan dua orang laki-laki itu termasuk Rafael, Kanno dan Cello juga ikut di libatkan untuk mencari mereka.


Kemampuan ketiga sahabat itu sangatlah mumpuni, dengan kolaborasi mereka, lambat tapi pasti mereka bisa menemukannya, memang kerja keras tidak akan mengkhianati hasil, dapat menemukan mereka dan bahkan bisa menyelipkan atau menempelkan alat penyadap yang di tempelkan pada kulit tengkuk salah satu laki-laki berkulit hitam, bahkan alat penyadap itu terkena air sekalipun tidak akan bisa mati.


Sampai mereka melarikan diri menggunakan pesawat komersial menuju Aceh agen rahasia pemerintah masih bisa melacaknya dengan cepat, melakukan perjalanan sampai empat jam kearah dimana Shifa berada agen rahasia pemerintah terus mengejarnya.


Terutama mata elang Rafael yang bisa melihat sosok siluet Shifa sedang bertarung dengan orang yang di kejar nya membuat Rafael kaget dan sedikit syok.


"Cello itu sepertinya Shifa, atau mata gue yang salah lihat?" tanya Rafael sambil tetap berlari mendekati Shifa yang sedang berkelahi dengan dua orang laki-laki berkulit hitam.


"Ngawur, Shifa ada di Singapura, mata elo aja kali yang siwer" cabik Cello mengikuti Rafael berlari di belakangnya.


"Palingan elu kangen sampai setiap wanita yang elo lihat jadi seperti Shifa" Kanno jika menimpali nya.


"Betul bro itu Shifa sumpah" Rafael masih kekeh dengan pendiriannya.


Karena yang dia tahu Shifa ada di Singapura bukan di Aceh apalagi di daerah perbukitan yang terpencil, ada apa dan mengapa bisa Shifa berada di daerah ini gumam Rafael tetap berlari mendekati kekasih hati yang hampir sepuluh hari ini tidak ditemuinya tetapi Rafael semakin yakin setelah semakin dekat dan lebih kaget lagi saat Shifa berteriak memanggil kak CL.


Flashback off.


Saat Shifa berteriak memanggil nama CL, ingatan Cello, Rafael dan Kanno menerawang ke masa saat mereka di culik oleh kakek dan pamannya sendiri dan mengejarnya sampai Singapura.

__ADS_1


"Cello jangan jangan dia---?" teriak Rafael sambil tetap berlari menukik tajam kearah jurang.


"Adik gue" sambung Cello ikut berlari mengejar Shifa yang terjun ke jurang yang dalamnya sekitar sepuluh meter.


Tanpa memperdulikan keadaan dan dalamnya jurang Rafael dan Cello tetap berlari mencari keberadaan Shifa yang menggelinding entah dimana.


Sedangkan di atas sebagian agen rahasia termasuk Kanno berhasil meringkus dua orang laki-laki yang dikejarnya tadi.


Bahkan agen rahasia pemerintah dan pihak kepolisian tanpa sengaja berhasil meringkus anak buah uncle Agus yang berada di area itu dan menyita seluruh barang bukti narkoba yang luasnya sekitar dua hektar, sayangnya uncle Agus dan salah satu orang kepercayaan nya berhasil melarikan diri sesaat sebelum pihak kepolisian menangkap mereka, meninggalkan Shifa begitu saja tanpa di ketahui keberadaan dimana Shifa sekarang.


Di dalam jurang Rafael sudah seperti orang kesetanan mencari dan memanggil nama Shifa sampai suaranya hampir habis.


"Shifa.... Shifa"


"Shifa...where are you?" teriak Rafael.


"Shifa ini kakak CL mu, aku kak CL mu, Shifa dimana?" Cello juga teriak dengan sangat khawatir.


Hampir seperempat jam keduanya menyusuri jurang itu sejengkal demi sejengkal sampai Cello melihat sosok tubuh yang tergeletak di bawah pohon yang roboh dan ada sedikit rongga jarak antara pohon dan batang kayu.


Berlari dengan kecepatan tinggi Rafael mencari keberadaan Cello yang sedang duduk di samping Shifa yang pingsan sedikit tertutup kayu dan dedaunan.


Tangan Shifa menggenggam erat, tetapi matanya terpejam dahinya memar di kepala bagian belakang merembes darah segar membasahi rambutnya, kaki kanannya bengkak dan lengan kirinya robek dan mengeluarkan darah.


"Shifa bangun lah, Shifa honey" Rafael menangkup pipinya dan memeluknya perlahan.


Cello membuka tangan Shifa yang menggenggam erat, ternyata ada cincin perak yang bertuliskan CL.


"El lihat ini demi cincin ini, dia merelakan nyawanya hampir melayang, dasar adikku yang nakal" celoteh Cello sedikit kesal.


"Kita selamatkan dia dulu ayo!" Cello ingin menggendong Shifa dengan memegangi tangannya.


"Ngawur, kalau lehernya cidera apakah tidak berbahaya jika di gendong bridal, seandainya di gendong bridal aku yang seharusnya menggendong dia bukan elo"

__ADS_1


"Yee tidak usah posesif, gue pecat jadi adik ipar gue nyahok lo" teriak Cello dengan suara mengejek.


"Gue yang akan pecat elo menjadi kakak ipar, seandainya terjadi apa-apa dengan Shifa" Rafael tidak mau kalah.


"Sudahlah apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Cello dengan gugup.


Dari posisi Shifa tergeletak ada banyak berserakan Rafael mempunyai ide untuk membuat sesuatu yang bisa untuk mengangkat Shifa keatas.


"Kita buat tandu saja, kamu cari ilalang untuk mengikat tandu, aku mengumpulkan kayunya".


"Ok ide bagus"


Dengan cepat Rafael dan Cello merakit sebuah tandu dari kayu yang berada di sekitar mereka dan rumput ilalang sebagai mengikat tandu.


Setelah selesai membuat tandu, Shifa di baringkan perlahan, sudah hampir satu jam Rafael dan Cello berada di dalam jurang itu, selama itu pula mereka selalu berkomunikasi dengan Kanno yang ada diatas.


Kanno dan anggota kepolisian mempersiapkan keperluan yang di perlukan, bahkan sudah mendatangkan mobil cocok untuk daerah pegunungan milik kepolisian yang sudah standby membawa Shifa ke rumah sakit, mereka tidak sempat menyediakan ambulance karena memang medan yang tidak mendukung.


Membawa Shifa dengan tandu keatas tidak tidak perkara mudah, jurang yang terjal pepohonan yang menjulang dan besar itu salah satu rintangan yang harus di perhitungkan, akhirnya kepolisian membawa


tali tambang dilemparkan ke arah jurang.


Tandu Shifa di ikat dengan tambang, Rafael dan Cello tetap mengangkat Shifa dengan hati-hati sementara anggota kepolisian dan agen rahasia menarik sedikit demi sedikit dari atas, hampir satu jam berjuang Shifa akhirnya sampai juga di atas, walaupun kaki terluka tidak dipedulikan oleh keduanya, tetapi sayangnya sampai sekarang Shifa belum juga sadar dari pingsannya.


Di masukkan ke dalam mobil langsung beserta tandu, Cello dan Rafael ikut masuk mobil dengan cepat, diikuti oleh Kanno, salah satu polisi langsung melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi, menabrak apapun yang ada di depannya, melewati jalan setapak melewati jalan aspal dan jalan setapak lagi, terus melaju mobil itu tanpa memperdulikan keadaan sekitar.


Hampir satu jam melewati jalan yang berliku, tiba mobil di sebuah klinik kecil di tengah desa, belum berhenti sempurna Rafael sudah meloncat dari mobil setelah membuka pintu mobil dengan cepat.


"Ayo bangun honey, bangunlah demi aku dan kak CL mu!" pinta Rafael sambil mengangkat tandu dibawa masuk kedalam klinik.


Sampai didalam klinik di letakkan di brankar tempat tidur klinik, dengan cepat dokter jaga memeriksa dengan teliti, dipasang jarum infus di tangan kirinya.


Setelah komandan Conan juga tiba di klinik itu langsung menarik Rafael dan Cello diikuti oleh Kanno.

__ADS_1


"Apakah kalian tahu siapa gadis itu, saya mendapatkan informasi jika gadis itu adalah ketua mafia se-Asia tenggara saat ini" kata komandan Conan dengan tegas.


"Haaa, ketua mafia se-Asia tenggara?" mereka bertiga hampir bersamaan kaget.


__ADS_2