Merajut Asa Bersama Putri Mafia

Merajut Asa Bersama Putri Mafia
86. Pernikahan Kanno dan Kepergian Papi Thora.


__ADS_3

Hari Sabtu dan Minggu adalah hari bersejarah bagi Kanno dan Agnes, seperti tradisi keluarga Daddy Rendi yang selalu mengadakan acara dengan sangat meriah, bahkan sudah mulai hari Kamis kemarin kediaman keluarga Agnes sudah di hias dengan indah di ruang keluarga ada dekorasi untuk akad nikah dan pelaminan kecil, di kamar Kanno juga sudah di hias dengan indah kamar pengantin senada dengan pelaminan dan tempat akad nikah.


Agnes sebagai anggota militer harus melakukan proses pernikahan sesuai standar peraturan pemerintah, jadi pagi hari pukul sembilan pagi acara akad nikah sesuai agama, sedangkan pukul satu siang akan diadakan prosesi pernikahan militer.


Akad nikah juga diadakan dengan sangat meriah, bahkan mas kawin juga sangat fantastis, yaitu seperangkat perhiasan emas sesuai dengan tanggal dan bulan saat mereka menikah.


Hari Minggu nya acara resepsi diadakan di hotel bintang lima terbesar milik keluarga Daddy Rendi dari pukul sepuluh pagi sampai sepuluh malam hanya beristirahat saat senja tiba, tamu undangan yang di sebar juga tidak kalah menghebohkan, dari para relasi bisnis, kolega, teman, Keluarga, keluarga besar Uncle Mahfud dari Brunei Darussalam, artis ibukota, anggota agen rahasia pemerintah, pegawai pemerintahan, walikota dan menteri pertahanan dan keamanan juga hadir dalam pernikahan Kanno dan Agnes.


Karena banyaknya undangan sehingga penjagaan tidak terlalu ketat, dengan mudah anak buah Agus Martono bisa menyusup di acara resepsi pernikahan dengan menyamar sebagai pegawai ketering, mengawasi gerak-gerik Shifa dan Rafael, Shifa tetap menggunakan penyamaran seperti biasa, softlens biru, kacamata, masker juga tidak lepas dari wajahnya.


Sedangkan Papi Thora hanya mengandalkan insting saja tidak mungkin Agus Martono akan bertindak saat acara resepsi pernikahan pasti akan beresiko tinggi, dengan bekal mobil sewaan dan teropong mengawasi Rafael dan Shifa dari parkiran saja yang bisa di lakukannya.


Sampai acara selesai pukul sepuluh malam dan tamu sudah pulang, tinggal Keluarga besar yang masih ada disana, Kanno dan Agnes malam ini juga akan langsung terbang ke Eropa untuk honeymoon dengan diantar oleh kedua sahabatnya beserta pasangan masing-masing.


Saat berangkat mengantar Kanno dan Agnes sampai bandara internasional Soekarno Hatta semua lancar dan tidak ada kendala, tidak ada yang mengikuti, pulang dari bandara mengantar Cello dan Aisyah pulang juga aman aman saja.


Papi Thora tidak mengikuti mobil Rafael saat berangkat mengantar ke bandara, tetapi mobil itu mengikuti Agus Martono dan anak buahnya dari hotel bintang lima tempat Kanno mengadakan acara resepsi pernikahan sampai di jalan sepi antara rumah Papa Mario dan rumah Papi Faro.


Anak buah Agus Martono bergabung dengan bosnya yaitu Agus Martono mempersiapkan dengan matang rencana yang mereka susun dari satu Minggu sebelum acara resepsi pernikahan Kanno, Papi Thora hanya memperhatikan dari jauh menggunakan teropong saja, setelah persiapan selesai persiapannya anak buah Agus Martono meninggalkan tempat tersebut hanya ada Agus Martono sendirian di lantai tiga sebuah ruko yang kebetulan sudah tutup.


Saat Rafael melewati jalan yang lengang karena waktu memang hampir tengah malam tiba-tiba ban mobil Rafael kempes terkena paku yang menang sengaja di sebarkan oleh anak buah dari Agus Martono.


"Honey sepertinya ban mobilnya kempes, aku cek dulu ya".


Rafael menghentikan mobilnya di pinggir jalan, memeriksa ternyata ban depan mobilnya terkena tiga paku sekaligus, masih ada satu dua mobil lewat dalam jalan raya, dan ada juga motor yang lewat dalam kecepatan tinggi.


Karena hampir lima menit Rafael tidak masuk ke dalam mobil, Shifa ikut turun dari mobil dan mendekati suaminya.


"Ada sayang, apakah ban mobilnya kempes, ada ban serepnya kan?".


"Honey kenapa turun, sana masuk lagi aku ganti ban sebentar, ada kok ban serep nya".


"Biar cepat selesai aku bantu aja kak".

__ADS_1


Saat Rafael dan Shifa berdiri bersebelahan menghadap ban mobil depan yang kempes, Agus Martono mulai membidik punggung Shifa menggunakan senapan laras panjang dengan peredam suara, tetapi Papi Thora yang dari tadi memperhatikan koordinat posisi Agus Martono yang ada di lantai tiga ruko, berjalan mendekati Shifa dan Rafael dari posisi depan mobil Rafael sehingga tidak terlalu terlihat oleh Agus Martono dari atas, secepat kilat Papi Thora mendorong posisi berdirinya Shifa dengan spontan dia ikut maju tepat posisi Shifa berdiri tadi bersamaan peluru melesat tepat di dada atas Papi Thor.


"Zeeeep!!" suara peluru menembus dada.


"Aaaah....!" Papi Thora memegangi pundaknya yang mulai keluar darah segar merembes dari tangan kirinya.


"Jaya, Rafael, aku tahu siapa kalian sebenarnya, posisi tersangka ada di jarum jam 10, koordinat 20° dan 12° lantai tiga ruko, tolong arahkan tangan ku disana?" ucap Papi Thora dengan suara lirih menahan sakit, tangannya memegang pistol otomatis Laras pendek juga menggunakan peredam suara.


Tanpa menoleh ke arah koordinat dan jarum jam Rafael memegang pergelangan tangan Papi Thora mengarahkan sesuai dengan petunjuknya.


Papi Thora menarik pelatuknya dua kali "zeeeep... zeeeep".


Sementara Shifa hanya berdiri mematung berderai air mata saat melihat Papi Thora berdiri bersandar di mobil dan Rafael di depan Papi Thora sedang membidik orang tersangka yang akan mencoba menembaknya.


Perlahan Papi Thora melorot terduduk bersamaan dengan semakin derasnya darah yang keluar dari dadanya terus menatap sendu wajah Shifa.


"Fatma, Shifa, Papi tahu ini kamu nak, maafkan Papi" dengan tangan yang berlumuran darah Papi Thora meraih tangan Shifa dengan bergetar.


"Tuan bertahanlah" Rafael memangku Papi Thora dan mencoba menekan dadanya agar darah berhenti mengalir.


"Bolehkah Papi melihat wajahmu sebentar saja nak?".


Shifa langsung membuka maskernya dengan cepat "Bertahanlah Papi, bertahan jangan menyerah".


"Honey hubungi ambulance dan komandan Conan" titah Rafael.


"Jangan nak, tidak usah, Jaya eee Rafael, Papi titip Shifa ya, please panggil Papi aku ingin mendengar putri dan menantuku memanggil Papi.


"Bertahanlah Papi, cepat honey panggil ambulance dan komandan Conan".


"Iya kak sebentar, Papi aku mohon bertahanlah, aku masih butuh penjelasan Papi!".


"Maaf nak, Papi pamit dulu, apakah Papi bisa minta satu permintaan?".

__ADS_1


"Iya Papi silahkan" jawab Rafael dan Shifa bersamaan.


"Makamkan Papi di samping kakek buyut mu Theo Thanapon di Thailand".


"Iya Papi kami janji" jawab Rafael cepat.


Semakin lama kesadaran Papi Thora semakin menurun bersamaan dengan napas yang Papi Thora yang teratur tetap menggenggam tangan Shifa.


"Selamat tinggal nak, ma af kan Pa Pi".


Tangan papi Thora perlahan tidak menggenggam tangan Shifa, terkulai lepas, mata terpejam bersamaan napas yang hilang tercabut dari raganya.


"Papi, Papi bangunlah, Papi masih punya hutang banyak pertanyaan yang belum Papi jawab" Shifa mengguncang badan Papi Thora yang mulai terbujur kaku tanpa nyawa.


"Honey, bersabarlah, Papi sudah di panggil oleh yang maha kuasa" ucap Rafael Shifa terus terisak menganak sungai air matanya.


Satu persatu mobil dan motor lewat memberikan pertolongan, saat keduanya belum sempat memanggil ambulance atau komandan Conan sudah ada yang menelpon ambulance.


Masih dalam posisi memangku Papi Thora tangan kanan Rafael mengubungi komandan Conan yang beliau dalam perjalanan pulang setelah selesai mengawasi hotel tempat Kanno mengadakan resepsi pernikahan dan posisi jaraknya tidak jauh dari TKP.


Sepuluh menit komandan Conan tiba di TKP karena menggunakan sirine polisi yang langsung tancap gas, bahkan tiba terlebih dulu dari ambulance yang di hubungi oleh warga yang menolong tadi.


"El, Shifa" komandan Conan berlari mendekati mereka setelah memarkirkan mobilnya di sembarang tempat.


"Ndan lihat lah dia!" kata Rafael cepat.


"Thora Thanapon kok bisa disini?". kaget komandan Conan memeriksa nadinya.


"Ndan, tersangka ada di lantai tiga arah jarum jam 10" kata Shifa dengan suara serak karena menangis.


Komandan Conan langsung berlari mendekati ruko dan naik tangga yang berada di samping ruko dan mencari orang yang di maksud Rafael.


"Bagaimana Ndan, siapa tersangka nya?" tanya Rafael saat komandan Conan datang mendekat mereka.

__ADS_1


"Dia Agus Martono, tewas tertembus dua peluru di perutnya".


__ADS_2