
Sudah tiga hari ini Shifa di rawat di rumah sakit, rencananya pagi ini di perbolehkan pulang, di kediaman Mama Ara sudah di persiapkan kamar khusus, persiapan spesial untuk menyambut kedatangan anak keponakan yang baru ditemukan.
Sudah tiga hari ini juga Rafael tidak pernah meninggalkan Shifa bahkan sedetikpun, selalu menempel bak perangko, justru hari ini di perbolehkan pulang wajahnya cemberut karena Shifa harus pulang ke rumah Mama Ara, membayangkan tidak bisa berdua saja hatinya sudah merana, merajuk tidak banyak bicara seperti biasanya.
"Kak El, kenapa cemberut terus, senyum dong, jelek mukanya tidak ganteng lagi iih" kata Shifa duduk di sebelahnya.
"Pulang ke rumah Papi Faro aja ya, jangan pulang ke rumah Mama Ara ya ya ya please" rayu Rafael merangkul pundaknya dengan mesra.
"Mulai lagi, belum boleh dong kak El, lagian kan bisa ke rumah Mama Ara kalau pingin ketemu, tidak usah khawatir".
"Kalau pingin ketemunya setiap menit dan detik bagaimana?".
"Datang aja setiap menit, memang kak El tidak kerja, tidak cari uang untuk masa depan kita"
Akhirnya dengan tersenyum manis menunjukkan gigi putihnya Rafael mengangguk, tidak cemberut lagi.
"Naaah gitu kalau tersenyum kak El tambah ganteng, aku jadi tambah suka, tetapi jangan tersenyum terus ya, nanti jadi kayak orgil" dengan tersenyum defil Shifa bercanda.
"Orgil itu artinya apa?".
"Orang gila ha ha ha" tertawa lepas ingin berlari menjauhi Rafael, tangannya ditarik oleh El dan terduduk dalam pangkuannya dan langsung di peluk dari belakang.
"Masak bilang aku orgil, memang ada orgil yang gagah dan tampan seperti aku?".
"Iiih narsis banget sih kak, awas aku mau ke kamar mandi".
"Harus dapat hukum dulu karena bilang aku orgil" Rafael mencium tengkuk Fatma dengan mesra.
"Kakak apa-apaan sih? jangan gini" Shifa mencoba berdiri melepaskan diri dari pelukan Rafael.
__ADS_1
Sebenarnya Shifa menjadi sedikit merinding setelah dicium tengkuknya seperti ada aliran listrik seribu volt bahkan ada sesuatu yang bangun saat Shifa dalam pangkuan Rafael terasa sangat mengganjal, semakin membuatnya semakin gugup.
Masuk asisten Zain tanpa permisi membuat kaget keduanya dan seperti kepergok habis berbuat mesum rasanya malu sendiri.
"Administrasi sudah selesai bos, silahkan bersiap siap untuk pulang, ini perlengkapan yang anda minta nona" ucap asisten Zain sambil menyodorkan paper bag kepada Shifa.
"Terima kasih" jawab Shifa singkat.
Untuk sementara Shifa harus melakukan penyamaran dan menyembunyikan identitasnya agar tidak di ketahui oleh uncle Agus ataupun anak buahnya yang ada di Jakarta, menggunakan wig pirang potongan pendek model lama seperti lady Diana, menggunakan softlens biru kacamata bulat dan pakaian blazer seperti eksekutif muda dan sepatu haigh hill serta tas branded berwarna hitam.
Setelah rapi Shifa keluar dari kamar mandi berjalan mendekati Rafael yang sedari tadi hanya bengong melihat penampilannya yang baru, terlihat anggun, dewasa dan tambah semakin cantik dan mempesona.
"Waaaah, semakin cantik aja istriku, bagaimana aku bisa pisah kalau begini, kita pulang rumah Papi Faro aja yok, jangan ke rumah Mama Ara".
"Jangan mulai lagi ya kak, lihat tuuuh asisten Zain aja tertawa dengar kak El ngomong gitu" cabik Shifa dengan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Mau ngapain ke KUA mau jualan cilok" tambah kesal Shifa karena tingkah Rafael.
"Akad nikah dong sayang, yang jualan cilok biar asisten Zain aja" Rafael tetap tidak mau kalah.
"Jangan libatkan saya bos, ayo sudah kita pulang, semua sudah berkumpul di rumah Mama Ara" kata asisten Zain sambil menarik dua koper milik pasangan yang sedang mabuk cinta.
Pulang dengan pengawalan ketat bodyguard Papi Faro yang biasa mengawal Mami Inneke, hampir dua jam tiba di rumah Mama Ara saat bertepatan makan siang.
Di sambut oleh seluruh keluarga besar tiga sahabat dari orang tua sampai putranya beserta pasangan masing-masing di tambah lagi komandan Conan membuat suasana menjadi lebih hangat.
Setelah masuk rumah Shifa diajak ke lantai dua untuk menunjukkan kamarnya, berganti baju, melepas semua penyamaran dan turun kembali bergabung dengan keluarga besar di ruang keluarga.
Tidak di pungkiri dengan perlakuan hangat mereka membuat hati Shifa merasa memiliki keluarga, merasa tidak sendiri, setibanya mereka bertiga semua keluarga langsung menikmati hidangan makan siang bersama.
__ADS_1
Saat yang lain belum selesai makan siangnya, asisten Zain dan detektif Conan segera mempersiapkan leptop yang di hubungkan ke proyektor ke dinding yang menjadi layarnya.
Dari awal seluruh keluarga mengetahui surat wasiat dari Mami Fatty, sehingga kemarin saat Cello dan Aisyah mengambilnya di loker sebuah Bank swasta tidak langsung di buka oleh Mama Ara dan Cello, mereka sepakat untuk membacanya bersama dan menyelesaikan masalah juga bersama.
Semua mata tertuju pada layar saat ada amplop berwarna putih tetapi sudah mulai pudar warnanya dengan tulisan tangan "Untuk kakak Ara", kemudian terbuka surat itu dengan awal tulisan Brunei Darussalam 01 Juli 20**.
""""""Kak Ara saat membaca surat ini, aku sudah lama meninggalkan putriku dan dunia ini, aku menulis surat ini sudah hampir empat tahun tidak bertemu suamiku, saat terakhir melihatnya dia sudah tidak mengenali aku sebagai istrinya, inilah nasibku kak aku pulang ke Brunai Darussalam tetapi sayangnya aku tidak bisa membawa serta putriku, karena anak buah suamiku yang memisahkan kami.
Kak Ara mohon tolong putriku Shifa keluar dari lingkaran hitam suamiku, aku ingin putriku mengikuti jejak mu dan mommy, walaupun putriku lahir sebagai wanita muslimah tetapi saat dia dalam pengasuhan anak buah suamiku berpindah agama seperti suamiku, aku titip putriku Shifa kak, tolong bimbinglah dia dalam jalan kebenaran yang hakiki, jalan yang di ajarkan nabi dan jalan yang diajarkan dalam Al Qur'an.
Kak Ara aku berpesan kepada adik kandung laki-laki ku yang bernama Mahfud Hamdhani untuk memasukkan nama putriku sebagai adiknya dalam data kependudukan, adikku akan menunggu saatnya nanti Shifa datang padanya, mungkin hanya itu cara menghilangkan jejak putriku dari suamiku, adikku juga tidak berdaya dan tidak bisa mengambil putriku dari pengasuhan tangan kanan suamiku, aku yakin hanya kak Ara yang bisa melakukannya, aku mohon kak tolong selamatkan putriku, carilah adikku suatu saat nanti setelah kak Ara membaca surat ku ini, aku yakin suami kak Ara bisa menyelamatkan Shifa putriku, umur antara Shifa dan adikku Mahfud hanya terpaut sepuluh tahun, aku berharap suatu saat nanti jika Shifa menikah adikku bisa menjadi wali nikahnya hanya itu harapan ku kak, semoga adikku masih sempat menyaksikan putriku menikah, atau jika bisa menikahlah di negara ku Brunai Darussalam.
Cukup ini saja kak surat dariku semoga kak Ara bisa mengabulkan harapan ku, sekali lagi aku titip Shifa ya kak, anggap saja dia seperti putrimu sendiri salam buat suami kak Ara, CL dan kakak kecil yang aku belum tahu namanya, terima kasih hormat saya Fatty Fatimah""""""""
Air mata Shifa seperti menganak sungai membaca surat dari Mami Fatty untuk Mama Ara, ada setitik harapan bahwa ternyata memiliki seorang paman yang tinggal di Brunei Darussalam, ada harapan bisa melepaskan diri dari lingkaran hitam kehidupan Papi Thora dengan pindah menjadi warga negara Brunai Darussalam.
Melihat Shifa menangis tersedu-sedu Rafael memeluknya dengan erat, mengusap punggungnya dengan lembut.
"Jangan khawatir kita akan kabulkan semua harapan Mami Fatty" ucap Rafael dengan lembut.
"Kakak mau bantu aku mencari Uncle Mahfud, betulkah?" tanya Shifa dengan mengendurkan pelukannya.
Rafael hanya mengangguk dan tersenyum manis serta melirik komandan Conan dan Papi Faro.
"Kita meminta bantuan jenderal As'ari untuk mencari keberadaan Uncle Mahfud" usul Cello dengan ide cemerlang nya.
"Nah itu boleh juga, bukankah makam Mami Fatty juga ada di Brunei Darussalam, bisa sekalian kita mengunjungi dan ziarah disana" usul Kanno mengingat saat dulu Shifa menangis tersedu-sedu di panti asuhan saat mengenang hari meninggalnya Mami Fatty.
"Aku mau ke Brunai Darussalam boleh kak El?" pinta Shifa sambil mengusap air matanya yang masih berlinang.
__ADS_1