
Rafael berlari masuk UGD ketempat dimana Shifa duduk termenung diatas brankar tempat tidur UGD sendirian.
"Honey...kamu sudah sadar" spontan Rafael memeluk dengan erat tubuh kurus itu seakan enggan melepaskannya tidak perduli ada dokter dan komandan Conan ada di sebelahnya.
"Kak El, saya lapar sudah dua hari tidak makan" ucap Shifa lirih.
"Eeee lapar?" kaget Rafael sambil mengerutkan keningnya memandangi wajah Shifa sayu dan pucat.
"Seburuk itukah penjara Indonesia, ada penghuninya tidak makan sampai dua hari?" tanya dokter UGD heran.
"Bukan begitu dokter, kami dapat makan rutin kok, tetapi saya yang tidak sempat makan selama dua hari ini karena ada masalah" bela Shifa dengan menundukkan kepalanya.
"Baiklah, honey mau makan apa?".
"Terserah kak El aja, tapi kalau ada ikan bakar juga boleh".
"Sebaiknya pindah ke ruangan dulu baru makan, suster bawa nona ini ke ruang rawat inap VVIP!" titah dokter lagi.
"Baik dok" jawab suster cepat.
"Aku saja yang cari ikan bakar" komandan Conan ingin keluar UGD.
"Komandan tidak usah, biar Zain aja yang membelinya, komandan kabari Cello, Kanno dan Papi Faro aja ya kalau sekarang sudah pindah ke ruangan" kata Rafael tangan kanan menggenggam erat tangan Shifa sedangkan tangan kirinya membuka handphone menghubungi asisten Zain.
"Belikan ikan bakar tiga porsi ya, gak pakai lama, nanti bawa ke ruang rawat inap aku kirim lewat pesan WA nomor ruangannya" titah Rafael mematikan handphone tanpa menunggu jawaban dari asisten Zain.
Setelah sampai riang rawat inap VVIP Rafael tidak melepaskan genggaman tangannya sedikitpun, sesekali mengusap pipi ataupun membelai rambutnya melingkarkan tangannya kirinya di pinggang, hanya sekitar tiga bulan saja seperti tiga tahun bagi Rafael berpisah dengan pujaan hati, hanya tersenyum tak sedikitpun melepaskan pandangan menempel bak perangko tak ingin terlepas lagi.
Asisten Zain masuk setelah mengetuk pintu memberikan nasi ikan bakar pesanan Rafael di letakkan di atas meja.
"Bos ini ikan bakarnya, apa lagi yang harus saya kerjakan?" tanya Zain mengalihkan pandangannya, karena Rafael tak memberikan kesempatan Shifa menjauh darinya.
"Kak El awas malu, ada dia, siapa dia kak?" tanya Shifa sedikit menggeser posisi duduknya.
"Dia itu asisten Zain, asisten pribadiku, tenang aja tidak usah malu, palingan ngiri dia kan jomblo abadi" ledek Rafael mendekati Shifa lagi dan kembali memeluknya.
"Sekarang pulang aja Zain, ambilkan ganti baju kami, minta Najja atau Mami Inneke biar di siapkan" titah Rafael lagi.
"Saya juga tidak ganti baju hampir dua hari kak El, boleh minta tolong ambilkan baju di apartemen?".
"Untuk sementara jangan ke apartemen dulu honey, takutnya nanti ada yang mengawasi apartemen, malah jadi bahaya!"
"Tenang aja Mami Inneke dari kemarin sudah mempersiapkan semua keperluan kamu, Zain baju ganti untuk berdua ya!"
"Siap bos, aku pamit, permisi nona" Zain membungkukkan badannya hormat diikuti Shifa yang menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manis.
__ADS_1
"Ayo makan dulu, jangan turun dari situ, aku suapin aja".
"Aku bisa makan sendiri kak El, bawa sini!".
"Tidak usah tangannya ada infusnya, memang bisa makan pakai tangan kiri?".
"Ayo buka mulutnya haaaa!".
Baru dapat tiga suapan perut Shifa mulai tidak nyaman, melilit sakit tidak tertahankan, Shifa hanya meringis menunduk meremas perutnya yang melilit.
"Sssssttt sudah kak El, saya tidak tahan sakit sekali perutku, sepertinya lambung saya bermasalah aauh" keluh Shifa menahan perutnya.
Rafael meletakkan piring yang berisi nasi ikan bakar itu, bingung dan memeluk Shifa dan mengusap lembut punggungnya, bergeser sedikit dan menekan bel yang ada di dinding dekat kepala brankar tempat tidur.
"Berbaringlah, ayo aku bantu" dengan perlahan Rafael membantu Shifa berbaring tetapi wajah yang berdekatan dengan tatapan yang mengunci membuat Rafael tidak tahan untuk mencium bibir Shifa.
"Hhhmmm....." Shifa mendorong sekuat tenaga agar tautan itu terlepas.
"Maaf ini agar mengurangi rasa sakit di perutmu" cabik Rafael mengusap bibir Shifa yang basah karena ulahnya.
"Kak El, kenapa mengambil ciuman pertama aku, bukankah dulu kita sudah sepakat kita lakukan setelah kita menikah?" ucap Shifa sambil menutup mulutnya.
"Karena aku tidak tahan melihat kamu kesakitan, biar teralihkan sakitnya, sebentar lagi aku janji kita akan menikah" jawab Rafael dengan tersenyum.
"Tidak ada tapi tapian, aku tidak mau kehilangan kamu lagi jangan larang aku, aku sangat takut kehilanganmu, bagaimana masih sakit perutnya?".
Shifa hanya menggelengkan kepalanya tidak menjawab sepatah katapun hampir tidak percaya apa yang dilakukan Rafael.
"Naaah kan sembuh, setelah dicium mau tambah lagi?" goda Rafael mendekati bibir Shifa lagi.
"Eeee no, no jangan ini rumah sakit, kak El jangan mesum!" pekik Shifa sambil menutup mulutnya lagi.
"Berarti kalau sudah pulang boleh ya?".
"Iiiih kakak mengapa sekarang jadi genit?".
"Because I love you so much honey, jangan larang aku ok".
Datang dua suster masuk ruangan dengan membawa peralatan medis membuat modus Rafael terhenti.
"Permisi, tadi tekan bel ya Pak?" tanya salah satu suster itu.
"Iya sus, ini Istri saya baru makan tiga suapan perutnya melilit kesakitan" jawab Rafael sambil melirik Shifa yang kaget dengan membelalakkan matanya dengan sempurna.
"Ooo seharusnya ibunya makan bubur dulu Pak, karena memang lambungnya masih ada luka, ini obatnya saya suntikkan di infus ya, untuk mengurangi rasa perih melilit di lambung" keterangan suster sambil menyuntikkan obat melalui selang infus yang berada di tangan kanan Shifa.
__ADS_1
"Sudah selesai, kami pamit Pak, untuk sementara makan bubur aja dulu ya Bu?" pamit suster meninggalkan ruang rawat inap dengan sopan.
"Kak El, mengapa bilang istri sih, dosa tahu bohong?".
"Bukan bohong honey, aku sedang latihan menjadi suami yang baik".
Shifa hanya cemberut dan mengerucutkan bibirnya karena merasa heran mengapa sekarang kekasihnya itu menjadi mesum dan terlihat ekspresif.
"Jangan di majukan begitu bibirnya, mau aku---?".
"Iiih kakak no, jangan sekarang belum muhrim kita".
Akhirnya Rafael berjongkok di samping brankar tempat tidur menggenggam erat tangan Shifa "Honey Will you marry me?".
Shifa langsung bangun dan duduk kaget karena tiba-tiba Rafael melamarnya tanpa di rencanakan terlebih dahulu.
"Kak El, mengapa melamarnya mendadak, kak El belum tahu siapa saya, keluarga saya, mengapa saya kemarin di penjara, masih banyak lagi?"
"Honey, aku sudah tahu luar dalam siapa dirimu, aku tidak perduli siapa dirimu, yang aku tahu hanya aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah lagi seperti kemarin, jawab dulu lamarannya nanti baru aku ceritakan semuanya" tetap Rafael masih berjongkok dan menggenggam erat tangannya.
"Yes I do, saya juga mencintai kak El, saya terima lamaran kak El"
"Terima kasih kita resmi suami istri ya?" Rafael bangkit dan memeluk dengan erat.
"Eeee belum kak, kita akad nikah dulu".
"Iya iya kita akad nikah malam ini saja bagaimana?".
"Kakak ini, sabar dong, cerita dulu katanya tahu siapa saya luar dalam.
Duduk berdampingan sambil memeluk Shifa dari samping Rafael bercerita dari Opa Tomy dan sepak terjangnya, musuhnya Baron Pranoto, Papi Faro dan anggota intelejen, sampai Theo Thanapon kakek Shifa ayah kandungnya Thora Thanapon dan sepak terjangnya Agus Martono.
Juga menceritakan jika yang menyelamatkan Shifa dari jurang saat di Aceh, tentang Rafael, Cello dan Kanno yang menjadi anggota agen rahasia pemerintah, cerita Shifa mencari aunty Ara dan kak CL dari Aisyah, terakhir cerita tentang rencana menyelamatkan dirinya dari lapas wanita adalah juga rencana Rafael dan anggota agen rahasia pemerintah.
"Jadi uncle Agus tahu-nya aku sekarang di lapas pulau Nusa Kambangan, tidak tahu kalau aku di rumah sakit ini?" tanya Shifa penasaran.
"Iya, makanya untuk sementara jangan keluar dulu sebelum identitas dan asal usul mu diganti"
"Jadi nanti aku tinggal dimana?"
"Di rumah suamimu lah, mau dimana lagi?".
"Iiih Kan bercanda lagi, kita belum menikah kak El, jangan aneh-aneh deh!".
"Untuk sementara kamu tinggal di rumah aunty Ara sayang jangan khawatir, sampai kamu nikah dengan Rafael" suara lembut dari wanita setengah baya yang baru masuk ke ruang rawat inap itu.
__ADS_1