
Karena seluruh keluarga besar dari Indonesia besok pagi sudah harus kembali ke Indonesia dengan penerbangan pertama, malam ini juga setelah para tamu pulang, dua Keluarga sekalian pamit dan mengucapkan terima kasih kepada Sultan dan keluarga.
Berkonvoi untuk mengunjungi keluarga besar uncle Mahfud malam itu juga walaupun malam semakin larut, semua hanya berkesempatan beristirahat dan tidur dalam perjalanan antara istana kesultanan menuju kediaman Uncle Mahfud selama satu setengah jam.
Tidak terkecuali pengantin baru juga yang satu mobil dengan kedua pasangan sahabat karibnya, masih mengenakan pakaian pengantin shifa menyandarkan kepalanya di bahu Rafael tertidur lelap tanpa memperdulikan ketiganya sedang bercanda unfaedah meledek Rafael yang tidak bisa menikmati malam berdua.
"Emang enak, malam pertama harus satu mobil dengan kami ha ha ha" ledek Kanno tanpa perduli Agnes yang terlelap di pangkuan Kanno.
"Jangan meledek, tidak harus malam hari, masih ada esok setelah kalian pulang" bela Rafael sambil mengerucutkan bibirnya.
"Apa mungkin, elo tidak ingat kedua keponakan kecil Shifa sangat aktif, gue bisa bisa bayangkan elo berdua lagi asyik bermain, kedua keponakan kecil itu nyelonong masuk kamar" celoteh Rafael Cello dengan tersenyum devill.
"Lebih parah lagi apa jadinya saat mereka masuk kalian lagi membuka baju ha ha ha" Kanno tak tergelak melanjutkan ucapan Cello.
"Kak Cello ngomongnya di saring dulu, telingaku jadi tercemar tahu" sambil terpejam Aisyah protes bersandar di jok mobil.
"Sayang tidurlah, jangan di dengarkan, kalau perlu tutup aja telinganya".
"Hedeh.. bagi dokter malah lebih faham dong harusnya tidak usah protes" ucap Kanno lagi.
"Kak Kanno, jangan su'uzon, beda dong kak, tujuannya dokter mengobati bukan mesum seperti pikiran kalian saat ini" bela Aisyah membuka matanya tidak jadi tidur.
"Sayang tidurlah, sini mau di pangkuan atau di bahuku?" Cello menepuk pundak dan paha bergantian dan mengedipkan matanya.
"Tidak usah kak, aku sudah tidak ngantuk lagi, apakah masih jauh rumahnya?" tanya Aisyah sedikit kesal.
"Masih lumayan jauh Ais, tidurlah dulu jangan ikut pikiran dua sableng yang tidak jelas itu" Rafael ikut ingin tidur sebentar.
"Sini tidurlah" Cello memeluk Aisyah dari samping menepuk pundaknya agar rileks dan tenang.
Hanya dalam sepuluh menit akhirnya Aisyah terlelap dengan suara nafas yang teratur bersandar juga di bahu Cello, saat bersamaan ada ada notifikasi pesan WA yang masuk ke handphone Rafael.
"Ada kabar jika Agus Martono dan Thora Thanapon ada di Jakarta saat ini, dan besok sore mereka mendapatkan ijin ingin bertemu Shifa bagaimana ini mohon petunjuk" tulisan WA dari pegawai lapas yang mendapatkan tugas khusus dari agen rahasia untuk melaporkan tentang kejadian yang menyangkut Shifa.
__ADS_1
"Bro, aku kirim pesan dari petugas lapas Nusa Kambangan Cilacap ya, silahkan baca dulu" titah Rafael meneruskan kiriman pesan dari handphone nya.
Cello dan Kanno bersamaan membaca pesan itu dengan cepat.
"Waduh bagaimana ini, sedangkan kita ada disini" Kanno bingung setelah membaca pesan dari Rafael.
Rafael langsung memandangi Shifa yang terlelap tidur, takutnya dia mendengar apa yang harus di bahas saat ini.
"Kita bicarakan setelah sampai di rumah Uncle Mahfud saja, komandan Conan ada di mobil siapa sekarang?" tanya Rafael berbisik.
"Sepertinya ada di mobil bokap kita bertiga, coba di lihat siapa yang masih online, kirim pesan dari pegawai lapas itu aja?" Cello juga ikut memberikan saran.
"Gue aja yang mengirimnya" Rafael kembali meneruskan pesan WA itu kepada komandan Conan dan Papi Faro karena keduanya yang saat ini sedang online sisanya sudah off.
"Kita ngumpul setelah sampai rumah uncle Mahfud" perintah komandan Conan melalui pesan WA juga yang di kirim ke handphone Rafael.
Hampir setengah jam berlalu Rafael hanya termenung, tanpa ada percakapan lagi diantara ketiganya padahal tidak ada yang tertidur, tenggelam dalam pikiran masing-masing sampai mereka tiba di rumah uncle Mahfud Hamdhani.
Di tambah Uncle Mahfud mereka mulai membicarakan tentang kiriman pesan dari petugas lapas Nusa kambangan Cilacap.
Pembicaraan hampir menjelang pagi baru bisa di putuskan, yang awalnya Shifa harus menemui kunjungan Papi Thora dan Uncle Agus agar tidak membuat organisasi itu curiga, akhirnya uncle Mahfud mengusulkan paling tidak jika bisa lebih baik pertemuan mereka di undur untuk mempersiapkan lebih matang tidak boleh tergesa-gesa.
Komandan Conan akhirnya mendapatkan ide bagus tetapi sebelum mengutarakan ide itu datang Shifa, Aisyah dan Agnes bergabung dengan wajah yang sangat khawatir.
"Ada apa honey, apakah ada masalah?" tanya Rafael saat Shifa duduk di sebelahnya.
"Lo kok kau juga khawatir begitu sayang ada apa?" Cello juga melihat raut wajah Aisyah yang sangat pucat.
"Ini kak bacalah, barusan aku mendapatkan pesan dari tuan Thora Thanapon, bacalah" Aisyah memberikan handphonenya kepada Cello dengan tangan yang bergetar.
"Baca dengan suara keras Cello, agar kita bisa menyelesaikan ini dengan tuntas" perintah komandan Conan dengan suara tegas.
"Baiklah gue baca sekarang ya, dengarkan semuanya".
__ADS_1
"Dokter Ais, selamat malam maaf saya mantan napi yang pernah Anda rawat dulu di Singapura Thora Thanapon, sekarang ini saya ada di Jakarta, saya ingin berjumpa dengan anda saya ingin kembali konsultasi, saya tidak bisa menceritakan lewat pesan, saya mohon jawabannya dokter segera, saya tunggu".
"Bagaimana Bang Faro?" tanya komandan Conan kepada Faro.
"Sebaiknya Aisyah menemui dia, kita bisa menilai dari sudut pandang dia tetapi tanpa di dampingi oleh asistennya agar dia tidak di pengaruhi oleh organisasi anggap saja sebagai hubungan antara pasien dan seorang dokter" saran Papi Faro dengan bijak.
"Begini saja, Shifa bisa menemui Papi-nya setelah dia bertemu dengan Aisyah" saran komandan Conan pertama.
"Alasan apa Ndan untuk besok sore, saat mereka datang ke Nusa Kambangan?" tanya Rafael khawatir karena sekarang semua keluarga ada di Brunei Darussalam.
"Kirim pesan kepada petugas lapas Nusa Kambangan, jika saat ini Shifa masih ada di ruang isolasi karena mencoba kabur dari lapas sampai tiga hari kedepan, jika ingin bertemu dengan Shifa sebaiknya hari Sabtu suruh mereka kembali lagi" titah komandan Conan dengan ide yang cemerlang.
"Sini handphone Aisyah aku juga yang jawab untuk membuat janji dengan Thora Thanapon.
"Selamat malam tuan, hari ini saya sedang tugas di luar kota, jika ingin bertemu mungkin bisa tetapi lusa saja, saya ada di bisa menemui anda saat istirahat di kafe samping puskesmas tempat saya bekerja, lusa saya share lokasi jika sudah waktunya, terima kasih, sampai jumpa" langsung di kirim ke nomor handphone yang belum di simpan oleh Aisyah namanya.
Walaupun sudah menjelang pagi ternyata nomor yang dituju masih online ternyata langsung membacanya dan menjawab kiriman yang baru saja dibacanya.
"Baik dokter saya tunggu, terima kasih sudah bersedia menemui saya selamat malam" balasan itu langsung di baca keras oleh komandan Conan dan semua keluarga mendengarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga pagi, hampir dua keluarga besar tidak ada yang tidur sambil bercengkrama dan berbincang bertukar cerita, bertukar cenderamata.
Pesawat akan terbang pukul lima pagi, sehingga setelah selesai makan bersama seluruh keluarga besar mereka bersiap-siap packing untuk pulang.
Hanya Rafael dan Shifa yang tinggal, karena menghormati rencana Sultan yang sudah di susun rapi dari awal, setelah selesai majelis bersanding, Rafael dan Shifa akan berbulan madu di wisata paket honeymoon di Brunei Darussalam selama tiga hari.
Berpamitan dengan seluruh keluarga, cipika cipiki berjanji akan gantian berkunjung ke Jakarta Uncle Mahfud melepas keluarga dengan hati yang bahagia dan bangga walaupun baru bertemu sudah sangat dekat dan hangat.
"Mami pulang dulu nak, jaga diri kalian, selamat honeymoon" pamit Mami Inneke memeluk putra dan menantunya bergantian.
"Daaa El, Shifa selamat belah duren jangan lupa nanti cerita" bisik Cello di telinga Rafael.
"Gelo siak" Rafael menatap tajam Cello yang tersenyum devill.
__ADS_1