
Hampir dua hari ini juga siang hari Shifa menyibukkan diri di salon dan rumah kecantikan milik Mama Ara, yang berada di satu kompleks rumahnya, Shifa sangat terhibur dengan sifat kocak dari pimpinan rumah kecantikan itu, Cinta wanita jadi-jadian yang sekarang sudah berumur lebih dari lima puluh tahun tetapi masih terlihat guratan kecantikannya, sifat kocaknya, sifat jahil dari cinta membuatnya terlihat muda, Cinta memang seorang laki-laki yang terjebak dalam tubuh dan hati wanita sampai sekarang dan dipanggil Mima oleh pelanggan nya.
"Mima, aku mau rambut gerli cantik gitu, aku mau menghadiri acara ulang tahun dari teman suamiku" kata pelanggan setia dari Cinta.
"Ok say, sudah cuci rambut belum, sini say silahkan duduk" setelah duduk memandangi Shifa yang berdiri di samping Cinta.
"Mima siapa gadis cantik yang ada di sampingmu?" tanya pelanggan Cinta yang berumur sekitar empat puluh tahun.
"Dia putriku, baru datang dari Brunei Darussalam kemarin" jawab Cinta dengan melirik Shifa.
"Putri dari gebetan yang mana?" tanya pelanggan lagi.
"Ha ha ha dari selingkuhan gue yang berada di luar negeri"kata Cinta sambil terkekeh.
"Mima, aku anak Mami, bukan anak selingkuhan tega iih Mima" cabik Shifa sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya sayang, sekarang jadi anaknya Mima yang cantik, ayo katanya mau belajar perhatikan ya".
Tangan cekatan Cinta mencuci rambut dengan cekatan, diajaknya kembali duduk didepan kaca, mengeringkan rambut sampai prosesi membuat rambut menjadi gerli seperti yang diinginkan pelanggannya.
Setelah itu Cinta memberikan sentuhan makeup yang natural tetapi terlihat sangat elegan dan membuat pelanggannya semakin cantik dan terlihat lebih muda dari umurnya.
"Done, sudah cantik jelita say, bagaimana Shifa penampilannya ada yang kurang?" tanya Cinta dengan bangga.
"Perfek Mima, hanya tinggal sedikit sentuhan yaitu kalung yang senada dengan gaunnya" saran Shifa melihat pelanggan itu begitu cantik.
"Anda cantik sekali aunty" puji Shifa dengan tersenyum manis.
"Terima kasih cantik, kamu belum berdandan aja sudah cantik, apalagi kena sentuhan tangan Mima pasti akan semakin sempurna" ucap pelanggan lagi.
Pukul tiga pagi tiga Elang Emas sudah mendarat di Jakarta, yang seharusnya tiga hari melaksanakan tugas yang diberikan oleh agen rahasia pemerintah, bisa di selesaikan dengan cepat oleh ketiganya, sebenarnya semangat dari Rafael lah yang membuat semuanya cepat selesai, alasannya hanya ingin segera bertemu dengan kekasih hati yang telah menunggu di rumah Mama Ara.
Rafael tidak pulang ke rumah Papi Faro, melainkan ikut Cello pulang ke rumah Papa Mario, duduk di samping Cello yang membawa mobilnya sendiri tanpa meminta izin terlebih dahulu.
"Ngapain lo ikut gue, pulang sana, itu ada mobil elo sendiri?" tanya Cello dengan suara kesal.
"Mobil gue dibawa oleh Kanno, dia kemarin tidak membawa mobilnya" jawab Rafael tanpa merasa bersalah.
"Ya sono ikut Kanno jangan ikut gue" tanya Cello lagi.
__ADS_1
"Istri gue kan ada di rumah elo kakak ipar ganteng" celoteh Rafael sambil mencolek dagunya.
"Baru calon gelo, belum jadi istri beneran" cabik Cello tetapi mulai menjalankan mobilnya.
"Cello please, gue sudah menganggap Shifa Istri gue, gue tidak sanggup lagi untuk berpisah dengan dia".
"Modus lo, jangan macam-macam dengan adik gue, awas aja kalau berani modus ama adik gue".
"Yaelah kakak ipar, mosok elo tidak percaya sama gue, kalau elo suruh gue ijab qobul sekarang juga gue ho'o aja, jangan larang gue dong".
"Serah elo aja, tetapi kalau elo buat adik gue nangis, gue tendang lo sampai Antartika, ngerti lo?".
"Iya iya pasti, gua akan buat dia bahagia, nich nyawa taruhannya".
Sampai di rumah Mama Ara sebagian besar orang masih terlelap dalam mimpinya, hanya sekuriti yang bertugas dan Mama Ara yang selesai melaksanakan sholat malam yang rumit di lakukannya.
"Mama....!" panggil Rafael dan Cello bersamaan saat melihat Mama Ara keluar dari musholla kecil yang ada disamping ruang makan.
"El, mengapa pulangnya kesini, nanti kalau Mami Inneke mencari bagaimana?" tanya Mama Ara heran.
"Mama, El kangen kangen sama Shifa, boleh ya Ma El masuk kamar dia, janji tidak macam macam kok, El tau batasan kok tenang aja" rayu Rafael sambil memelas.
Perlahan Rafael membuka pintu kamar Shifa, melihat Shifa yang sedang terlelap dengan damai, kerinduan yang mendalam kepada kekasih hati membuatnya semakin tidak sabaran, duduk berjongkok di depan wajahnya, mengelus pipinya yang lembut, meletakkan kepalanya didekat wajah cantik Shifa menggenggam tangannya ikut terlelap.
Pintu kamar Shifa memang sengaja tidak Rafael kunci, setelah satu jam terlelap tidur duduk samping dan menggenggam tangan, Mama Ara mengintip dengan membuka pintu kamar Shifa sedikit.
Mama Ara yang penasaran tidak ada suara dari dalam kamar Shifa membuka pintu kamar sedikit dan mengintip dengan masukkan kepalanya kedalam kamar.
"Ternyata Rafael betul betul mencintai Shifa, syukurlah semoga mereka akan bersatu untuk selamanya" monolog sendiri Mama Ara sambil menggelengkan kepalanya meninggalkan kamar Shifa menuju dapur untuk membantu bibi untuk membuat sarapan pagi.
Merasakan tangan digenggam erat, mata Shifa mengerjap perlahan, ada nafas yang teratur tidur dengan tenang sambil duduk, Shifa langsung menarik tangannya dan membuka mata dengan sempurna.
"Kak El ya Allah kapan datang?, Mengapa tidur sambil duduk, kak bangunlah" Shifa menepuk pipi Rafael lembut.
"Honey, aku masih ngantuk, sebentar lagi ya" mata Rafael masih terpejam kembali menarik tangan Shifa dan di dekapnya erat.
Sampai beberapa saat Rafael tidak juga bangun Shifa baik di tepuk pipinya ataupun di goyangkan bahunya tetap juga tidak bangun, akhirnya membuat dia memiliki pikiran jahil.
"Aaaaah tikus....tikus.... tikus" teriak Shifa meloncat dari tempat tidur dan berlari keluar kamar sambil tertawa lepas.
__ADS_1
"Honey, mana tikusnya mana?" Rafael melompat ke tempat tidur sambil berjingkrak masih memakai sepatu.
Setelah menyadari jika di kerjai oleh Shifa turun dari tempat tidur menyusul Shifa yang berlari keluar kamar.
"Shifa, jahil ya awas aja kalau ketangkap" Rafael ikut berlari mengejar Shifa.
Shifa tertawa lepas berlari ke luar kamar mencari Mama Ara untuk mencari perlindungan.
"Mama awas ada tikus" pekik Shifa berlindung di balik badan Mama Ara sambil tertawa terbahak bahak.
"Awas aja kalau ketangkap" masih kesal Rafael tetap ingin menangkap Shifa.
"Ini pagi pagi kejar kejaran kayak Tom and Jerry aja ada apa?" heran Mama Ara diapit oleh Rafael dan Shifa.
"Dia mengagetkan aku Ma, ada tikus katanya, sini ya" cabik Rafael masih ingin menangkap Shifa yang menjauhinya.
"Ampun kak El, habisnya masuk kamar tanpa ijin, dibangunkan susah" kembali berlari keluar dapur kembali naik tangga untuk ke kamar kembali, sampai diatas melihat sosok Cello keluar dari kamar.
"Kak CL tolong aku ada tikus besar mengejarku!" pekik Shifa berlindung dibalik badan Cello yang kekar.
"Shifa, El apa-apaan ini pagi pagi sudah kejar kejaran seperti Tom and Jerry" kesal Cello melihat kedua pasangan yang aneh.
"Kena kamu ya!" Rafael menarik tangan Shifa tetapi memeluk Cello terlebih dahulu.
"El jangan peluk-peluk gue, gue masih normal tau, gila lo" Cello mendorong Rafael tetapi gantian Shifa yang memeluk Cello karena tangan Shifa ada dalam genggaman Rafael.
"Ampun kak El, lepaskan tanganku dulu, kak CL bantu aku!".
"Sudah sudah, kalau kalian tidak bisa mengalah dua duanya gue hukum nich".
Rafael terpaksa melepaskan tangan Shifa tetapi dengan muka cemberut dan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Sono mandi El, kita di suruh ke markas mini oleh komandan, seperti anak kecil aja pagi pagi bukannya olah raga malah mainan, gelo siak!" Cello berjalan meninggalkan Rafael dan Shifa yang masih terdiam karena omelan Cello.
"Kak El, apa itu gelo siak?" tanya Shifa dengan polosnya.
"Nanti aja jawabnya ayo kita mandi tetapi mandi bareng ya?" tersenyum Rafael berbisik di telinga Shifa.
"Kakak mulai lagi, mau aku laporin ke kak CL lagi?" dengan cepat Rafael menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya sudah sana kak El dulu yang mandi, aku mau bantu Mama buat sarapan pagi".