
"Sudah dibuka honey?" tanya Rafael dengan tersenyum devill.
"Kak El, kenapa tidak sabaran sih, belumlah kak El juga belum berbaring di tempat tidur"
"Cepat buka honey sekarang!".
"Iya sabar, ini baru mau berbaring, eee tunggu sebentar aku mau kunci pintu dulu"
"Sambil jalan sambil buka bajunya biar cepat gitu, ok honey".
Shifa turun dari tempat tidur berjalan ingin mengunci pintu tangan kirinya sambil membuka baju seperti kemauan Rafael, ternyata tanpa mengabari jika Rafael menyusul Shifa ke perkebunan berangkat pukul sepuluh malam dari Jakarta diantar helikopter.
Saat Shifa sampai dekat pintu dan ingin menguncinya tetapi pintu terbuka bersama sosok laki-laki yang di rindukan hampir lima hari ini terakhir ini,
Shifa kaget karena Rafael langsung menggendongnya dengan bridal, menatap baju yang sudah terbuka.
"Kak El turunkan aku, bikin kaget aja sih, kenapa tidak bilang kalau mau menyusul kesini?".
"Kalau bilang namanya bukan surprise dong honey" di baringkan Shifa di tempat tidur, naik diatas badan Shifa mengungkung memeluknya dengan erat, mulai mencium bibir Shifa dengan lembut.
Rafael dan Shifa melepaskan kerinduan dengan bercinta sampai hampir menjelang pagi, lagi dan lagi tanpa lelah Rafael melakukannya, rasanya seperti melakukan rapel karena hampir lima hari ini tidak menyentuh istrinya.
Menyalurkan rasa kerinduan dan cinta keduanya dengan bercinta lagi dan lagi, sampai membuat Shifa kelelahan dan lemas.
"Kak El sudah dong, aku capek istirahat dulu ini sudah hampir pagi".
"Kalau capek sini aku pijitin, tidurlah!" Rafael memijit tubuh Shifa awalnya hanya pijitan biasa tetapi lama kelamaan hanya bagian tertentu saja yang di pijit oleh Rafael.
"Sayang, bagaimana bisa tidur kalau pijitin hanya bagian ini yang ada malah akunya semakin on".
Rafael tersenyum devill karena membuat istrinya bergairah kembali "Sekali lagi ya, habis ini nanti kita tidur".
Akhirnya kembali melakukan pergumulan panas sampai puncaknya bersamaan terpuaskan, baru Shifa terlelap dalam pelukan Rafael setelah selesai keduanya terpuaskan.
Pukul sepuluh pagi mata Shifa mulai mengerjap, badan serasa remuk redam, memindahkan tangan Rafael yang melingkar sempurna di pinggangnya perlahan agar tidak menggangu tidurnya, turun dari tempat tidur menyambar handuk dan berendam air hangat dengan aroma terapi untuk mengurangi capek dan pegal tubuhnya.
Keluar kamar setelah rapi mengenakan hijab pashmina andalan menuju dapur menemui Mami Inneke dan Oma Umi beserta beberapa bibi.
"Oma, Mami, maaf aku bangun kesiangan" ucap Shifa dengan ragu-ragu.
"Eeee cucu Oma, tidak apa-apa, Oma Umi maklum aja, palingan ngadon sampai pagi, ini minum susu dulu biar badannya fit lagi" jawab Imma dengan tersenyum.
Shifa hanya tersenyum dan menunduk karena malu dengan wajah yang merona merah.
"Apa Rafael belum bangun nak?" tanya Mami Inneke.
__ADS_1
"Belum Mami, terima kasih Oma Umi, aku minum dulu susunya" langsung di minum satu gelas susu coklat sampai habis.
"Sarapan dulu sana pasti kamu lapar!" titah Imma menunjuk meja makan yang sudah tersedia nasi goreng.
"Nanti aja Oma tunggu kak El, ini mau masak apa, aku bantu apa nich?".
Datang Rafael dari lantai atas dengan wajah yang berseri-seri dan rambut yang masih basah dengan sedikit berlari dengan teriakan manjanya.
"Oma Umi cantik El kangen" Rafael memeluk Imma dengan erat.
"Kangen Mami juga, peluk dong Mi!" Rafael merentangkan kedua tangannya mendekati Mami Inneke.
"Putra Mami, sudah punya istri masih saja manja" celoteh Mami Inneke sambil memeluk Rafael.
Saat memeluk Mami Inneke Rafael meraih tangan Shifa dan menggenggamnya dengan erat, jadi terlihat seperti memeluk sang kekasih tetapi hatinya bercabang ke gadis lain.
"Apa ini kamu seperti sedang berselingkuh saja" cabik Oma Umi memukul lengan Rafael yang sedang menggenggam tangan Shifa.
"Oma Umi bisa saja, bukan berselingkuh Oma, ini namanya sayang dua duanya" jawab Rafael sekenanya.
"Berarti yang di sayang cuma Mami dan Shifa, El tidak sayang Oma Umi, tega banget sih!" Imma mengerucutkan bibirnya pura-pura merajuk.
"Iya deh sayang ketiga tiganya, ketiga wanita istimewa dalam kehidupan El" jawab Rafael memeluk ketiganya bersamaan.
Menggandeng Shifa berjalan ke meja makan dan duduk berdampingan di kursi.
"Duduklah, aku suapi" Rafael mengambil satu piring nasi goreng untuk berdua.
"Kak El aku bisa makan sendiri, malu makan aja di suapi".
"Sudahlah pokoknya kamu tidak boleh bekerja, tenaganya di simpan saja, nanti dipakai untuk ngadon bersamaku" bisik Rafael di telinga Shifa dengan senyuman devill.
"Masih pagi El, Opa Abi dengar ya, jangan buat cucu menantu cantik Opa Abi kecapean ya" Kenzie menarik telinga Rafael saat baru datang dari ruang keluarga.
"Aduh...aduh ampun Opa Abi, telinga El nanti kalau putus bagaimana?".
"Sini peluk Opa Abi dulu, kangen banget" Kenzie menarik Rafael dan di peluk dan diusap pundaknya dengan penuh kasih sayang.
"El juga kangen dengan Opa Abi, tapi kasihan cucu menantu cantik Opa Abi lapar, jangan lama-lama peluk akunya".
"Iya deh, segitunya sih dipeluk sebentar aja sudah protes, padahal dulu sebelum punya istri minta dipeluk Opa Abi terus"
Rafael hanya tersenyum dan kembali mengambil piring yang berisi nasi goreng dan makan satu piring berdua tepatnya Shifa hanya diam dan menerima suapan demi suapan nasi goreng dari Rafael.
"Ini habiskan susu coklatnya, biar kuat" Rafael menyodorkan susu coklat milik Rafael kepada Shifa.
__ADS_1
"Buat kak El aja, aku tadi sudah minum satu gelas dari Oma Umi".
"Tidak apa-apa, kamu aja yang minum biar adil".
"Adil dari mana, namanya adil itu kak El satu gelas dan aku satu gelas".
"Tidak dong honey, adil itu dilihat dari jumlah susu milikmu kan ada dua, jadi harus minum juga dua gelas" Rafael berbisik dan mengedipkan matanya sambil melirik gunung kembar milik Shifa.
"Dasar mesum, malu tahu, nanti Opa Abi dengar lagi" cabik Shifa sambil mengerucutkan bibirnya dengan melirik Opa Abi yang sedang mengambil kopi yang di buat oleh Oma Umi.
"Honey, ayo cepat habiskan susu coklatnya, aku buatkan kopi hitam aja ok".
"Baiklah, sini aku minum susunya".
Selesai menghabiskan susu coklat, Shifa membuat kopi hitam untuk Rafael dengan sedikit gula.
"Ini kak El, kopinya, aku bantu Mami dan Oma Umi masak dulu ya".
Setelah selesai sarapan Rafael dan Opa Abi mengunjungi perusahaan perkebunan bertemu dengan Rayhan dan Bagas, baik di perusahaan perkebunan teh ataupun di destinasi pariwisata yang semakin hari semakin berkembang pesat.
Walaupun Rafael sudah datang dari tadi malam tetapi belum sempat bertemu dengan Ezo karena saat Ezo berangkat ke kantor Rafael belum keluar dari kamarnya.
"Uncle Ezo, uncle Rayhan apa kabar?" Rafael meraih mencium punggung tangan Ezo bergantian dengan uncle Rayhan.
"Waaaah pengantin lama tetapi rasa baru, kita baik baik saja" seloroh Ezo mengusap pundak Rafael.
"Kenapa di bilang pengantin lama tetapi rasa baru?" tanya Rayhan tidak faham dengan perkataan Ezo.
"Nikahnya sudah lama, tetapi harus berpisah jauh, istrinya di ungsikan oleh Bang Faro kesini" cerita Ezo dengan tersenyum devill.
"Berarti El seringnya bermain solo sendiri dong di kamar mandi, habis berapa sabun El sehari?" ejek Rayhan dengan tertawa lepas.
"Uncle kalau ngomong bisa pas gitu" jawab Rafael sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sudah tidak usah di bahas lagi toh tadi malam sampai pagi udah di rapel sama Rafael, betulkan El?" Opa Abi ikut juga mengejek Rafael.
Sambil berbincang bisnis sesekali diselingi dengan candaan yang unfaedah membuat keakraban mereka semakin erat.
Sedangkan Shifa, Aunty Alma, Oma Umi dan Mami Inneke berkunjung ke rumah Uncle Rayhan bertemu dengan istri Rayhan dan Istri dari Bagas bersama putri kecilnya.
Sengaja selama di perkebunan Shifa dan Rafael tidak keluar berdua karena untuk menghindari pengawasan dari Uncle Agus ataupun anak buahnya.
Hampir tiga Minggu Shifa dan Mami Inneke tinggal di perkebunan, dan Rafael akan menyusul setiap Jum'at malam dan pulang Minggu malam baru kembali ke Jakarta.
Hari Jum'at malam Shifa dan Mami Inneke kembali ke Jakarta karena rencana hari Minggu besoknya acara akad nikah dan resepsi sederhana Cello Aisyah.
__ADS_1