
Kendaraan roda empat milik keluarga Dominique sudah berhenti tepat di depan restoran tempat bertemu Brandon Brooks. Dariush keluar terlebih dahulu, mengulurkan tangan untuk membantu Alceena keluar.
Alceena menyatukan telapak tangannya dengan milik sang pria. Dia keluar langsung merengkuh pinggang Dariush, seperti kebiasaan anak Tuan Dominique yang kedua saat dahulu mencoba mendekatinya.
“Ingat, jangan marah-marah. Kalau ingin emosi, katakan saja agar aku yang menyalurkan amarahmu.” Dariush kembali menasehati agar Alceena tidak melebihi batas. Dia melingkarkan tangan di pundak wanitanya dan mulai mengayunkan kaki masuk ke dalam bangunan khas Eropa.
“Iya, aku tidak lupa.” Alceena mencebikkan bibir karena Dariush bawel juga. Tapi entah kenapa dia suka, mungkin karena merasa diperhatikan.
Dariush membawa Alceena menuju sebuah ruangan VIP yang sudah dipesan khusus untuk pertemuan bersama si Pecundang Brandon. Mana mungkin dia membiarkan obrolan siang ini bisa didengar oleh orang lain. Belum lagi kalau ingin meninju wajah. Dariush juga memikirkan bagaimana citra sang wanita dan keluarganya agar tak dinilai arogan.
Seorang karyawan di restoran yang mengantarkan dua orang tersebut pun menggeser sebuah pintu saat tiba di depan ruang VIP. “Silahkan, Tuan dan Nona. Sudah ada yang menunggu di dalam.” Dia sedikit menundukkan kepala untuk mempersilahkan tamu kelas atas.
__ADS_1
“Terima kasih.” Alceena menyempatkan diri untuk menepuk pundak karyawan yang sudah mengantarnya.
Baik Alceena dan Dariush, keduanya memijakkan kaki di dalam ruangan yang sama secara bersamaan. Telinga bisa mendengar jika pintu ditutup lagi dari luar. Mata Dariush melihat sudah ada Brandon Brooks yang sedang duduk seorang diri di meja dengan makanan banyak terhidang di sana. Namun tidak bagi Alceena, karena wanita itu sengaja menunduk.
Brandon nampak berdiri dari tempat duduk saat melihat orang yang ditunggu akhirnya datang juga. “Tuan Dariush, tumben sekali ingin mengajakku bertemu di luar. Apakah ada hal yang sangat penting akan kau diskusikan denganku?” Dia langsung menyambut dengan percaya diri, karena diajak bertemu oleh keluarga Dominique di tempat private adalah sesuatu hal langka, kecuali mereka memiliki kepentingan yang sangat mendesak. Terutama dalam bidang bisnis. Dalam pikirannya, sepertinya Dariush tertarik untuk bekerja sama dan membahas masalah pekerjaan.
“Bukan aku yang ingin bertemu denganmu, tapi wanitaku,” jawab Dariush dengan memasang wajah dinginnya. Dia menyorot dengan mata datar tanpa ekspresi.
Anak kedua Tuan Dominique itu menarikkan sebuah kursi. “Duduklah, Sayang.” Dia menyentuh kedua pundak Alceena dan sedikit menekan ke bawah agar wanitanya mulai merendahkan tubuh. Barulah dirinya menghempaskan pantat di samping sang pujaan hati.
“Bisakah wanitamu membuka topi, bagaimana kita akan berkomunikasi jika aku belum mengenalnya?” Berani-beraninya Brandon memberikan perintah pada Dariush.
__ADS_1
“Sayang, tunjukkan wajahmu pada pria yang kau beri julukan si Pecundang ini.” Dariush berbicara seraya mengelus punggung Alceena.
‘What?! Pecundang? Beraninya wanita ini mengataiku seperti itu!’ Di dalam hati Brandon, dia memekik tak terima, tapi tidak berani dikeluarkan dari mulut. Sebab, ada anak Tuan Dominique, keluarga yang berkuasa di bidang bisnis wilayah Eropa.
“Dengan senang hati.” Alceena memang ingin memberikan kejutan. Dia membuka topi, membiarkan rambut terurai, dan mendongakkan wajah hingga Brandon bisa melihat jelas. Tak lupa memasang mimik penuh kebencian.
...*****...
...Loh Brandon kan emang pecundang, masa ga terima dikasih julukan si Pecundang. Lucu kamu mas wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...
__ADS_1