
Selepas kepergian Alceena, Dariush dipindahkan ke kursi roda. Daddy Davis mendorong sang anak menuju ruang dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut karena mengeluh ada memar di perut dan jemari juga membengkak.
Dari kecil sampai besar, Daddy Davis selalu merawat anak-anaknya. Tidak ada kasih sayang yang dikurangi. Sungguh cinta orang tua pada anak yang tak terhingga.
Daddy Davis dan Tuan Giorgio menunggu di luar ruangan saat Dariush sudah dimasukkan ke dalam ruang CT scan.
“Kau sudah melihat CCTV saat Dariush kecelakaan?” tanya Daddy George. Sembari menunggu, mereka saling mengobrol.
“Sudah.”
“Sepertinya ada cidera serius akibat benturan dari motor, apa lagi tangannya digunakan untuk melindungi perut.”
“Dia masih hidup saja aku sangat bersyukur.”
Daddy George melingkarkan tangan di pundak sahabatnya, memberikan tepukan di sana. “Itu namanya mukjizat dari Tuhan.”
“Semoga saja cideranya tak parah,” harap Daddy Davis seraya menyandarkan punggung.
__ADS_1
Kedua pria paruh baya itu terus mengobrol seputar kehidupan mereka. Sampai tak terasa, dokter sudah keluar dari ruangan. Dan Daddy Davis segera menghampiri karena tak sabar ingin cepat tahu hasilnya.
“Bagaimana? Apa yang terjadi dengan putraku?” tanya Daddy Davis. Wajahnya tidak menunjukkan kecemasan sedikit pun. Cenderung terlihat tegas.
“Mari ke ruangan saya,” ajak dokter tersebut. Tidak etis membicarakan kondisi pasien di depan ruangan, apa lagi itu di lorong rumah sakit.
“Tolong kau tunggu Dariush di sini, aku akan ke ruang dokter,” pinta Daddy Davis pada sahabatnya.
Daddy George memberikan isyarat jempol yang dinaikkan ke atas pertanda setuju.
Daddy Davis mengikuti langkah kaki. Dia juga ikut masuk ke dalam ruang dokter. Duduk berhadapan dengan seorang pria berjas putih.
Membuat Daddy Davis yang tak sabaran itu berdecak. “Aku membayar mahal, apa tak bisa dipercepat?” protesnya.
“Diagnosa tidak bisa terburu-buru untuk mengurangi risiko kesalahan, Tuan.”
Daddy Davis menghela napas berat. “Katakan saja apa hasil yang bisa ku dengar sekarang? Kenapa perut memar, dan jarinya mengalami pembengkakan?”
__ADS_1
“Untuk hasil bagian perut, saya belum bisa mengatakan sekarang, mungkin tiga hari ke depan baru keluar diagnosisnya. Tapi, disarankan untuk coba mengompres terlebih dahulu.” Dokter mengeluarkan sebuah hasil rontgen tulang dari bagian kepala hingga kaki. Menunjukkan pada orang tua pasien. “Kalau untuk tangan yang bengkak, ternyata ada tulang jari yang retak, dan tulang hasta patah. Di bagian kiri, untuk sebelah kanan baik-baik saja.”
Daddy Davis mengamati hasil yang diberikan padanya, memang terlihat ada yang tak beres dengan tulang anaknya. “Lakukan penanganan segera pada tangannya!”
“Baik, Tuan.”
Daddy Davis pun keluar dari ruang dokter. Dia menemui Daddy George yang sudah menunggu di ruangan lain. Ternyata Dariush sudah dipindahkan untuk dilakukan penanganan pada cidera tangan.
Setelah menunggu lama, akhirnya Dariush di dorong keluar menggunakan kursi roda. Tangan sudah di gips dan dia tak bisa menggunakan sebelah kiri dengan leluasa.
“Apakah aku harus bermain dengan tangan kanan?” kelakar Dariush pada dua pria paruh baya yang langsung menghampiri dirinya. Dia mengangkat tangan kanan yang masih utuh.
Tuk!
Daddy Davis menjitak kepala Dariush. Untung sang anak tak cidera dibagian situ. “Mesum saja pikiranmu, sembuhkan dulu tanganmu itu!” omelnya.
Dariush mengulas senyum dengan menunjukkan rentetan gigi rapi. “Namanya juga kebutuhan biologis, Dad.” Padahal, dia hanya ingin mengalihkan pikiran orang tuanya supaya tak mengkhawatirkan kondisinya dengan memberikan sebuah candaan.
__ADS_1
...*****...
...Kebanyakan nyelupin jari sih lu Dar, makanya tuh gue bikin patah biar gabisa obok-obok bini lu HAHAHAHA *tertawa jahat*...