
Dariush berdiri dan membungkukkan tubuh. Pria itu mengecup kening Alceena, sebelum pergi dari penthouse. “Baik-baik di sini, lanjut istirahat, masih dini hari. Aku pulang dulu.” Dia berpamitan seraya mengusap puncak kepala belahan jiwanya.
Bibir Alceena masih terbungkam. Dia melongo saat menatap punggung Dariush yang mulai mengayunkan kaki menuju pintu. “Di luar masih gelap, lebih baik kau istirahat di sini saja.”
Ucapan Alceena itu membuat Dariush berhenti tepat pada langkah ke delapan. Dia berbalik menatap sang wanita. “Saat aku datang ke sini juga di luar belum ada cahaya kecuali lampu. Jadi, tak masalah kalau pulang saat langit masih gelap.”
Benar juga apa yang dikatakan oleh Dariush. Alceena memutar otaknya lagi agar sang pria mengurungkan niat untuk pulang. “Kenapa tak tidur di sini saja? Tempat ini ‘kan milikmu.”
“Karena di sini sudah ada kau yang menempati.”
Alceena menaikkan sebelah alis dengan wajah yang tak mengenakkan. “Kau tak mau tinggal di sini lagi karena ada aku?” Dia berbicara dengan nada sedikit sinis karena salah menangkap maksud dari ucapan Dariush.
__ADS_1
Wanita itu langsung berdiri seraya menggebrak meja dengan menunjukkan mimik kesal. “Kalau begitu, kau saja yang tidur di sini, aku yang akan pergi! Aku tak pernah merasa membeli penthouse ini, dan bukan milikku juga! Jadi tak berhak menetap saat pemilik aslinya tak ada.”
Dariush rasanya ingin memeluk Alceena saat wanita itu emosi. Tapi diurungkan karena rencananya harus berhasil. Dia ingin mendengarkan jawaban atas pertanyaannya tentang komitmen yang seharusnya sudah dijawab. Tapi, karena tak ingin terkesan mengejar Alceena terus, dia tidak mau menagih jawaban. Biarkan wanita itu sadar sendiri.
“Bukan seperti itu maksudku. Kita tak memiliki hubungan apa pun. Jadi, aku tak mau tinggal satu atap bersama seorang wanita yang tak ada hubungan jelas denganku,” jelas Dariush, berharap Alceena bisa sadar dengan maksud ucapannya. “Silahkan jika kau ingin memakai penthouseku.” Wajah pria itu mengulas senyum. “Tapi aku pulang.” Dia kembali membalikkan tubuh dan mengayun menuju arah pintu.
Tanpa diduga dan tak disangka, tiba-tiba Dariush merasakan tubuhnya ada yang memeluk dari belakang.
Dariush menarik dua sudut bibir karena sedang tersenyum gembira. Tapi dia hilangkan lagi kala mengingat Alceena belum memberikan kejelasan padanya. “Kenapa kita harus tinggal berdua?” Anak Tuan Dominique yang kedua itu sedang berusaha tetap cool, tak berbalik badan untuk membalas pelukan sang wanita.
“Karena aku ingin,” jawab Alceena yang tengah menyandarkan kepala di punggung Dariush.
__ADS_1
Dariush melepaskan tangan Alceena yang melingkar di tubuhnya. “Maaf, Ceena, ingin saja tak membuatku bisa tinggal di sini bersamamu.”
Anak Tuan Dominique itu mengayunkan kaki lagi, kian mendekati pintu. Maklum saja jika sejak tadi berjalan tapi tak sampai ke tujuan, penthousenya berukuran sangat besar.
Mata Alceena sudah berkaca-kaca. Dia terisak, dan ini bukan sandiwara seperti tadi. Wanita itu benar-benar sedih karena Dariush menolaknya untuk tinggal bersama.
Tubuh Alceena perlahan beringsut ke bawah, berjongkok dan memeluk lututnya. “Aku ingin kita hidup berdua di sini, bangun tidur langsung melihat wajahmu, setiap hari mendapatkan pelukan dan ciuman darimu, aku mau mengenalmu lebih jauh lagi. Apa tak bisa kita seperti itu?”
...*****...
...Silahkan Dariush dan Alceena pindah ke planet lain saja. Biar dunia berasa hanya milik berdua. Aku gak mau ngontrak sama kalian wey, nanti bisa-bisa aku jadi pelakor di dalam hubungan kalian....
__ADS_1
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...