
Sejak sampai di jalan raya yang baru saja menjadi lokasi kecelakaan beruntun, Marvel segera melihat ke sekeliling. Mencari apakah ada Dariush atau salah satu kendaraan milik keluarga Dominique. Tepat sekali saat dia hendak berjalan menuju titik TKP, semua mobil dan motor yang terlibat, sedang diderek agar tidak terlalu lama menimbulkan kemacetan.
Marvel tidak menemukan kendaraan dengan plat nomor unik dan hanya dimiliki oleh keluarga Dominique, yaitu DDD. “Mungkin Dariush tidak melewati jalan ini.”
Karena tidak mendapati yang dicari, akhirnya Marvel pun kembali berjalan menuju mobil yang diparkir. Namun, rasanya ingin sekali menanyakan keberadaan kakak iparnya. “Lebih baik aku telepon saja untuk memastikan sekali lagi.”
Suami dari Deavenny itu segera menghubungi nomor Dariush saat sudah sampai di dalam mobil. Dia menghembuskan napas lega kala panggilannya diangkat.
“Halo?”
Sebuah sapaan dari suara seorang pria pun membuat Marvel menaikkan sebelah alis. “Maaf, ini siapa? Kenapa kau membawa ponsel milik saudaraku?”
“Aku menemukan ponsel ini di jalan saat ada kecelakaan.”
Marvel semakin berpikir negatif saja tentang kondisi Dariush. “Sekarang kau di mana?”
__ADS_1
“Coffee shop yang tak jauh dari lokasi kecelakaan.”
Mata Marvel menyapu ke seluruh penjuru. Mencari coffee shop di dekat sana. Dan akhirnya dia menemukan tempat yang dimaksud. “Aku ke sana, ingin mengambil ponsel saudaraku!”
“Eh! Barang yang ku temukan, sudah menjadi hak milikku!” tolak orang tersebut.
Tapi, Marvel tidak peduli. Dia kembali turun dari mobil, berjalan menuju coffee shop. Karena dia tak tahu mana orang yang mengambil ponsel Dariush, maka menghubungi nomor kakak iparnya lagi.
Walaupun tidak diangkat, tapi Marvel sudah tahu di mana tempat duduk orang yang dia cari. Sebab, ponsel Dariush sedang digenggam oleh orang tersebut dan hendak menolak panggilannya.
“Aku menemukan ini, jadi sudah menjadi milikku,” tolak orang itu seraya memasukkan ke dalam saku. “Tapi, kalau kau mau membayar ponsel ini, akan ku berikan padamu.” Dia mencoba bernegosiasi agar mendapatkan keuntungan untuk tambah uang jajannya.
Marvel yang malas berdebat pun mengeluarkan dua lembar uang seribu euro dan diletakkan di atas meja. “Anggap saja aku membeli ponsel darimu.”
Bocah remaja itu langsung mengambil uang dan memberikan ponsel yang dia temukan. “Senang berbisnis denganmu.”
__ADS_1
Tapi ucapan itu tak dipedulikan oleh Marvel. Dia buru-buru kembali ke Badan Kependudukan untuk memberitahukan hal ini. Namun tidak lupa juga sepanjang perjalanan menelepon nomor rumah sakit di sekitar sana. Menanyakan apakah ada pasien kecelakaan atas nama Dariush Doris Dominique.
Tapi, sudah tujuh rumah sakit yang dihubungi tetap jawabannya sama, tidak ada.
Marvel segera berlari masuk ke dalam gedung lembaga milik negara. Kedatangannya langsung disambut oleh Alceena yang segera berdiri.
“Bagaimana? Apakah Dariush juga menjadi korban?” tanya Alceena yang wajahnya sudah kacau karena tak kunjung mendapatkan kabar.
Marvel mengeluarkan ponsel. “Aku hanya menemukan ini.”
Alceena langsung mengambil ponsel pintar itu. Menghidupkan layar. Walaupun benda tersebut sudah retak karena terbentur aspal, tapi tetap jelas wallpaper di sana adalah fotonya bersama Dariush saat di Swiss Alps.
Beban tubuh Alceena rasanya mendadak berat. Dia tiba-tiba lemas, merosot ke bawah. Tapi segera dirangkul oleh Mommy Diora dan Mama Gwen.
...*****...
__ADS_1
...Mungkin itulah azab sepasang calon suami istri yang durjana pada authornya, selalu membuat iri dengan kemesraan yang mereka tonjolkan, sampai membuat kaum jomblo ingin berbondong-bondong ngontrak di planet lain....