
...Berhubung aku lagi baik hati. Ku kasih bonus satu...
...*****...
“Kalian harus tahu alasanku ingin Brandon di penjara.” Ucapan Alceena membuat semua orang memfokuskan pandangan padanya.
“Apa?” tanya Papa Danzel yang lebih ingin mengetahui pertimbangan atas pengambilan keputusan anaknya.
Alceena menaikkan telunjuk kanan. “Pertama, alasan Brandon memfitnahku karena dia tak berani menanggung risiko setelah meniduri kakaku. Pria itu takut nama baiknya tercemar dan memilih menumbalkan aku karena menganggap diriku kuat dan bisa menyelesaikan setiap masalah yang ku hadapi. Itu adalah suatu hal yang sangat egois.”
Telunjuk kanan Alceena tak sendiri lagi, kini ditemani oleh jari tengah. “Kedua, wajah si Pecundang itu tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun setelah menyebarkan rumor. Bahkan mulutnya tak pernah melontarkan kata maaf yang terdengar sangat tulus. Bagaimana aku bisa memaafkannya jika seperti itu?”
Dan kini jari manis mulai ikut berdiri. “Ketiga, dia adalah seorang pecandu ekstasi. Ketika gugatanku menang di persidangan, tentu dia akan dipenjara, dan tak ada pasokan narkotika akan didapat. Jika pihak berwajib mengetahui kecenderungannya pada obat terlarang itu, otomatis dia akan direhabilitasi. Aku berharap Brandon bisa sembuh, terbebas dari narkotika yang merugikan serta berhasil membuat Selena masuk ke rumah sakit karena disetubuhi oleh Brandon dengan sangat brutal.”
__ADS_1
Ungkapan dari Alceena yang terakhir itu berhasil membuat seluruh mata tertuju pada Selena. “Apakah benar yang dikatakan oleh Alceena?”
Selena menundukkan kepala seraya mengangguk lemah. Ternyata Alceena sudah banyak mengetahui kejadian di Munich.
“Ketika aku membuat keputusan, bukan hanya memikirkan diriku sendiri, tapi juga orang-orang yang aku sayangi. Jika kakak dan mantanku suatu saat bersatu, aku tak ingin Brandon terus menerus menjadi pecandu, kemudian melampiaskan hasrat bercinta sangat brutal pada Selena lagi karena efek ekstasi membuatnya bersemangat dan lebih kuat.” Alceena berhenti menjelaskan karena sejak tadi sudah sangat panjang. “Apakah sampai sini kalian paham dengan maksud dan tujuanku?”
Papa Danzel, Cathleen, Madhiaz, dan Aldrich mengangguk. Bahkan Mama Gwen yang tadi sempat tak sepakat dengan Alceena pun ikut melakukan hal yang sama. Hanya Selena yang tetap diam.
Alceena bisa mengulas senyum karena kini anggota keluarganya bisa memiliki satu jalan pikiran yang sama.
Alceena yang sudah ingin mengayunkan kaki menaiki anak tangga pun terpaksa kembali berhenti. Dan menyorot sang kakak yang terlalu buta akan cinta. “Ketika aku melepaskan Brandon begitu saja, belum tentu dia mau rehabilitasi dengan keinginannya sendiri. Si Pecundang itu adalah orang yang egois. Kau paham?” Dia sampai menekankan kalimat terakhir karena terlalu kesal.
“Pasti dia mau, ada anak yang harus dia jaga di dalam perutku. Itu sudah alasan kuat untuk dijadikan sebagai niat rehabilitasi.” Masih saja Selena ingin merubah tekad Alceena yang ingin menggugat Brandon.
__ADS_1
Mimik wajah Alceena sampai tak bisa dideskripsikan lagi. “Kau yakin rela priamu direhabilitasi? Dari pandanganku, menilai betapa lembutnya hatimu itu yang mudah trenyuh dengan orang lain, pasti kau tak akan tega membiarkan Brandon kesakitan saat proses pemutusan pasokan ekstasi pada tubuhnya.”
“Aku kuat,” ucap Selena.
Alceena sampai menggelengkan kepala. “Keputusanku tetap sama!” tegasnya.
Daripada terus mendengar rengekan Selena yang tak sepakat dengan niatnya, Alceena pun mengurungkan niat untuk kembali ke kamar. Dia menarik kopernya lagi menuju arah pintu.
“Kau mau ke mana?” tanya Cathleen saat melihat Alceena seperti ingin pergi lagi.
...*****...
...Kan emang cocok itu si Alceena jadi titisan Maleficent. Kelihatannya aja jahat, padahal mah enggak, anak mantan aja diurusin nasibnya sama dia....
__ADS_1
...Dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...