
Alceena menggenggam tangan Dariush. Menatap lekat wajah tampan di hadapannya walaupun penerangan sangat minim. Dengan terpaksa, dia harus mengatakan alasan yang sesungguhnya agar sang pria mau meninggalkan kamarnya.
“Sebenarnya Cathleen menyukaimu,” ungkap Alceena dengan wajah yang nampak muram karena kisah cintanya selalu berakhir pada pria yang sama.
“Lalu, apa masalahnya jika dia menyukaiku? Yang penting aku tak memiliki perasaan dengan dia.” Dariush masih belum paham. Pria itu justru menaikkan sebelah alis karena bingung dengan hubungan perasaan Cathleen dengan dirinya yang diusir dari kamar Alceena.
“Aku tak mau dianggap menusuk dia dari belakang. Terakhir kali saat kita bertemu Cathleen di restoran, kami bertengkar karena dia sakit hati. Dan aku tak ingin hal itu terjadi lagi,” jelas Alceena. Berharap agar Dariush bisa memahami apa yang dia rasakan.
“Kenapa harus bertengkar? Itu kekanakan sekali. Sudah jelas aku mencintaimu, dan sekarang kita dekat. Seharusnya dia sadar jika tak ada celah untuk masuk ke dalam kehidupanku karena di hatiku hanya ada Adaire Alceena Pattinson, tak ada yang lain.” Dariush berucap seraya mengelus pipi mulus sang wanita. Dia tak mau keluar diam-diam hanya karena takut ketahuan oleh orang lain.
__ADS_1
Alceena menghela napas kasar. Keras kepala sekali pria yang duduk di hadapannya itu. “Begini, Dariush. Cathleen menyukaimu karena aku sudah memproklamirkan bahwa tak akan pernah membalas cintamu, kami selalu berakhir pada pria yang sama, dan akulah pemenangnya. Karena dia merasa tak akan pernah bersaing memperebutkanmu, maka berani menyukaimu.” Wanita itu berhenti sebentar, menundukkan kepala karena malu. “Dan sekarang aku merasa nyaman saat bersamamu, anakku selalu menginginkan dekat dengan kau.”
Dariush meraih dagu Alceena, mendongakkan kepala sang wanita agar menatap ke arahnya. “Jujur pada Cathleen jauh lebih baik daripada bersembunyi terus seperti ini.”
Alceena langsung menggelengkan kepala. “Tidak semudah itu. Aku selalu terbayang-bayang wajah sedihnya, tak ingin melihat dia seperti itu lagi karena aku juga merasakan sakit dan terus merasa bersalah.” Dia sampai meneteskan air mata karena tak enak hati dengan Cathleen yang dia tikam dari belakang, dan juga Dariush yang harus bersembunyi saat berhubungan dengannya. “Ku mohon, mengertilah posisiku.” Matanya yang berkaca-kaca terpancar permintaan yang sangat tulus.
Dariush memang lemah jika sudah dihadapkan dengan tetesan air mata orang yang dicintai. Jemari kekar itu segera menghapus jejak basah di pipi wanitanya. “Jangan menangis, aku akan menurutimu walaupun tak membenarkan jika kita terus berhubungan secara diam-diam seperti ini.” Dia memeluk tubuh Alceena, memberikan usapan di punggung agar lebih tenang.
“Oke, aku pegang janjimu itu.”
__ADS_1
Alceena menganggukkan kepala, melepas rengkuhan. “Sekarang, tolong keluar dulu dari sini,” pintanya untuk kesekian kali.
Tangan Dariush meraih kepala wanitanya, sedikit mencondongkan ke depan, dan kecupan pun terlabuh di kening. “Iya, Sayang.”
Alceena bisa bernapas lega. Menatap Dariush yang mulai turun dari ranjang, memakai setelan jas yang teronggok di lantai. Dia mengantarkan pria itu menuju pintu yang menghubungkan ke balkon.
“Hati-hati,” ucap Alceena memberikan peringatan saat Dariush mulai keluar pembatas dan hendak melompat menuju kamar sebelah yang memiliki celah antar balkon sekitar satu meter.
...*****...
__ADS_1
...Dah Dariush jatoh aja kamu ke bawah, kelar sudah urusan wkwkwk...
...Jangan lupa dukung karya ini dengan like, komen, vote, dan hadiahnya bestie...