
Malam hari, walaupun langit belum gelap di Finlandia, Dariush menuruni anak tangga dengan penuh semangat. “Kalian tak ada yang mau ikut pada hari bersejarah ini? Aku ingin melamar Alceena di depan keluarga Pattinson.” Dia mengajak seluruh anggota keluarga Dominique untuk ikut andil dalam lamarannya secara langsung.
“Memangnya kau yakin akan diterima? Takutnya kau ditolak lagi, lalu malu pada kami,” sahut Delavar yang bermaksud mengejek kembarannya.
Dariush menarik ujung jas untuk dirapikan. “Tidak akan ditolak, Alceena sudah mengatakan melalui telepon kalau mau menjadi istriku, hanya saja orang tuanya meminta aku izin secara langsung.”
Tuan dan Nyonya Dominique beserta anak-anaknya saling melemparkan pandangan satu sama lain. Mereka selalu saja berhasil berkomunikasi hanya menggunakan sorot mata. “Oke, kami ikut,” jawab kelima orang itu. Para menantu hanya menurut saja, tidak ikut campur dengan urusan keluarga yang sangat kental darahnya itu.
“Ayo, cepat ganti pakaian yang rapi,” ucap Dariush seraya mengibaskan tangan agar semua orang yang hendak ikut, segera bersiap.
Suasana ruang keluarga itu mendadak sepi ditinggal penghuni ke kamar masing-masing. Menyisakan Dariush yang duduk seorang diri, menunggu yang lain.
Dariush langsung berdiri diiringi mengeluarkan sebuah pujian. “Good, tidak ada yang menandingi keluarga kita yang keren.” Kedua jempol terangkat.
__ADS_1
Daddy Davis dan Mommy Diora bergandengan tangan, begitu pula dengan Danesh dan Felly, Delavar dan Amartha, serta Deavenny dan Marvel. Hanya Dariush saja yang masih sendiri. Kelima cucu keluarga Dominique tentu saja digendong oleh babysitter masing-masing. Mereka semua berjalan dengan rapi, membiarkan yang tua di depan.
Mereka langsung berangkat ke mansion Pattinson dengan mobil masing-masing. Sungguh keluarga kaya yang tidak menghemat energi.
Sesampainya tempat yang dituju, Dariush memimpin berjalan di depan. Dia langsung berbicara pada pelayan yang menyambut kedatangannya. “Aku ingin bertemu Tuan dan Nyonya Pattinson.”
“Baik, silahkan masuk.” Pelayan itu menunjuk ruangan luas yang biasa digunakan untuk menyambut tamu. “Tunggu sebentar,” pintanya kemudian. Dan dia langsung masuk memanggil majikannya.
Alceena yang sedang duduk menonton televisi bersama keluarganya pun langsung menghiasi wajah senang. “Ternyata Dariush masih tetap seperti dulu, selalu menepati ucapan,” gumamnya. Dia yang paling antusias ingin segera menemui calon suaminya. Wanita itu buru-buru berdiri.
Tuan Pattinson dan sang istri hanya bergeleng kepala melihat tingkah Alceena saat dimabuk cinta. Keduanya pun ikut menyusul sang anak yang sudah lebih dahulu berjalan.
Sementara itu, Cathleen menatap kembarannya dengan mata berkaca-kaca. “Senang sekali menyaksikan Alceena menemukan pria yang tepat dan tulus mencintainya,” gumamnya seraya mengusap tetesan air yang mendadak meluncur membasahi pipi.
__ADS_1
Madhiaz yang mendengar ucapan Cathleen pun merangkul dan menepuk pundak kembarannya. “Tenang, suatu hari nanti kau akan menemukan jodohmu juga. Jangan khawatir.”
Cathleen menengok ke arah Madhiaz. “Ku harap seperti itu.”
Madhiaz dan Cathleen pun berdiri bersamaan, mereka juga tak mau melewatkan hari bersejarah untuk hidup Alceena. Sebelum menyusul yang lain, mereka menatap ke arah Selena. “Kau mau ikut atau tidak?”
Selena yang sedang tidur di atas sofa itu menggelengkan kepala. “Tidak, perutku sedang tak nyaman. Aku di sini saja.”
“Oke.” Cathleen dan Madhiaz pun tak mau memaksa. Keduanya bersamaan menuju ruang tamu.
...*****...
...Ceena, kamu butuh pengganti gak? Aku siap loh jadi penggantimu wkwkwk...
__ADS_1