My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 200


__ADS_3

Setelah mengajukan pertanyaan pada Papa Danzel, Alceena ikut duduk di hadapan orang tuanya tersebut. Debaran di dada tak kunjung berhenti karena tatapan yang diberikan padanya sungguh tegas tak seperti biasanya. “Mau kau memisahkan aku dan Dariush sampai ke ujung dunia pun tetap tidak bisa, Pa. Jadi, menyerahlah untuk menjadi penghalang diantara hubunganku. Toh calon cucu-cucumu ini juga anak Dariush, keturunan dari keluarga Dominique. Kami sudah terikat oleh bayi dalam rahimku.” Sebelum mendapatkan jawaban yang mungkin tidak ingin dia dengar, Alceena lebih baik menegaskan lagi kepada Papanya bahwa memisahkan dia dan Dariush adalah sesuatu yang mustahil.


Papa Danzel yang tak diberikan ruang untuk berbicara pun menggelengkan kepala. “Memangnya siapa yang ingin memisahkanmu dengan Dariush?” ucapnya diiringi senyum gemas akibat tingkah putrinya sendiri.


“Papa, memangnya siapa lagi yang tidak menyetujui hubunganku dengan Dariush? Cathleen saja sudah mendukung kami.”


Papa Danzel cukup tersenyum saja mendengar gerutuan dari salah satu putri yang sangat dia sayangi. “Kau sungguh mencintai Dariush?” tanyanya memastikan sekali lagi, seberapa besar perasaan Alceena pada pria yang sangat ingin mempersunting salah satu keturunannya tersebut.


“Jelas iya, aku sangat mencintainya. Papa tidak perlu meragukan kesungguhanku lagi,” jawab Alceena dengan tegas, lantang, dan sangat yakin.


Tuan Pattinson lagi-lagi mengangguk, justru membuat Alceena merasa seperti dipermainkan serta bingung.


“Kenapa Papa bertanya seperti itu?” Alceena menaikkan sebelah alis dengan mata yang memicing.

__ADS_1


“Tak apa, hanya ingin tahu saja,” jawab Papa Danzel. Pria paruh baya itu mengulas senyum tipis. “Sekarang, di mana Dariush?”


“Sedang perjalanan menuju Amsterdam.”


Senyum Tuan Pattinson semakin ditarik lagi. ‘Sepertinya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menguji keseriusan Dariush,’ ucapnya dalam hati.


“Kau sangat ingin menikah dengan Daddy dari anak-anakmu?” Papa Danzel mengajukan pertanyaan seraya menunjuk perut buncit Alceena.


“Oke, kalau memang kalian ingin menikah, Papa akan merestui. Tapi ada syaratnya.”


“Apa?”


“Daftarkan serta menikahlah di Badan Kependudukan sekarang juga!” ucap Tuan Pattinson dengan wajah yang terlihat tak main-main.

__ADS_1


“What?” pekik Alceena. Wanita itu justru terkejut. Bukan karena dia tak ingin segera menikah dengan Dariush. Tapi ini terlalu mendadak, bahkan tidak ada persiapan sedikit pun. “Mana bisa, Pa! Pesawat Dariush baru lepas landas satu jam yang lalu. Sampai di Amsterdam saja kemungkinan enam puluh menit lagi. Di sana juga dia harus mengurus pekerjaan. Setidaknya beri kami waktu satu minggu lagi untuk mempersiapkan pernikahan.” Dia mencoba bernegosiasi.


Tapi, Papa Danzel bergeleng kepala tidak setuju. “Kalau kalian ingin menikah, maka hari ini juga kita ke Badan Kependudukan. Jika Dariush memang sungguh-sungguh mau menjadikanmu istri, pasti dia akan meninggalkan pekerjaan dan memilih untuk kembali ke sini.”


Alceena sampai melongo mendengar jawaban orang tuanya yang keras kepala dan tidak bisa diajak negosiasi. “Oke, tunggu Dariush sampai di bandara dan menghidupkan ponselnya, aku akan segera mengabari Daddy dari anak-anakku.”


Papa Danzel mengangkat tangan dengan telapak menengadah. “Silahkan.” Dia menyilangkan kaki, menunggu respon calon menantunya saat diminta untuk menikah secara dadakan.


Alceena sampai tak memulai pekerjaan hari ini, karena terus mengamati layar ponsel. Menanti satu jam untuk mendapatkan kabar dari Dariush kalau sudah sampai Amsterdam.


...*****...


...Udahlah, kalian gausah nikah! Soalnya aku males pindah planet. Pasti kalian bakalan makin bucin kalo udah resmi bersatu. *menangis aku gaada ongkos ke Mars*...

__ADS_1


__ADS_2