My Hot Enemy

My Hot Enemy
Part 223 S2


__ADS_3

Dariush merasa badannya mulai gatal dan rambut lepek sekali setelah seminggu lebih tidak mandi. Walaupun seperti itu, tapi Alceena tidak merasa risi dengan suami, justru semakin lengket saja.


Masih dalam posisi Dariush tiduran berbantal paha Alceena, dia semakin mendusel sang istri dan menciumi perut wanita yang sangat dicintai. “Sayang, tolong mandikan aku. Badan dan rambutku sudah tak enak. Apa lagi sekarang tanganku juga tak bisa leluasa bergerak,” pintanya seraya menaikkan tangan kiri.


Alceena terkekeh pelan dengan jemari lentik menyisir rambut lepek dan berminyak sang suami. “Boleh, ayo kita ke kamar,” ajaknya. Tentu saja dia senang kalau sang suami manja seperti itu.


Dariush berangsur berdiri, dengan tangan kanan merangkul pundak Alceena, dan pinggulnya juga merasakan ada yang melingkar di sana.


Sepasang suami istri baru itu berjalan beriringan menuju ke arah lift. Selain lebih cepat, juga tak membutuhkan tenaga banyak untuk naik ke lantai dua.


“Aku bingung bagaimana cara memandikanmu, takut kalau salah sentuh dan membuatmu kesakitan,” ucap Alceena seraya membukakan pintu.


Dua manusia itu masuk ke dalam kamar, Dariush dan Alceena duduk di ujung ranjang.

__ADS_1


“Terserah kau saja, sebisamu memandikan aku.” Dariush mengusap puncak kepala sang istri.


Alceena terdiam sejenak, memikirkan bagaimana cara memandikan sang suami karena biasanya cara mandi mereka selalu bersama dan berendam. Hanya saja sekarang kondisi sudah berbeda.


“Aku bantu buka pakaianmu dulu.” Masih dalam posisi duduk, Alceena melepaskan kancing kemeja satu persatu.


Sangat hati-hati Alceena mengeluarkan bagian lengan kanan terlebih dahulu supaya mempermudah pada bagian kiri yang di gips. Dada bidang Dariush kini terpampang nyata, apa lagi perut pria itu yang masih nampak ungu pekat.


Alceena berangsur berdiri diikuti sang suami, ia akan meloloskan boxer yang membalut tubuh Dariush. Tapi, saat ia merendahkan posisi tubuh dengan lutut menyentuh karpet, kedua bola mata menangkap jelas ada sesuatu yang aneh dengan perut sejajar dengan pandangan matanya.


Dariush tentu otomatis menunduk dan melihat bagian tubuh yang dimaksud. Dia sengaja mengusap pelan bagian perut. “Kata dokter hanya butuh dikompres saja.”


Alceena lega mendengarnya, ia pikir ada cidera yang serius. “Adakah bagian tubuhmu yang sakit lagi?” tanyanya seraya menurunkan boxer dan meninggalkan satu-satunya kain membalut tubuh kekar Dariush.

__ADS_1


“Tidak.”


Alceena menunjuk bagian yang menonjol di balik celana warna hitam. “Ini tidak ikut patah, ‘kan? Masih bisa tegak?” Dia bertanya sangat frontal dan tidak malu sama sekali.


Dariush sampai terkikik atas pertanyaan tersebut. “Coba saja kau bangunkan, apakah ikut cidera atau tidak,” kelakarnya memberikan ide.


Alceena tentu saja sangat penasaran. Dia meloloskan kain terakhir hingga tubuh Dariush sudah polos. “Aku hanya ingin menguji saja.”


“Hm, coba kau usap,” cetus Dariush seraya duduk kembali dan meraih tangan sang istri untuk diarahkan pada bagian pangkal paha.


“Permisi, jari nakal mau lewat,” seloroh Alceena. Dengan kelembutan, ia mengusap harta karun milik Dariush. Dia tidak ingin bercinta atau melakukan penyatuan tubuh siang hari ini. Hanya ingin memastikan saja kalau sumber kenikmatannya masih normal.


Alceena bisa merasakan kalau ada yang mulai bergerak pelan dan perlahan sesuatu yang mengkerut itu berubah volume. Helaan napas lega keluar dari bibir. “Syukurlah masih baik-baik saja.”

__ADS_1


...*****...


...Lah kirain anunya ikutan patah. Yahhh gagal sudah memisahkan mereka, pasti bakalan makin mesra aja nih pasangan bucin. Bagi duitlah buat aku cari kontrakan baru, biar enggak emosi mulu kerjaannya liat keuwuanmu...


__ADS_2